Archive for the ‘Uncategorized’ Category

147599

Swafoto di pertemuan akhir

Empat belas pekan, empat belas pertemuan telah lewat. Kelas Menulis Kepo angkatan empat berakhir pekan ini. Ditandai dengan ujian akhir bagi masing-masing peserta. Seperti kelas-kelas sebelumnya, tulisan kami akan ditelaah dan dipelajari bersama-sama. Hanya saja, tanpa masukan pihak lain. Sumpah, ‘Ujian Akhir’ bukan istilah yang saya gunakan. Kelas Kepo benar-benar menggunakan “Ujian Akhir” untuk menutup rangkaian dari seluruh pertemuan.

Dua orang penjaga Kelas Kepo akan menjadi penguji malam ini, Om Lelaki Bugis (Mansur Rahim) dan Daeng Ipul (Saiful). Mereka berdua mulai menguji selepas kami shalat maghrib. Mereka anak menilai pencapaian masing-masing peserta. Seminggu sebelumnya, setiap peserta diminta menuliskan satu tema yang akrab dengan kesehariannya masing-masing.

Tulisan ini mewajibkan kami memadukan semua hal yang pernah diajarkan selama kelas. Mulai dari penggalian ide, sudut pandang, deskripsi, wawancara, hingga analisis sosial (bila diperlukan). Ujian ini tidak diadakan untuk mengalahkan siapa-siapa. Menentukan siapa lebih baik dari siapa. Semata-mata hanya untuk melihat, sejauh mana kami semakin baik dalam hal menulis.

“kelas ini membuat saya jadi lebih mudah menjelaskan suatu ide kepada orang lain melalui tulisan yang lebih terstruktur.” Kiwa yang sedang mengabdi sebagai dokter di Morotai, Maluku Utara ini mengakui materi-materi kelas kepo membuat tulisannya jadi lebih teratur. Alumni Kelas Kepo gelombang kedua ini secara rutin mempublikasikan tulisannya di dokterkiky.com.

Senada kak Kiwa, hampir semua dari kami turut merasakan hal sama. Sungguh gembira bisa menjadi bagian dari kelas kepo, kelas menulis perkabaran positif. Saya (sekarang) merasa dan percaya bahwa sebuah tulisan bisa bergerak melampaui banyak spektrum, tidak hanya untuk kepentingan saya sendiri, tapi juga bagi orang lain. Sekarang, di kepala saya, ada dorongan keinginan terus menulis hal baik dan bermanfaat bagi orang lain di sekitar.

Pertemuan akhir ini tidak seperti ujian skripsi. Ketika ujian skripsi seorang mahasiswa bisa berada dalam kondisi sendirian lalu keringat bercucuran dicecar sanggahan. Ujian akhir Kelas Kepo terbuka bagi semua peserta. Kami bisa mencuri dengar –selain itu tidak diperbolehkan- pesan dan pelajaran apa yang muncul dari tulisan yang diujikan.

Nah, pelajaran penting dalam ujian kali ini:

Beri bukti, biarkan orang lain bekerja untuk tulisan kita. Tentu saja kita tidak begitu ahli dalam segala hal. Jika merasa punya pendapat, buktikan itu dengan menyodorkan sebuah kesanksian atau keyakinan. Setelah itu, ajukan dengan mengutip pendapat ahli yang concern di bidang itu. Sehingga, tulisan tidak hanya berhenti pada personal opinion tanpa dukungan argumen dan bukti yang kuat (data, riset, dan fakta). Tapi segera menjadi acceptable opinion. Daeng Ipul mengistilahkan ini dengan, bagaimana kita menempeleng dengan tangan orang lain.

Berikan dampak, biarkan orang lain merasakan manfaat baiknya. Sebaik-baik perbuatan adalah yang memiliki nilai manfaat bagi orang lain. Begitu petunjuk ajaran agama. Menulis adalah salah satunya. Indikatornya jelas. Tulisan yang baik dan bermanfaat hampir selalu mendapat tanggapan banyak positif dari orang lain. Tulisan yang tidak berdiri untuk dirinya sendiri, tapi juga bagi orang banyak. Dibagikan berkali-kali dan dibaca beribu kali. Sangat jamak hal ini terjadi di dunia perkabaran media sosial. Bahkan sebuah tulisan bisa menjadi referensi jika orang lain turut menulis dengan tema yang sama. Nah, teruslah menulis!

Inilah tulisan-tulisan Ujian Akhir Kelas Menulis Kepo Angkatan Empat:

Jangan Sampai Ada Tulisan “ue” di Tulisan Ilmiahmu (Irmawati)
Bagaimana Tunanetra Bisa Belajar (Herviana)
Warung Mi Legendaris di Kota Makassar (Anna Asriani Mukhlis)
Start-up Makassar: Peluang dan Tantangannya (Baizul Zaman)
Katakan Tidak Bagi Mereka yang Memandang Kami Sebelah Mata (Helmiyaningsi H)
Pura-Pura Bahagia Tak Perlu Banyak Energi (Andi Citra Pratiwi)
Jangan Anggap Remeh Diskalkulia (Mujahid Zulfadli AR)
Ardi dan Dunia Anak (Andi Rahmat Asgap)
Ingin Jadi Penulis, Jadilah Pembaca (Hasymi Arif)

*Catatan Kelas Menulis Kepo Angkatan IV
Pertemuan ke-14 (selesai)
Tempat: Brewbrothers Cafe
Pukul: 17.00 – 21.00 WITA.

 

img_3063

Kegiatan Fakfak Menginspirasi (dok. relawan Fakfak Mengajar)

Dalam dua tahun ini, ada tiga komunitas berbasis kesukarelawanan yang terbentuk dengan ratusan volunteer yang terlibat di Fakfak. Mereka bergerak dan mengambil bagian dalam bidang pendidikan, lingkungan hidup, hingga sosial.

Saya akan memulai dengan cerita. Selama setahun, saya bergumul sebagai tenaga pengajar bantu di jenjang sekolah dasar. Pengalaman tersebut membuat saya sedikit banyak punya wawasan bagaimana masalah-masalah yang ada di sana, utamanya terkait pendidikan dasar. Apakah itu di kampung, di distrik, bahkan hingga di tingkat kabupaten.

Meski kami banyak menghabiskan waktu di kampung, namun upaya mendorong keberlanjutan dan terciptanya komunikasi antar elemen kampung hingga level kabupaten terus kita bangun secara intens. Patut diketahui, ini bukan hal yang mudah sebenarnya.

Makanya waktu itu, kami sepakat untuk menggerakkan aktor-aktor lokal untuk bekerja sama dan mendorong partisipasi mereka dengan kepercayaan diri yang tinggi lewat beragam inisiasi-inisiasi.

Hampir dua tahun berlalu sejak saat itu, dan hasilnya luar biasa mengesankan. Saya menjadi orang paling bersyukur karena pemuda-pemuda di Kota Pala cukup punya banyak energi untuk menjalani jenis aktivisme sosial.

Kami pernah punya pengalaman sedikit “pahit” seperti ini.  Bagaimana gambaran sulitnya menerobos dinding birokrasi dengan sistem pengelolaan anggaran yang ketat. Hehe.

Jadi, saat itu kami mengajukan ToR kegiatan “Festival Anak Fakfak 2014” ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga. Harapan kami jelas, agar kegiatan ini dapat diterima dengan baik oleh pihak pimpinan dan jajarannya.

Kegiatan ini juga bukan ujug-ujug langsung jadi. Ada hasil diskusi dan analisis kebutuhan yang sudah kami lewati bersama dengan relawan pengajar yang sudah setahun membersamai gerakan pendidikan di Fakfak.

Waktu itu, niat kami sederhana. Bagaimana cara mempertemukan anak-anak sekolah dasar dari berbagai distrik yang ada di Fakfak di kota kabupaten. Termasuk juga dari Distrik Karas di ujung timur.

Tujuannya agar mereka saling mengenal satu sama lain. Anak-anak dari distrik gunung berjumpa dan berakrab-ria dengan mereka dari distrik pesisir dan pulau-pulau. Anak-anak gunung yang Kristen dan Katolik bertemu dengan kerabat mereka yang se-marga dari pesisir dan pulau.

Juga tak kalah pentingnya, menyatukan berbagai lintas perguruan sekolah. Ada YPK (Yayasan Pendidikan Kristen), YPPK (Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik), dan YAPIS (Yayasan Pendidikan Islam).

Selain itu, mereka diharapkan dapat berbaur dalam semangat toleransi, bukan untuk berkompetisi, tapi saling bekerja sama antara satu dengan yang lain.

Hari itu tidak ada yang lebih menggembirakan bagi kami semua. Proposal dan ToR itu sudah dalam genggaman dan siap dipresentasikan di kantor dinas.

Pada akhirnya? Ini juga memang kegagalan tentang hal yang tidak dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Hiks. Kegiatan ini ditolak dengan halus oleh pimpinan dengan dalih klasik. Ditunda hingga jangka waktu yang belum ditentukan dan belum jelas tahunnya kapan.

Alasan keterbatasan anggaran dan adanya program prioritas menjadi dalih sangat kuat untuk menunda kegiatan ini hingga waktu yang belum ditentukan.

Waktu itu memang ada sinyal positif dari beberapa pertemuan selanjutnya dengan pimpinan dinas karena masih ada harapan untuk dinegosiasikan dalam rapat anggaran perubahan bersama DPRD Fakfak. Katanya begitu. Setelah itu, kami pun menunggu, menunggu, dan menunggu. Tapi hasilnya tetap saja sama.

Bukan salah siapa-siapa, hanya saja, kegiatan ini benar-benar membutuhkan support lebih dari pemerintah. Minimal uang transport dari distrik dan biaya makan hari-hari selama di kota untuk anak-anak.

Intinya, butuh sokongan dana yang besar untuk menanggung segala biaya. Menggunakan dana BOS juga sulit dilakukan. Kasian sekolahnya. Pada saat itu, kami sadar bahwa untuk menggerakkan sesuatu yang besar, kami juga butuh tenaga yang besar dalam jumlah yang banyak.

Jalannya satu: volunteering. Istilahnya, kami ingin mendorong keterlibatan melalui sistem bottom-up. Menggerakkan relawan/masyarakat dari level bawah hingga nanti perlahan-lahan menguat lalu bisa berimbas pada level pemerintah dan stakeholder yang berada di piramida bagian atas. Demi mencapai tujuan gerakan pendidikan yang lebih humanis dan juga berkualitas.

Pada dasarnya, kami ingin menciptakan kesadaran akan sebuah ‘rasa kebersamaan’ dan ‘rasa solidaritas’ yang bermula dari anak-anak muda. Kami selalu percaya bahwa ini akan berhasil. Tidak tahu kapan, meski kami sudah tidak bertugas lagi pada saat itu.

Nah, mari kita tengok beberapa di antaranya bergeliatnya kegiatan volunteering hingga saat ini. Siapa orang di balik layar dan apa-apa saja ragam kegiatan mereka. Yuk.

komposTIFA (komunitas positif Pemuda Fakfak)

Saida Husna Wokas. Itu nama lengkapnya. Kerap dipanggil dengan sapaan ‘kak Ida’. Mace satu ini adalah founder komposTIFA dan sekaligus pemimpin para “provokator positif” atau pasukan “propos”.

Sejauh yang saya tahu (belum sempat konfirmasi ke kak Ida. Hehe), ide ini sudah ada sejak 2015 kalau tidak salah. Sudah ada yang menyebut-nyebut tentang nama komunitas ini. Siapa ya? Hehe. lupa. Waktu itu kami semua memang masih sering diskusi bareng dengan kak Ida yang sehari-hari bekerja di perusahaan swasta di Fakfak.

Hajatan besar yang baru mereka rampungkan adalah PBI 2016. Apa itu? ‘Parade Budaya dan Inovasi’ yang mengangkat tema “Bangga Berbudaya, Berani Berkreasi, dan Berkarya Mencerdaskan”. Kegiatan ini dilaksanakan pada 29 Oktober kemarin untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Ada tiga kegiatan dan kompetisi yang mereka langsungkan dengan keterlibatan dari masyarakat. Pertama, Karnaval Budaya, kedua Lomba Parade Daur Ulang, ketiga yaitu Beta Pangaru (sejenis lomba Rangking Satu di tivi itu lho).

Sebelumnya, menjelang akhir April lalu, komposTIFA juga dipercaya sebagai panitia lokal dalam penyelenggaraan RUBI (Ruang Berbagi Ilmu) 2016 yang mengundang keikutsertaan relawan-relawan dari luar daerah. Datang ke Fakfak dengan biaya sendiri. Para peserta yang kebanyakan usia belasan hingga dua puluhan mendapatkan materi-materi yang begitu bermanfaat, ada “volunteering as a life style”,  “pengelolaan rumah baca”, dan “leadership for youth”.

Kalau saya melihat perkembangannya, mereka sedang mengupayakan dengan keras mendirikan Rumah Baca di setiap distrik di Fakfak. Agustus 2016, Rumah Baca komposTIFA Siboru di Kampung Siboru Distrik Fakfak Barat resmi berdiri, setelah sebelumnya pada bulan Februari Rumah Baca perdana komposTIFA Arguni-Taver di Pulau Arguni di Distrik Kokas juga diluncurkan.

Secara rutin, para relawan yang terdiri dari anak-anak SMA, mahasiswa, dan fresh graduate ini melakukan pembinaan di rumah baca yang mereka bina. Selain kampanye membaca, mereka kadang menyelipkan materi kreatif seperti Bahasa Inggris anak, Wawasan Nusantara, dan Story Telling. Seperti yang mereka lakukan di bulan Oktober bulan lalu di Pulau Arguni.

Para relawan cukup giat melakukan kampanye dan permohonan pengadaan buku untuk calon rumah baca mereka. Bulan Januari mereka launching Gerakan SATUSATU (Satu Orang Satu Buku) dan Gerakan SUSATU (Seribu untuk Satu Juta Buku) yang disosialisasikan ke sekolah-sekolah di Fakfak.

Bulan Juni, mereka mendapatkan bantuan buku dari relawan dan donatur dari komunitas Penyala Makassar dan bulan berikutnya bantuan buku juga ikut meramaikan dari komunitas Share for Love.  Wow.

Project nonton bareng juga pernah dilaksanakan dengan tujuan fundraising, dan yang terakhir tidak kalah mengejutkannya adalah relawan-relawan yang didominasi anak SMA ini rela berpanas-panas dan berhujan-hujan ria dalam kegiatan “Pasar Murah komposTIFA”. Hebat, kan?

Info lebih lanjut, silahkan tengok kompostifa.org

JeFa (Jelajah Fakfak)

Eits, jangan salah sangka. Komunitas ini bukan grup yang berisi orang-orang urban di Fakfak yang suka hepi-hepi, traveling ke sana ke mari tanpa mengindahkan lingkungan dan masyarakat. Justruk sebaliknya. Hehe.

Perkumpulan relawan anak-anak muda Fakfak ini digaungkan secara resmi pada 5 November 2015. Berarti sudah lewat setahun sejak didirikan. Selamat ulang tahun JeFa. Hehe. Mereka punya tagline “Hidup dari Alam, Besar Bersama Budaya.”

Oke, mari langsung saja lirik agenda-agenda mereka. Secara  berkala, para relawan mengunggah foto-foto dan info-info tentang budaya dan kekhasan daerah yang ada di kabupaten Fakfak. Dikenal dengan nama “Info JeFa” yang diunggah ke media sosial. Sehingga, para netizen bisa mengetahui hal-hal unik yang ada di sana dengan mudah.

Kemudian, ada juga ‘Jelajah Bersih’ di sepanjang jalan baru daerah reklamasi pantai. Para pegiata menggunakan drum berukuran setengah yang bertuliskan Jelajah Fakfak lalu mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan.

Kepedulian akan lingkungan yang bersih menggerakkan mereka mendirikan sebuah Landmark Peduli Kebersihan di salah satu jalan protokol di sana, Jl. Dr. Salasa Namudat di akhir tahun 2015.

Mereka tidak bekerja sendiri, mereka menggaet komunitas-komunitas pemuda lain yang memiliki kperihatinan yang sama. Diantaranya ada Fokal Pemuda, Cewek Matic Community, Fakfak Mengajar, Kelas Inspirasi Fakfak, Pemuda Peduli Kesehatan, dan beberapa lagi.

Paling menarik dan membuat saya kagum adalah mereka mendirikan stand pada pegelaran Pekan Daerah III Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten se-Pronvinsi Papua Barat selama seminggu di bulan Agustus.

Dalam stand tersebut, ada aplikasi Kamus Bahasa Iha (bahasa daerah salah satu marga paling besar di Fakfak), dan berbagai macam galeri kreatif yang menyajikan foto dan  video hasil ‘menjelajah’.

Mengenai Jelajah Fakfak, saya mengutip kalimat dalam akun sosial resmi Jelajah Fakfak yang ditulis oleh salah satu pegiat: “Dibentuk dari para pemuda pemudi Fakfak yang rindu untuk kembali mengangkat kembali nilai-nilai leluhur di Tanah Mbaham Matta, juga ingin lebih memperkenalkan pesona keindahan alam serta kearifan lokal yang ada di kabupaten Fakfak”

“Lebih dari pada itu, komunitas Jelajah Fakfak dituntut berkarya nyata dan turut menjawab fenomena yang tengah tumbuh dan berkembang ditengah kehidupan saat ini. Dengan demikian, makan komunitas ini merupakan wadah belajar untuk mengembangkan tanggap pribadi, tanggap kelompok bahkan tanggap masyarakat dan lingkungan yang lebih luas lagi”

Jika teman-teman ingin menyaksikan keindahan sejumlah tempat karya teman-teman di  Jelajah Fakfak, silahkan saksikan di kanal Youtube JelajahFakfak.

Info resmi, silahkan pantau di: jelajahfakfak.blogspot.co.id

Fakfak Mengajar (FM)

Nah, karena concern kami di bidang pendidikan diharuskan mengambil porsi yang lebih besar, oleh karenanya dari awal kami banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dikelola secara bersama-sama.

Teman-teman relawan di Fakfak Mengajar sejatinya adalah sekumpulan anak-anak muda baru lulus dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang sebagian besar mendapatkan beasiswa dari pemerintah Fakfak. Mereka digerakkan oleh sebuah kesadaran untuk  memajukan kualitas pendidikan di Fakfak, utamanya pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang mereka pernah rasakan di luar sebagai penerima beasiswa.

Ada yang dari IPB, Universitas Cendrawasih, UMI Makassar, Universitas Negeri Papua, bahkan dari sekolah kedinasan seperti STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik). Kami benar-benar bersyukur mendapatkan partner yang benar-benar memiliki smenagat yang tidak habis-habis dan selalu berpikiran maju.

Dalam akun resmi, terkutip, “bermula dari kesadaran bahwa keberhasilan penyelenggaraan suatu pendidikan di suatu wilayah bukan hanya tanggung jawab pemerintah namun merupakan tanggung jawab bersama dengan masyarakat. Bersama kita membangun generasi muda Fakfak yang terampil, kreatif, serta berdaya saing”

Ketika ditanyakan siapa foundernya, saya juga turut bingung. Hehe. Soalnya, persoalan siapa yang menjadi founder tidak pernah dibahas. Bukan jadi hal yang penting mungkin. Hehe. Namun sewaktu kami masih bertugas, Ketua dipegang oleh Rodiah Rumata dan saat ini dipercayakan pada Imanuel DY Hindom. Keduanya adalah alumni IPB Bogor.

Salah satu pencapaian terbesar dari para relawan ini adalah bisa terus berbagi dengan para penggerak dan aktor pendidikan yang lain di Fakfak, terutama para guru, jajaran Dinas Pendidikan, dan sejumlah komunitas pemerhati pendidikan.

Awal terbentuknya, komunitas ini langsung menggebrak dengan agenda Fakfak Menginspirasi di awal tahun 2015. Sebuah kegiatan yang diadopsi dan Kelas Inspirasi namun menggunakan konten dan gaya lokal. Kegiatan ini menyerap puluhan relawan dan berakhir dengan sukses dan mendapat banyak aplause dari berbagai pihak.

Dua bulan setelahnya di bulan Maret 2015 dan 2016, diadakan Fakfak Bedah Kampus edisi satu dan dua untuk memberikan sosialisasi universitas-universitas di Indonesia pada anak-anak SMA se-kabupaten Fakfak yang akan melanjutkan perguruan tinggi termasuk dengan sejumlah beasiswa yang ditawarkan. Mereka menggandeng teman-teman komunitas dokter internship yang sedang bertugas. Kami semua begitu akrab, bahkan terkadang teman-teman internship yang jadi pelopor.

Kemudian, menggandeng beberapa komunitas lain, Fakfak Mengajar menjadi motor kegiatan Kelas Inspirasi Fakfak untuk pertama kali di bulan Oktober 2015.

Sejumlah relawannya kemudian di belakang hari menjadi komunitas tersendiri. Dengar-dengar, mereka akan menggelar Kelas Inspirasi Fakfak edisi kedua. Hehe,wow. Luar biasa ya teman-teman di sana.

Bulan Oktober kemarin, Fakfak Mengajar menggelar agenda ‘Fakfak  Sehari Membaca” dengan tema “Mari Berkeliling Menebarkan Manfaat Membaca ke Pelosok Kota Fakfak Tercinta” di sejumlah sekolah dasar.

Sejauh ini, yang paling menggembirakan dan menyejukkan yakni keseriusan para relawan untuk terus mendampingi secara intensif guru-guru sekolah dasar di Fakfak dalam kegiatan KKG Learning Group di tiap distrik sepanjang semester terakhir tahun ini. Materi yang disampaikan bermacam-macam, termasuk Motivation Leadership.

Mereka mengajak dan mendorong para profesional dan guru-guru teladan yang tersebar di sekolah-sekolah dasar unggulan di Fakfak untuk membagi ilmu mereka pada guru-guru di pelosok, misalnya di SD Inpres Kampung Ugar di Pulau Ugar.

Cek selengkapnya di web KI Fakfak

Hingga saat ini, banyak komunitas-komunitas positif yang muncul demi melebihkan upaya mereka ketimbang selalu berkeluh kesah melihat kondisi di sekitar. Banyak perkembangan yang sudah terjadi yang tidak bisa lagi saya rekam, dan saya bisa bilang: saya senang sekali. Bahagia.

Selamat Ulang Tahun Fakfak ke 116.
Semoga terus jaya dalam lintasan tantangan dan waktu

dsc09615

Ceria Anak-Anak di depan Rumah Kepala Sekolah (Foto dok. pribadi)

Tinggal di sebuah kampung di ujung ketinggian seribu meter dari permukaan laut, sungguh bukan perkara mudah. Apalagi di Papua Barat. Apalagi orang baru seperti saya, yang kebetulan hanya menetap sementara. Demi menunaikan tugas selama setahun mengajar di sebuah sekolah dasar. Tanpa sinyal telfon. Juga tanpa penerangan di malam hari. Dengan fasilitas belajar yang juga minim.

Sekitar dua tahun silam, saya adalah Guru Wali Kelas III SD YPK (Yayasan Pendidikan Kristen) Pikpik Distrik Kramongmongga. SD ini merupakan satu-satunya fasilitas pendidikan dasar yang ada di tiga kampung: Pikpik, Bahbadan, Kwamkwamur.

Untuk keperluan komunikasi, mau tidak mau warga harus turun ke kota langsung atau membeli sebuah gawai elektronik yang dijuluki orang-orang kampung, HP Ceria. Tapi tidak seceria namanya. Perangkat digital khusus ini dioperasikan dengan menggunakan tower yang membutuhkan tenaga surya.

Tower ini dipasang di tengah-tengah wilayah distrik, berdiri pas di depan kantor distrik. Alat digital ini juga hanya dapat dioperasikan bila menggunakan perangkat dan kartu telepon dengan merek yang sama: ‘Ceria’. Gawalnya lagi, perangkat ini berfungsi baik jika matahari bersinar ceria. Hehe,cukup rumitlah waktu itu.

Lewat sudah setahun saya meninggalkan Kampung Pikpik, Distrik Kramonggmongga. Namun pengalaman yang saya peroleh, masih begitu dalam membekas. Setahun mengajar, rasa-rasanya, sayalah yang memeroleh banyak pelajaran pelajaran berharga, dari masyarakat, pemuka adat, tokoh agama, bahkan anak-anak sekalipun.

Seperti umumnya masyarakat di perkampungan, akses informasi cukup terbatas. Masyarakat hidup dengan begitu sederhana dengan mengandalkan hasil-hasil hutan (kebun masyarakat dan adat) dan sungai. Jangankan beraktivitas secara daring di internet, mengoperasikan komputer pun hanya beberapa orang yang bisa, termasuk Ibu Linda guru kelas empat.

Pada sisi yang lain, pemerintah ingin agar data pendidikan bisa termutakhirkan dalam satu platform yang disinkronisasi secara online, idealnya rutin setiap bulan berjalan. Padahal, tidak semua sekolah dan tempat punya infrastruktur dan sumber daya yang memadai untuk menjalankan itu semua.

Waktu saya masuk ketika itu, sekolah sedang dalam posisi khawatir-khwatirnya karena tidak punya tenaga guru yang bisa menjalankan aplikasi Dapodik (Data Pokok Pendidikan). Laman ini menyimpan seluruh data mengenai siswa, guru, kondisi serta fasilitas sekolah.

Nah, ceritanya saat itu. Informasi sinkronisasi data datang terlambat ke telinga bapak Kepala Sekolah. Saat itu saya sedang mengajar di kelas. Tiba-tiba bapak Kepala Sekolah memerintahkan saya untuk segera bersiap-siap.

nak guru, bapak minta tolong, kitorang harus ke kota sekarang” jelasnya.

Tanpa bertanya lagi, saya mengiyakan dan segera mengikuti beliau. Angkutan juga bisa dikata tidak begitu lancar. Menjelang sore taksi –sebutan untuk angkot- baru tiba dan kamipun segera meluncur ke kota.

Bapak Abraham, yang saya anggap bapak angkat di kampung, memastikan semua data-data terbaru di tahun ajaran baru sudah terangkut di tas coklat tuanya. Mengecek lagi. Meyakinkan dirinya lagi sekiranya data-data guru juga sudah berada dalam genggamannya. Semua berisi kertas-kertas yang disela-selai dengan map.

Hampir semuanya tulisan tangan beliau. Beliau memang mengerjakan semua dengan tulisan tangan rapi. Waktu itu, saya sudah berniat agar suatu saat dan sesegera mungkin, akan men-digitalisasi berkas-berkas tersebut. Menjadi satu dalam sebuah drive penyimpanan di laptop milik sekolah.

Setelah beristirahat sejenak, kami langsung bergegas dengan ke warnet (warung internet) yang menurut informasi memiliki koneksi paling cepat se-Fakfak. Saya lupa namanya, yang jelas tempatnya begitu nyaman.

Bangunan dua lantai, seluruhnya terbuat dari kayu, terletak memanjat di tebing batu. Sehingga pemandangan laut lepas terhampar bebas di depan mata. Pemilik tempat menggunakan menggunakan IndiHome, produk andalan. Telkom Indonesia yang diluncurkan medio 2013.

Begitu kami masuk, sudah ada beberapa rombongan guru dari sekolah-sekolah yang ada di kota. Mereka bermaksud mengerjakan aplikasi Dapodik juga. Untunglah waktu itu kami tidak sendiri, jika ada kendala kami bisa bertanya. Begitulah kondisinya, guru-guru di kota sudah mulai mahir memainkan teknologi dan mereka punya informasi langsung. Guru-guru di kampung, belum lagi di pulau-pulau terluar di distrik-distrik jauh, hanya bisa menerima informasi ketika berita itu sudah basi.

Hampir empat jam kami berkutat dengan data-data dan sekolah siswa. Sebenarnya, saya merasa begitu bersalah sekaligus tak enak hati dengan Bapak Abraham. Beliau sudah memasuki usia senja, tapi bersikeras dan semangatnya tidak kendur-kendur. Meski malam sudah begitu larut.

bapak, pulang sudah, nanti beta kerja sendiri” desak saya.

ah jang nak guru, kitorang kerja sama-sama ini barang. Ini juga demi anak-anak dan guru-guru yang lain pu data” jelasnya.

kalau kitorang kasi selesai ini malam, kirim, terus sinkron, dana BOS kitorang pu sekolah tidak akan datang terlambat. Kitorang bisa manfaatkan cepat untuk beli anak-anak sekolah pu kebutuhan dan kebutuhan guru-guru” tambah beliau.

Alasan beliau yang terakhir membuat saya luluh. Jaket pemberian Dinas Pendidikan yang dipakai kepala sekolah sudah mulai menipis. Sambil berbatuk-batuk, beliau terus memerhatikan data yang ia tulis di kertas, lalu mencocokkan dengan apa yang saya ketik di layar laptop.

Saya benar-benar tidak tega. Tapi apa boleh buat, bapak Kepala Sekolah ingin menunaikan tanggung jawabnya. Jika malam ini juga selesai, besok pagi-pagi, kami akan carter mobil kembali ke atas pegunungan tempat sekolah kami berada. Membayangkan hal itu, saya jadi bersemangat lagi untuk menyelesaikan data ini. Tak sabar untuk segera kembali mengajar, bertemu dengan anak-anak. Meski baru sehari ditinggal, rasanya sudah begitu lama.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga dini hari. Proses penginputan data baru selesai. Saatnya untuk mensinkronkan dengan server yang ada di pusat pangkalan data. Proses ini memakan waktu kurang dari sepuluh menit jika koneksi mendukung. Kami bersyukur, meski semua guru-guru yang ada di warnet juga sedang mengerjakan Dapodik, kecepatannya juga tidak masih tetap stabil. Sekali lagi, kami bersyukur.

Menjelang puku tiga. Kami saling berpandangan, tersenyum lebar bersama-sama. Bahagia rasanya melihat bapak Kepala Sekolah tersenyum sepuas itu. Saya menjabat tangan kepala sekolah. Proses akhirnya selesai, dan kami bisa pulang ke kontrakan.

Insiden kecil tapi lucu di perjalanan pulang, juga menambah keakraban saya dengan beliau. Seekor anjing penjaga dengan tidak disangka-sangka, datang menggonggong sekali di hadapan bapak lalu menggigit bagian belakang sepatu. Tak perlu tahu saya ada di mana saat itu. Saya sudah meninggalkan beliau dengan mengambil jarak yang sejauh-jauhnya. Haha.

Sepanjang jalan, kami terus tertawa terus mengingat kejadian ini. Menurut pengakuan beliau sendiri, katanya baru sekali itu beliau dapat pengalaman digigit anjing. Maklum, bapak kepala sekolah punya anjing pemburu yang penurut.

Ibu Linda yang Selalu Ingin Tahu

Di sekolah kami, juga ada seorang guru yang begitu berdedikasi dalam mengabdi dan mengajar di sekolah. Segala urusan yang tidak penting di kota, jika itu harus meninggalkan anak-anak, tidak akan ia hiraukan. Ia adalah guru PNS yang asli dari Kampung Pikpik sendiri.

Namanya Ibu Guru Linda. Selain itu, dia juga Bendahara Persekutuan Jemaat Pemuda di tiga kampung. Kepeduliannya terhadap anak-anak dan pemuda, membuatnya cukup disegani di sekolah, meskipun masih berusia muda.

Saya begitu senang dengan beliau. Ia adalah guru yang bersedia mengawal pekerjaan Dapodik secara rutin sebagai operator sekolah. Biar bagaimanapun, saya akan meninggalkan sekolah ini, dan harus ada guru atau orang lokal yang dengan ikhlas mengawal keberlanjutannya.

Ibu Linda adalah orang yang menyediakan dirinya untuk terus belajar. Rutin, setiap bulan, mencari sela-sela waktu kosong mengajar, kami turun ke kota untuk mengisi aplikasi Dapodik. Proses pembelajaran dan pendampingan ini harus saya laksanakan sesegera dan seintensif mungkin sehingga Ibu Linda bisa semakin percaya diri dengan kemampuannya.

Suatu ketika, warnet yang biasa kami datangi sedang berada dalam masalah. Padahal tinggal sedikit lagi data tersebut rampung kami kerjakan. Keseruan tercipta karena waktu itu kami dikejar tenggat waktu dan harus segera kembali ke kampung untuk mengajar.

oh bu guru, beta ingat ada pu kenalan di kantor Telkom” kata saya yang mulai sumringah karena ada harapan.

Pada akhirnya, saya berinisiatif meminjam fasilitas internet nirkabel di kantor Telkom Fakfak yang diberikan cuma-cuma oleh seorang staff nya yang begitu baik hati. Namanya, Bapak Abu. Saya tidak akan pernah melupakan jasanya ketika kami para relawan pengajar yang tersebar di beberapa distrik membutuhkan akses cepat mengirimkan laporan rutin, kampanye pendidikan via sosial media dan blog, atau juga mengunduh data-data penting.

Dengan fasilitas itu juga, saya mengajak Ibu Linda mengerjakan data-data yang belum rampung dan menyelesaikan secepatnya. Ibu Linda terus bekerja meski masih selalu gagu, tapi saya bersikeras, beliau yang harus melakukannya sendiri. Dua laptop kami sediakan. Laptop sekolah dan laptop saya sebagai bahan pembelajaran. Saya bersyukur Ibu Linda bisa menuntaskannya.

Di lain hari, pada sela-sela mengerjakan Dapodik, Ibu Linda tumben mengeskplorasi banyak hal di internet dan bertanya pada saya. Sambil memerlihatkan gambar-gambar di Google, beliau bertanya.

“pak guru, gambar-gambar ini beta mo simpan, de pu cara bagemana?” Ini beta mo pake untuk ajar ponakan di ruma, sama untuk anak-anak kelas satu nanti” tanyanya.

“Kalo ada depu gambar, kan lebih bagus. Terus mo pasang di kelas-kelas supaya anak-anak murid bisa liat dan cepat belajar” jelas Ibu Linda.

Setelah itu, dalam hitungan beberapa menit saja, Ibu Linda sudah bisa membuka beragam jendela di laman pencarian dan menyimpan gambar-gambar itu dalam sebuah file sehingga mudah di cetak ketika kembali ke kampung. Ibu Linda memang punya kemauan besar untuk terus belajar. Saya harap ada akan bertumbuh terus Ibu Guru Linda lain. Senantiasa belajar dan mencari tahu banyak hal meski dilanda banyak keterbatasan.

Saya punya harapan besar agar PIK (Pusat Internet Kecamatan) yang terletak di SMP negeri di pusat distrik bisa beroperasi lagi. Sebab, anak-anak lulusan SD dari sebelas kampung di distrik yang tidak punya kesempatan untuk bersekolah di kota, juga bisa merasakan hal yang sama dengan kawan-kawannya yang bersekolah di kota. Listrik dan internet yang menjangkau pelosok-pelosok nusantara adalah bagian dari mimpi anak-anak.

Sebab rasanya sayang sekali meninggalkan murid-murid di kampung hanya untuk memasukkan data hasil sinkronisasi di Dapodik. Bila seandainya listrik masuk, dan tower juga bisa dipasang sesegera mungkin, anak-anak dan masyarakat juga bisa merasakan manfaatnya.

Bukan hanya sekedar melihat foto-foto di kartu pos yang datang dari pelbagai daerah yang sengaja kupamerkan di kelas-kelas dan majalah dinding sekolah. Tapi mengeksplorasi pengetahuan-pengetahuan yang ada di dalamnya.

Saya membayangkan itu adalah manfaat yang begitu tinggi untuk anak-anak di daerah timur Indonesia, khususnya di Papua. Mereka bisa melihat Indonesia nya. Karena mereka juga bagian dari Indonesia | #IndonesiaMakinDigital