Archive for the ‘Reportase’ Category

cropped-picture1

thefloatingschool.wordpress.com

”sejak awal, kami percaya kekuatan ada pada (masyarakat) lokal. Kami selalu titipkan pesan pada fasilitator untuk datang memfasilitasi, bukan menggurui”

Pagi menunjukkan belum pukul tujuh hari Minggu (8/4) pekan kemarin. Tapi rumah di bilangan Perintis Kemerdekaan ini sudah sibuk sejak tadi. Empat fasilitator dan dua relawan sudah memenuhi ruang tamu. Kehadiran mereka mendesakkan barang-barang yang sudah lebih dulu ada di sana. Di tengah terletak dua papan tulis kecil ukuran setengah meter, enam buah laptop yang dibiarkan terbungkus rapi, kardus berisi buku penuh buku pelajaran dan buku tulis, satu kardus lagi berisi perlengkapan gambar, kertas, keperluan administrasi dan prakarya. Sesaat lagi mereka bertolak menuju Pelabuhan Laut Maccini Baji di Kabupaten Pangkep. Dari sana perjalanan dilanjutkan via laut selama sekitar 20 menit menuju Pulau Satando, Pangkep.

Namun sebelum berangkat, mereka harus memastikan segala persiapan rampung di dua tempat sekaligus, di Kota Makassar dan di Kabupaten Pangkep. Seorang perempuan bercelana training di antara mereka sibuk sedari tadi. Rahmiana Rahman namanya, disapa kak Ammy oleh beberapa fasilitator dan volunteer The Floating School. Satu-satunya pekerjaan yang harus ia selesaikan sendiri ialah memastikan semua fasilitator dan volunteer yang tersebar di sejumlah tempat siap bergerak menyukseskan kelas minggu itu.

Jemarinya sibuk menyentuh dan menggeser layar ponsel pintar milik. Matanya selalu awas memastikan segalanya beres sebelum beralih ke hal lain. Lewat ponsel biasa, sebagian besar waktunya pagi itu ia gunakan menelepon ke sana ke mari dengan nada antusias. Suara Ammy cukup kencang membangunkan volunteer untuk segera bersiap-siap. Termasuk memastikan Daeng Sikki -navigator Kapal Fitra Jaya 03- untuk siap menjemput di dermaga, memastikan segala perlengkapan terbawa, bekal sarapan pagi. Juga memastikan siswa-siswa di Pulau Saugi dan Pulau Sapuli siap dijemput dan diantar ke Pulau Satando. Sambil terbahak ia menyudahi pecakapan terakhir pagi itu dan menutup telepon.

“mari kita berangkat” katanya dengan riang.

Mobil yang kami tumpangi harus singgah tiga kali menjemput volunteer. Meski baru, The Floating School menarik animo pegiat komunitas menengok metode dan inisiatif baru ini tiap minggunya. Normalnya, volunteer dibatasi karena angkutan kapal yang terbatas. Sehingga beberapa volunteer yang mendaftar terpaksa ditolak dan mengantri untuk mengikuti The Floating School berikutnya.

Pekan ini relawan yang beruntung bisa menumpangi “Kapal Fitra Jaya 03” ada Ari dan Teguh. Mereka berdua baru saja ‘turun gunung’ setelah mengadakan Sokola Kaki Langit di Kabupaten Barru, tetangga Pangkep. Dua jam perjalanan darat harus mereka tempuh untuk bergabung bersama yang lain. Kaki celananya masih terlipat ketika mereka berdua kami lihat sampai sampai di dermaga. Kendaraan roda dua yang mereka tumpangi dari Barru langsung ke sini masih membekas di kendaraan roda dua automatic. Tanpa merasa lelah, ia menghambur lagi mengikuti The Floating School. Ada juga Tiny dari Komunitas Penyala Makassar yang sedang merampungkan Pustaka Ceria dan agenda bantu-bantu Kelas Inspirasi Konawe.

Pagi itu, kami belum berangkat karena masih menunggu Rahmat HM Mato, salah satu inisiator juga. Saat itu, pukul 09.20 ia baru sampai di tepi dermaga. “baruka pulang ini dari urus kursus mingguannya PEC (Pangkep English Club). Itu dulu kukasi’ selesai, baru ke sini” katanya minta maaf tapi sumringah bisa berkumpul lagi dengan volunteer dan fasilitator. Selama perjalanan, Daeng Sikki tampak santai di ruang kemudi. Hari ini laut cukup tenang.

Mengapa harus Floating School?

Sekolah ini adalah inisiasi Ammy bertiga bersama Nunu Al Marwah Asrul dan Rahmat HM Mato. Proposal sekolah ini lalu diajukan untuk memperebutkan grant “YSEALI Seads for The Future”. Sebanyak 400-an proposal yang masuk dari seluruh negara, hanya tiga dari Indonesia yang berhasil diterima, salah satunya The Floating School. Alasan terpilihnya The Floating School untuk didanai karena program ini memiliki rencana keberlanjutan bagi masyarakat di tiga pulau yang terkena dampak.

“Pada mulanya, mereka berkunjung ke pulau-pulau tersebut untuk mengetahui keadaan masyarakat setempat dan menggali kebutuhan mereka” kata Ammy yang merupakan alumnus Jurusan Bahasa Inggris UNM 2006 ini menjelaskan. Ammy dan kawan-kawan lalu mencari data untuk memulai program ini. Mereka lalu mencari data lewat sajian angka-angka BPS tahun 2010. Bermula dari data besar lalu mengerucut ke data kecil hingga muncullah keputusan membuat sekolah ini.

Akhirnya mereka menemukan sekolah-sekolah yang masih sulit secara akses dan ekonomi itu berada di Jeneponto dan Pangkep. Kenapa memilih Pangkep? Selain karena kedekatan Rahmat HM Mato yang mengenal dekat Pangkep, mereka juga berpikir bahwa Pangkep butuh untuk dibantu dari segi pendidikan.

Ammy mengatakan, di Pangkep ada 117 pulau kecil dan 87 pulaunya berpenghuni. Ini berarti 75 persen infrastruktur sekolah –ini jika semua pulau didirikan sebuah sekolah- butuh bantuan karena terisolir dari darat. Baik dari segi sumber daya manusia maupun sarana-sarana penunjang pembelajaran lain. Belum lagi dengan Pulau yang berbatasan dengan Bali, sekitar 10 jam menembus laut sulawesi ke selatan. Alasan-alasan itu yang menggerakkan mereka memilih Pangkep.

Lalu kenapa harus tiga pulau yang berdekatan Pulau Saugi, Sapuli, dan Satando? Mereka menginginkan memulai dampak dari cakupan wilayah yang terdekat. Ketiga warga pulau ini masih berkerabat dekat satu sama lain. ‘Tiga Pulau Satu Kampung’ julukan ini diberikan karena ketiga pulau masih merupakan wilayah kampung yang sama, Desa Mattiro Baji.

Mereka tetap yakin untuk bisa melakukan keduanya, sehingga pendidikan yang ditampilkan masih fokus dan sejalan dengan tujuan pertama. Akhirnya, mereka membuat sekolah yangmenggabungkan pendidikan dan economic value. Pendidikan memang jembatan untuk meraih dan memperbesar kemungkinan-kemungkinan masa depan yang lebih baik, termasuk ekonomi. Tidak terkecuali anak-anak ini.

Perkembangan yang dibanggakan

Inisiasi ini masih baru. Meski begitu, ada sejumlah hal yang terjadi di luar ekspektasi. Itu membuat Ammy senang sekaligus bangga. Pertama, ia menargetkan hanya bisa merekrut 50 siswa. Kemudian mereka akan belajar selama tiap pekan saban minggu selama enam bulan hingga Agustus mendatang.

Setelah running, ternyata 90 anak berusia 13 – 20 tahun yang memiliki niat besar menjadi siswa. “Jumlah ini memberikan gambaran tingginya minat mengikuti The Floating School. Setidaknya niatan anak-anak  mereka memberi gambaran tingginya minat mereka mengikuti The Floating School.” Kata Ammy senang.

Selain itu, hal yang tidak mereka duga ialah animo fasilitator yang berhasil mereka rekrut sejauh ini. “saya sangat bersyukur memiliki fasilitator yang amazing.”  Rentang waktu dua bulan, Ammy berbangga para pengajar dengan skill yang baik ikut turun tangan mengabdi di pulau kecil ini. Sebab selain keterampilan mereka memiliki semangat mengajar tinggi dan fleksibilitas dalam hal menyampaikan pembelajaran ke anak-anak.

Ammy sangat senang dengan karakter dan perubahan mereka sepanjang ini. Perekrutan fasilatator tidak hanya mencakup aspek kompetensi, tapi juga kemauan bekerja selama setengah tahun tanpa jeda dengan fleksibilitas tinggi. Ia mengutarakan kesenangannya karena dengan ide besar yang mereka miliki mudah diterima fasilitator waktu itu. “Tidak sulit mentransfer isi kepala kami ke dalam benak-benak mereka.”

Ia dan timnya sadar tengah melakukan semacam intervensi sosial di tengah-tengah masyarakat. Mereka ketemu lingkungan baru yang harus dikelola dengan serius. Apalagi ini menyangkut dua aspek penting, pendidikan dan ekonomi. Satando, Saugi, dan Sapuli adalah tempat asing bagi mereka sebelum ini, lingkungan yang baru. Kekhawatiran untuk diterima juga ada sebelum mereka masuk. Tapi semuanya tertepis.

Sambutan masyarakat lokal yang mereka terima luar biasa. Sebaliknya The Floating School justru diterima dengan tangan terbuka. Justru, beberapa ide kelas-kelas itu berdasarkan ide dari warga. Seperti kelas prakarya, misalnya. Observasi sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Meski baru memasuki pekan kelima pembelajaran, sudah sejak 28 November mereka telah mengeksekusi segala persiapannya. Mulai pencarian funding hingga observasi ke tiga pulau.

Ammy tersenyum lebar dan membelalakkan mata, ia mengaku jika ini adalah sekolah apung pertama di Indonesia. Mereka menyewa Kapal Fitra Jaya 03 untuk membawa pangajar, buku-buku, dan relawan untuk mengajar di tiga pulau berbeda. Walau begitu, demi mengefektifkan mobilisasi, pekan-pekan terakhir ini semua kelas dipusatkan di satu pulau saja, Pulau Satando.

Aktivisme Sosial Merubah Masyarakat?

Mereka belum bisa menjawab sejauh itu. Tapi ilustrasinya, Ammy melihat sedikit demi sedikit ada perilaku yang menurut mereka positif. Misalnya, tanpa kendala berarti langsung diterima oleh masyarakat. Bisa saja mereka dicegat, tidak diperbolehkan mengangkut anak-anak belajar dari Pulau Saugi dan Sapuli lalu memulangkannya kembali setelah belajar. Mereka berani dan percaya dengan The Floating School sejak awal kedatangannya.

Hal kedua adalah, kepercayaan diri masyarakat, khususnya anak-anak memang meningkat. Pekan pertama mereka masih malu-malu menyanyi. “Hanya di awal saja mereka  masih malu-malu, sekarang di suruh menyanyi pun mereka sudah pede.” kata Ammy.

Jamal misalnya, di kelas fotografi ia dari awal sudah menunjukkan bakat alami. Tiga pekan lalu ia dipinjami kamera saku oleh faslitator. Ia berkeliling kampung dan berhasil mengambil sekira 10 gambar. Kesemuanya punya cerita yang menarik dan sudut pandangnya juga tidak biasa bagi ia yang baru saja memegang kamera. “senang sekali melihat ada anak yang seperti itu di Floating School” terang Nunu Al Marwah Asrul, rekan Ammy yang juga bersama-sama mendirikan The Floating School.

Faslitator kelas menyanyi dan musik dan kelas menulis adalah orang Pangkep asli, dan berdiam di kota Pangkep. Hasilnya, anak-anak merasa punya proksimitas dan percaya diri yang besar untuk berkreasi di depan para pengajar.

Di Kelas menulis contohnya, sepanjang yang saya amati, Idrus dan Wani mampu menunjukkan aspek bahasa yang baik. Pada satu sesi oleh fasilitator mereka berdua diajak menghabiskan waktu di luar kelas mengamati kehidupan kampung. Tiga puluh menit kemudian, secara tiba-tiba mereka bisa merangkai larik-larik puisi tentang Pulau Satando dan kehidupan mereka sebagai anak-anak laut.

“Kami percaya kami bisa membuat anak-anak ini memamerkan sesuatu. Apa yang berharga dari kampung-kampung mereka.” Di akhir bulan ke-enam, kami akan melakukan pameran karya dan kreasi di Pulau Cambang-Cambang. Pulau ini merupakan pusat wisata di daerah Pangkajene Kepulauan. Ammy membayangkan misi The Floating School akan jauh melampaui apa yang telah mereka raih dua bulan ini.

Kepercayaan ini rencananya akan dibayar lunas dengan baik oleh tim The Floating School. Mereka sudah menyiapkan satu pegelaran. Kelas Musik akan memamerkan kelihaiannya dan membuat video rekaman, Kelas Foto akan mengadakan pameran foto, Kelas Menulis akan menyajikan sebuah peluncuran buku karya anak-anak, dan banyak lagi.

Kehadiran anak-anak juga berada lebih dari 90 persen. Fakta ini yang membuat Ammy dan tim begitu gembira. Meski tadi anak-anak ada yang minta izin tidak masuk karena besok murid yang kelas 3 SMA akan mengikuti UNBK.

Pada intinya, Ammy percaya pada proses. Hasil akhir hanyalah manis-manis yang masih tersisa. Buahnya sudah kita peroleh lewat usaha proses membelajarkan anak-anak itu sendiri. Bertumbuh bersama anak-anak, masyarakat dan semua relawan merupakan hal yang sangat layak mereka jalani seiring bersama.

Sejauh mana upaya ini akan berhasil?

“kekuatan sebenarnya ada pada masyarakat dan local leader yang bersinergi positif dengan The Floating School.” Olehnya itu Ammy yang juga English Teacher di Bosowa International School ini selalu menitipkan pesan pada fasilitator untuk bertindak sebagai penggali sekaligus pembimbing yang baik. Bukan sebagai guru yang datang mengajar, dan bukan pula sebagai guru yang serba tahu.

Tidak usah jauh-jauh, mereka merasa begitu terbantu dengan Bu Ramlah. Dengan pintu dapur yang selalu terbuka, ia memasak tiap pekan tanpa pernah sekalipun absen. Nyaris ia merelakan 15 orang tim fasil dan relawan menghabiskan jatah makan siang di rumahnya yang hanya berjarak sepelemparan batu dari sekolah. Saya melihat ia juga mengambil bagian sibuk-sibuk mondar-mandir ketika tim sudah merapat ke dermaga.

Ada sosok Pak Amri, Kepala Dusun Sapuli dan Pak Arman guru di pulau yang sama. Dua orang ini getol mendukung kegiatan rutin belajar mingguan The Floating School. Juga Ibu Bur, Kepala Sekolah SD Saugi, penyedia makan siang jika tim berada di Dusun Saugi, Pulau Saugi.

Sehingga, boleh dikata tiga pulau ini bersekongkol positif pada Ammy dan kawan-kawan. Tapi, permufatakan baik ketiga pulau yang masih satu desa ini tentu saja masih bisa dikembangkan lebih jauh. Ruang-ruang interaksi harus dibuka lebar untuk memancing masyarakat semakin terbuka dan mengembangkan inisiasi bentuk pendidikan alternatif di kampung mereka sendiri.

Pada akhirnya, seperti yang dikatakan Ammy, “kami ingin membuat sekolah ini tidak hanya nampak, tapi bisa berdampak.” Bila masyarakat yang sudah urun rembug langsung, besar sekali kemungkinan gerakan ini bisa berdampak bahkan untuk waktu yang lama.

Sampai kapan The Floating School?

Sepanjang hari itu saya merasa tidak tega mengganggu kesibukannya demi ngobrol sebentar. Bolak-balik ia mengatur ruangan tiga ruangan kelas SMP-SMA Satap (Sekolah Satu Atap) segera setelah tiba di Pulau Satando. Setelah itu ia juga langsung mengurusi bahan bakar genset kelas komputer dan musik. Memastikan anak-anak di delapan jenis kelas hadir, menjamin keperluan para pengajar (fasilitator) dan anak-anak tersedia, termasuk mengecek kesiapan makan siang, dan banyak lagi.

Tubuhnya lincah bergerak ke sana ke mari tidak bisa diam sekalipun. Sebentar saja, ia sudah menghilang ke mana mengamati delapan kelas hari itu berjalan dengan lancar. Saya tidak heran ia bisa seaktif itu di lapangan. Beberapa tahun sebelumnya, ia merupakan tokoh di balik berdirinya SiGi (Sahabat Indonesia Berbagi) Chapter Makassar, mengarsiteki SoulMaks Magazine, aktif sebagai pembicara tentang peran perempuan.

Di tengah rasa lelahnya dalam perjalanan darat pulang dari Pangkep, ia masih semangat menjawab sejumlah pertanyaan saya.“kami sementara cari funding agar tidak hanya anak di tiga pulau ini yang ikut, tapi beberapa pulau lagi yang berada di sekitarnya. Semoga bisa beli boat baru untuk calon Sekolah Kreatif nantinya” kata Ammy tersenyum menatap refleksi masa depan di hadapannya.

Matahari sore itu sudah harus tenggelam. Para fasilitator pulang berpisah jalan masing-masing. Ammy masih harus mengurusi siswanya yang tinggal asrama di bilangan protokol dekat Pantai Losari. Pekerjaan ini masih belum terhenti. Masih ada sekitar empat bulan lagi. Itu berati masih enam belas pekan lagi sebelum The Floating School tersisa. Bagi Ammy, terus bekerja adalah pilihan yang tidak bisa ditawar-tawar.

Dari Makassar, para fasilitator, dan beberapa relawan bergerak menuju Kabupaten Pangkep. Pukul tujuh lewat, kami berangkat dalam satu mobil yang berisi penuh. Sejam tiga puluh menit kira-kira kami sampai di Pangkep kota. Pagi itu, kami mampir di samping patung khas “Ikan Bandeng dan Udang”, tepat di samping sungai yang mengalir ke laut. Singgah mengisi lambung tengah dan menyeruput kopi hangat sebelum berangkat menuju dermaga.

Angin begitu kencang berhembus menerpa dari atas kendaraan roda empat yang kami tumpangi. Langit serasa bergumpal-gumpal dengan tumpukan awan abu-abu yang hendak menuju hitam.

Kapa kayu Fitra Jaya 03 sudah dari tadi menunggu kami di ujung dermaga. Buritannya bergoyang dan berderak melawan ombak yang sedang bekerja keras pagi itu. Bendera “The Floating School” sekira ukuran setengah meter berkibar dengan gagahnya di tengah geladak kapal.

Sepuluhan orang total kami, melangitkan do’a supaya selamat dalam pelayaran menuju tiga pulau di luar daratan Pangkep: Pulau Saugi, Sapuli, dan Satando. The Floating School, sesuai namanya merupakan sekolah terapung. Inisiasi pendidikan tujuh jenis keterampilan bagi para remaja di tiga pulau. Seminggu sekali selama setengah tahun lamanya. Bukan waktu yang sebentar. Butuh sifat keras kepala dan komitmen tinggi untuk mewujudkan hal ini. Mengingat para relawan sebagian besar bermukim di Makassar dan Pangkep kota.

Sejak Februari mereka sudah mengencangkan ikat pinggang dan menyingsingkan lengan baju untuk The Floating School. Nur Al Marwah Asrul, salah satu founder sekolah ini bercerita panjang lebar pada penulis tentang project berbagi ini.

Saya begitu senang masih ada orang-orang yang mau bersusah-susah demi orang lain. Semoga niat baik ini mendapat ganjaran yan setimpal dan beroleh hasil yang setimpal pula. Terakhir, kepada relawan, semoga selalu sehat dan diberi ketulusan dalam menjaga amanah.

IMG_4221

Persiapan keberangkatan di tengah kondisi laut yang tidak stabil

IMG_4222

Merah Putih yang di tengah gelombang dan angin kencang di laut lepas

IMG_4225

Wajah-wajah fasilitator

IMG_4226

Briefing di tepi dermaga sebelum berangkat

IMG_4228

Dua orang founder (Nur Al Marwah Asrul,ujung kiri dan Rahmiana Rahman ujung kanan) memberi pengarahan sebelum keberangkatan

IMG_4235

Kapal Fitra Jaya 03 menjemput anak-anak di Pulau Saugi untuk belajar di Pulau Satando

IMG_4245

Gerbang Pulau Satando

IMG_4249

Kapal Fitra Jaya: kendaraan belajar selama setengah tahun ke depan

IMG_4253

Anak-anak Pulau Santado dan Saugi menunggu kedatangan  anak-anak Pulau Sapuli

IMG_4260

The Floating School: Sail to Serve

IMG_4265

Kegiatan Kelas Kerajinan Tangan dan Prakarya

IMG_4297

Jamal , peserta Kelas Fotografi melihatkan hasil perburuan fotonya selepas berkeliling pulau

IMG_4300

Aktifivitas Kelas Menari

IMG_4301

Fasiliator memberikan demo gambar ilustrasi yang menarik

IMG_4306

Kelas Komputer yang dibagi menjadi dua, tingkatan pemula dan mahir

IMG_4285

Belimbing yang dikeringkan untuk bahan sambal peneman makanan laut

IMG_4322

Salah satu peserta Kelas Komputer

*Gambar merupakan dokumentasi pribadi penulis untuk project The Floating School

People-Philippines-91-e1449291699589

primer.com.ph (Seorang turis menggali narasi fotonya melalui talking to the locals)

Wawancara itu seni mengobrol asyik bin serius demi mendapatkan informasi. Strategi mengulik data dan fakta dari seorang sarjana lulusan Amerika tentu beda dengan residivis ahlul penjara. Wawancara merupakan ngobrol yang bertujuan. Tujuan penulis mewawancara setidaknya ada dua: mendapatkan data mengenai objek, dan membangkitkan suasana humanis dalam tulisan. Ingat, pewawancara-lah yang punya tujuan, bukan narasumber.

Sudah barang tentu, tujuan-tujuan itu ada yang bisa tercapai dengan mudah, ada juga yang tidak. Tergantung ruang lingkup informasi yang ingin diperoleh. Semakin dalam fakta dan pengakuan yang ingin diperoleh, semakin butuh waktu dan upaya. Usaha ini dalam rangka menjalin rangkaian obrolan tersebut menjadi cerita yang utuh dan mengandung pesan.

Menurut Daeng Ipul, ada dua jenis wawancara, wawancara terencana dan wawancara spontan. Tapi baginya, ia lebih menyukai wawancara spontan daripada harus menyelesaikan agenda wawancara yang terencana. Saya sepakat dengannya, karena gampang (hehe). Alasan pertama karena ketidakterdugaan itu sendiri. Kedua karena ada perasaan senang yang melambari kita jika berhasil mengulik kisah orang-orang biasa tapi dengan kisah yang luar biasa.

Langkah-langkah berikut bisa menjadi pedoman wawancara:

Identifikasi Narasumber

Mengkategorikan narasumber berdasarkan usia, jenis kelamin, kelompok sosial, pendidikan, dan lain-lain. Tiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda, belum lagi bila mereka memiliki status, strata sosial, dan jenjang pendidikan yang lumayan tinggi.  Tipsnya, siapapun narasumbernya, kuasai bahan dan persona. Kalau perlu, googling dulu sebelum sebelum melakukan proses wawancara. Dalam kata lain, konten pertanyaan itu gak g*blok amat dan tidak up to date.

Mewawancarai tokoh masyarakat juga tidak luput dari tantangan, meski tidak selalu. Katakanlah kategori ini mewakili figur-figur di pemerintahan atau kalangan akademisi. Pertama, perasaan superior mengetahui segala yang berkaitan dengan tema pertanyaan. Bilamana pewawancara tidak tegas mematuhi tema dan outline, maka bincang-bincang akan jatuh ke dalam jurang ceramah yang membosankan dan tidak berkesudahan. Kecuali kalau sudah saatnya makan. Nantinya, terlalu banyak data yang dikumpulkan.

Beda lagi saat mewawancarai narasumber dari kalangan warga biasa. Katakanlah kita ingin mengulik informasi dari seorang lelaki yang berpforesi sebagai petani atau nelayan misalnya. Kunci dari semuanya adalah membangun kepercayaan narasumber terhadap pewawancara. Bagaimana strategi agar si empunya informasi merasa nyaman memberikan keterangan dan bercerita apa saja.

Berikut beberapa strategi wawancara yang diberikan dalam kelas:

Menunjukkan minat untuk mengetahui alias ingin menampakkan sikap ketertarikan yang besar terhadap ilmu/informasi yang dimiliki si narasumber. Kalaupun kita sudah punya informasi awal di kepala, sebaiknya simpan saja dahulu. Berpura-puralah menjadi pandir alias orang yang tidak mengetahui itu sebelumnya.

Mengapa harus begitu? Logikanya, kita datang ke suatu tempat di mana masyarakat asli lebih paham masalah itu dibanding dengan kita yang hanya sehari dua hari menetap di sana. Masih mending jika sehari, tapi bila hanya sejam dua jam? Lebih baik kita menyerahkan langsung kepada ahlinya. “merekalah profesor sesungguhnya, karena mereka langsung belajar dari alam” Daeng Ipul menyarankan seperti itu untuk menekan ego pribadi menjadi lebih hebat dan superior daripada narasumber. Tentu tanpa meninggalkan sikap kritis, skeptis, dan berimbang.

Menyederhanakan bahasa menjadi seerat mungkin dengan pengetahun dan kapasitas narasumber. Apakah itu kosakata, data, argumen, maupun istilah-istilah lainnya yang mungkin tidak akan atau bahkan sulit dimengerti oleh narasumber.

Selalulah konfirmasi penanda-penanda (jarak dan waktu) jika melakukan wawancara. Misalnya, seorang Ibu keluarga korban diskriminasi kasus 1965 menjawab, “saya lahir tahun 1932.” Informasi ini boleh dipastikan kembali ke kelurahan. Tapi bila memang tidak ada yang yakin mengenai hal ini, dalam redaksi boleh ditulis begini, “Ibu X mengatakan ia lahir di tahun 1932 jauh sebelum Jepang masuk, meski saya sendiri tidak terlalu yakin sebab pihak kelurahan juga tidak bisa memastikan hal tersebut.

Selanjutnya, berikan pertanyaan terbuka, bukan pertanyaan tertutup. Ajukan pertanyaan yang bakal terus memancing narasumber untuk menjawab dan bercerita lebih banyak. Misalnya, saya akan mewawancarai seorang perempuan tua yang tinggal di kawasan hutan adat di daerah Fakfak. Di mana mereka menggantungkan mata pencaharian di situ. Saya ingin mengorek informasi tentang berapa penghasilan yang mereka terima.

Pewawancara: “berapa rata-rata pendapatan Ibu sebulan?”
Ibu: “tidak tahu, tapi cukup untuk makan sekeluarga dengan anak-anak.”

Pertama, pertanyaan awal tersebut tidak akan memberi jawaban pasti. Masyarakat Mbaham Matta –sebutan warga di Fakfak- yang mengelola hutan masyarakat akan menikmati panen Pala dua kali dalam setahun: Juni dan Desember. Hasil ini sangant bergantung dengan alam dan musim. Masyarakat selalu mengeluhkan hal ini, bunga Pala yang kering dan berjatuhan karena musim panas yang terlalu lama, atau menjadi tidak terbuahi karena musim hujan yang begitu panjang. Kedua, tidak relevan karena tidak bakalan ada istilah penghasilan rata-rata seorang pekebun yang bertahan hidup dari hasil hutan.

Barangkali, redaksinya bisa diubah jadi seperti ini: “bulan lalu dapat berapa bu?” atau “bu, panen bulan Juni kemarin dapat berapa?” Jawaban pertanyaan ini meski tidak mengambil kesimpulan apa-apa dari informasi rerata income, tapi setidaknya dapat memberikan gambaran dan perbandingan mengenai kondisi keuangan jika ditelisik lebih jauh. Intinya, tulislah keterangan yang bisa dipercaya dan valid. Meski jumlah valid itu hanya pada saat tertentu atau di waktu itu saja.

Bikin Outline Wawancara

Membuat kerangka daftar pertanyaan membuat proses wawancara menjadi efektif dan tetap pada fokus tema yang ingin digali. Sehingga outline ini berfungsi sebagai panduan dan koridor. Pengingat bagi penulis agar tidak melenceng-melebar dalam mengajukan pertanyaan.

Sebagai contoh, subjek yang ingin digali adalah bagaimana  perjalanan kesuksesan suatu kelompok masyarakat berjuang mengelola pertanian di lahan kering. Meski di situ ada sosok yang banyak berjasa dalam menginisiasi pemberdayaan petani, tapi kita harus ingat untuk meminimalkan dominasi personal sang tokoh dalam tulisan. Tidak bermaksud mengurangi apa yang sudah diupayakan si pelopor karena jasa mereka jelas tidak bisa terhapus. Keinginan kita adalah menjaga sikap konsisten pada tema dan tulisan yang utuh dan informatif. Hal yang harus selalu diperhatikan dalam wawancara tersebut jelas: pertanian lahan kering.

Di lapangan, outline ini bisa berubah. Bisa jadi lebih lebar dari sebelumnya. Contoh, ketika kita menemukan pernyataan menarik yang berpotensi besar dikaji lebih lanjut untuk menghasilkan satu lagi informasi utuh yang baru. Tipsnya, quote itu boleh kita simpan untuk kita tanyakan lebih jauh di lain waktu, atau sekalian mengganti topik dengan topik menarik tadi.

Riset Sebelum Wawancara

Manfaat lainnya, outline membantu kita merumuskan sudut pandang yang lebih segar dan baru bagi para pembaca. Jika ingin mewartakan profiling seorang sosok yang dicintai publik, sebaiknya banyak membaca dulu. Lakukan riset-riset mengenai kepribadian, aktivitas, dan kontribusinya bagi masyarakat. Jangan lupa, bacalah sejumlah hasil wawancara yang pernah dilakukan media-media sebelumnya untuk menghindari pertanyaan yang itu-itu melulu. Jangan sampai informan merasa bosan mengulangi menjawab hal yang sama berulang-ulang. Perulangan ini juga mesti dihindari karena pembaca jelas menginginkan hal baru.

Meski begitu situasinya bisa saja berbeda jika penulis menemukan narasumber yang karakternya supel dan luwes dalam menghadapi pewarta. Suatu waktu, Daeng Ipul hendak mewawancarai Agustinus Wibowo, penulis seri perjalanan Titik Nol, Selimut Debu, dan Garis Batas. Dari segi persiapan, ia sudah melakukan yang menurutnya terbaik. Mencari kumpulan hasil wawancara yang tercetak di berbagai media demi mendapatkan sudut pertanyaan yang fresh dan tajam. Lalu kemudian ia menuliskan beberapa poin penting pada selembar paper sebagai panduan.

Namun kemudian situasinya kemudian berubah. Pribadi travel writer yang menjelajah Asia selama lebih sepuluh tahun itu begitu cair sehingga infromasi yang tersampaikan juga mengalir seperti air. “poin saya belum sampai di situ, tapi ia (bahkan) sudah menjawab dua bahkan tiga pertanyaan yang belum saya ajukan” kenang Daeng Ipul.

Gunakan Pendekatan Humanis

Seperti yang kita jelaskan poin sebelumnya, bahwa sangat penting membangun kepercayaan diri narasumber. Salah satunya dengan melakukan pendekatan yang lebih manusiawi. Bukan hanya sebagai sekedar pemberi dan penerima informasi.  Tapi lebih condong kepada intensi (maksud) untuk menerima pengetahuan, menyatukan gagasan, dan berdiskusi secara sehat. Syaratnya, komunikasi yang baik ini membutuhkan minimal satu pihak untuk menjadi pendengar yang baik. Perlihatkan intensi sungguh-sungguh untuk mendengar. Kesediaan untuk mendengar sepenuh hati memungkinkan narasumber juga akan memberikan informasi dengan senang hati.

Contohnya, memuji makanan yang disajikan dan mengajaknya mengobrol sebentar tentang hal yang disukai dan lekat dengan kehidupan narasumber. Sampaikan itu dengan tulus dan rasa antusias yang tidak berlebihan. Beberapa tahun silam, saya pernah mengobrol tentang bagaimana kehidupan sehari-hari seorang keluarga pendatang daerah Bau-Bau di Fakfak. Istri pemilik rumah begitu ramah dan terkenal dengan masakan lautnya yang begitu gurih dan mewah.

Saya terus saja menyantap dan memuji makanan yang ia sajikan dengan melimpah di sebuah kain putih yang dibentangkan di ruang tamu. Sembari itu, pertanyaan dan diskusi kami mengalir dengan begitu lancar.

Peluh saya keluar tak tertahankan. Aroma pedas manis dari kuah kuning ikan merah segar berbumbu rempah Pala terus menyerobot penciuman saya. Senyumnya tersimpul senantiasa selama perbincangan. Matanya berbinar sambil sesekali menyilahkan saya untuk terus menambah porsi piring yang terus berkurang. Meski tidak yakin sepenuhnya, saya menyangka ia sumringah karena melihat saya begitu lahap, tidak berhenti mengunyah sambil cerita, dan tidak segan-segan mencicipi semua makanan yang terhidang (wajar, sudah gratis, enak pulak!) Di akhir saya pulang dengan beroleh informasi berharga dan perut yang terisi penuh.

Jalan lainnya bisa dengan menggunakan medium kedekatan dengan anak-anak. Seorang blogger, Andi Arifayani berhasil menggali sekelumit kehidupan Adi, seorang murid SD sekaligus tukang parkir di bilangan jalan protokol Makassar. Hasil wawancara membawanya menemukan nama-nama anak lain yang juga berprofesi seperti Adi.

Tanpa pendekatan yang baik ke anak-anak, ia mungkin tidak bisa menelisik lebih dalam dengan serangkaian wawancara ke teman-teman Adi yang lain di sekolah.  Hasil pendekatan yang baik ini menimbulkan refleksi mendalam bagi penulis bahwa “julukan Kota Layak Anak (KLA) bagi Makassar terasa sangat jauh jika melihat situasi Adi dan ratusan tukang parkir anak yang bekerja selepas menanggalkan seragam sekolah dan menantang terik siang setiap hari

Siapkan Alat Perekam dan Buku Catatan

Kedua media tersebut pastinya sangat membantu mendokumentasikan hasil wawancara. Entah itu nantinya berupa skrip hasil rekaman audio atau sekedar catatan di notes. Selain itu, kita tidak bisa selamanya mengandalkan ingatan untuk merekam bagian-bagian penting yang di garis bawahi pada kerangka informasi yang kita butuhkan. Tanpa bisa ditolak lagi, dua-duanya penting.

Namun, jika pendekatan awal ke narasumber tidak berjalan mulus, perangkat itu akan jadi pasung yang sempurna bagi informan untuk tidak mengeluarkan pernyataan dan fakta yang benar-benar berharga.

Belum lagi jika kita terkendala dengan waktu wawancara yang demikian sempit, pastinya kita membutuhkan tenaga dan strategi ekstra lebih untuk meluluhlantakkan ego narasumber agar bersedia memberikan informasi yang kita butuhkan. Tipsnya: lakukan adaptasi selekas dan sesegera mungkin untuk mencapai klik dengan informan.

Berusaha Sabar dan Fokus Menjalin Cerita Utuh

Lain lagi dengan laporan mendalam. Dalam mewartakan isu-isu sensitif seperti kaum minoritas dan terpinggirkan, waktu yang lebih lama nyaris mutlak dibutuhkan. Observasi, pendekatan kesana kemari, wawancara beberapa orang sembari terus melakukan konfirmasi keakuraran berita. Begitu kira-kira berulang-ulang. Olehnya, sering jenis laporan ini tidak muncul dalam hitungan menit, bisa sampai berhari-hari atau hitungan minggu.

Sajian-sajian yang bergizi ini bisa dilirik sejenak di situs berita Kumparan, Tirto, atau Mongabay Indonesia. Mereka punya tim yang fleksibel terhadap waktu agar tercipta sebuah laporan yang tidak asal menarik, tapi berpihak pada kekebenaran dan keakuratan. Sejalan dengan marwah ideal jurnalisme. Membaca berita yang lengkap dan akurat tentu bakal membuat netizen lebih jernih memandang persoalan.

Kisah Boro Suban Nicolaus (akrab disapa Om Niko) yang diwawancarai tim Mongabay Indonesia bisa jadi bahan bacaan permulaan. Jauh di jantung pedalaman hutan perawan Kalimantan, ia bersama orang-orang Dayak Punan menjaga hutan seluas 17.400 meter persegi dari amukan perusahaan sawit dan tambang batubara.

Satu dekade lebih dua tahun mereka telah menrawat hutan adat dengan mendirikan LP3M (Lembaga Pemerhati dan Pemberdyaan Punan Malinau). Dari tulisan tersebut, kita bisa membayangkan bagaimana wawancara dilakukan tanpa meninggalkan aspek-aspek manusiawi yang melekat pada diri Om Niko yang sejatinya bukan merupakan orang Dayak. Kampungnya di Flores bagian timur.

Poin pentingnya barangkali: tetaplah fokus pada tema. Tidak perlu terlalu detil tentang tokoh. Tetaplah bersetia pada tema yang dibangun. Sehingga pada nantinya, wawancara yang kita buat tidak menghamba pada tokoh. Tapi pada bagaimana membuat wawancara bekerja demi memenuhi hasrat kefokusan dan kekonsistenan tema yang telah dirancang sebelumnya.

Nah, selamat mewawancara!

Tugas: Mewawancarai sosok orang per-orang/lembaga komunitas/tema tertentu. Tidak perlu mendatangi orang-orang hebat. Carilah orang-orang/tempat-tempat biasa tapi dengan kisah tidak biasa yang punya potensi menginspirasi orang lain untuk berbuat hal positif yang sama. Ketentuan: 1) gunakan lebih dari lima orang narasumber sebagai usaha menyajikan cerita yang utuh, objektif, dan berimbang. 2) setidak-tidaknya, mengadakan observasi dan kunjungan selama seharian di tempat objek utama demi menghadirkan narasi yang menarik dengan deskripsi yang kuat. Deadline: Sebelum 7 April 2017

*Catatan Kelas Menulis Kepo IV
Waktu: Jumat, 17 Maret 2017
Pukul: 17.00 – 21.00 WITA
Materi: Teknik Wawancara
Pembagi Ilmu: Daeng Ipul, Lelaki Bugis, Kak Iqko, Tari Artika.