147599

Swafoto di pertemuan akhir

Empat belas pekan, empat belas pertemuan telah lewat. Kelas Menulis Kepo angkatan empat berakhir pekan ini. Ditandai dengan ujian akhir bagi masing-masing peserta. Seperti kelas-kelas sebelumnya, tulisan kami akan ditelaah dan dipelajari bersama-sama. Hanya saja, tanpa masukan pihak lain. Sumpah, ‘Ujian Akhir’ bukan istilah yang saya gunakan. Kelas Kepo benar-benar menggunakan “Ujian Akhir” untuk menutup rangkaian dari seluruh pertemuan.

Dua orang penjaga Kelas Kepo akan menjadi penguji malam ini, Om Lelaki Bugis (Mansur Rahim) dan Daeng Ipul (Saiful). Mereka berdua mulai menguji selepas kami shalat maghrib. Mereka anak menilai pencapaian masing-masing peserta. Seminggu sebelumnya, setiap peserta diminta menuliskan satu tema yang akrab dengan kesehariannya masing-masing.

Tulisan ini mewajibkan kami memadukan semua hal yang pernah diajarkan selama kelas. Mulai dari penggalian ide, sudut pandang, deskripsi, wawancara, hingga analisis sosial (bila diperlukan). Ujian ini tidak diadakan untuk mengalahkan siapa-siapa. Menentukan siapa lebih baik dari siapa. Semata-mata hanya untuk melihat, sejauh mana kami semakin baik dalam hal menulis.

“kelas ini membuat saya jadi lebih mudah menjelaskan suatu ide kepada orang lain melalui tulisan yang lebih terstruktur.” Kiwa yang sedang mengabdi sebagai dokter di Morotai, Maluku Utara ini mengakui materi-materi kelas kepo membuat tulisannya jadi lebih teratur. Alumni Kelas Kepo gelombang kedua ini secara rutin mempublikasikan tulisannya di dokterkiky.com.

Senada kak Kiwa, hampir semua dari kami turut merasakan hal sama. Sungguh gembira bisa menjadi bagian dari kelas kepo, kelas menulis perkabaran positif. Saya (sekarang) merasa dan percaya bahwa sebuah tulisan bisa bergerak melampaui banyak spektrum, tidak hanya untuk kepentingan saya sendiri, tapi juga bagi orang lain. Sekarang, di kepala saya, ada dorongan keinginan terus menulis hal baik dan bermanfaat bagi orang lain di sekitar.

Pertemuan akhir ini tidak seperti ujian skripsi. Ketika ujian skripsi seorang mahasiswa bisa berada dalam kondisi sendirian lalu keringat bercucuran dicecar sanggahan. Ujian akhir Kelas Kepo terbuka bagi semua peserta. Kami bisa mencuri dengar –selain itu tidak diperbolehkan- pesan dan pelajaran apa yang muncul dari tulisan yang diujikan.

Nah, pelajaran penting dalam ujian kali ini:

Beri bukti, biarkan orang lain bekerja untuk tulisan kita. Tentu saja kita tidak begitu ahli dalam segala hal. Jika merasa punya pendapat, buktikan itu dengan menyodorkan sebuah kesanksian atau keyakinan. Setelah itu, ajukan dengan mengutip pendapat ahli yang concern di bidang itu. Sehingga, tulisan tidak hanya berhenti pada personal opinion tanpa dukungan argumen dan bukti yang kuat (data, riset, dan fakta). Tapi segera menjadi acceptable opinion. Daeng Ipul mengistilahkan ini dengan, bagaimana kita menempeleng dengan tangan orang lain.

Berikan dampak, biarkan orang lain merasakan manfaat baiknya. Sebaik-baik perbuatan adalah yang memiliki nilai manfaat bagi orang lain. Begitu petunjuk ajaran agama. Menulis adalah salah satunya. Indikatornya jelas. Tulisan yang baik dan bermanfaat hampir selalu mendapat tanggapan banyak positif dari orang lain. Tulisan yang tidak berdiri untuk dirinya sendiri, tapi juga bagi orang banyak. Dibagikan berkali-kali dan dibaca beribu kali. Sangat jamak hal ini terjadi di dunia perkabaran media sosial. Bahkan sebuah tulisan bisa menjadi referensi jika orang lain turut menulis dengan tema yang sama. Nah, teruslah menulis!

Inilah tulisan-tulisan Ujian Akhir Kelas Menulis Kepo Angkatan Empat:

Jangan Sampai Ada Tulisan “ue” di Tulisan Ilmiahmu (Irmawati)
Bagaimana Tunanetra Bisa Belajar (Herviana)
Warung Mi Legendaris di Kota Makassar (Anna Asriani Mukhlis)
Start-up Makassar: Peluang dan Tantangannya (Baizul Zaman)
Katakan Tidak Bagi Mereka yang Memandang Kami Sebelah Mata (Helmiyaningsi H)
Pura-Pura Bahagia Tak Perlu Banyak Energi (Andi Citra Pratiwi)
Jangan Anggap Remeh Diskalkulia (Mujahid Zulfadli AR)
Ardi dan Dunia Anak (Andi Rahmat Asgap)
Ingin Jadi Penulis, Jadilah Pembaca (Hasymi Arif)

*Catatan Kelas Menulis Kepo Angkatan IV
Pertemuan ke-14 (selesai)
Tempat: Brewbrothers Cafe
Pukul: 17.00 – 21.00 WITA.

 

dyscalculia-1024x449 (1)

Nyaris setiap hari di sekolah, Dinda* bermain dengan sketch book miliknya dan pensil khusus gambar sketsa. Kira-kira dua puluh lima halaman sudah berserakan ke mana-mana. Beberapa lembar masih bersisa dengan karakter bikinan-nya sendiri.

Anak ini cukup ‘komik’ di antara tiga belas siswa kelas delapan yang lain. Pembawaannya riang sepanjang hari. Tak pernah berhenti mulutnya cerocos apapun. Termasuk saling membalas serapah, berdebat sengit dengan teman laki-laki, dan bergosip dengan sesamanya siswa perempuan.

Tubuhnya besar menjulang. Kacamatanya membantu mengurangi minus yang ia derita. Sekaligus tempat berlindung yang sempurna bagi matanya yang bulat hitam dan relatif besar dari teman-temannya. Hal yang menurut saya istimewa, ia bisa tetap enjoy menggambar sambil ngobrol atau lempar makian dengan teman-teman di depan dan sebelah kiri-kananya.

Meski begitu, ia akan terlihat lesu dan tidak fokus ketika mata pelajaran matematika dimulai.  Ketika ia mulai stress, ia mulai sedih sendiri. Ketika tiap jeda, saya bertanya apakah mereka paham atau tidak, hanya Dinda memasang wajah sedih.

“Nda mengerti, pak” jawabnya sambil menjatuhkan wajahnya ke bawah dan menggelengkan kepalanya. Ketika saya ulangi lagi setelah penjelasan yang lebih sederhana, saya kembali bertanya.

“belum mengerti” jawabnya dengan suara disedihkan. Ia ulangi lagi jawaban itu hingga tiga kali tanpa saya tanya. Seakan sebuah pengakuan bahwa ia memang tidak bisa. Saya tak bisa berbuat apa-apa.

Setiap kali itu pula, berulang kali Hakima yang bangkunya berada tepat di depannya mencoba menjelaskan. Anak ini memang jadi partner in crime Dinda. Tapi selalu siap memberikan yang terbaik jika Dinda (kadang hanya Dinda sendiri) tidak mengerti pelajaran yang disajikan, utamanya Matematika.

Dalam satu pertemuan di kelas, saya mendampingi mereka mengerjakan matematika dalam bentuk project. Sudah tiga puluh menit anak itu duduk menekuri jangka, busur derajat, kertas karton, dan spidol berwarna. Ia duduk di lantai kelas bersama teman kelompoknya yang lain.

Meski begitu, ia juga tidak tahu bagaimana dan akan diapakan semua alat-alat itu. Ia cuma memegang peralatan tersebut dan siap membantu jika dibutuhkan. Pada akhirnya, ia hanya bertugas membuat garis lurus, dan menebalkan garis-garis menggunakan spidol pada koordinat rotasi yang telah ditentukan. Pekerjaan utamanya telah selesai, Dinda, nama anak ini, hanya kebagian menyempurnakan apa yang sudah diselesaikan.

Menyaksikan Dinda yang nampak mulai serius mengerjakan project matematika di kelas, teman sekelompok menanggapi dengan canda, “nda seperti Dinda yang kami kenal. Dinda itu harusnya berkutat dengan pensil dan buku gambar.” Selebihnya mengiyakan sambil senyum dan menggoda Dinda. Di kepalanya, masih berputar-putar mengenai konsep derajat negatif-positif dan arahnya ke mana jika clockwise atau anti-clocwise.

Ia tidak bisa mengerti konsep derajat dan arah dengan baik dan sempurna. Jika teman-temannya mengerti dalam dua hingga tiga kali ilustrasi. Ia butuh waktu lebih banyak. Jika penjelasan saya yang berulang-ulang tidak juga bisa dipahami, maka ia akan pasrah tetap gagal memahami.

Sebulan ini, saya kebetulan dipercaya menangani persiapan international test yang akan diadakan di sekolah. Test ini dibuat sedemikian rupa menguji kemampuan matematis anak, utamanya –sekitar 85 persen- konsep bilangan. Bahkan termasuk pelajaran ketika mereka kelas enam di bangku SD, mengurutkan bilangan pecahan terkecil hingga terbesar. Masalah inipun, Dinda kebingungan. Raut wajahnya yang dibuat ‘disedih-sedihkan’ –bukan Dinda namanya kalau tidak bisa selalu nampak gembira di hadapan teman-temannya- menatap saya. Ditatap seperti itu, saya jadi merasa kasihan.

Jelas ia khawatir nilainya jeblok. Bahkan, pada sesi terakhir, soal akan didikte dan peserta menjawab soal dalam waktu sepuluh hingga dua puluh detik. Tertulis dengan terang saja, Dinda kebingungan, apalagi jika dibacakan. Ujian ini memang terstandar dari sono-nya. Ketidakmampuan anak sudah jelas akan terbaca di mana letaknya. Sebulan menangani kelas delapan, saya menduga Dinda terkena diskalkulia.

“iya, Dinda itu cukup bermasalah dengan mata pelajaran hitung-hitungan, matematika dan termasuk sains fisika.” Erwin, guru pendamping khusus di kelas menjelaskan kondisi Dinda pada saya.

“tapi, cuma itu saja. Yang lain (pelajaran non-matematik) ia bisa mengerti dengan baik.” Ia menambahkan, barangkali saja anak ini memang malas untuk berurusan dengan matematika. Mengambil jalur aman dengan tidak pernah berusaha sebaik mungkin untuk mencapai skor KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum).

Tetap pada dugaan awal, saya mengira Dinda diskalkulia. Dengan bukti bahwa ia mengalami directional confusion (kebingungan arah) dan kebingungan konsep bilangan serta operasi-operasi dasar matematis. Ringkasnya, diskalkulia adalah kesulitan belajar matematika atau mengerjakan soal hitungan.

Gejala-gejala Diskalkulia

Defenisi cukup komprehensif mengenai diskalkulia dijelaskan Department for Education and Skills (2001) di Inggris bahwa diskalkulia merupakan kondisi yang mempengaruhi kemampuan siswa memeroleh keterampilan matematis. Murid dengan diskalkulia kemungkinan memiliki kesulitan memahami konsep-konsep bilangan, kekurangan intuisi terhadap bilangan, dan mengalami masalah mempelajari angka-angka dan prosedur-prosedur. Meski anak dengan diskalkulia menjawab dengan benar atau menggunakan metode yang tepat dalam mengerjakan soal, mereka melakukannya secara mekanis tanpa disertai kepercayaan diri.

Padahal tanpa pengetahuan matematis yang memadai, anak dikhawatirkan tidak cukup tangkas dan tanggap dalam sejumlah aktivitas keseharian. Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya anak-anak jelas akan membutuhkan kemampuan mengelola uang, mengukur satuan berat dan waktu, dan persen. Ini mensyaratkan siswa memiliki keterampilan estimasi dan kecakapan berhitung yang terdapat dalam pecahan, pengukuran, dan aljabar sederhana.

Meski konteks terhadap pelajaran tersebut diturunkan ke dalam masalah yang sangat nyata di sekelilingnya, siswa harus mengerti konsep abstrak agar bisa memahami langkah-langkah dan prosedur logis dari matematika. Sesegera mungkin, pendidik pasti akan mengubah itu ke dalam bentuk simbol. Plus dengan banyak peraturan dan prosedur yang harus dipenuhi. Kemampuan transfer nyata-abstrak inilah yang cukup lambat terjadi pada anak dengan diskalkulia.

Ketika bidang ini pertama kali diteliti, kala itu tahun 80-an. Joffe menyebutkan 61 persen anak-anak pengidap diseleksia (lemah bahasa) juga lemah dalam matematika. Minimnya kesadaran anak terhadap bahasa menjadikan mereka juga lebih kebingungan terhadap bahasa simbol matematika. Waktu itu, banyak masih diperdebatkan mengenai keilmiahan studi yang dilakukannya. Tapi, semua orang berasumsi bahwa siswa yang lain, 39 persen sisanya, anak diseleksia bebas diskalkulia.

Penelitian Kosc (1986) menyebutkan diskalkulia sebagai gangguan fungsi otak (brain abnormalities). Kekacauan struktur terhadap kemampuan matematis yang berasal dari genetis atau bawaan bawaaan malfungsi pada salah satu bagian otak, tanpa disertai gangguan fungsi mental secara umum.

Setelah 20 tahun berlalu, beberapa penelitian poluler yang menyebutkan bahwa tidak hanya anak dengan diseleksia yang bisa terkena dampak diskalkulia. Tapi murid normal sekalipun bisa mengamali diskalkulia. Ini yang membuat saya menduga Dinda mengalami indikasi diskalkulia.

Kenyataannya masih sangat sedikit yang kita ketahui mengenai diskalkulia, penyebabnya, maupun metode penanganannya. Anak diskalkulia murni (tanpa diseleksia) yang memiliki ‘kelemahan’ terhadap bilangan, akan memiiki kognitif dan kemampuan bahasa setara dengan anak normal, dan bahkan terhitung istimewa dalam pelajaran non-matematis.

Jangan Salah Langkah

Matematika punya sifat naturalnya sendiri. Pelajaran ini dibangun dalam struktur otak anak berdasarkan berdasarkan apa yang sudah ia ketahui sebelumnya. Matematika secara logis membutuhkan rentetan pengetahuan yang tidak boleh melangkahi satu sama lain. Misalnya, siswa harus menguasai sistem persamaan linear sebelum melangkah pada materi fungsi linear. Tidak bisa tidak. Oleh karenanya, membimbing anak-anak sampai memenuhi persyaratan dalam satu materi itu sungguh penting. Pendampingan sebaiknya dilakukan hingga tuntas dengan mempertimbangkan level pencapaian siswa.

Bilangan dan aritematika merupakan pokok materi awal bagi hampir semua siswa ketika mempelajari matematika. Keduanya juga merupakan konsep paling sering yang bisa jadi akan ditemui manusia sepanjang hidupnya. Jika dalam tahap ini seorang murid gagal, maka kondisi ini akan menentukan apa yang selanjutnya terjadi. Tahap berikutnya menjadi timpang, secara akademik dan emosional.

Di sekolah terdapat Ruang Khatulistiwa (bukan nama sesungguhnya) di mana siswa special need (berkebutuhan khusus) diberikan perlakuan khusus. Di ruangan ini terdapat dua guru pendamping khusus yang ditugaskan melakukan treatment sesuai kondisi murid. Utamanya terkait pembelajaran dengan berbagai metode yang memudahkan anak apabila mereka kesulitan di kelas.

Guru Pendamping Khusus (GPK) melakukan observasi di kela setiap hari sejak pagi hingga lepas jam pelajaran terakhir. Sembari mencatat progress siswa, ia merancang treatment bagi siswa yang membutuhkan. Bedanya, bila setiap guru mata pelajaran merancang kegiatan belajar per kelas, guru pendamping merancang program belajar individu.

Tapi, sekali lagi, Dinda adalah anak normal dengan kemungkinan diskalkulia. Ia bukannya tidak bisa berubah. saya, guru-guru yang lain, dan orang tuanya yang harus memberikan perhatian lebih. Kami-lah yang harus berubah pada Dinda. Utamanya dalam mengajarkan dirinya untuk bisa ‘jadi lebih hidup dan bergairah’ dalam matematika.

Memang ada satu cara membuat lompatan besar seorang siswa dalam mempelajari matematika. Cara ini akan memberikan siswa sejumlah banyak soal-soal yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Sehingga lama-kelamaan siswa akan semahir mahir memainkan bentuk-bentuk penyelesaian dalam matematika.

Namun, metode ini begitu sulit diterapkan bagi anak dengan diskalkulia, terutama bawaan diseleksia. Mengerjakan begitu banyak soal tanpa disertai review, revisi, dan catatan kemajuan siswa sama saja melakukan upaya yang sia-sia. Kemampuan bahasa yang lemah (utamanya bahasa simbol matematika) membuat mereka jauh lebih bingung dari yang seharusnya. Mencari untung, malah buntung.

Jalan paling tepat, ialah menyeimbangkan antara ‘penguasaan materi’ dan ‘perkembangan.’ Struktur program pengajaran haruslah beradaptasi dengan catatan-catatan perkembangan tersebut.

Intervensi Anak dengan Diskalkulia

Sebagaimana lazimnya proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) yang sukses, seorang pendidik harus mengetahui dua hal. Pertama, pengetahuan tentang kondisi siswa, dan pengetahuan tentang mata pelajaran yang diampu. Boleh-boleh saja seorang guru memiliki kecakapan yang istimewa dalam bidang matematika. Namun belum tentu ia akan mengajar efektif jika ia luput mengetahui perkembangan belajar masing-masing anak.

Sebelumnya, saya sudah sebutkan beberapa gejala dan tanda diskalkulia, atau umumnya kesulitan belajar matematika. Kebingungan arah, kebingungan bahasa matematis, dan kebingunan konsep bilangan. Beberapa tanda lain seseorang mengalami diskalkulia, ialah memori jangka pendek, kecepatan mengerjakan soal, kecemasan serta stress yang berlebihan, dan kebingungan spasial.

Khusus yang terkahir disebutkan, ini berhubungan dengan kesulitan-kesulitan visual. Kecerdasan ini dibutuhkan untuk mengerjakan soal-soal geometri, menentukan nilai tempat, dan khususnya aljabar yang banyak menggunakan diskriminasi visual. Misalnya, anak tidak bisa membedakan dengan tepat visual “x berpangkat 2” dan “x kali 2”.

Meski begitu, bukan berarti tidak ada hal bisa kita lakukan untuk mengatasinya. Prinsip pertama ialah menggunakan pengetahuan dan kompetensi anak saat itu sebagai bahan dalam membuat program pembelajaran inidividu. Bukan dengan menyamakan situasinya dengan teman-teman kelasnya yang lain. Menyajikan mentah bahan pembelajaran (prosedur matematis) yang ia tidak ketahui membuat ia akan kehilangan kepercayaan diri dan kesempatan mendapatkan pelajaran sesuai tingkatan pemahamannya.

Selanjutnya ialah menyderhanakan bahasa. Pendidik atau guru pendamping sebaiknya menggunakan bahasa-bahasa yang terkait erat dengan kehidupan keseharian murid. Tidak hanya itu, komunikasi dengan bahasa sederhana itu harus dilengkapi gambar dan ilustrasi yang memadai sesering mungkin, bagaimanapun caranya.

Paling terakhir, sikap rendah diri dari orang-orang sekeliling, terutama guru. Secanggih apapun metode yang dimiliki seorang guru untuk mengajarkan satu topik matematika, insya Allah tidak akan sukses membuat setiap anak paham. Sangat mungkin sekali seorang anak bingung dengan cara alternatif yang disampaikan guru, namun yang lain mudah saja mengerti.

Jika setiap pendidik memahami hal ini, ia tidak akan memaksakan menerapkan gaya mengajarnya pada setiap anak atau setiap kelas. Sebaliknya ia akan mengakui bahwa setiap anak memiliki pola pikir dan gaya belajar yang berbeda-beda. Sehingga sebelum mengajar, ia sudah menyiapkan beberapa alternatif metode yang memperhatikan kondisi gaya belajar dan tingkatan pengetahuan yang berbeda.

Sebulan mengamati Dinda, saya merasa anak ini istimewa dengan caranya sendiri. Ia cukup baik dalam pelajaran lain yang memproses kata (Bahasa, PKn, dan IPS) dan psikomotorik (Art, Choir, dan Teater). Saya tidak memiliki kapastitas memberikan tes resmi pada anak ini terkait dugaan pribadi saya diskalkulia.

Jauh pikiran saya dari memasukkan Dinda ke Ruang Khatulistiwa agar ia mendapatkan treatment. Saya cukup percaya hipotesa Butterworth (2005) dan Landerl (2004) bahwa diskalkulia (dalam perkembangannya) muncul sebagai problem spesifik tentang memahami dan menyerap cepat konsep dasar dan fakta-fakta bilangan. Dalam kata lain, anak dengan diskalkulia bukan berarti ‘bodoh matematika,’ tetapi, merujuk kembali Butterworth terdapat “several major gaps in their knowledge.” Gaps ini yang mesti dikejar dan dipantau sedemikian rupa agar menjadi program pembelajaran yang ramah siswa.

Jadi, mudah saja bukan? Bukan dengan mengucilkan anak-anak tanpa kemampuan matematis, tapi dengan pendekatan yang benar, perlakuan yang tepat, mereka akan bisa mengejar keteringgalan. Setelah itu, mereka juga akan mengejar teman-temannya yang lain. Satu ketika, setelah barangkali berbulan-bulan kemudian, saya bisa melihat Dinda melemparkan senyum selebar-lebarnya pada jam pelajaran matematika. Semoga.

Referensi:
Mathematics for Dyslexics (Including Dyscalculia)3rd edition
. Steve Chinn and Richard Ashcroft. John Wiley and Sons, Ltd. England. 2007.
*bukan nama sesungguhnya

large_svoCpGHaFH1kERyxrK4pg08wkB82i4HAVNy6Wbr3lfE

REUTERS/Lucky Nicholson

Tanpa orang-orang yang telah mengbadikanan kisahnya, kita tidak akan pernah tahu bagaimana kehidupan di bumi bekerja: dulu, sekarang, dan akan datang.

Secara sadar sepenuhnya, kita berhutang besar pada penulis yang menghabiskan separuh hidupnya menulis, menelaah, menyigi, dan menuangkan pikiran dan maupun pengalamannya lewat sebentuk karya. Buku yang akhirnya kita semua bisa baca. Manis ilmunya kita serap. Tanpa tulisan pula, kita tidak akan pernah tahu ada sebentuk kehidupan unik, secuil informasi, dan seonggok inspirasi yang datang dari kehidupan orang lain.

Buku ibarat puzzle tak bertepi tentang kehidupan anak manusia dan alamnya. Akan selesai ketika manusia juga musnah pada waktunya. Tiap orang akan mengisi kekosongan puzzle dengan keping karya masing-masing. Sebuah karya tulisan atau buku menjadi dorongan bagi orang lain untuk menuliskan (menyempurnakan) bagian lain. Tulisan adalah manfaat-seratus-tahun yang bisa kita bagi ke orang lain.

***

Kelas menulis baru saja usai. Sore hingga malam pukul sembilan, beberapa hasil tugas menulis sosok dibahas intens. Cukup banyak pelajaran hari itu yang kami peroleh. Setiap kesalahan, entah itu tata cara penulisan maupun detail-detail yang kurang, selalu jadi pelajaran baru.

Meski lelah, kami tidak rela dan bakal merasa rugi melewatkan ”kelas” selanjutnya. Tanpa berpindah tempat sama sekali, kami memalingkan wajah di sisi kanan. Tempat sosok lelaki berkaos abu-abu tanpa kerah itu duduk. Bola matanya tampak cukup besar di balik kacamata. Lelaki ini cukup istimewa karena beberapa teman Kelas Menulis Kepo menyukai karya-karyanya. Beliau asli dari Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Meski begitu, ia sudah lama menetap di kota sejuk, Bogor.

Pertama kali saya bertemu langsung sosoknya yaitu dua tahun silam. Saat itu Senandung Kopi Kahayya, agenda pegelaran panen kopi masyarakat Dusun Kahayya, di lereng gunung  Bawakaraeng. Acara dihelat malam hari, di puncak sebuah bukit yang dinginnya menusuk tulang. Waktu itu ia diminta ‘mendinginkan’ terpaan kuat angin gunung lewat sejumlah sajak rindunya yang hangat. Dia adalah Khrisna Pabichara.

Meski tampak bugar seperti biasa, ia mengaku kurang sehat. Masih beradaptasi dengan panasnya mentari di langit kelembapan malam hari di Makassar. Nafasnya seperti tertahan. Kemungkinan ia refleks menahan gerak hidung dan tenggorokan yang gatal agar tidak mendengus. Sehingga suara dahak dan batuk tidak keluar mencolok.

Sebagai informasi, kedatangannya selama sepuluh hari di Makassar untuk membuat sebuah karya (lagi). “sebenarnya bukan sepuluh hari, lebih sedikit dari itu, cuma tiga hari.”

Pengakuan kak Khrisna, karyanya benar-benar ia rampungkan -128 halaman- hanya dalam tiga hari. Tujuh hari selebihnya kegiatan jalan-jalan, observasi, penggalian bahan cerita, macam-macam. Mendengar pernyataannya, rasanya seperti déjà vu. Saat sekolah menengah, di sampul belakang LKS, ada pesan penting. Dari seorang George Washington: “jika saya punya waktu 9 jam untuk menebang pohon, maka 7 jam pertama saya gunakan pertama untuk mengasah parang.”

Bagi seorang Khrisna, tulisan merupakan eksekusi pasti dari pergulatan pemikiran atas kehidupan yang dititipkan Tuhan pada dirinya. “makanya, menulis itu harus jadi pekerjaan yang utama, bukan sampingan.”

“Dulu, aktivitas saya menulis dari malam hingga pukul 7 atau 8 pagi. Tapi, setelah memasuki umur sekian (paruh baya), saya merasa kebiasaan ini harus diubah. Setelah itu, pola menulis saya hanya hingga (pukul) 2 atau 3 malam. Setelah itu harus istirahat”

Ia menjelaskan, tulisan butuh kesegaran, dalam arti bacaan kita harus segar untuk pembaca. Nah, bagaimana mau segar kalau ditulis pada tengah malam buta hingga dini hari? Tipsnya, ia mulai belajar mengelola waktu dan menjaga tulisan-tulisanya dihasilkan dari waktu yang segar: pagi hari.

Dalam kondisi ekstase, menurut pengakuannya, dia bisa mengetik 50 kata dalam 1 menit. Duh, kami tidak sempat bertanya, dorongan apa yang bisa menyebabkan dirinya ter-ekstase begitu hebat?

Kemampuan menggarap fiksi dengan baik merupakan hasil berlatih yang tidak sebentar. Beberapa orang yang terdekat dengannya, sambil melirik Om Lelaki Bugis, pernah ia tuliskan satu persatu sebagai latihan mengarang tokoh-tokoh fiksi. Relasi pertemanan yang erat itu membantu Khrisna dalam membangun penokohan dalam karya novelnya.

“dalam proses pencarian bentuk tulisan, boleh-boleh saja kita meniru. Gunakan ATM (amati, tiru, dan modifikasi).” Kelancaran menulis bukan hanya diperoleh dengan berlatih. Tapi karena si penulis menguasai bahan tulisan yang akan digarap. “tulislah dari sudut yang kamu kuasai.” Dirinya mengakui jika gaya tulisannya mula-mula sangat dipengaruhi sejumlah sastarawan ternama, termasuk Seno Gumira Ajidarma. Lama kemudian barulah ia menemukan sendiri gaya menulisnya.

Tambahnya, “gaya itu ditemukan tidaknya hanya lewat membaca tapi juga harus menulis.” Membaca banyak karya-karya pengarang yang dikagumi tidak lantas membuat kualitas karya kita sama persis dengan yang kita tuliskan. Harus dengan menulis, menulis, dan menulis.

Bagaimana Memulai Menulis?

Tulislah Sebanyak-banyaknya
“jika baru mulai belajar menulis, kejar kuantitas saja dahulu. Menulis adalah pekerjaan yang sangat bisa diikhtiarkan. Karena Anda tidak akan pernah belajar jika tidak pernah melakukan kesalahan apapun” Sangat mungkin seorang menjadi terampil dengan menulis. Khrisna sudah membuktikan itu di tahun-tahun sebelum kami semua bertemu di kelas ini. Salah satu kuncinya, keras dan disiplin terhadap diri sendiri.

Khrisna menyarankan agar kami menulis sebanyak-banyaknya tanpa beban. Terkhusus bagi kami yang menggunakan media blog dalam menulis, ia menyarankan sebaiknya tidak mengunggah semua karya ke media sosial. Sebagian yang kita anggap pantas untuk dibaca orang, itulah yang kita pamerkan pada publik.

Tulislah Karena Rasa
Banyak yang menulis, kata Khrisna, bukan karena cinta dan rasa yang ia miliki. Tulisan mereka tinggal kata-kata kering yang tidak hidup. Jiwa tulisan yang ia tinggalkan tidak mencerminkan apa-apa, bahkan kepribadian si penulis. Padahal,“apa yang ditulis dari hati, akan lesap juga ke dalam hati (para pembaca)” begitu katanya. Karya yang ditulis karena rasa ini, akan bertahan, jauh bahkan hingga setelah akhir hidup penulis.

Tulislah dengan Kreatif
Salah satu tipsnya adalah dengan rajin membuka kamus. Kamus menyediakan bahan mentah dari tulisan: kata. Termasuk sinonim (persamaan kata) agar penulis tidak mengulangi kata yang sama dengan arti yang berbeda. Maka, rajin-rajinlah buka kamus. Tidak semua hal yang kita maksudkan dapat terwakili oleh kata-kata yang itu-itu saja. Eksperimen dengan bahasa itu sesuatu yang mengasyikkan dan berpotensi memajukan penggunakan bahasa Indonesia, begitu yang pernah saya baca.

“(untuk) tiruan bunyi saja, tersedia 800 kata. Kata yang digunakan sebagai bunyi daun kering beda dengan bunyi daun basah yang jatuh ke lantai” Khrisna menyarankan agar kami mencoba-coba menggunakan dan membiasakan kembali kata-kata lama.

Daripada menggunakan manyun untuk membahasakan gerak bibir yang maju, mengapa tidak memakai “bibir Anita menggelepay” misalnya. Kesannya lebih enak diucapkan. Tidak susah. Dan lebih penting lagi, sangat terasa kebaruannya.

Mengapa Harus Menulis?

Kata pepatah, “gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan namanya.” Hidup seorang manusia itu hitung mundur, bukan hitung maju. Setiap manusia punya batas usia berbeda-beda. Jika seorang anak manusia berkalang tanah tanpa menulis, atau kisahnya dituliskan, maka apa yang bisa dititipkan pada sejarah?

“Menulislah. Kalau benar-benar Anda tidak bisa menulis, lakukanlah hal yang bisa orang lain tuliskan.” pesan Khrisna mengutip perkataan salah seorang Presiden Amerika Serikat yang kesekian.

Kita bisa memilih satu, atau bahkan kedua pilihan itu. Tapi, ingat, tidak semua orang sangup (punya kesempatan) melakukan hal besar lalu namanya terekam dalam sejarah. Beruntungnya, pilihan menulis adalah pilihan yang sangat mudah.

Seorang cerdik cendekia Muslim, Imam Al Ghazali, pernah berujar, “kalau kalian bukan anak seorang raja atau ulama besar, maka menulislah.” Menulis, di jaman itu, bahkan di saat sekarang adalah arena pertukaran dan penyebaran ilmu pengetahuan. Olehnya, semua buku dan karya yang dihasilkan merupakan amal jariyah yang pahalanya mengalir terus pada penulis hingga hari kimat tiba.

Sekarang, jika Anda benar-benar sudah mulai menuliskan satu dua kata: rampungkan. Selesaikan, apa yang sudah kita mulai. Kata Daeng Ipul, semua bahan sudah kami sampaikan. Namun ada tiga hal yang tidak bisa diajarkan: ketekunan, keingintahuan, dan kedisiplinan.