Archive for the ‘Reportase’ Category

DSCN8777

“Jangan pernah lelah mencintai Indonesia”  Sukardi Rinakit. Ujaran dari Ketua Tim Komunikasi Publik Presiden Joko Widodo itu tampaknya menjadi begitu relevan hari-hari belakangan ini. Di tengah sanggahan kebencian dan berita tidak benar, kembali pada semangat kesatuan Indonesia adalah pilihan bijak.

Bukan kenapa-kenapa, negeri ini sudah menghabiskan terlalu banyak energi, waktu, dan pikiran meng-counter segala pemberitaan di media sosial yang begitu kontra produktif. Sementara, bata-bata Indonesia, pada saat yang sama, harus dibangun dengan energi yang positif. Energi yang lahir dari semangat yang sama, dari Sabang sampai Merauke, dari Sangihe hingga Rote. Semangat itu, bernama Pancasila.

Barangkali, dan kita sama-sama berharap sama, itulah tujuan kegiatan hari ini diselenggarakan, Jumat 16 Juni 2017. Kominfo bekerjasa dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menggelar diskusi bertajuk “Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Bermedia Sosial” di. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan Flash Blogging yang dilaksanakan pada sesi akhir.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian Kota Makassar, Ir. H. Andi Hasdullah, M.Si mengakui bahwa media sosial di Indonesia, terutama sebagian  penggunanya memiliki pola pikir yang sudah jauh dari Pancasila. Sejak November tahun 2016 energi bangsa habis ditumpahruahkan dalam agenda-agenda intoleransi dan upaya memperkeruh semangat persatuan bangsa.

Oleh karena itu, sebuah praktik cerdas sekaligus inisiasi dilakukan oleh Dinas yang beliau pimpin demi mem-booming-kan kembali Pancasila di seluruh wilayah Indonesia. Gerakan ini diberi nama Gerakan Ayo Santun dan Produktif di Media Sosial. Strategi dilakukan dengan memberikan pemahaman pada masyarakat terhadap penggunaan media sosial. Sekitar seribu relawan mulai dari pelajar, wartawan, hingga pemerintah daerah bergabung menentang hoax dan ikut aktif dalam menggaungkan literasi media. Terakhir, beliau juga menyampaikan permintaannya agar semua blogger di Makassar ikut membantu gerakan ini, khususnya membantu mendiseminasikan informasi terkait pemerintahan dan konten positif lainnya. “kami melakukan ini dengan tujuan baik yakni agar nilai Pancasila tetap eksis sepanjang masa” tuturnya mengakhiri sambutan.

Sambutan Kedua disampaikan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika) yang pada siang hari ini diwakili Direktur Kemitraaan Komunikasi Bapak Dedet Sury Nandika.

Beliau yang mengenakan kemeja putih bersih lengan pendek ini memulai dengan cerita bagaimana Juni kemarin Presiden Jokowi mencanangkan Pekan Pancasila di minggu pertama bulan Juni baru-baru ini. Kita bisa saksikan media sosial dipenuhi tagar dan kampanye Saya Indonesia Saya Pancasila. Beliau begitu berharap agar Hari Pancasila 1 Juni tidak dijadikan momentum sekali setahun atau momentum seminggu, tapi bisa langsung merangsek ke seluruh hari dalam kehidupan individu dan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setelah segala sambutan, Ustad Abdul Rahman menutup dengan sebuah doa panjang yang berisi kerisauannya akan Indonesia hari ini yang mulai terpecah belah. Dalam doanya, sebagai seorang pemeluk teguh, ia melangitkan harapan, mengetuk pintu Rahmat dari Tuhan Maha Kuasa sehingga “semoga negara ini terhindar dari bencana moral, pertikaian, dan perselisihan yang tak ada habisnya

Diskusi hari ini menempatkan tiga orang narasumber utama dan satu orang moderator. Sesi pertama dibawakan Dr. Heri Santoso, Kepala Pusat Studi Pancasila Universitas Gajah Mada. Sehari-hari beliau juga menjadi dosen Fakultas Filsafat di tempat yang sama.

Tema yang beliau sampaikan ialah “Aktualisasi Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari”. Pengajar kelahiran Jogjakarta 1 September ini memulai dengan penjelasan bagaimana kita, seharusnya, beretika dalam mencakapkan banyak hal di media sosial.

Pengantarnya cukup unik, beliau mengetes sebagaimana dekat sila Pancasila dengan budaya lokal masing-masing. Dengan gayanya yang jenaka, ia menantang peserta menyebutkan semua sila dalam Pancasila dalam Bahasa Makassar.

Aktualisasi Pancasila itu, menurut beliau, idealnya diterapkan dalam kehidupan berbudaya, bernegara, beragama. Akibat logisnya, Pancasila diturunkan dalam produk-produk hukum dari yang paling tinggi sampai mungkin aturan dalam rukun tetangga atau rukun warga. Sebab Pancasila, merujuk istilah Soekarno, adalah landasan falsafah bangsa.

Bapak bangsa memiliki visi yang maju dengan memunculkan Pancasila dalam sebuah negara demokrasi. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dimasukkan sebagai landasan paling pertama dan paling utama. Oleh karena itu, negara kita bukan negara yang menganut sekularisme, teokratis, maupun komunis.

Bagi beliau, ada tiga tantangan besar bangsa ini. Pertama, merealisasikan cita-cita bersama yakni bangsa merdeka, bersatu, berdaulat, adil, makmur. Kedua, menangani kerapuhan internal bangsa ini yang menjadi keresahan bersama yakni korupsi, kolusi, nepotisme, kekerasan, sex bebas, narkoba, dll. Sedangkan yang ketiga mungkin bisa dikatakan problem terbesar. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga sedang mengancam negeri-negeri lain, Proxy War. Antara lain, masalah terorisme, HAM, disintegrasi bangsa, khilafah, komunisme, dan banyak lagi.

Pada intinya, semua orang, khususnya para netizen, dituntut cepat tapi juga harus tepat dan menampilkan kebenaran.

Sesi diskusi dilanjutkan oleh pemaparan Prof. Dr. H. Muhammad Ghalib, M. MA. Beliau kelahiran Bantaeng, 1 Oktober 1959. Jabatan beliau sekarang ini ialah Sekretaris Umum MUI Sulawesi Selatan.

Hari ini penggunaan media digital yang tidak bertanggung jawab. Munculnya hoax, fitnah, ghibah, namimah, gosip, pemutarbalikan fakta, ujaran kebencian, permusuhan, kesimpangsiuran, informasi palsu, dan hal terlarang lainnya yang menyebabkan disharmonisasi kehidupan sosial. Olehnya, MUI mengeluarkan Fatwa MUI Tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah di Media Sosial. Tentu dasarnya dari Al-Qur’an, Hadits, dan pendapat ulama

Beliau berpesan agar kita semua selalu melakukan tabayyun, maknanya cek ricek informasi. “Juga kita harus memberikan informasi yang membangun, bukan yang memecah belah,” kata Prof. Ghalib yang sehari-hari bertugas sebagai Guru Besar UIN Makassar. Sehingga, negara ini akan menjadi negara yang maju, santun, dan berperadaban. Dari Inggris sampai Iran. Itulah simbol luasnya Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Ringkasnya, setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut: senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, tidak mendorong kekufuran dan kemaksiatan; mempererat persaudaraan, baik persaudaraan KeIslaman, persaudaraan kebangsaan, dan persaudaraan kemanusiaan; dan memperkokoh kerukunan, baik intern umat beragama, antar umat beragama, maupun antar umat beragama dengan pemerintah.

Fatwa ini menjadi panduan dalam berinteraksi. Fatwa ini memberikan penguatan dari undang-undang. Inilah lebihnya Indonesia. Karena nafasnya sama. Kepatuhan sebagai umat beragama dan umat bernegara itu bisa bersinergi. Jadi, dua-duanya dapat, kita mampu menjadi warga yang baik dan umat yang baik. Inilah sinergi yang diharapkan. Menguatkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

“sesuatu yang baik juga harus disampaikan dengan cara-cara yang baik” Al-Qur’an

Terakhir disampaikan diskusi yang begitu memikat dari Bapak Handoko. Ia merupakan bagian dari Tim Komunikasi Publik Presiden Joko Widodo yang dipimpin langsung Sinardi Rinakit.

Sesi ini menurut saya lebih powerful, datang langsung Dari Sudut Istana. Tahun ini merupakan tahun ketiga pemerintahan Presiden Jokowi. Tahun pertama, adalah pondasi. Tahun kedua, adalah percepatan. Percepatan yang menjadi konsen utama dari segi infrastruktur, kebijakan deregulasi ekonomi, dan pembangunan manusia.

Kemudian tiga capaian ini dirangkum dalam video 60 detik yang menampilkan perkembangan memuaskan di setiap lini pembangunan yang sempat terekam. Satu kata dari saya, luar biasa rekam jejak yang sudah didokumentasikan dengan baik. Kami semua, para peserta berdecak kagum dan bertepuk tangan. Bagaimana Indonesia dirawat da diruwat dengan Kerja Nyata.

Kebijakan pemerintahan itu menangani ketimpangan antar daerah. Strategi ini dilakukan dengan memperbesar dana desa, menguatkan konektivitas antar daerah, pergerakan ekonomi di daerah

“Kita adalah bangsa pemenang dengan kerja nyata. Saya ingin Indonesia merata dan maju, dari Sabang sampai Merauke. Indonesia, Maju!” Presiden Joko Widodo (www.kerjanyata.id dan www.presidenri.go.id)

Sebelum mengakhiri, ijinkan saya mengutip Ma’ruf Cahyono, Wakil Ketua MPR yang mencoba membuat ungkapan-ungkapan yang menarik bagaimana kita menjadi santun di media sosial.

Sila 1 (Ke-Tuhanan Yang Maha Esa):
Berhenti Takabur Berhenti Takabur, Mulailah Bersyukur;
Berhenti Saling Merendahkan, Mulailah Menghormati Perbedaan;
Berhenti Menyakiti, Mulailah Menghargai.

Sila 2 (Kemanusian Yang Adil dan Beradab):
Stop Marah-Marah, Mulailah Bersikap Ramah;
Berhenti Curiga, Mulailah Menyapa;
Berhenti Berseteru, Mulailah Bersatu;
Berhenti Memaki, Mulailah Memakai Hati

Sila 3 (Persatuan Indonesia):
Berhenti Memaksakan, Mulailah Berkorban;
Berhenti Mencari Perbedaan, Mulailah Bergandeng Tangan;
Berhenti Berseteru, Mulailah Bersatu

Sila 4 (Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyarawatan Perwakilan):
Berhenti Bersilat Lidah, Mulailah Bermusyawarah;
Berhenti Silang Pendapat; Mulailah Bermufakat;
Berhenti Besar Kepala, Mulailah Berlapang Dada

Sila 5 (Persatuan Indonesia):
Berhenti Menang Sendiri, Mulailah Berbagi;
Berhenti Malas, Mulailah Bekerja Keras;
Stop Demonstrasi, Mulailah Toleransi
.

#Pancasila #TemuBlogger

DSCN8154 - Copy

dok.pribadi

Mendidik itu mendorong peserta didik mengaktualkan kepribadiannya. Mendidik itu mengantar anak kepada pintu yang sesuai karakternya | M. Quraish Shihab

Pesan itulah yang jadi kalimat pembuka diskusi yang beliau hantarkan. Ketika itu beliau duduk di sofa bersama kedua anaknya. Di sisi kirinya Najwa Shihab, dan sebelah kananya Najelaa Shihab. Di hadapan mereka, ratusan pasang mata siap menunggu luncuran nasehat. Ia mengambil mic lalu mencondongkan badannya ke depan. Ada pesan yang ia mau sampaikan. Seperti ada keresehan yang ia sembunyikan sejak dulu-dulu.

Ia meresahkan begitu banyaknya anak-anak dididik tidak sesuai dengan kepribadiannya yang unik. Kesuksesan pendidikan telah sejak lama diukur sejumlah profesi tenar seperti dokter, pilot, arsitek, polisi, dan banyak lagi. Tapi, Quraish Shihab memilih membukakan pintu selabar-lebarnya bagi Najwa dan Najelaa. “jadilah apa saja yang kau mau, asalkan jalurnya harus lewat pendidikan.” Terbukti, kedua anaknya menjadi sosok yang tidak hanya berpendidikan, tapi juga bermanfaat bagi orang lain.

Tidak sampai sejam diskusi berlangsung. Namun pesan yang terkandung melampaui berjam-jam membaca buku pentingnya literasi dan pendidikan keluarga. Sore itu cerah berawan di Fort Rotterdam, Makassar. Sajian Ngobrol Publik ini digelar di taman, sisi belakang kapel utama. Kegiatan yang berlangsung dua hari penuh ini menutup tur keliling rangkaian Pesta Pendidikan 2017.

Di sebelah mereka, berdiri membelakangi pengunjung, ada maestro lukis asal Makassar, Zaenal Dg. Beta. Siap menggoreskan tanah liat beraneka warna di atas kanvas untuk sebuah mahakarya baru. Lukisan itu siap diberikan sebagai hadiah kepada Quraish Shihab yang dianggap perantau sukses dari Sulawesi Selatan.

Najelaa Shihab, Najwa Shihab, dan M. Quraish Shihab mendapatkan kesempatan perdana ‘pulang kampung’ di Pesta Pendidikan. Panggung utama ini langsung saja diserbu para pengunjung yang jumlahnya lebih 500-an orang. Mereka memenuhi hampir semua area di sekeliling panggung. Para undangan sebagian kecil berada di tenda yang sudah disiapkan. Sisanya sebagian besar duduk menekan rumput. Ada juga yang berdiri di sisi kapel.

Ayah dan kedua anak ini merasa bangga dan senang bisa berkumpul di Makassar. “ini benar-benar pertama kali kami berkumpul di satu event publik” kata Najwa. Di tengah hantaman mentari sore yang silau menguning berganti jingga, senyumnya selalu riang menyapa pengunjung sembari mengobrolkan Abi (Quraish Shihab, Umi (Istri) dan Najeelaa (saudara).

Orang Tua Harus Terlibat!

Najelaa yang juga pendiri Sekolah Cikal, mengatakan aktor pendidikan paling penting adalah keluarga. Ia menegaskan bahwa ini bukan sekedar retorika, namun konklusi dari berbagai hasil riset yang pernah dilakukan banyak pihak di seluruh dunia.

“kalau ada pihak yang harus dilibatkan (dalam pendidikan), itu adalah orang tua” terang Najelaa. Menurutnya, kedua orang tua memiliki tiga modal utama yang memengaruhi perkembangan anak secara mental dan kognitif. Modal itu adalah modal cinta, modal peduli, dan modal pemahaman keunikan anak.

Dulu, ketika masih berumur 15 tahun, Najwa mendapat kesempatan pertukaran pelajar ke Amerika. Waktu itu, sejumlah keluarga dan kerabat terlalu ragu dan cukup berat jika seandainya Najwa jadi berangkat memenuhi undangan tersebut. Ia masih begitu muda, dan sulit rasanya membayangkan seorang perempuan tanpa muhrim di tanah asing. Tapi dengan jiwa besar, ayahnya, Quraish Shihab meyakinkan mereka dengan tujuan mulia pendidikan.

“ini untuk pendidikan, ini untuk belajar mandiri, ini untuk bisa menjadi orang yang lebih baik, berangkatlah ke Amerika!” kata profesor mengenang masa itu. Akhirnya, dilepaslah Najwa muda yang beranjak dewasa ke negeri jauh. Tujuannya tetap: pendidikan dan kebaikan.

Tentang kekhawatiran lain, Guru Besar yang lahir di tanah Bugis, Kabupaten Sidrap ini menyatakan keyakinannya pada Najwa. Di rumah, dulu, beliau sudah membekali anak-anak dengan pagar keimanan dan nilai-nilai.

“ingat, beri pagar, agar (dengan kuasa-Nya) anak-anak tetap berada pada jalur yang benar. Memang belajar itu menderita. Kalau tidak menderita, itu berarti tidak belajar” Quraish Shihab mengingatkan seluruh pengunjung yang khusyuk mendengarkan.

Buku Harus Terlibat!

Di rumah mereka dulu di Ujung Pandang –sekarang Makassar- dan di Jakarta, bertebaran buku-buku apa saja. Cara seperti itu dilakukan agar Najwa dan Najelaa terbiasa membaca, lalu kemudian jatuh cinta pada buku. Sekarang, Najwa didapuk jadi Duta Baca Indonesia.

Bagi Prof. Quraish, membaca itu sama sekali bukan perkara membosankan. Cinta itu adalah dialog, kata beliau. Begitu juga cinta pada buku. Makanya jangan memaksakan cinta jika tidak ada kerelaan berdialog.

Membaca tidak boleh dijadikan percakapan yang sendirian. Setelah membaca, hasil itulah yang dipercakapkan. Konten dalam buku selalu dibincangkan sehingga menambah wawasan dan ragamnya sudut pandang  yang dimiliki oleh pembaca. “tapi tidak berhenti di situ, jatuh cinta pada buku haruslah berujung cinta pada ilmu pengetahuan” terang beliau yang pernah mengajar di IAIN Alauddin Makassar.

Buku tidak hanya menawarkan pengetahuan, tapi juga obat bagi jiwa.  Najwa menceritakan bagaimana sebuah perpustakaan di Kota Thebes Yunani kuno menyiratkan hal itu secara jelas. terpampang tulisan di atas pintu masuk, “A Healing Place of The Soul”. Tempat penyembuhan bagi jiwa.

Jika ditelusuri ke belakang, Yunani kuno menawarkan metode pengobatan dengan buku: bibliotherapy. Sebuah praktik terapi lewat membaca buku jenis tertentu. Meski cara ini sudah lama, istilah bibliotherapy baru dipopulerkan pada sekitar 1910-an awal. Para veteran Perang Dunia I yang mengalami gangguan stres pasca-trauma juga melakukan bibliotherapy. Di Inggris, novel Jane Austen digunakan tentara Inggris sebagai terapi kecemasan dan depresi.

Semua Orang Harus Terlibat!

“Pendidikan bukan hanya urusan murid dan guru di sekolah, tapi jadi milik semua” terang Najelaa yang memilih tidak memasang TV di rumahnya.

Dalam pendidikan, ia percaya kekuatan publik bisa mendobrak dan mengubah banyak hal. Ia percaya pendidikan harus mendapat umpan balik secara terus menerus melalui kepedulian semua orang. Sebagaimana Najelaa berujar, “ini bukan tentang nilai sekolah, tapi bagaimana kita bermanfaat bagi orang lain.”

Pesta Pendidikan adalah tempat berbincang pendidikan di ranah publik. Sekaligus tanpa melupakan tujuan utamanya sebagai merayakan pendidikan, tempat belajar, dan tempat berkarya melintas batas.

Kegiatan ini menghadirkan 27 agenda Ngobrol Publik dengan tema besar “Berkarya Melintas Batas.” Dua hari penuh, 13 – 14 Mei, hampir setiap celah yang menghubungkan bangunan benteng dan koridor dijadikan tempat asyik berdiskusi. Sesekali keriuhan terjadi pada arena-arena ngobrol yang menyajikan pembicara-pembicara populer

Semua diskusi bermuara pada beberapa tema. Ada cerita-cerita inspiratif mengenai praktek pendidikan, cerita-cerita mendobrak keterbatasan dalam meraih kusuksesan, cerita-cerita upaya lokal yang mengharumkan Indonesia, dan cerita-cerita komunitas yang telah banyak menebar manfaat dan melewati berbagai rintangan dan keterbatasan.

Sebagai kota keempat yang disambangi, Pesta Pendidikan mengumpulkan komunitas dan organisasi yang bergerak di bidang pendidikan untuk kerja bareng. Kerja keras ini membuahkan hasil. Tahun ini, ‘Pesta Pendidikan’ mengumpulkan seluruhnya 250 komunitas yang bergerak sama-sama mewujudkan kegiatan di empat kota. Padahal tahun sebelumnya hanya didukung 8 komunitas.

Ini menunjukkan animo yang menguat dan positif sudah mulai terbentuk. Dua puluhan relawan secara sukarela membantu kegiatan ini hingga rampung. Anak-anak muda dengan kaos oblong merah menyala ini gampang sekali kita temukan di area Benteng Rotterdam. Tulisan seragam itu seperti sebuah pesan dari Najelaa dan para penggagas. Tentang bagaimana masyarakat semestinya bersikap dalam dunia pendidikan, “Sekali Barengan Pantang Untuk Turun Tangan”.

Kegiatan ini memasuki tahun kedua. Refleksi tahun kemarin menyebutkan “Pesta Pendidikan adalah bagian kecil dari perjuangan panjang pendidikan Indonesia. Ini bukan sekadar agenda kampanye, kegiatan, atau pengumpulan massa. Kegiatan yang mendorong upaya pelibatan publik secara demokratis untuk Bergerak, Belajar, dan Bermakna Bersama.” Cerita-cerita kemarin disatukan dalam buku Refleksi Pesta Pendidikan 2016.

Ketika diskusi berakhir, ‘Bagimu Negeri’ mengalun. Diikuti semua penonton di sore menjelang petang. Selepas itu ratusan orang siap mengerubungi mereka swafoto, terutama Najwa. Tapi saya diam saja di tempat. Mencoba mencerna kembali beberapa pesan-pesan yang sempat hadir. Barangkali itu yang lebih penting.

Juga pesan Zaenal Dg. Beta. Ia menyerahkan satu lagi mahakarya lukisan tanah liat pada Quraish Shihab. Sembari berpesan, “(mari) barengan bergerak untuk mencapai tujuan”. Matanya tidak tertuju pada profesor, tapi untuk kita. Ya, kita semua.

 

8290a04828c94c0e93e220e3c3f9e33bd37a333e_large-

Photo by Shannon Jensen

Sehari sebelum Iqbal Lubis -kerap disapa ‘Ombal’ (Om Iqbal)– memberikan materi teknik fotografi di Kelas Menulis Kepo, ia memberi tantangan yang dikirimnya di grup Line angkatan. Nama tantangannya adalah Melihat Sudut Pandang.

Jadi begini, kami ditugaskan menyiapkan enam buah kertas ukuran A4 atau kertas karton biasa. Semua kertas dilubangi bagian atasnya yang berdimensi 36 mm kali 24 mm. Dalam ukuran cm presisinya dua kali tiga sentimeter. Oiya, tiga kertas dilubangi vertikal, sisanya horizontal.

Setelah itu, langkah selanjutnya: MENGINTIP pada lubang yang telah kami buat. Objek yang dijadikan sasaran haruslah berbeda. Entah itu sebuah ide, benda, manusia, interakasi, pemandangan, atau apa saja yang kami senangi.

Tidak berhenti di situ. Setiap selesai melihat dari balik lubang, objek tersebut harus digambar apa adanya pada bagian kertas yang masing kosong dan bersih. Kemudian sisa bagian kertas di pojokan bawah kanan memuat keterangan gambar. Hasil yang terlihat oleh mata itu saja yang wajib dilukiskan, tanpa menambah-nambahkan atau mengurangi sesuai dengan kehendak imajinasi. Om Iqbal menjanjikan hadiah menarik yang bisa menyelesaikan tantangan ini sebelum kelas dimulai.

***
Ketika ia menghantarkan materinya, ia sedikit bercerita mengenai challenge kemarin. Katanya, tujuan sebenarnya ialah melatih sudut pandang dalam pengambilan foto. Seperti menjauhkan dan mendekatkan objek.

Ukuran lubang di kertas itu sebenarnya adalah dimensi sesungguhnya dari sensor film full-frame. Sensor inilah yang menghasilkan ribuan gambar di setiap kamera yang kita gunakan. Sedangkan, gambar yang kami ciptakan di bawahnya ialah hasil yang terekam. Lalu keterangan yang tertera pada kertas merupakan caption yang selalu kita saksikan. hadir di setiap photo-journalism ataupun foto dokumenter.

Bagi Ombal, caption memegang peranan krusial dalam foto. Tidak boleh sembarang caption dituliskan dalam foto. Caption foto yang baik hanya merangkum visul foto saja. Tanpa ditambah atau dikurangi. Tidak perlu memasukkan unsur yang dihasilkan indra lain seperti pendengaran atau perasaan. Atau bila memang visual foto kurang jelas, bisa dijelaskan lewat caption. Dulu, saya juga pernah mendengar –dalam satu kelas jurnalistik- bahwa intinya kita telah melakukan hal mubazir jika menuliskan keterangan yang sudah tergambar jelas dalam foto.

Ombal menjelaskan, permainan ini juga tidak lepas dari proses cropping (memotong) sebagaimana kamera asli. Berdasarkan penjelasan Ombal, sebenarnya pemotongan foto itu terjadi sebanyak tiga kali.

“foto di-crop duluan di dalam kepala kita (proses berpikir dan imajinasi, red) dan kedua di mata kita sudah masuk masuk dalam spot view kamera (ketika mengintip di lubang sensor). Selanjutnya, proses terakhir terjadi pada aplikasi pengolah foto/gambar,” terang Om Iqbal.

Permainan lubang kertas ini mereprestasikan kamera yang sebenarnya. Bagaimana kami melihat sudut tangkap, menjauhkan dan memundurkan bila tidak pas, dan langsung menjepret. “semua orang memiliki selera visual, pada dasarnya. Namun selera dan penerjemahan visual tiap orang berbeda-beda.

“makanya, ketika saya menilai hasil tantangan kalian –apakah bagus atau tidak-, setiap orang bisa berlainan.” Terang Om Iqbal. Jadi, ia memang tidak sedang menaksir siapa paling bagus sudut pandangnya. Tapi siapa yang paling tepat ketika menerjemahkan isi kotak lubang di kertas pada gambar.

Ombal yang setiap minggu pagi meluangkan waktunya sebagai fasilitator Kelas Fotografi di The Floating School menerangkan sebuah metode menyampaikan pesan kepada banyak orang. Dikenal dengan “Photo Story”. Kata Ombal, “foto yang baik jangan sampai hanya jadi pelengkap tulisan. tapi hendaknya jadi pelengkap cerita.”

Di akhir, kami diharapkan bisa membuat, tidak hanya sebuah foto tunggal tapi beberapa foto yang merangkaikan diri sebagai cerita utuh. Boleh dibilang, Ombal hari itu sedang mengampanyekan ‘foto yang bercerita’ atau foto cerita.

Di tengah berlangsungnya kelas, Ombal menyajikan satu permainan kecil. Game ini menampilkan beragam potongan merek dagang. Maka ditampilkanlah merek tersebut dalam bentuk ‘gambar’ dan ‘kata’. Ada Nike, Adidas, Mozilla, Google, WordPress, Toyota, macam-macam. Setelah diuji, terbukti kami lebih mengingat logo (gambar) daripada jika ditampilkan dalam kata.

Permainan itu sekaligus ilustrasi mengapa rentetan foto menjadi penting dalam menjelaskan suatu peristiwa. Dengan pertanyaan lain, mengapa photo story menjadi signifikan. Dalam salah satu penjelasan tentang neuro-sains, otak manusia memproses segala bentuk visual, bukan verbal.

Foto yang bercerita

Jika ditilik dari sejarahnya, foto cerita cerita berakar dari foto dokumenter (1889) ketika Jacob Riis banyak mendokumentasikan kehidupan masyarakat miskin yang tinggal di New York dan daerah industri lainnya di Amerika. Selain itu, foto jurnalistik (photo-journalism) juga berpengaruh besar pada lahirnya foto cerita. Foto jenis ini jelas mengharuskan fotografer mengikuti kaidah jurnalistik demi keakuratan foto. J. Bruce Baumann (2011), pengajar foto jurnalistik di Southern Illinois University, menegaskan agar  pewarta foto hendaknya sadar dan berpikir selayaknya seorang jurnalis dahulu, baru kemudian berpikir dan bertindak sebagai fotografer.

Bagi Taufan Wijaya, penulis Photo Story Handbook (2016), mengatakan tidak mudah menelusuri sejarah foto cerita. Namun, gaya foto berseri dan bercerita ini muncul pertama kali pada 1929 di majalah Jerman, Muncher Illustrierte Presse. Empat tahun kemudian, Mendur, fotografer tanah air, mempublikasikan foto cerita pertama di Indonesia berjudul “Poewasa” di majalah Actueel Wereldnieuws.

Mengutip Taufan Wijaya, “fotografer adalah pencerita”. Nah seorang pencerita harus mampu bertutur (merangkaikan foto) secara baik dan fokus sehingga deretan foto tetap terjaga arah dan artinya. Itulah mengapa dalam mengisahkan satu kejadian, keadaan, dan konflik, para fotografer tidak cukup hanya menggunakan foto tunggal (single photo).

Dalam foto tunggal, satu gambar dapat berdiri sendiri, menceritakan dirinya sendiri, tanpa memerulukan bantuan dari foto lain untuk membangun cerita. Merujuk peristilahan bahasa, foto cerita menyajikan metode DM-MD (Diterangkan Menerangkan – Menerangkan Diterangkan). Foto cerita menggunakan pendekatan berbeda. Caranya dengan merangkai beberapa foto yang menjelaskan dan melengkapi satu sama lain serta disertai tambahan teks.

memotretlah jika ingin berkomunikasi lewat foto” kata Om Iqbal. Secara tidak langsung ia menyarankan kami mengambil gambar dan merekam peristiwa melalui medium foto. Jika Om Iqbal tidak ada malam itu, mungkin sampai sekarang saya tidak bakalan tahu apa itu foto cerita.

I’m used to capture some of unusual moments and then let them do they work. Biasanya saya hanya meninggalkan satu foto sebagai ilustrasi dan pelengkap cerita. Tanpa gambar, rasanya seperti sayur tanpa garam. Namun setelah mendapatkan penjelasan mengenai photo story, saya cukup percaya sebuah postingan bisa jadi lebih hidup dengan rangkaian gambar yang mengiringinya.

Sepatu Pengungsi dan Hukum Cambuk

Salah satu kerja foto cerita yang populer dikerjakan oleh Shannon sepanjang Juni hingga Juli 2012. Dengan judul “A Long Walk” yang memikat, ia membuka dengan sebuah pertanyaan “How do you represent a journey in a image?” Sekitar 3000-an pengungsi memulai perjalanan mencari perlindungan setelah 9 bulan berada dalam teror di negara sendiri.

Lalu saya pun tidak menyangka bahwa Shannon menggunakan sepatu untuk memberi gambaran penderitaan para pengungsi yang bertahan sejauh itu. Ia merekam bagaimana sulitnya perjalanan menembus perbatasan selatan Sudan di tengah kepungan tentara pembebasan, kekurangan air dan makanan.

Kisah ini menyadarkan penduduk dunia tentang kerasnya kehidupan yang harus dilalui oleh perempuan dan anak-anak di tengah konflik mendera. Juga menginspirasi PBB lebih berkonsentrasi pada perlindungan anak di daerah pengungsian.

Contoh lagi, seorang fotografer lepas Armin Hari membuat foto cerita “Canning Punishment in Aceh” tentang pelaksanaan hukum cambuk di Aceh. Selepas ashar pada suatu hari di Masjid Besar Bireuen, Polisi Syariah melaksanakan hukuman cambuk sembilan kali pada para pelanggar hukum syariat Islam yang berlaku di sana. Rotan kecil yang digunakan panjangnya sekitar satu koma lima meter.

Sebelum eksekusi dilangsungkan, area ini dibersihkan dahulu dari jangkauan penglihatan anak di bawah umur. Lalu, di hadapan para petinggi pemerintah lokal, hukuman ini dilaksanakan. Armin Hari merekam sequences ini dengan sejumlah foto yang kesemuanya hitam putih.

Teknik Ringkas Foto

“fotografi itu seni melukis dengan cahaya. Memotret itu tentang bagaimana empunya kamera memanfaatkan cahaya dan (bahkan) mengontrolnya” sambung Om Iqbal. Dalam exposure (pencahayaan), terdapat tiga elemen utama yang mengontrolnya.

Pertama-tama ada aperture/bukaan (fokus). Semakin mengecil fokus, maka gambar akan semakin tajam. Hal ini dikarenakan bukaan kecil menyempitkan cahaya yang masuk.  “untuk gambar landscape (pemandangan), saya sarankan gunakan bukaan 5/6 sampai 1/16 agar semua objek bisa tajam dan fokus” katanya.

Selanjutnya adalah Shutter Speed. Elemen ini mengatur seberapa lama cahaya masuk mengenai sensor. Makin tinggi kecepatannya, makin sedikit cahaya masuk. Tips dari Om Iqbal, jika cahaya sedang banyak-banyaknya, maka baiknya imbangi dengan shutter speed yang cepat pula.

Terakhir ialah ISO yang merupakan sensor kepekaan kamera terhadap cahaya. ISO terdiri dari nomo 100 hingga 12800. Semakin tinggi ISO yang digunakan, maka semakin peka pula sensor terhadap cahaya. Begitu sebaliknya. Pengontrolan ISO juga berfungsi untuk penambahan cahaya bila sedang redup, atau menormalkan cahaya bila sedang terang.

Selain pencahayaan, dua hal yang harus diperhatikan ialah ‘komposisi’ dan ‘elemen visual’. Keduanya berpengaruh besar dalam estetika foto. Foto yang memenuhi salah satu unstur komposisi dan memiliki elemen visual akan lebih sedap dipandang. Komposisi ini meliputi setengah bidang, tengah, diagonal, atau sepertiga bidang. Komposisi terakhir paling populer dan sering diistilahkan “one-third rule” atau kaidah sepertiga. Objek berada di bagian sepertiga dari frame, selebihnya adalah objek pendukung atau latar. Foto-foto yang dihasilkan hampir selalu nyaman dipandang dan keren. Coba saja kalau tidak percaya. Hehe.

Sedangkan elemen visual ialah sajian geometrik yang muncul dari sebuah foto. Salah satunya elemen garis. Foto yang membentuk elemen garis (entah itu putus-putus, lurus, atau gelombang) membantu para penikmat foto menikmati sajian estetika yang pas dan berkesan di indra penglihatan. Elemen warna mempengaruhi emosi seseorang, lalu elemen tekstur menggambarkan karakter yang berbeda-beda. Sementara elemen ruang dan perspektif membantu menciptakan efek tiga dimensi terhadap komposisi.

“elemen perspektif dan ruang digunakan juga demi menciptakan kesan ruang dan suasana” lanjut Om Iqbal. Ia menjelaskan, sehingga mengubah sudut pandang ruang juga akan mengubah suasana dalam foto.

Selesai kelas, ada tantangan dari Om Iqbal. Tantangannya yaitu membuat satu postingan foto dokomenter atau rangkaian foto yang bercerita (photo story). Konten memuat narasi (naskah) minimal 500 kata dengan minimal terdiri dari lima buah foto. Setiap foto dilengkapi dengan caption. Dikumpulkan paling lambat: Rabu/29 Maret 2017

Nah, hayuk atuh. Mari mengambil foto.

*Catatan Kelas Menulis Kepo Angkatan IV
Waktu: Jumat/ 24 Maret 2017
Pukul: 17.00 – 21.00
Materi: Teknik Fotografi dan Photo Story
Tempat: Brewbrtohers Café, Pengayoman Makassar
Pembagi Ilmu: Om Iqbal Lubis