Archive for the ‘Opini’ Category

DSCN8154 - Copy

dok.pribadi

Mendidik itu mendorong peserta didik mengaktualkan kepribadiannya. Mendidik itu mengantar anak kepada pintu yang sesuai karakternya | M. Quraish Shihab

Pesan itulah yang jadi kalimat pembuka diskusi yang beliau hantarkan. Ketika itu beliau duduk di sofa bersama kedua anaknya. Di sisi kirinya Najwa Shihab, dan sebelah kananya Najelaa Shihab. Di hadapan mereka, ratusan pasang mata siap menunggu luncuran nasehat. Ia mengambil mic lalu mencondongkan badannya ke depan. Ada pesan yang ia mau sampaikan. Seperti ada keresehan yang ia sembunyikan sejak dulu-dulu.

Ia meresahkan begitu banyaknya anak-anak dididik tidak sesuai dengan kepribadiannya yang unik. Kesuksesan pendidikan telah sejak lama diukur sejumlah profesi tenar seperti dokter, pilot, arsitek, polisi, dan banyak lagi. Tapi, Quraish Shihab memilih membukakan pintu selabar-lebarnya bagi Najwa dan Najelaa. “jadilah apa saja yang kau mau, asalkan jalurnya harus lewat pendidikan.” Terbukti, kedua anaknya menjadi sosok yang tidak hanya berpendidikan, tapi juga bermanfaat bagi orang lain.

Tidak sampai sejam diskusi berlangsung. Namun pesan yang terkandung melampaui berjam-jam membaca buku pentingnya literasi dan pendidikan keluarga. Sore itu cerah berawan di Fort Rotterdam, Makassar. Sajian Ngobrol Publik ini digelar di taman, sisi belakang kapel utama. Kegiatan yang berlangsung dua hari penuh ini menutup tur keliling rangkaian Pesta Pendidikan 2017.

Di sebelah mereka, berdiri membelakangi pengunjung, ada maestro lukis asal Makassar, Zaenal Dg. Beta. Siap menggoreskan tanah liat beraneka warna di atas kanvas untuk sebuah mahakarya baru. Lukisan itu siap diberikan sebagai hadiah kepada Quraish Shihab yang dianggap perantau sukses dari Sulawesi Selatan.

Najelaa Shihab, Najwa Shihab, dan M. Quraish Shihab mendapatkan kesempatan perdana ‘pulang kampung’ di Pesta Pendidikan. Panggung utama ini langsung saja diserbu para pengunjung yang jumlahnya lebih 500-an orang. Mereka memenuhi hampir semua area di sekeliling panggung. Para undangan sebagian kecil berada di tenda yang sudah disiapkan. Sisanya sebagian besar duduk menekan rumput. Ada juga yang berdiri di sisi kapel.

Ayah dan kedua anak ini merasa bangga dan senang bisa berkumpul di Makassar. “ini benar-benar pertama kali kami berkumpul di satu event publik” kata Najwa. Di tengah hantaman mentari sore yang silau menguning berganti jingga, senyumnya selalu riang menyapa pengunjung sembari mengobrolkan Abi (Quraish Shihab, Umi (Istri) dan Najeelaa (saudara).

Orang Tua Harus Terlibat!

Najelaa yang juga pendiri Sekolah Cikal, mengatakan aktor pendidikan paling penting adalah keluarga. Ia menegaskan bahwa ini bukan sekedar retorika, namun konklusi dari berbagai hasil riset yang pernah dilakukan banyak pihak di seluruh dunia.

“kalau ada pihak yang harus dilibatkan (dalam pendidikan), itu adalah orang tua” terang Najelaa. Menurutnya, kedua orang tua memiliki tiga modal utama yang memengaruhi perkembangan anak secara mental dan kognitif. Modal itu adalah modal cinta, modal peduli, dan modal pemahaman keunikan anak.

Dulu, ketika masih berumur 15 tahun, Najwa mendapat kesempatan pertukaran pelajar ke Amerika. Waktu itu, sejumlah keluarga dan kerabat terlalu ragu dan cukup berat jika seandainya Najwa jadi berangkat memenuhi undangan tersebut. Ia masih begitu muda, dan sulit rasanya membayangkan seorang perempuan tanpa muhrim di tanah asing. Tapi dengan jiwa besar, ayahnya, Quraish Shihab meyakinkan mereka dengan tujuan mulia pendidikan.

“ini untuk pendidikan, ini untuk belajar mandiri, ini untuk bisa menjadi orang yang lebih baik, berangkatlah ke Amerika!” kata profesor mengenang masa itu. Akhirnya, dilepaslah Najwa muda yang beranjak dewasa ke negeri jauh. Tujuannya tetap: pendidikan dan kebaikan.

Tentang kekhawatiran lain, Guru Besar yang lahir di tanah Bugis, Kabupaten Sidrap ini menyatakan keyakinannya pada Najwa. Di rumah, dulu, beliau sudah membekali anak-anak dengan pagar keimanan dan nilai-nilai.

“ingat, beri pagar, agar (dengan kuasa-Nya) anak-anak tetap berada pada jalur yang benar. Memang belajar itu menderita. Kalau tidak menderita, itu berarti tidak belajar” Quraish Shihab mengingatkan seluruh pengunjung yang khusyuk mendengarkan.

Buku Harus Terlibat!

Di rumah mereka dulu di Ujung Pandang –sekarang Makassar- dan di Jakarta, bertebaran buku-buku apa saja. Cara seperti itu dilakukan agar Najwa dan Najelaa terbiasa membaca, lalu kemudian jatuh cinta pada buku. Sekarang, Najwa didapuk jadi Duta Baca Indonesia.

Bagi Prof. Quraish, membaca itu sama sekali bukan perkara membosankan. Cinta itu adalah dialog, kata beliau. Begitu juga cinta pada buku. Makanya jangan memaksakan cinta jika tidak ada kerelaan berdialog.

Membaca tidak boleh dijadikan percakapan yang sendirian. Setelah membaca, hasil itulah yang dipercakapkan. Konten dalam buku selalu dibincangkan sehingga menambah wawasan dan ragamnya sudut pandang  yang dimiliki oleh pembaca. “tapi tidak berhenti di situ, jatuh cinta pada buku haruslah berujung cinta pada ilmu pengetahuan” terang beliau yang pernah mengajar di IAIN Alauddin Makassar.

Buku tidak hanya menawarkan pengetahuan, tapi juga obat bagi jiwa.  Najwa menceritakan bagaimana sebuah perpustakaan di Kota Thebes Yunani kuno menyiratkan hal itu secara jelas. terpampang tulisan di atas pintu masuk, “A Healing Place of The Soul”. Tempat penyembuhan bagi jiwa.

Jika ditelusuri ke belakang, Yunani kuno menawarkan metode pengobatan dengan buku: bibliotherapy. Sebuah praktik terapi lewat membaca buku jenis tertentu. Meski cara ini sudah lama, istilah bibliotherapy baru dipopulerkan pada sekitar 1910-an awal. Para veteran Perang Dunia I yang mengalami gangguan stres pasca-trauma juga melakukan bibliotherapy. Di Inggris, novel Jane Austen digunakan tentara Inggris sebagai terapi kecemasan dan depresi.

Semua Orang Harus Terlibat!

“Pendidikan bukan hanya urusan murid dan guru di sekolah, tapi jadi milik semua” terang Najelaa yang memilih tidak memasang TV di rumahnya.

Dalam pendidikan, ia percaya kekuatan publik bisa mendobrak dan mengubah banyak hal. Ia percaya pendidikan harus mendapat umpan balik secara terus menerus melalui kepedulian semua orang. Sebagaimana Najelaa berujar, “ini bukan tentang nilai sekolah, tapi bagaimana kita bermanfaat bagi orang lain.”

Pesta Pendidikan adalah tempat berbincang pendidikan di ranah publik. Sekaligus tanpa melupakan tujuan utamanya sebagai merayakan pendidikan, tempat belajar, dan tempat berkarya melintas batas.

Kegiatan ini menghadirkan 27 agenda Ngobrol Publik dengan tema besar “Berkarya Melintas Batas.” Dua hari penuh, 13 – 14 Mei, hampir setiap celah yang menghubungkan bangunan benteng dan koridor dijadikan tempat asyik berdiskusi. Sesekali keriuhan terjadi pada arena-arena ngobrol yang menyajikan pembicara-pembicara populer

Semua diskusi bermuara pada beberapa tema. Ada cerita-cerita inspiratif mengenai praktek pendidikan, cerita-cerita mendobrak keterbatasan dalam meraih kusuksesan, cerita-cerita upaya lokal yang mengharumkan Indonesia, dan cerita-cerita komunitas yang telah banyak menebar manfaat dan melewati berbagai rintangan dan keterbatasan.

Sebagai kota keempat yang disambangi, Pesta Pendidikan mengumpulkan komunitas dan organisasi yang bergerak di bidang pendidikan untuk kerja bareng. Kerja keras ini membuahkan hasil. Tahun ini, ‘Pesta Pendidikan’ mengumpulkan seluruhnya 250 komunitas yang bergerak sama-sama mewujudkan kegiatan di empat kota. Padahal tahun sebelumnya hanya didukung 8 komunitas.

Ini menunjukkan animo yang menguat dan positif sudah mulai terbentuk. Dua puluhan relawan secara sukarela membantu kegiatan ini hingga rampung. Anak-anak muda dengan kaos oblong merah menyala ini gampang sekali kita temukan di area Benteng Rotterdam. Tulisan seragam itu seperti sebuah pesan dari Najelaa dan para penggagas. Tentang bagaimana masyarakat semestinya bersikap dalam dunia pendidikan, “Sekali Barengan Pantang Untuk Turun Tangan”.

Kegiatan ini memasuki tahun kedua. Refleksi tahun kemarin menyebutkan “Pesta Pendidikan adalah bagian kecil dari perjuangan panjang pendidikan Indonesia. Ini bukan sekadar agenda kampanye, kegiatan, atau pengumpulan massa. Kegiatan yang mendorong upaya pelibatan publik secara demokratis untuk Bergerak, Belajar, dan Bermakna Bersama.” Cerita-cerita kemarin disatukan dalam buku Refleksi Pesta Pendidikan 2016.

Ketika diskusi berakhir, ‘Bagimu Negeri’ mengalun. Diikuti semua penonton di sore menjelang petang. Selepas itu ratusan orang siap mengerubungi mereka swafoto, terutama Najwa. Tapi saya diam saja di tempat. Mencoba mencerna kembali beberapa pesan-pesan yang sempat hadir. Barangkali itu yang lebih penting.

Juga pesan Zaenal Dg. Beta. Ia menyerahkan satu lagi mahakarya lukisan tanah liat pada Quraish Shihab. Sembari berpesan, “(mari) barengan bergerak untuk mencapai tujuan”. Matanya tidak tertuju pada profesor, tapi untuk kita. Ya, kita semua.

 

8290a04828c94c0e93e220e3c3f9e33bd37a333e_large-

Photo by Shannon Jensen

Sehari sebelum Iqbal Lubis -kerap disapa ‘Ombal’ (Om Iqbal)– memberikan materi teknik fotografi di Kelas Menulis Kepo, ia memberi tantangan yang dikirimnya di grup Line angkatan. Nama tantangannya adalah Melihat Sudut Pandang.

Jadi begini, kami ditugaskan menyiapkan enam buah kertas ukuran A4 atau kertas karton biasa. Semua kertas dilubangi bagian atasnya yang berdimensi 36 mm kali 24 mm. Dalam ukuran cm presisinya dua kali tiga sentimeter. Oiya, tiga kertas dilubangi vertikal, sisanya horizontal.

Setelah itu, langkah selanjutnya: MENGINTIP pada lubang yang telah kami buat. Objek yang dijadikan sasaran haruslah berbeda. Entah itu sebuah ide, benda, manusia, interakasi, pemandangan, atau apa saja yang kami senangi.

Tidak berhenti di situ. Setiap selesai melihat dari balik lubang, objek tersebut harus digambar apa adanya pada bagian kertas yang masing kosong dan bersih. Kemudian sisa bagian kertas di pojokan bawah kanan memuat keterangan gambar. Hasil yang terlihat oleh mata itu saja yang wajib dilukiskan, tanpa menambah-nambahkan atau mengurangi sesuai dengan kehendak imajinasi. Om Iqbal menjanjikan hadiah menarik yang bisa menyelesaikan tantangan ini sebelum kelas dimulai.

***
Ketika ia menghantarkan materinya, ia sedikit bercerita mengenai challenge kemarin. Katanya, tujuan sebenarnya ialah melatih sudut pandang dalam pengambilan foto. Seperti menjauhkan dan mendekatkan objek.

Ukuran lubang di kertas itu sebenarnya adalah dimensi sesungguhnya dari sensor film full-frame. Sensor inilah yang menghasilkan ribuan gambar di setiap kamera yang kita gunakan. Sedangkan, gambar yang kami ciptakan di bawahnya ialah hasil yang terekam. Lalu keterangan yang tertera pada kertas merupakan caption yang selalu kita saksikan. hadir di setiap photo-journalism ataupun foto dokumenter.

Bagi Ombal, caption memegang peranan krusial dalam foto. Tidak boleh sembarang caption dituliskan dalam foto. Caption foto yang baik hanya merangkum visul foto saja. Tanpa ditambah atau dikurangi. Tidak perlu memasukkan unsur yang dihasilkan indra lain seperti pendengaran atau perasaan. Atau bila memang visual foto kurang jelas, bisa dijelaskan lewat caption. Dulu, saya juga pernah mendengar –dalam satu kelas jurnalistik- bahwa intinya kita telah melakukan hal mubazir jika menuliskan keterangan yang sudah tergambar jelas dalam foto.

Ombal menjelaskan, permainan ini juga tidak lepas dari proses cropping (memotong) sebagaimana kamera asli. Berdasarkan penjelasan Ombal, sebenarnya pemotongan foto itu terjadi sebanyak tiga kali.

“foto di-crop duluan di dalam kepala kita (proses berpikir dan imajinasi, red) dan kedua di mata kita sudah masuk masuk dalam spot view kamera (ketika mengintip di lubang sensor). Selanjutnya, proses terakhir terjadi pada aplikasi pengolah foto/gambar,” terang Om Iqbal.

Permainan lubang kertas ini mereprestasikan kamera yang sebenarnya. Bagaimana kami melihat sudut tangkap, menjauhkan dan memundurkan bila tidak pas, dan langsung menjepret. “semua orang memiliki selera visual, pada dasarnya. Namun selera dan penerjemahan visual tiap orang berbeda-beda.

“makanya, ketika saya menilai hasil tantangan kalian –apakah bagus atau tidak-, setiap orang bisa berlainan.” Terang Om Iqbal. Jadi, ia memang tidak sedang menaksir siapa paling bagus sudut pandangnya. Tapi siapa yang paling tepat ketika menerjemahkan isi kotak lubang di kertas pada gambar.

Ombal yang setiap minggu pagi meluangkan waktunya sebagai fasilitator Kelas Fotografi di The Floating School menerangkan sebuah metode menyampaikan pesan kepada banyak orang. Dikenal dengan “Photo Story”. Kata Ombal, “foto yang baik jangan sampai hanya jadi pelengkap tulisan. tapi hendaknya jadi pelengkap cerita.”

Di akhir, kami diharapkan bisa membuat, tidak hanya sebuah foto tunggal tapi beberapa foto yang merangkaikan diri sebagai cerita utuh. Boleh dibilang, Ombal hari itu sedang mengampanyekan ‘foto yang bercerita’ atau foto cerita.

Di tengah berlangsungnya kelas, Ombal menyajikan satu permainan kecil. Game ini menampilkan beragam potongan merek dagang. Maka ditampilkanlah merek tersebut dalam bentuk ‘gambar’ dan ‘kata’. Ada Nike, Adidas, Mozilla, Google, WordPress, Toyota, macam-macam. Setelah diuji, terbukti kami lebih mengingat logo (gambar) daripada jika ditampilkan dalam kata.

Permainan itu sekaligus ilustrasi mengapa rentetan foto menjadi penting dalam menjelaskan suatu peristiwa. Dengan pertanyaan lain, mengapa photo story menjadi signifikan. Dalam salah satu penjelasan tentang neuro-sains, otak manusia memproses segala bentuk visual, bukan verbal.

Foto yang bercerita

Jika ditilik dari sejarahnya, foto cerita cerita berakar dari foto dokumenter (1889) ketika Jacob Riis banyak mendokumentasikan kehidupan masyarakat miskin yang tinggal di New York dan daerah industri lainnya di Amerika. Selain itu, foto jurnalistik (photo-journalism) juga berpengaruh besar pada lahirnya foto cerita. Foto jenis ini jelas mengharuskan fotografer mengikuti kaidah jurnalistik demi keakuratan foto. J. Bruce Baumann (2011), pengajar foto jurnalistik di Southern Illinois University, menegaskan agar  pewarta foto hendaknya sadar dan berpikir selayaknya seorang jurnalis dahulu, baru kemudian berpikir dan bertindak sebagai fotografer.

Bagi Taufan Wijaya, penulis Photo Story Handbook (2016), mengatakan tidak mudah menelusuri sejarah foto cerita. Namun, gaya foto berseri dan bercerita ini muncul pertama kali pada 1929 di majalah Jerman, Muncher Illustrierte Presse. Empat tahun kemudian, Mendur, fotografer tanah air, mempublikasikan foto cerita pertama di Indonesia berjudul “Poewasa” di majalah Actueel Wereldnieuws.

Mengutip Taufan Wijaya, “fotografer adalah pencerita”. Nah seorang pencerita harus mampu bertutur (merangkaikan foto) secara baik dan fokus sehingga deretan foto tetap terjaga arah dan artinya. Itulah mengapa dalam mengisahkan satu kejadian, keadaan, dan konflik, para fotografer tidak cukup hanya menggunakan foto tunggal (single photo).

Dalam foto tunggal, satu gambar dapat berdiri sendiri, menceritakan dirinya sendiri, tanpa memerulukan bantuan dari foto lain untuk membangun cerita. Merujuk peristilahan bahasa, foto cerita menyajikan metode DM-MD (Diterangkan Menerangkan – Menerangkan Diterangkan). Foto cerita menggunakan pendekatan berbeda. Caranya dengan merangkai beberapa foto yang menjelaskan dan melengkapi satu sama lain serta disertai tambahan teks.

memotretlah jika ingin berkomunikasi lewat foto” kata Om Iqbal. Secara tidak langsung ia menyarankan kami mengambil gambar dan merekam peristiwa melalui medium foto. Jika Om Iqbal tidak ada malam itu, mungkin sampai sekarang saya tidak bakalan tahu apa itu foto cerita.

I’m used to capture some of unusual moments and then let them do they work. Biasanya saya hanya meninggalkan satu foto sebagai ilustrasi dan pelengkap cerita. Tanpa gambar, rasanya seperti sayur tanpa garam. Namun setelah mendapatkan penjelasan mengenai photo story, saya cukup percaya sebuah postingan bisa jadi lebih hidup dengan rangkaian gambar yang mengiringinya.

Sepatu Pengungsi dan Hukum Cambuk

Salah satu kerja foto cerita yang populer dikerjakan oleh Shannon sepanjang Juni hingga Juli 2012. Dengan judul “A Long Walk” yang memikat, ia membuka dengan sebuah pertanyaan “How do you represent a journey in a image?” Sekitar 3000-an pengungsi memulai perjalanan mencari perlindungan setelah 9 bulan berada dalam teror di negara sendiri.

Lalu saya pun tidak menyangka bahwa Shannon menggunakan sepatu untuk memberi gambaran penderitaan para pengungsi yang bertahan sejauh itu. Ia merekam bagaimana sulitnya perjalanan menembus perbatasan selatan Sudan di tengah kepungan tentara pembebasan, kekurangan air dan makanan.

Kisah ini menyadarkan penduduk dunia tentang kerasnya kehidupan yang harus dilalui oleh perempuan dan anak-anak di tengah konflik mendera. Juga menginspirasi PBB lebih berkonsentrasi pada perlindungan anak di daerah pengungsian.

Contoh lagi, seorang fotografer lepas Armin Hari membuat foto cerita “Canning Punishment in Aceh” tentang pelaksanaan hukum cambuk di Aceh. Selepas ashar pada suatu hari di Masjid Besar Bireuen, Polisi Syariah melaksanakan hukuman cambuk sembilan kali pada para pelanggar hukum syariat Islam yang berlaku di sana. Rotan kecil yang digunakan panjangnya sekitar satu koma lima meter.

Sebelum eksekusi dilangsungkan, area ini dibersihkan dahulu dari jangkauan penglihatan anak di bawah umur. Lalu, di hadapan para petinggi pemerintah lokal, hukuman ini dilaksanakan. Armin Hari merekam sequences ini dengan sejumlah foto yang kesemuanya hitam putih.

Teknik Ringkas Foto

“fotografi itu seni melukis dengan cahaya. Memotret itu tentang bagaimana empunya kamera memanfaatkan cahaya dan (bahkan) mengontrolnya” sambung Om Iqbal. Dalam exposure (pencahayaan), terdapat tiga elemen utama yang mengontrolnya.

Pertama-tama ada aperture/bukaan (fokus). Semakin mengecil fokus, maka gambar akan semakin tajam. Hal ini dikarenakan bukaan kecil menyempitkan cahaya yang masuk.  “untuk gambar landscape (pemandangan), saya sarankan gunakan bukaan 5/6 sampai 1/16 agar semua objek bisa tajam dan fokus” katanya.

Selanjutnya adalah Shutter Speed. Elemen ini mengatur seberapa lama cahaya masuk mengenai sensor. Makin tinggi kecepatannya, makin sedikit cahaya masuk. Tips dari Om Iqbal, jika cahaya sedang banyak-banyaknya, maka baiknya imbangi dengan shutter speed yang cepat pula.

Terakhir ialah ISO yang merupakan sensor kepekaan kamera terhadap cahaya. ISO terdiri dari nomo 100 hingga 12800. Semakin tinggi ISO yang digunakan, maka semakin peka pula sensor terhadap cahaya. Begitu sebaliknya. Pengontrolan ISO juga berfungsi untuk penambahan cahaya bila sedang redup, atau menormalkan cahaya bila sedang terang.

Selain pencahayaan, dua hal yang harus diperhatikan ialah ‘komposisi’ dan ‘elemen visual’. Keduanya berpengaruh besar dalam estetika foto. Foto yang memenuhi salah satu unstur komposisi dan memiliki elemen visual akan lebih sedap dipandang. Komposisi ini meliputi setengah bidang, tengah, diagonal, atau sepertiga bidang. Komposisi terakhir paling populer dan sering diistilahkan “one-third rule” atau kaidah sepertiga. Objek berada di bagian sepertiga dari frame, selebihnya adalah objek pendukung atau latar. Foto-foto yang dihasilkan hampir selalu nyaman dipandang dan keren. Coba saja kalau tidak percaya. Hehe.

Sedangkan elemen visual ialah sajian geometrik yang muncul dari sebuah foto. Salah satunya elemen garis. Foto yang membentuk elemen garis (entah itu putus-putus, lurus, atau gelombang) membantu para penikmat foto menikmati sajian estetika yang pas dan berkesan di indra penglihatan. Elemen warna mempengaruhi emosi seseorang, lalu elemen tekstur menggambarkan karakter yang berbeda-beda. Sementara elemen ruang dan perspektif membantu menciptakan efek tiga dimensi terhadap komposisi.

“elemen perspektif dan ruang digunakan juga demi menciptakan kesan ruang dan suasana” lanjut Om Iqbal. Ia menjelaskan, sehingga mengubah sudut pandang ruang juga akan mengubah suasana dalam foto.

Selesai kelas, ada tantangan dari Om Iqbal. Tantangannya yaitu membuat satu postingan foto dokomenter atau rangkaian foto yang bercerita (photo story). Konten memuat narasi (naskah) minimal 500 kata dengan minimal terdiri dari lima buah foto. Setiap foto dilengkapi dengan caption. Dikumpulkan paling lambat: Rabu/29 Maret 2017

Nah, hayuk atuh. Mari mengambil foto.

*Catatan Kelas Menulis Kepo Angkatan IV
Waktu: Jumat/ 24 Maret 2017
Pukul: 17.00 – 21.00
Materi: Teknik Fotografi dan Photo Story
Tempat: Brewbrtohers Café, Pengayoman Makassar
Pembagi Ilmu: Om Iqbal Lubis

dyscalculia-1024x449 (1)

Nyaris setiap hari di sekolah, Dinda* bermain dengan sketch book miliknya dan pensil khusus gambar sketsa. Kira-kira dua puluh lima halaman sudah berserakan ke mana-mana. Beberapa lembar masih bersisa dengan karakter bikinan-nya sendiri.

Anak ini cukup ‘komik’ di antara tiga belas siswa kelas delapan yang lain. Pembawaannya riang sepanjang hari. Tak pernah berhenti mulutnya cerocos apapun. Termasuk saling membalas serapah, berdebat sengit dengan teman laki-laki, dan bergosip dengan sesamanya siswa perempuan.

Tubuhnya besar menjulang. Kacamatanya membantu mengurangi minus yang ia derita. Sekaligus tempat berlindung yang sempurna bagi matanya yang bulat hitam dan relatif besar dari teman-temannya. Hal yang menurut saya istimewa, ia bisa tetap enjoy menggambar sambil ngobrol atau lempar makian dengan teman-teman di depan dan sebelah kiri-kananya.

Meski begitu, ia akan terlihat lesu dan tidak fokus ketika mata pelajaran matematika dimulai.  Ketika ia mulai stress, ia mulai sedih sendiri. Ketika tiap jeda, saya bertanya apakah mereka paham atau tidak, hanya Dinda memasang wajah sedih.

“Nda mengerti, pak” jawabnya sambil menjatuhkan wajahnya ke bawah dan menggelengkan kepalanya. Ketika saya ulangi lagi setelah penjelasan yang lebih sederhana, saya kembali bertanya.

“belum mengerti” jawabnya dengan suara disedihkan. Ia ulangi lagi jawaban itu hingga tiga kali tanpa saya tanya. Seakan sebuah pengakuan bahwa ia memang tidak bisa. Saya tak bisa berbuat apa-apa.

Setiap kali itu pula, berulang kali Hakima yang bangkunya berada tepat di depannya mencoba menjelaskan. Anak ini memang jadi partner in crime Dinda. Tapi selalu siap memberikan yang terbaik jika Dinda (kadang hanya Dinda sendiri) tidak mengerti pelajaran yang disajikan, utamanya Matematika.

Dalam satu pertemuan di kelas, saya mendampingi mereka mengerjakan matematika dalam bentuk project. Sudah tiga puluh menit anak itu duduk menekuri jangka, busur derajat, kertas karton, dan spidol berwarna. Ia duduk di lantai kelas bersama teman kelompoknya yang lain.

Meski begitu, ia juga tidak tahu bagaimana dan akan diapakan semua alat-alat itu. Ia cuma memegang peralatan tersebut dan siap membantu jika dibutuhkan. Pada akhirnya, ia hanya bertugas membuat garis lurus, dan menebalkan garis-garis menggunakan spidol pada koordinat rotasi yang telah ditentukan. Pekerjaan utamanya telah selesai, Dinda, nama anak ini, hanya kebagian menyempurnakan apa yang sudah diselesaikan.

Menyaksikan Dinda yang nampak mulai serius mengerjakan project matematika di kelas, teman sekelompok menanggapi dengan canda, “nda seperti Dinda yang kami kenal. Dinda itu harusnya berkutat dengan pensil dan buku gambar.” Selebihnya mengiyakan sambil senyum dan menggoda Dinda. Di kepalanya, masih berputar-putar mengenai konsep derajat negatif-positif dan arahnya ke mana jika clockwise atau anti-clocwise.

Ia tidak bisa mengerti konsep derajat dan arah dengan baik dan sempurna. Jika teman-temannya mengerti dalam dua hingga tiga kali ilustrasi. Ia butuh waktu lebih banyak. Jika penjelasan saya yang berulang-ulang tidak juga bisa dipahami, maka ia akan pasrah tetap gagal memahami.

Sebulan ini, saya kebetulan dipercaya menangani persiapan international test yang akan diadakan di sekolah. Test ini dibuat sedemikian rupa menguji kemampuan matematis anak, utamanya –sekitar 85 persen- konsep bilangan. Bahkan termasuk pelajaran ketika mereka kelas enam di bangku SD, mengurutkan bilangan pecahan terkecil hingga terbesar. Masalah inipun, Dinda kebingungan. Raut wajahnya yang dibuat ‘disedih-sedihkan’ –bukan Dinda namanya kalau tidak bisa selalu nampak gembira di hadapan teman-temannya- menatap saya. Ditatap seperti itu, saya jadi merasa kasihan.

Jelas ia khawatir nilainya jeblok. Bahkan, pada sesi terakhir, soal akan didikte dan peserta menjawab soal dalam waktu sepuluh hingga dua puluh detik. Tertulis dengan terang saja, Dinda kebingungan, apalagi jika dibacakan. Ujian ini memang terstandar dari sono-nya. Ketidakmampuan anak sudah jelas akan terbaca di mana letaknya. Sebulan menangani kelas delapan, saya menduga Dinda terkena diskalkulia.

“iya, Dinda itu cukup bermasalah dengan mata pelajaran hitung-hitungan, matematika dan termasuk sains fisika.” Erwin, guru pendamping khusus di kelas menjelaskan kondisi Dinda pada saya.

“tapi, cuma itu saja. Yang lain (pelajaran non-matematik) ia bisa mengerti dengan baik.” Ia menambahkan, barangkali saja anak ini memang malas untuk berurusan dengan matematika. Mengambil jalur aman dengan tidak pernah berusaha sebaik mungkin untuk mencapai skor KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum).

Tetap pada dugaan awal, saya mengira Dinda diskalkulia. Dengan bukti bahwa ia mengalami directional confusion (kebingungan arah) dan kebingungan konsep bilangan serta operasi-operasi dasar matematis. Ringkasnya, diskalkulia adalah kesulitan belajar matematika atau mengerjakan soal hitungan.

Gejala-gejala Diskalkulia

Defenisi cukup komprehensif mengenai diskalkulia dijelaskan Department for Education and Skills (2001) di Inggris bahwa diskalkulia merupakan kondisi yang mempengaruhi kemampuan siswa memeroleh keterampilan matematis. Murid dengan diskalkulia kemungkinan memiliki kesulitan memahami konsep-konsep bilangan, kekurangan intuisi terhadap bilangan, dan mengalami masalah mempelajari angka-angka dan prosedur-prosedur. Meski anak dengan diskalkulia menjawab dengan benar atau menggunakan metode yang tepat dalam mengerjakan soal, mereka melakukannya secara mekanis tanpa disertai kepercayaan diri.

Padahal tanpa pengetahuan matematis yang memadai, anak dikhawatirkan tidak cukup tangkas dan tanggap dalam sejumlah aktivitas keseharian. Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya anak-anak jelas akan membutuhkan kemampuan mengelola uang, mengukur satuan berat dan waktu, dan persen. Ini mensyaratkan siswa memiliki keterampilan estimasi dan kecakapan berhitung yang terdapat dalam pecahan, pengukuran, dan aljabar sederhana.

Meski konteks terhadap pelajaran tersebut diturunkan ke dalam masalah yang sangat nyata di sekelilingnya, siswa harus mengerti konsep abstrak agar bisa memahami langkah-langkah dan prosedur logis dari matematika. Sesegera mungkin, pendidik pasti akan mengubah itu ke dalam bentuk simbol. Plus dengan banyak peraturan dan prosedur yang harus dipenuhi. Kemampuan transfer nyata-abstrak inilah yang cukup lambat terjadi pada anak dengan diskalkulia.

Ketika bidang ini pertama kali diteliti, kala itu tahun 80-an. Joffe menyebutkan 61 persen anak-anak pengidap diseleksia (lemah bahasa) juga lemah dalam matematika. Minimnya kesadaran anak terhadap bahasa menjadikan mereka juga lebih kebingungan terhadap bahasa simbol matematika. Waktu itu, banyak masih diperdebatkan mengenai keilmiahan studi yang dilakukannya. Tapi, semua orang berasumsi bahwa siswa yang lain, 39 persen sisanya, anak diseleksia bebas diskalkulia.

Penelitian Kosc (1986) menyebutkan diskalkulia sebagai gangguan fungsi otak (brain abnormalities). Kekacauan struktur terhadap kemampuan matematis yang berasal dari genetis atau bawaan bawaaan malfungsi pada salah satu bagian otak, tanpa disertai gangguan fungsi mental secara umum.

Setelah 20 tahun berlalu, beberapa penelitian poluler yang menyebutkan bahwa tidak hanya anak dengan diseleksia yang bisa terkena dampak diskalkulia. Tapi murid normal sekalipun bisa mengamali diskalkulia. Ini yang membuat saya menduga Dinda mengalami indikasi diskalkulia.

Kenyataannya masih sangat sedikit yang kita ketahui mengenai diskalkulia, penyebabnya, maupun metode penanganannya. Anak diskalkulia murni (tanpa diseleksia) yang memiliki ‘kelemahan’ terhadap bilangan, akan memiiki kognitif dan kemampuan bahasa setara dengan anak normal, dan bahkan terhitung istimewa dalam pelajaran non-matematis.

Jangan Salah Langkah

Matematika punya sifat naturalnya sendiri. Pelajaran ini dibangun dalam struktur otak anak berdasarkan berdasarkan apa yang sudah ia ketahui sebelumnya. Matematika secara logis membutuhkan rentetan pengetahuan yang tidak boleh melangkahi satu sama lain. Misalnya, siswa harus menguasai sistem persamaan linear sebelum melangkah pada materi fungsi linear. Tidak bisa tidak. Oleh karenanya, membimbing anak-anak sampai memenuhi persyaratan dalam satu materi itu sungguh penting. Pendampingan sebaiknya dilakukan hingga tuntas dengan mempertimbangkan level pencapaian siswa.

Bilangan dan aritematika merupakan pokok materi awal bagi hampir semua siswa ketika mempelajari matematika. Keduanya juga merupakan konsep paling sering yang bisa jadi akan ditemui manusia sepanjang hidupnya. Jika dalam tahap ini seorang murid gagal, maka kondisi ini akan menentukan apa yang selanjutnya terjadi. Tahap berikutnya menjadi timpang, secara akademik dan emosional.

Di sekolah terdapat Ruang Khatulistiwa (bukan nama sesungguhnya) di mana siswa special need (berkebutuhan khusus) diberikan perlakuan khusus. Di ruangan ini terdapat dua guru pendamping khusus yang ditugaskan melakukan treatment sesuai kondisi murid. Utamanya terkait pembelajaran dengan berbagai metode yang memudahkan anak apabila mereka kesulitan di kelas.

Guru Pendamping Khusus (GPK) melakukan observasi di kela setiap hari sejak pagi hingga lepas jam pelajaran terakhir. Sembari mencatat progress siswa, ia merancang treatment bagi siswa yang membutuhkan. Bedanya, bila setiap guru mata pelajaran merancang kegiatan belajar per kelas, guru pendamping merancang program belajar individu.

Tapi, sekali lagi, Dinda adalah anak normal dengan kemungkinan diskalkulia. Ia bukannya tidak bisa berubah. saya, guru-guru yang lain, dan orang tuanya yang harus memberikan perhatian lebih. Kami-lah yang harus berubah pada Dinda. Utamanya dalam mengajarkan dirinya untuk bisa ‘jadi lebih hidup dan bergairah’ dalam matematika.

Memang ada satu cara membuat lompatan besar seorang siswa dalam mempelajari matematika. Cara ini akan memberikan siswa sejumlah banyak soal-soal yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Sehingga lama-kelamaan siswa akan semahir mahir memainkan bentuk-bentuk penyelesaian dalam matematika.

Namun, metode ini begitu sulit diterapkan bagi anak dengan diskalkulia, terutama bawaan diseleksia. Mengerjakan begitu banyak soal tanpa disertai review, revisi, dan catatan kemajuan siswa sama saja melakukan upaya yang sia-sia. Kemampuan bahasa yang lemah (utamanya bahasa simbol matematika) membuat mereka jauh lebih bingung dari yang seharusnya. Mencari untung, malah buntung.

Jalan paling tepat, ialah menyeimbangkan antara ‘penguasaan materi’ dan ‘perkembangan.’ Struktur program pengajaran haruslah beradaptasi dengan catatan-catatan perkembangan tersebut.

Intervensi Anak dengan Diskalkulia

Sebagaimana lazimnya proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) yang sukses, seorang pendidik harus mengetahui dua hal. Pertama, pengetahuan tentang kondisi siswa, dan pengetahuan tentang mata pelajaran yang diampu. Boleh-boleh saja seorang guru memiliki kecakapan yang istimewa dalam bidang matematika. Namun belum tentu ia akan mengajar efektif jika ia luput mengetahui perkembangan belajar masing-masing anak.

Sebelumnya, saya sudah sebutkan beberapa gejala dan tanda diskalkulia, atau umumnya kesulitan belajar matematika. Kebingungan arah, kebingungan bahasa matematis, dan kebingunan konsep bilangan. Beberapa tanda lain seseorang mengalami diskalkulia, ialah memori jangka pendek, kecepatan mengerjakan soal, kecemasan serta stress yang berlebihan, dan kebingungan spasial.

Khusus yang terkahir disebutkan, ini berhubungan dengan kesulitan-kesulitan visual. Kecerdasan ini dibutuhkan untuk mengerjakan soal-soal geometri, menentukan nilai tempat, dan khususnya aljabar yang banyak menggunakan diskriminasi visual. Misalnya, anak tidak bisa membedakan dengan tepat visual “x berpangkat 2” dan “x kali 2”.

Meski begitu, bukan berarti tidak ada hal bisa kita lakukan untuk mengatasinya. Prinsip pertama ialah menggunakan pengetahuan dan kompetensi anak saat itu sebagai bahan dalam membuat program pembelajaran inidividu. Bukan dengan menyamakan situasinya dengan teman-teman kelasnya yang lain. Menyajikan mentah bahan pembelajaran (prosedur matematis) yang ia tidak ketahui membuat ia akan kehilangan kepercayaan diri dan kesempatan mendapatkan pelajaran sesuai tingkatan pemahamannya.

Selanjutnya ialah menyderhanakan bahasa. Pendidik atau guru pendamping sebaiknya menggunakan bahasa-bahasa yang terkait erat dengan kehidupan keseharian murid. Tidak hanya itu, komunikasi dengan bahasa sederhana itu harus dilengkapi gambar dan ilustrasi yang memadai sesering mungkin, bagaimanapun caranya.

Paling terakhir, sikap rendah diri dari orang-orang sekeliling, terutama guru. Secanggih apapun metode yang dimiliki seorang guru untuk mengajarkan satu topik matematika, insya Allah tidak akan sukses membuat setiap anak paham. Sangat mungkin sekali seorang anak bingung dengan cara alternatif yang disampaikan guru, namun yang lain mudah saja mengerti.

Jika setiap pendidik memahami hal ini, ia tidak akan memaksakan menerapkan gaya mengajarnya pada setiap anak atau setiap kelas. Sebaliknya ia akan mengakui bahwa setiap anak memiliki pola pikir dan gaya belajar yang berbeda-beda. Sehingga sebelum mengajar, ia sudah menyiapkan beberapa alternatif metode yang memperhatikan kondisi gaya belajar dan tingkatan pengetahuan yang berbeda.

Sebulan mengamati Dinda, saya merasa anak ini istimewa dengan caranya sendiri. Ia cukup baik dalam pelajaran lain yang memproses kata (Bahasa, PKn, dan IPS) dan psikomotorik (Art, Choir, dan Teater). Saya tidak memiliki kapastitas memberikan tes resmi pada anak ini terkait dugaan pribadi saya diskalkulia.

Jauh pikiran saya dari memasukkan Dinda ke Ruang Khatulistiwa agar ia mendapatkan treatment. Saya cukup percaya hipotesa Butterworth (2005) dan Landerl (2004) bahwa diskalkulia (dalam perkembangannya) muncul sebagai problem spesifik tentang memahami dan menyerap cepat konsep dasar dan fakta-fakta bilangan. Dalam kata lain, anak dengan diskalkulia bukan berarti ‘bodoh matematika,’ tetapi, merujuk kembali Butterworth terdapat “several major gaps in their knowledge.” Gaps ini yang mesti dikejar dan dipantau sedemikian rupa agar menjadi program pembelajaran yang ramah siswa.

Jadi, mudah saja bukan? Bukan dengan mengucilkan anak-anak tanpa kemampuan matematis, tapi dengan pendekatan yang benar, perlakuan yang tepat, mereka akan bisa mengejar keteringgalan. Setelah itu, mereka juga akan mengejar teman-temannya yang lain. Satu ketika, setelah barangkali berbulan-bulan kemudian, saya bisa melihat Dinda melemparkan senyum selebar-lebarnya pada jam pelajaran matematika. Semoga.

Referensi:
Mathematics for Dyslexics (Including Dyscalculia)3rd edition
. Steve Chinn and Richard Ashcroft. John Wiley and Sons, Ltd. England. 2007.
*bukan nama sesungguhnya