Posts Tagged ‘Blogger Kampus’

People-Philippines-91-e1449291699589

primer.com.ph (Seorang turis menggali narasi fotonya melalui talking to the locals)

Wawancara itu seni mengobrol asyik bin serius demi mendapatkan informasi. Strategi mengulik data dan fakta dari seorang sarjana lulusan Amerika tentu beda dengan residivis ahlul penjara. Wawancara merupakan ngobrol yang bertujuan. Tujuan penulis mewawancara setidaknya ada dua: mendapatkan data mengenai objek, dan membangkitkan suasana humanis dalam tulisan. Ingat, pewawancara-lah yang punya tujuan, bukan narasumber.

Sudah barang tentu, tujuan-tujuan itu ada yang bisa tercapai dengan mudah, ada juga yang tidak. Tergantung ruang lingkup informasi yang ingin diperoleh. Semakin dalam fakta dan pengakuan yang ingin diperoleh, semakin butuh waktu dan upaya. Usaha ini dalam rangka menjalin rangkaian obrolan tersebut menjadi cerita yang utuh dan mengandung pesan.

Menurut Daeng Ipul, ada dua jenis wawancara, wawancara terencana dan wawancara spontan. Tapi baginya, ia lebih menyukai wawancara spontan daripada harus menyelesaikan agenda wawancara yang terencana. Saya sepakat dengannya, karena gampang (hehe). Alasan pertama karena ketidakterdugaan itu sendiri. Kedua karena ada perasaan senang yang melambari kita jika berhasil mengulik kisah orang-orang biasa tapi dengan kisah yang luar biasa.

Langkah-langkah berikut bisa menjadi pedoman wawancara:

Identifikasi Narasumber

Mengkategorikan narasumber berdasarkan usia, jenis kelamin, kelompok sosial, pendidikan, dan lain-lain. Tiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda, belum lagi bila mereka memiliki status, strata sosial, dan jenjang pendidikan yang lumayan tinggi.  Tipsnya, siapapun narasumbernya, kuasai bahan dan persona. Kalau perlu, googling dulu sebelum sebelum melakukan proses wawancara. Dalam kata lain, konten pertanyaan itu gak g*blok amat dan tidak up to date.

Mewawancarai tokoh masyarakat juga tidak luput dari tantangan, meski tidak selalu. Katakanlah kategori ini mewakili figur-figur di pemerintahan atau kalangan akademisi. Pertama, perasaan superior mengetahui segala yang berkaitan dengan tema pertanyaan. Bilamana pewawancara tidak tegas mematuhi tema dan outline, maka bincang-bincang akan jatuh ke dalam jurang ceramah yang membosankan dan tidak berkesudahan. Kecuali kalau sudah saatnya makan. Nantinya, terlalu banyak data yang dikumpulkan.

Beda lagi saat mewawancarai narasumber dari kalangan warga biasa. Katakanlah kita ingin mengulik informasi dari seorang lelaki yang berpforesi sebagai petani atau nelayan misalnya. Kunci dari semuanya adalah membangun kepercayaan narasumber terhadap pewawancara. Bagaimana strategi agar si empunya informasi merasa nyaman memberikan keterangan dan bercerita apa saja.

Berikut beberapa strategi wawancara yang diberikan dalam kelas:

Menunjukkan minat untuk mengetahui alias ingin menampakkan sikap ketertarikan yang besar terhadap ilmu/informasi yang dimiliki si narasumber. Kalaupun kita sudah punya informasi awal di kepala, sebaiknya simpan saja dahulu. Berpura-puralah menjadi pandir alias orang yang tidak mengetahui itu sebelumnya.

Mengapa harus begitu? Logikanya, kita datang ke suatu tempat di mana masyarakat asli lebih paham masalah itu dibanding dengan kita yang hanya sehari dua hari menetap di sana. Masih mending jika sehari, tapi bila hanya sejam dua jam? Lebih baik kita menyerahkan langsung kepada ahlinya. “merekalah profesor sesungguhnya, karena mereka langsung belajar dari alam” Daeng Ipul menyarankan seperti itu untuk menekan ego pribadi menjadi lebih hebat dan superior daripada narasumber. Tentu tanpa meninggalkan sikap kritis, skeptis, dan berimbang.

Menyederhanakan bahasa menjadi seerat mungkin dengan pengetahun dan kapasitas narasumber. Apakah itu kosakata, data, argumen, maupun istilah-istilah lainnya yang mungkin tidak akan atau bahkan sulit dimengerti oleh narasumber.

Selalulah konfirmasi penanda-penanda (jarak dan waktu) jika melakukan wawancara. Misalnya, seorang Ibu keluarga korban diskriminasi kasus 1965 menjawab, “saya lahir tahun 1932.” Informasi ini boleh dipastikan kembali ke kelurahan. Tapi bila memang tidak ada yang yakin mengenai hal ini, dalam redaksi boleh ditulis begini, “Ibu X mengatakan ia lahir di tahun 1932 jauh sebelum Jepang masuk, meski saya sendiri tidak terlalu yakin sebab pihak kelurahan juga tidak bisa memastikan hal tersebut.

Selanjutnya, berikan pertanyaan terbuka, bukan pertanyaan tertutup. Ajukan pertanyaan yang bakal terus memancing narasumber untuk menjawab dan bercerita lebih banyak. Misalnya, saya akan mewawancarai seorang perempuan tua yang tinggal di kawasan hutan adat di daerah Fakfak. Di mana mereka menggantungkan mata pencaharian di situ. Saya ingin mengorek informasi tentang berapa penghasilan yang mereka terima.

Pewawancara: “berapa rata-rata pendapatan Ibu sebulan?”
Ibu: “tidak tahu, tapi cukup untuk makan sekeluarga dengan anak-anak.”

Pertama, pertanyaan awal tersebut tidak akan memberi jawaban pasti. Masyarakat Mbaham Matta –sebutan warga di Fakfak- yang mengelola hutan masyarakat akan menikmati panen Pala dua kali dalam setahun: Juni dan Desember. Hasil ini sangant bergantung dengan alam dan musim. Masyarakat selalu mengeluhkan hal ini, bunga Pala yang kering dan berjatuhan karena musim panas yang terlalu lama, atau menjadi tidak terbuahi karena musim hujan yang begitu panjang. Kedua, tidak relevan karena tidak bakalan ada istilah penghasilan rata-rata seorang pekebun yang bertahan hidup dari hasil hutan.

Barangkali, redaksinya bisa diubah jadi seperti ini: “bulan lalu dapat berapa bu?” atau “bu, panen bulan Juni kemarin dapat berapa?” Jawaban pertanyaan ini meski tidak mengambil kesimpulan apa-apa dari informasi rerata income, tapi setidaknya dapat memberikan gambaran dan perbandingan mengenai kondisi keuangan jika ditelisik lebih jauh. Intinya, tulislah keterangan yang bisa dipercaya dan valid. Meski jumlah valid itu hanya pada saat tertentu atau di waktu itu saja.

Bikin Outline Wawancara

Membuat kerangka daftar pertanyaan membuat proses wawancara menjadi efektif dan tetap pada fokus tema yang ingin digali. Sehingga outline ini berfungsi sebagai panduan dan koridor. Pengingat bagi penulis agar tidak melenceng-melebar dalam mengajukan pertanyaan.

Sebagai contoh, subjek yang ingin digali adalah bagaimana  perjalanan kesuksesan suatu kelompok masyarakat berjuang mengelola pertanian di lahan kering. Meski di situ ada sosok yang banyak berjasa dalam menginisiasi pemberdayaan petani, tapi kita harus ingat untuk meminimalkan dominasi personal sang tokoh dalam tulisan. Tidak bermaksud mengurangi apa yang sudah diupayakan si pelopor karena jasa mereka jelas tidak bisa terhapus. Keinginan kita adalah menjaga sikap konsisten pada tema dan tulisan yang utuh dan informatif. Hal yang harus selalu diperhatikan dalam wawancara tersebut jelas: pertanian lahan kering.

Di lapangan, outline ini bisa berubah. Bisa jadi lebih lebar dari sebelumnya. Contoh, ketika kita menemukan pernyataan menarik yang berpotensi besar dikaji lebih lanjut untuk menghasilkan satu lagi informasi utuh yang baru. Tipsnya, quote itu boleh kita simpan untuk kita tanyakan lebih jauh di lain waktu, atau sekalian mengganti topik dengan topik menarik tadi.

Riset Sebelum Wawancara

Manfaat lainnya, outline membantu kita merumuskan sudut pandang yang lebih segar dan baru bagi para pembaca. Jika ingin mewartakan profiling seorang sosok yang dicintai publik, sebaiknya banyak membaca dulu. Lakukan riset-riset mengenai kepribadian, aktivitas, dan kontribusinya bagi masyarakat. Jangan lupa, bacalah sejumlah hasil wawancara yang pernah dilakukan media-media sebelumnya untuk menghindari pertanyaan yang itu-itu melulu. Jangan sampai informan merasa bosan mengulangi menjawab hal yang sama berulang-ulang. Perulangan ini juga mesti dihindari karena pembaca jelas menginginkan hal baru.

Meski begitu situasinya bisa saja berbeda jika penulis menemukan narasumber yang karakternya supel dan luwes dalam menghadapi pewarta. Suatu waktu, Daeng Ipul hendak mewawancarai Agustinus Wibowo, penulis seri perjalanan Titik Nol, Selimut Debu, dan Garis Batas. Dari segi persiapan, ia sudah melakukan yang menurutnya terbaik. Mencari kumpulan hasil wawancara yang tercetak di berbagai media demi mendapatkan sudut pertanyaan yang fresh dan tajam. Lalu kemudian ia menuliskan beberapa poin penting pada selembar paper sebagai panduan.

Namun kemudian situasinya kemudian berubah. Pribadi travel writer yang menjelajah Asia selama lebih sepuluh tahun itu begitu cair sehingga infromasi yang tersampaikan juga mengalir seperti air. “poin saya belum sampai di situ, tapi ia (bahkan) sudah menjawab dua bahkan tiga pertanyaan yang belum saya ajukan” kenang Daeng Ipul.

Gunakan Pendekatan Humanis

Seperti yang kita jelaskan poin sebelumnya, bahwa sangat penting membangun kepercayaan diri narasumber. Salah satunya dengan melakukan pendekatan yang lebih manusiawi. Bukan hanya sebagai sekedar pemberi dan penerima informasi.  Tapi lebih condong kepada intensi (maksud) untuk menerima pengetahuan, menyatukan gagasan, dan berdiskusi secara sehat. Syaratnya, komunikasi yang baik ini membutuhkan minimal satu pihak untuk menjadi pendengar yang baik. Perlihatkan intensi sungguh-sungguh untuk mendengar. Kesediaan untuk mendengar sepenuh hati memungkinkan narasumber juga akan memberikan informasi dengan senang hati.

Contohnya, memuji makanan yang disajikan dan mengajaknya mengobrol sebentar tentang hal yang disukai dan lekat dengan kehidupan narasumber. Sampaikan itu dengan tulus dan rasa antusias yang tidak berlebihan. Beberapa tahun silam, saya pernah mengobrol tentang bagaimana kehidupan sehari-hari seorang keluarga pendatang daerah Bau-Bau di Fakfak. Istri pemilik rumah begitu ramah dan terkenal dengan masakan lautnya yang begitu gurih dan mewah.

Saya terus saja menyantap dan memuji makanan yang ia sajikan dengan melimpah di sebuah kain putih yang dibentangkan di ruang tamu. Sembari itu, pertanyaan dan diskusi kami mengalir dengan begitu lancar.

Peluh saya keluar tak tertahankan. Aroma pedas manis dari kuah kuning ikan merah segar berbumbu rempah Pala terus menyerobot penciuman saya. Senyumnya tersimpul senantiasa selama perbincangan. Matanya berbinar sambil sesekali menyilahkan saya untuk terus menambah porsi piring yang terus berkurang. Meski tidak yakin sepenuhnya, saya menyangka ia sumringah karena melihat saya begitu lahap, tidak berhenti mengunyah sambil cerita, dan tidak segan-segan mencicipi semua makanan yang terhidang (wajar, sudah gratis, enak pulak!) Di akhir saya pulang dengan beroleh informasi berharga dan perut yang terisi penuh.

Jalan lainnya bisa dengan menggunakan medium kedekatan dengan anak-anak. Seorang blogger, Andi Arifayani berhasil menggali sekelumit kehidupan Adi, seorang murid SD sekaligus tukang parkir di bilangan jalan protokol Makassar. Hasil wawancara membawanya menemukan nama-nama anak lain yang juga berprofesi seperti Adi.

Tanpa pendekatan yang baik ke anak-anak, ia mungkin tidak bisa menelisik lebih dalam dengan serangkaian wawancara ke teman-teman Adi yang lain di sekolah.  Hasil pendekatan yang baik ini menimbulkan refleksi mendalam bagi penulis bahwa “julukan Kota Layak Anak (KLA) bagi Makassar terasa sangat jauh jika melihat situasi Adi dan ratusan tukang parkir anak yang bekerja selepas menanggalkan seragam sekolah dan menantang terik siang setiap hari

Siapkan Alat Perekam dan Buku Catatan

Kedua media tersebut pastinya sangat membantu mendokumentasikan hasil wawancara. Entah itu nantinya berupa skrip hasil rekaman audio atau sekedar catatan di notes. Selain itu, kita tidak bisa selamanya mengandalkan ingatan untuk merekam bagian-bagian penting yang di garis bawahi pada kerangka informasi yang kita butuhkan. Tanpa bisa ditolak lagi, dua-duanya penting.

Namun, jika pendekatan awal ke narasumber tidak berjalan mulus, perangkat itu akan jadi pasung yang sempurna bagi informan untuk tidak mengeluarkan pernyataan dan fakta yang benar-benar berharga.

Belum lagi jika kita terkendala dengan waktu wawancara yang demikian sempit, pastinya kita membutuhkan tenaga dan strategi ekstra lebih untuk meluluhlantakkan ego narasumber agar bersedia memberikan informasi yang kita butuhkan. Tipsnya: lakukan adaptasi selekas dan sesegera mungkin untuk mencapai klik dengan informan.

Berusaha Sabar dan Fokus Menjalin Cerita Utuh

Lain lagi dengan laporan mendalam. Dalam mewartakan isu-isu sensitif seperti kaum minoritas dan terpinggirkan, waktu yang lebih lama nyaris mutlak dibutuhkan. Observasi, pendekatan kesana kemari, wawancara beberapa orang sembari terus melakukan konfirmasi keakuraran berita. Begitu kira-kira berulang-ulang. Olehnya, sering jenis laporan ini tidak muncul dalam hitungan menit, bisa sampai berhari-hari atau hitungan minggu.

Sajian-sajian yang bergizi ini bisa dilirik sejenak di situs berita Kumparan, Tirto, atau Mongabay Indonesia. Mereka punya tim yang fleksibel terhadap waktu agar tercipta sebuah laporan yang tidak asal menarik, tapi berpihak pada kekebenaran dan keakuratan. Sejalan dengan marwah ideal jurnalisme. Membaca berita yang lengkap dan akurat tentu bakal membuat netizen lebih jernih memandang persoalan.

Kisah Boro Suban Nicolaus (akrab disapa Om Niko) yang diwawancarai tim Mongabay Indonesia bisa jadi bahan bacaan permulaan. Jauh di jantung pedalaman hutan perawan Kalimantan, ia bersama orang-orang Dayak Punan menjaga hutan seluas 17.400 meter persegi dari amukan perusahaan sawit dan tambang batubara.

Satu dekade lebih dua tahun mereka telah menrawat hutan adat dengan mendirikan LP3M (Lembaga Pemerhati dan Pemberdyaan Punan Malinau). Dari tulisan tersebut, kita bisa membayangkan bagaimana wawancara dilakukan tanpa meninggalkan aspek-aspek manusiawi yang melekat pada diri Om Niko yang sejatinya bukan merupakan orang Dayak. Kampungnya di Flores bagian timur.

Poin pentingnya barangkali: tetaplah fokus pada tema. Tidak perlu terlalu detil tentang tokoh. Tetaplah bersetia pada tema yang dibangun. Sehingga pada nantinya, wawancara yang kita buat tidak menghamba pada tokoh. Tapi pada bagaimana membuat wawancara bekerja demi memenuhi hasrat kefokusan dan kekonsistenan tema yang telah dirancang sebelumnya.

Nah, selamat mewawancara!

Tugas: Mewawancarai sosok orang per-orang/lembaga komunitas/tema tertentu. Tidak perlu mendatangi orang-orang hebat. Carilah orang-orang/tempat-tempat biasa tapi dengan kisah tidak biasa yang punya potensi menginspirasi orang lain untuk berbuat hal positif yang sama. Ketentuan: 1) gunakan lebih dari lima orang narasumber sebagai usaha menyajikan cerita yang utuh, objektif, dan berimbang. 2) setidak-tidaknya, mengadakan observasi dan kunjungan selama seharian di tempat objek utama demi menghadirkan narasi yang menarik dengan deskripsi yang kuat. Deadline: Sebelum 7 April 2017

*Catatan Kelas Menulis Kepo IV
Waktu: Jumat, 17 Maret 2017
Pukul: 17.00 – 21.00 WITA
Materi: Teknik Wawancara
Pembagi Ilmu: Daeng Ipul, Lelaki Bugis, Kak Iqko, Tari Artika.

romantical-love-painting-photo6

virginia-gieremek.wikispaces.com

Ternyata menulis deskripsi itu butuh usaha panjang, kadang membingungkan, dan melelahkan. Sebelum kelas di mulai, saya sudah mengalami mental block tidak akan berhasil. Namun, saya berkeras dalam hati bahwa saya harus mulai. Jujur, saya tidak terbiasa menulis dan menjelaskan objek ke dalam deskripsi. Hanya di beberapa postingan bulan-bulan terakhir dilandasi semangat trial and error.

Selama ini, jenis tulisan yang bisa saya tawarkan hanya offering information and sometimes I do reflection writing. Oke, memang ada deksripsi, namun hanya sebatas memasukkan unsur indera penglihatan dan opini pribadi. Memasukkan unsur nuansa, perasaan, dan atomosfir dalam tulisan itu sesuatu yang benar-benar baru bagi saya. Barangkali, ini pula yang dirasakan oleh satu dua teman peserta Kelas Menulis Kepo.

Setelah mengutak-atik laman Andreas Harsono (penulis buku Agama Saya Adalah Jurnalisme), tulisan-tulisan di Pantau, kemudian mengikut kelas Kepo Inititative, maka mulailah sedikit-sedikit saya terbuka dengan deskripsi.

Lalu, setelah membaca beberapa bahan tulisan deksripsi di postingan sebelumnya, saya dirasuki perasaan bahwa deskripsi memegang peranan penting dalam membuat tulisan bergerak aktif di kepala. Deskripsi membuat orang lain bisa memahami konteks apa yang sebenarnya terjadi, termasuk suasana dan perasaan yang menyelimuti saat itu.

Dahulu, saya sering salah menyangka bahwa deksripsi hanya diperkenankan dalam feature kategori human interest, atau laporan-laporan khas panjang ala jurnalisme Pantau dan Pindai, Panajournal, dan macam-macam.

Beda dengan majalah-majalah politik Amerika yang memang terbiasa menuliskan laporan panjang, di Indonesia ini masih terhitung baru. Kebiasaan menguraikan peristiwa mendalam secara panjang-detail-hidup ini baru-baru saja mulai bergeliat di Indonesia. Ini sependek pengatahuan saya, bisa jadi salah.

Nah, justru disinilah hebatnya. Bagian inilah yang menggugah ketika dibaca. Sebab saya justru menyukai membaca tulisan panjang sekitar 1500 hingga 3000 kata ke atas. Membaca lebih banyak dan panjang akan mengasah kemampuan deeper thinking, berpikir lebih jauh dan dalam, sama halnya dengan membaca buku.

Di jaman pertukaran dan seliweran informasi yang tidak kenal ampun, berita tercepat adalah berita yang laku. Berita mendalam (seperti media cetak dan majalah) menjadi tidak relevan lagi dan sekedar pelengkap dari berita instan yang laporannya on the spot. Laman-laman tersebut ini menawarkan sebuah penulusuran mendalam, sudut pandang yang tidak biasa, dan menyigi kisah-kisah hingga titik akhir.

Seperti biasa, kelas dimulai dengan masing-masing memberikan komentar mengenai kendala dalam menyelesaikan tugas tulisan deskripsi. Saya rangkum dalam poin-poin berikut ini:

  1. Saat mulai merangkai paragraf, penulis biasanya melupakan hal-hal detil ketika mereka berada di tempat observasi. Menurut Om Lelaki Bugis, memang begitu keadannya. Sering kali aktivitas observasi luput mencatat hal-hal yang sebenarnya penting. Solusinya, pengamatan terhadap objek dan peristiwa dilakukan dengan membawa notes ataupun perangkat elektronik untuk memudahkan mengingat apa yang terjadi di lapangan. Jadi, sambil observasi berlangsung, kegiatan mencatat juga berjalan beriringan. Jalan keluar yang kedua, bisa dengan bantuan foto.Visualisasi nyata foto membantu penulis memberikan deskripsi yang lengkap mengenai tempat dan perincian suatu lokasi dengan presisi.
  2. Kesulitan membangun dan menerjemahkan suasana yang kita rasakan ke dalam sebuah tulisan yang atmosfirnya juga bisa dirasakan sama persis oleh pembaca. Kata Om Lelaki Bugis, semua tulisan yang kami buat “begitu kering” tanpa suasana yan hadir dalam tulisan. Alasannya kami cenderung meninggalkan deskripsi sebagai suatu yang terbatas oleh apa yang disaksikan oleh mata saja. Walhasil, proses membaca akan menjadi monoton lalu membosankan. Jujur, pada fasa inilah saya mengalami kemandekan yang entah kenapa begitu lama. Saya coba berpikir, bagaimana memulai proses transfer mood- atmosphere-nuance ke dalam suatu tulisan. Saya mencoba mencari literatur mengenai hal ini, tapi konteknya selalu sastra, bacaan fiksi.

    Ada saran yang menarik Leila S. Chudori, penulis novel Pulang dan jurnalis senior Tempo, “Deskripsikan! Hindari kata sifat, deskripsikan apa yang sebenarnya terjadi. Misalnya saya sedih, gambarkan saja apa yang membuat si “saya” ini sedih.

    “Deskripsi bukan hanya asal sebut apa yang kita saksikan. Bukan acara absen benda apa saja yang ada, atau siapa saja yang hadir. Deskripsi adalah seni menggambarkan situasi yang ada: orang, benda, suasana, udara, aroma, hingga perasaan. Tak jarang dalam deskripsi diselipkan metafora”

  3. Selalu merasa belum cukup dengan informasi yang diperoleh. Tentunya, pertama, ini bisa disiasati dengan menyiapkan segala sesuatunya sebelum melakukan observasi. Misalnya, menentukan fokus atau selalu taat pada fokus. Agar, ketika observasi, penulis bisa selalu teringat dengan fokus tulisan dan tidak terpancing melebarkan sudut pandang menjadi tidak terarah.

    Kedua, menyusun daftar pertanyaan wawancara yang sejalan dengan fokus tulisan. Ketiga, melakukan observasi tidak hanya sekali, tapi bisa dua hingga tiga kali. Tidak dipungkiri kita memerlukan proses adaptasi dan penerimaan terhadap masyarakat. Tahapan ini memerlukan waktu yang tidak sebentar, malah bisa jadi waktunya begitu lama. Misalnya dalam produk-produk jurnalistik seperti laporan investigatif, atau penulisan terkait budaya dan sejarah.

Inilah hasil coba-coba tulisan deskripsi yang kami buat. Meski ada kelemahan dari segi suasana, tapi teman-teman telah menunjukkan upaya sebuah penulisan deskriptif yang apik. Logikanya sudah mulai runut meski hanya mengandalkan indera penglihatan. Ke depan, pasti akan lebih baik lagi. Selamat menikmati!

deskripsi2

deskripsi1

Koridor dengan Segala Aktivitasnya (Helmiyaningsi)
Saat mentari menyapa. Saat kuliah pagi akan berlangsung. Saat itulah koridor ini tampak bersih dan tak berpenghuni, yang terlihat hanyalah bangku panjang kosong serta alas kaki yang berserakan. Di saat seperti ini, yang terdengar hanyalah suara tukang parkir yang membangunkan penghuni koridor (sapaan bagi mereka yang tinggal di sekretariat) untuk memindahkan kendaraannya ke parkiran.

Saya ingat sewaktu menjadi mahasiswa baru dulu jika ingin ke Mushollah, saya lebih memilih untuk mengelilingi gedung FIB dibanding harus menyusuri koridor. Meski saya harus berjalan cukup jauh, tapi itu tidak masalah. Lebih baik seperti itu dibanding saya harus bertemu dengan banyak senior di koridor.

Ruang Tunggu Kantor dan Ucapan Terima Kasih yang Tidak Terucap (Hasymi Arif)
Dari semua kesibukan ruang tunggu pagi itu, dia bisa dibilang salah seorang yang paling sering berdiri, berjalan dan juga berlari. Seperti yang terlihat pagi itu, dia menyambut pengunjung yang baru tiba, menanyakan keperluan mereka dan dengan senang hati menjelaskan berbagai macam prosedur yang ada. Dia juga terlihat sering berada di depan sebuah mesin cetak otomatis, menekan salah sebuah tombol pada mesin itu, dan kemudian kertas kecil tercetak berisi nomer antrean.

Dia memberikannya kepada pengunjung, kemudian mempersilakannya menunggu. Kadang juga ada pengunjung yang meminta kursi. Dia kemudian memenuhi permintaan mereka. Dia mengambil kursi, kadang  diangkat, tapi lebih sering diseret, kemudian menyerahkan kursi itu kepada pengunjung. Kadang lagi, dia terlihat terlihat tegesa. sepertinya memenuhi perintah atasan. Dan semua aktivitas itu tidak bisa dilakukannya tanpa berdiri, berjalan, ataupun berlari kecil. Bisa jadi, satu-satunya kesempatan dia untuk duduk adalah pada waktu istirahat.

Dari Tukang Batu, Pengumpul Barang Bekas Hingga Memiliki Mobil (Anna Asriani Muhlis)
2008 Pak Hasan membuka tempat pengumpulan barang bekas seperti botol plastik minuman, plastic ember,  botol kaleng, besi, dan kertas. Lokasinya berada di daerah Antang Raya. Bila berada disekitar Antang tidak jauh dari Masjid Pannara, dikarenakan Antang Raya sekarang satu jalur, maka untuk ke lokasi tersebut harus memutar arah, jadi ketika anda sedang berada di perempatan yang sebelum jembatan Pannara, bila melihat pos polisi maka anda belok kanan sepanjang jalan itu anda akan melihat sebelah kiri pengumpulan barang bekas yang akan nampak barang tersebut dibungkus karung putih, kelihatan tenda biru,sedangkan disampingnya terdapat beberapa pohon, samping kanannya terdapat rumah,  sedangkan didepannya tanah kosong yang dibatasi oleh jalan aspal lokasi menuju Jalan Abdullah Daeng Sirua.

Lelaki tua asal Bulukumba ini merantau ke Kota Makassar pada tahun 1986 yang awalnya bekerja sebagai tukang kayu, lalu ditahun 1989 sebagai gelandangan atau “payabo”. Dulunya tinggal sekitar daerah Perumahan Panakukkang Asindo  yang sekarang berdiri beberapa rumah mewah. Pak Hasan memiliki sembilan anak dan satu istri.

Kedai Kopi (Andi Citra pratiwi)
Tanah berpasir di tepi jalan nampak kering. Butiran pasirnya berterbangan saat angin bertiup. Tapi tak tercium aroma khas tanah, seperti aroma tanah selepas hujan yang selalu memanggil kembali memori masa kecil. Hanya tercium aroma debu bercampur asap kendaraan yang memaksa saya untuk bergegas memasuki bangunan di tepi jalan itu, kedai kopi favorit saya.

Tidak seperti kedai kopi di seberang jalan yang pintunya dibuat tetap terbuka, kedai favorit saya ini mengadopsi konsep in door dengan pintu geser yang selalu ditutup rapat. Cukup sulit membuka pintu geser berbahan dasar kayu itu. Otot lengan harus berkontraksi kuat-kuat, lalu badan harus ikut mendorong ke samping hingga celahnya cukup untuk dilewati. Setelah berhasil meloloskan badan melalui celah yang terbuka secukupnya, saya bergegas ke meja kasir yang hanya berjarak sembilan langkah dari pintu masuk. Setelah memesan segelas coklat dingin dan sepiring pisang goreng keju pada pria berseragam hitam dan berambut gondrong, saya melangkah dengan sedikit terburu-buru, menuju meja di ujung ruangan.

Pasar Kalimbu di Dini Hari (Andi Rahmat Asgap)
Di pagi itu, saat cahaya bulan belum digantikan oleh teriknya matahari saya berjalan di  sebuah tempat, di mana tempat itu dijadikan tempat transaksi sayur-sayuran yang nantinya akan diecerkan oleh pedagang di losnya masing-masing. Mobil-mobil pick up mulai terlihat di emperan toko JL.Veteran Utara, Makassar. Lembaran kol yang berserakan di jalan juga banyak terlihat, transaksi jual beli berlangsung di tempat itu. Kantongan merah dipenuhi oleh sayuran yang mungkin disukai juga oleh kelinci itu dijinjing oleh pemuda mengenakan kupluk dan tas selempang yang melekat di tubuhnya, dan wanita paruh baya yang meletakkan kantongan merah lainnya diatas timbangan sambil menggoreskan pulpen di kertasnya juga terlihat di pagi itu

Pertemuan dengan Idil Fitra (Muh. Sultan A Munandar S)
Duduk di teras masjid, saya nikmati tubuhku meregang karena pegal yang terasa selama perjalanan. Seorang anak lelaki dengan kulit sawo matang, kaos berwarna putih  dan bercelana pendek merah sedikit kumal. Memakai tas selempangan kecil yang selalu di bawanya, muncul dari dalam membawa pembersih lantai. Tangannya yang tidak terlihat kuat begitu lincah terlihat. Aktivitasnya sangat sibuk, saya perhatiakan dengan seksama, begitu lincah membersihkan lantai, kadang harus kembali dari awal lagi kalau ada seseorang yang masuk masjid lalu meninggalkan jejak kakinya, hal kecil di sudutpun tak luput dari matanya. Kaca masjid yang awalnya buram mengkilap seketika. Setapak demi setapak kakinya yang kecil melangkah bagai seorang balerina. Pikirku mungkin anak ini adalah merbot mesjid atau remaja mesjid.

Karena Berbagi Itu Menyenangkan (Herviana)
Ketika melewati sederetan kursi di lantai satu. Terdengar suara-suara tawa. Sesekali terdengar suara percakapan orang-orang yang berkumpul di kursi-kursi itu namun hanya terdengar samar. Setelah melewati sederetan kursi, kami pun belok kiri menuju tangga sekitar dua meter. Setelah itu belok kanan menaiki tangga pertama. Lalu belok kanan lagi menaiki tangga kedua. Taraa.. sampailah kita di lantai dua.

Sesampainya di lantai dua, kami berusaha mencari tempat terbaik untuk duduk bersama. Sementara itu, kemenakan saya lari kesana-kemari memutari deretan sofa hijau yang tertata rapih di bagian tengah. Sementara ada beberapa kursi juga di sebelah kiri dan kanan yang berjarak sekitar satu meter dari kursi hijau itu. Deretan sofa itu berjumlah sekitar enam meja persegi panjang dengan 2 sofa panjang di bagian panjang meja dan dua sofa pendek di masing-masing meja yang di tata layaknya meja makan. Ukurannya sesuai dengan panjang dan lebar meja.

Satu Siang di Perpustakaan (Mujahid Zulfadli AR)
Aroma khas lembar-lembar buku yang dibolak balik segera menyeruap ketika memasuki ruangan perpustakaan. Bau yang selalu saya rindu dimanapun berada. Saya memilih duduk di bangku deretan awal, bersitatap langsung dengan loket. Waktu sudah menunjukkan pukul dua lebih lima menit. Sudah sejak sejam yang lalu, deretan meja bagian depan ini miskin penghuni. Hanya ditempati dua orang pengunjung. Perkiraan saya karena letaknya yang hanya berjarak tidak sampai dua meter dari loket peminjaman dan pengembalian buku. Barangkali orang-orang tidak ingin mendapat gangguan kecil jika para pengunjung melewati bahu-bahu mereka. Sesekali diselingi percakapan antara petugas jaga dan peminjam buku, hal yang normal.

“Rumah” Paling Nyaman di Kampus (Abd Hamid Zainal)
Studio satu yang digunakan sebagai tempat menerima tamu atau hanya sekedar berbincang antarkru dulunya berlatarkan cat warna oranye dan hanya ada tulisan besar EBS yang warnanya mengikuti logo. Namun kini tulisan EBS terlihat lebih kecil dari sebelumnya, disisi kiri atasnya ditambahkan tulisan Since 1988 yang menandakan tahun lahirnya EBS. Menengok ke bawah dari tulisan tersebut,  terdapat tulisan On air didalam kotak persegi panjang berlatar biru dan The starter dengan warna tulisan putih yang berada didalam kotak berwarna merah. Kedua tulisan ini menandakan EBS adalah tempat belajar siaran bagi seorang pemula seperti saya. Masih dari sisi kiri, terdapat gambar kecil piringan hitam lengkap dengan simbol tangga nada dan tak lupa gambar hati.

Rumah Nalar (Rahmawati)
Ruang perpustakaan bercat biru yang terhubung dengan ruang tengah, dihuni oleh jejeran buku-buku genre penelitian, organisasi, dan pengembangan diri. The Sage Handbook of Qualitative Research, terjemahan How to Win Friends, dan Perahu Pinisi, adalah beberapa judul buku yang ada disini. Pekarangan rumah terpampang lewat jendela kayu perpustakaan yang memenuhi dinding selatan tembok, berhadapan langsung dengan pintu perpustakaan.

Melalui jendela perpustakaan, kulihat dua orang perempuan berbaju hitam putih baru saja turun dari motor matic. Mereka saling menatap, tertegun di tempat mereka memarkir motor. Salah seorang di antaranya menggaruk kepala, yang lain mendorong temannya untuk berjalan lebih dulu. Nyaris semenit berlalu dan mereka belum beranjak. Sesekali mereka menoleh ke kiri kanan, sibuk menguat-nguatkan diri, sampai akhirnya mereka berjalan lambat-lambat menuju pintu rumah. Aku hanya tersenyum geli.

Keseharian Seorang Penambal Ban (Irmawati)
Minggu siang itu, saya mendapati ia memakai pakaian yang senada, celana selutut, baju kaos, dan topi yang dikenakan, semuanya berwarna abu-abu. Melihat saya berdiri, ia memberikan kursi yang ia duduki dan mempersilakan untuk menempatinya lalu ia mengambil kursi lain.

Saya pun memulai percakapan dengan menanyakan apakah hari ini sudah banyak pengendara yang ia layani. Ia menjawab bahwa hari ini sedang sepi dan menjelaskan lebih lanjut bahwa jika hari hujan, ban kendaraan jarang ada yang bermasalah. Sambil mengobrol, Pak Irfan mengapit sebatang rokok dengan jari telunjuk dan jari tengah. Sesekali ia menghisapnya sambil terus melanjutkan obrolan.

Kurawat Senyum di Wajah Mereka (Fitriani Ulma)
Matahari dengan terpaan sinarnya menerjang wajah dan seluruh tubuhku. Siang yang cerah dengan udara yang begitu terik terasa. Hembusan angin yang bertiup meruntuhkan dedaunan yang kering. Lima belas menit dengan scooter merah yang kugunakan telah membawaku tepat di depan mereka yang sedang berkumpul menungguku. Mereka yang memenuhi ruang ingatanku akhir-akhir ini. Wajah-wajah yang selalu tersenyum ceria menari-nari di pelupuk mata.

Meraka adalah sekelompok anak yatim. Seorang anak yang tidak memiliki bapak yang harus benar-benar berjuang untuk tetap melanjutkan sekolah dan membantu ibunya bekerja dalam mempertahankan kehidupannya. Mereka yang membuat hidupku menjadi lebih bernilai. Mereka yang membuatku mampu melihat banyak orang khususunya anak yatim dhuafa yang membutuhkan uluran tangan. Mereka membuatku ingin berbagi.

Pasar Senggol di Simpang Jalan Cendrawasih (Baizul Zaman)
Di tempat  inilah lokasi Pasar Senggol yang selalu ramai dibicarakan orang itu berada. Disini harga barang-barang seperti pakaian dan pernak pernik lainnya relatif lebih murah dibandingkan dengan yang dijual di pusat-pusat perbelanjaan seperti Mall atau toko-toko besar yang banyak terdapat di ruas-ruas jalan besar Kota Makassar.

Jika kita melintas pada siang haridi tempat ini,sama sekali tidak tampak ada aktivitas orang-orang yang melakukan transaksi  jual beli. Kita hanya bisa melihat kios-kios kosong tanpa ada barang yang dipajang sedikit pun. Para pemilik kios juga tidak ada disitu. Suasananya pun tampak lengang. Kendaraan bebas berlalu lalang disitu. Saya sendiri, setiap saat melewati tempat itu selalu membayangkan, jika ada orang yang baru berkunjung ke Makassar dan hendak mencari pasar Senggol disiang hari, pasti ia akan kesulitan untuk menemukanya.

Kedai Kopi dan Ceritanya (Tismi Dipalaya)
Siang itu matahari sedang semangat-semangatnya bersinar. Seperti silet yang mengiris-iris kulit ia menyapa. Peluh pun tidak terhindarkan dan membuat saya dan seorang teman menyerah dan memilih untuk menepi. Dari arah Jl. Pengayoman motor kami berbelok ke arah kanan tepat sebelum restoran cepat saji berwarna merah dengan logo seorang lelaki tua berkacamata. Jalan masuk tampak lengang, beberapa orang tampak sedang mengatur deretan kursi dan meja di sebelah kiri jalan. Seorang lelaki berseragam satuan pengamanan di sisi kanan jalan sedang menghisap sebatang rok ok begitu dalam seperti sedang tenggelam di lautan pikirannya. Kemudian ia embuskan kepulan asap pelan-pelan seperti sedang membelai seorang bayi mungil, begitu hati-hati.

Pertemuan: Kelima
Waktu: Jumat / 4 Maret 2017
Pukul: 17.00 – 21.00 WITA
Tempat: Café Brewbrothers Panakukang, Makassar
Materi: Review Tugas (Observasi dan Deskripsi)

dress-up-your-kids-with-FABLE-HEART

cuteandkids.com

Seorang anak perempuan kecil berjilbab berjalan mendekati pintu kaca ruang baca anak. Kedua mata bulatnya dan susunan giginya yang ia tahan tak mengatup nampak sibuk meniti siapa yang sedang menuju ke tempat ini.

Ketika saya berada di depan pintu dan mulai membuka sepatu, ia kembali masuk ke dalam. Anak-anak selalu ingin tahu dan sangat greget menyaksikan sesuatu yang baru. Saya yang ‘terhitung asing’ tidak luput dari perhatiannya. Mungkin karena saya dianggap bukan mainan atau sesuatu yang menarik, cepat saja ia berlalu. Akhirnya ia kembali ke dalam, berkumpul bersama tiga anak lain seusianya.

Dua anak lainnya juga mengenakan jilbab dan satu anak laki-laki bertubuh paling kecil. Saya menduga itulah adik yang paling bungsu. Pipinya tembem dengan rambut hitam lurus belah samping. Mengingatkan saya dengan pemeran iklan shampoo anak. Mereka duduk saling berhadapan di satu meja baca.

Ukuran badan mereka sama-sama kecil. Mereka lincah bergerak kesana kemari mengambil buku cerita bergambar. Tebak saya mereka kelas dua atau kelas tiga SD. Satu anak perempuan yang paling tinggi mungkin kelas empat. Kecuali dia, mungilnya ketiga anak lain membuat pasangan kaki-kaki kecil mereka masih menggantung di kursi baca sambil bergoyang-goyang ke depan dan ke belakang. Sesekali jika bosan, mereka memelorotkan tubuhnya sedikit dan memakasa ujung jempol dan telunjuk kakinya menyentuh permukaan ubin.

Meja dibuat tidak seperti kerucut agar mata anak bisa mudah menangkap bahan bacaan yang dekat. Penahan diberikan di ujung meja agar buku tidak jatuh meluncur. Anak-anak tidak perlu lagi memegang, mengangkat dan memiringkan buku seperti yang biasa orang dewasa lakukan ketika membaca.

Anak laki-laki paling kecil duduk dengan serius menyipitkan kedua bola matanya ke buku bergambar sambil mengeja dengan pelan.  Di hadapannya, salah satu anak kecil perempuan berjilbab membuka buku dongeng dua dimensi. Sisi kedua halaman yang terbuka, secara ajaib menyembulkan tokoh dan latar cerita secara nyata secara vertikal. Secara spontan teman disebelahnya ikut berdiri dan menatapnya dengan kagum.

Lucu dan gemas menyaksikan mereka berempat rukun dalam meja yang sama. Tidak banyak suara yang ditimbulkan. Dua deretan lainnya kosong. Gambar bunga dan pepohonan menghiasi ketiga deretan meja untuk memberikan nuansa atraktif dan imajinatif anak-anak yang berkunjung.

Belakangan saya tahu, keempat anak ini bisa sibuk-sibuk membaca dengan tenang dan bergairah karena satu alasan: dongeng Ibu Nisfu. Ah, saya datang terlambat.

***

Ketika saya baru saja masuk, seorang perempuan paruh baya 50-an sedang tiduran di ujung perpustakaan. Di selembar karpet hijau tosca yang dibatasi dua buah meja kantor, sebuah almari administrasi dan sebuah rak buku yang dipenuhi sampul beragam warna.

Nampak ia dengan suntuk memainkan tombol-tombol ponselnya. Melihat saya datang dari pintu masuk, seketika ia melirik dan memerhatikan beberapa saat. Raut wajahnya menunjukkan keheranan. Tatapannya tak lepas selama beberapa saat, dan seketika saya langsung kikuk.

Beliau memicingkan matanya dan perlahan mulai bangkit. Seorang pengunjung datang, bukan anak-anak, bukan pula seorang ayah yang datang membawa anaknya. Cepat-cepat ia memasang jilbabnya. Meski belum beres dengan jilbabnya, ia datang menghampiri dan menawarkan bantuan jika saya memerlukan sesuatu.

bu, saya cari serial Lima Sekawan Enyd Blyton, atau komik-komik biografi untuk anak-anak. Adaji kira-kira?”dengan wajah yang belum pulih dari letih, ia segera menyambar rak-rak buku dengan cekatan. Di mulainya dari rak paling depan.

Ujung jemarinya terus berjalan sambil menyentuh pinggir-pinggir buku. Seperti memainkan jemari tangan pada tuts piano, mencari Enyd.

Enyd,,,Enyd,,,Enyd,,,,” berulang kali ia menggumamkan pengarang itu agar tidak lupa. Sudah empat rak ia susuri namun hasilnya masih nihil. Nafasnya tersengal-sengal tapi teratur. Ia masih kelihatan capai karena belum pulih kesadarannya dari rebahan. Tapi ibu Nis belum berhenti mencari, ia pasang matanya baik dan terus menggumam Enyd.

ah, iya, Enyd itu punya anak saya, iya, saya melihatnya di rumah.” sampai ia kegirangan sendiri setelah menyadari sesuatu. Ternyata, ia melihat Enyd itu di rumahnya, bukan di ruang baca anak. Saya yang membantunya mencari buku itu, juga menghadapi hasil yang sama. Oh iya,

Serial Lima Sekawan Enyd Blyton, Sherlock Holmes, dan komik biografi merupakan bacaan kegemaran saya sejak bangku sekolah dasar. Saya menemukan edisi barunya sudah beredar luas di mal-mal Makassar. Saya pikir bisa menemukannya di sini. Ah sudahlah, yang terpenting saya akhirnya punya kesempatan menghirup udara di ruang baca anak, setelah tujuh belas tahun lamanya. Beberapa adegan memori masa lalu terputar ulang di kepala saya. Banyak cerita dan kenangan di ruangan ini.

sekitar dua atau tiga tahun lalu, ruang baca anak dipindah ke sini, ke belakang,” jawab ibu penjaga ruang baca anak. Belakangan saya tahu, nama beliau adalah Ibu Nisfu, yang kerap kali disapa Ibu Nis oleh rekan sekantornya. Jadi, ruang anak dipindahkan pada bangunan yang terpisah dari bangunan utama. Sebuah ruangan kira-kira berukuran lima kali lima meter.

Dulu, waktu masih di depan dekat loket penitipan, pandangan kanak-kanak saya melihat ruang anak begitu luasnya dengan beberapa petugas yang kesemuanya perempuan berjilbab. Bagian tengahnya yang melompong –dengan meja dan kursi yang dipinggirkan- bisa digunakan untuk bermain bulu tangkis. Dahulu, banyak anak-anak yang bisa ditampung. Sekarang, keempat anak mungil itu akan sulit untuk bermain kejar-kejaran di dalamnya.

Meski begitu, ada ayunan kecil yang terpasang depan salah satu rak. Juga di sebelahnya ada kurungan plastik slinder dimater sekira satu meter yang dinding selimutnya di ganti dengan jaring-jaring. Isinya bola bermacam warna. Mereka bisa menjatuhkan dirinya ke kurungan dengan aman.

Setelah pencarian buku yang tidak membuahkan hasil, ia duduk di kursi mejanya yang berhadapan dengan keempat anak itu. Ngantuknya sekarang nyaris hilang, pada akhirnya ia bahkan meladeni saya berbincang hingga hampir dua jam lamanya.

Ibu Nis memulai karirnya di kepegawaian sejak 27 tahun silam. Ia seorang penjaga perpustakaan yang tidak biasa. Ia bisa menggambar, melukis, dan menyanyi. Meski dengan rendah hati ia mengaku terlatih dengan hal itu semasa muda, tapi itu semua hanya sebatasa minat yang ia tidak asah dengan baik.

Dalam hati, saya bergumam, “bu Nis, Anda punya modal luar biasa untuk menjadi pendidik yang bakal dicintai oleh banyak orang

nak Fadli, ketika masih awal tiga puluhan, saya melukis lalu kemudian di jual ke teman-teman terdekat. Tidak bagus sebenarnya, tapi saya kasi bingkai kaca supaya kelihatan bagus,

Lalu saya jual seharga 150 ribu hingga 300 ribu.” sambungnya tetap dengan rendah.

Lama kami berbincang, tiba-tiba ia mengalihkan topiknya ke saya. menyinggung saya. Dengan wajah yang sumringah, ia mengaku begitu senang karena saya datang kemari mencari bahan-bahan cerita bagi anak-anak. Tidak biasanya orang tua atau siapa saja datang mencari bahan-bahan pustaka bagi anak-anak kemari.

jika diasah, nak Fadli bisa menjadi seorang pendongeng bagi anak-anak. tadi, keempat anak itu, saya dongengkan dulu sebelum mereka mau membaca.” kata ibu Nis.

Terjawablah teka-teki di kepala saya. Saya mengira sejumlah boneka tangan dan boneka animasi hanya pajangan dan mainan bagi anak. Ternyata juga digunakan untuk mendongeng.

Di pojok ruangan ada dua almari kaca yang disambung. Rak atas semua diisi boneka-boneka. Ada Mickey dan Minnie, Donald Duck, dan beberapa tokoh animasi Amerika dari 1920 an awal hingga terbaru. Rak kedua dipenuhi oleh mainan Lego susun aneka warna serta ukuran, dan dua hingga tiga boks permainan sejenis monopoli ukuran besar.

“Story telling itu seni bertutur, menyampaikan pesan pada anak-anak yang terdapat  dalam sebuah penggalan cerita. Ini bukan hal gampang. Karena esensi sebenarnya adalah memberi pesan moral (afektif) dan memberi pelajaran (kognisi) bagi anak-anak.” terang ibu Nis.

Tapi perpustakaan, semua kegiatan mendongeng diupayakan dapat meningkatkan minat baca anak-anak, khususnya di jenjang usia dini.

Menurut beliau, menyampaikan dongeng tidak asal-asalan menyampaikan cerita pada anak.  Ada dua elemen penting yang harus diperhatikan sebelum memulai dongeng, pertama adalah waktunya harus tepat, yang kedua penyesuaian umur serta tahap perkembangan anak tersebut.

ceritanya harus kita pilih-pilih,

kalau umur PAUD -sambil menunjuk si anak laki-laki yang tengah asyik di kolam bola warna-warni, cerita yang dipilih harus mengenai benda sehari-hari dan cerita keseharian yang lekat dengan anak.” sambung ibu Nis yang sedari tadi bahannya tidak habis-habis bercerita mengena dunia dongeng mendongeng.

umur SD hingga menjelang sepuluh tahun, anak-anak diceritakan mengenai dongeng fabel.” Fabel ialah dongeng dan kisah yang berhubungan dengan binatang-binatang seperti ‘Pak Tani dan Kancil’, ‘Semut dan Gajah’, macam-macam.

Terakhir, berdasarkan penuturannya, untuk sepuluh tahun ke atas, dongengnya mengenai cerita rakyat dan kisah-kisah kepahlawanan. Tahapan ini sebenarnya paling krusial karena banyak hal-hal yang harus dihindari dan dicermati dengan baik.

Tidak boleh ada unsur kekerasan di dalamnya, meski itu adalah cerita kepahlawanan. Termasuk perebutan jabatan, dan ceritayang mengandung unsur eksploitasi tubuh perempuan dan  unsur seksual. Tugas pendongeng menyederhanakan kisah itu menjadi mudah dimengerti bagi anak-anak dengan mengikis secara maksimal unsur-unsur tersebut.

Selama kami bercerita Ibu Nis suka sekali memainkan kedua tangannya yang digoyang-goyangkan yang menghasilkan gerakan mikro yang komplit dalam bercerita. Saya bisa membayangkan beginilah pose beliau ketika mendongeng.

Sambil mendongeng, ibu Nis menjelaskan bahwa ia selalu memberikan unsur nyanyian yang ada hubungannya dengan dongeng.

tanpa nyanyian dan selingan, anak-anak (pasti) akan bosan. Kemampuan pendongeng meniru banyak suara juga jadi nilai plus. Tapi ingat, jangan pernah mendongeng lebih dari 20 menit.

Tanpa segan-segan ketika mempraktekkan dua contoh dongeng, ia mengandaikan dirinya sedang memegang gitar dan kecapi dan menyanyi hingga tuntas.

“harus diingat, kemampuan ini harus terus diasah. Sebab keberhasilan seorang pendongeng itu bukan terletak pada evaluasi teman se-profesi atau teman se-kantor, bukan, bukan itu,”

Kesuksesan pendongeng ada di depan mata mereka, di mata anak-anak. Kalau anak-anak senang, ya itu sudah dihitung sebagai pencapaian luar biasa dan sebaliknya juga demikian.

Siang menjelang sore itu, saya begitu sabar menantikan jawaban dan percakapan tak terduga yang keluar dari ibu Nis.

nak, bersama kak Heru –pendiri Rumah Dongeng- saya kebetulan termasuk pendongeng tingkat provinsi. Kadang kala saya diundang oleh perpustakaan kabupaten untuk melatih pustakawan-pustakawan baru menjadi seorang pendongeng.

sering sekali kak Heru yang super sibuk aktif mendongeng di mana-mana dan saya –tugas pokok PNS- tidak bisa menerima semua permintaan, maka susah sekali untuk menemukan orang-orang yang mau terjun di dunia anak-anak seperti ini.” keluh ibu Nis.

kami butuh banyak pustakawan-pustakawan yang tidak hanya mau sekedar belajar, tapi giat berlatih dan terus berlatih sehingga menjadi mahir dalam satu hal. kami butuh pustawakan dan anak-anak muda yang mau menjadi pembelajar sepanjang hayat.” katanya dengan pelan seperti mengetahui ini bakalan tidak bisa terjadi dalam waktu dekat.

Khusus di ruang baca anak ini, memang hanya ada ibu Nis dan seorang lagi tenaga outsource yang tidak datang. Jika banyak anak-anak yang datang.

Tak terasa, keempat anak itu sudah diajak pulang oleh ayahnya. Ayah mereka sejak tadi sibuk membaca buku di depan panggung  kecil di depan ruangan. Tanpa banyak bicara, dari tadi ia hanya menyenderkan siku dan lengannya di panggung lantai panggung untuk membuatnya nyaman membaca. Panggungnya dilapisi dengan bahan sejenis gabus berwarna seperti potongan puzzle sehingga cocok untuk anak-anak bermain lompat-lompatan tanpa takut terkena cedera.

bu, kayaknya waktuta’ Sabtu ke depan-depannyanya mungkin akan saya repoti ki’ terus. Rencananya mereka berempat selalu mau mampir kemari menghabiskan waktu” Pengawal keempat anak kecil ini adalah ayah dari dua dari mereka, selebihnya adalah ponakan dan anak tetangga. Hanya kebetulan saja mereka satu sekolah di tempat yang sama.

oh iya pak, nda papaji. Justru kami senang ada anak-anak mau datang kemari meramaikan perpustakaan” ibu Nis memastikan tidak ada masalah dengan itu.

eh sudah mau pulang rupanya, mau pinjam buku apa sayang? beliau menghampiri anak perempuan paling kecil dan mengusap-ngusap kepalanya.

janganmi tawwa dulu bu’, biar mi kapan-kapan, mereka tadi di depan baru isi formulir, terus fotonya belum ada,” Ibu Nis merasa senang ada orang tua yang seperti itu. Mau meluangkan waktu bagi anak-anaknya demi sebuah pengalaman yang tidak bakal tergantikan.

Menanggapai masalah teknologi, Ibu Nis mengatakan, “tidak selama nya dinamis itu harus membawa harmonis”. Ibu tiga anak ini menyayangkan orang-orang tua yang tidak peduli anaknya terpapar teknologi dengan begitu jauh. Sehingga menjauhkan si anak dari aktivitas membaca, berimajinasi, dan berpikir jauh (deeper thinking).

Caranya cuma satu: membaca buku. Jalan menuju ke buku itulah yang sedang digiatkan oleh ibu Nis, bercerita. Mengambil satu buku, mengumpulkan anak-anak di perpustakaan, dan mulai mendongeng. Begitu setiap hari. Setidaknya, dengan pengunjung ruang baca anak yang minim, ibu Nis hanya bisa tiga hingga empat kali mendongeng dalam sepekan. Itu berarti, rata-rata hanya lebih dari dua belas anak yang berkunjung.

***

Pengalaman mengisi acara mendongeng juga dia torehkan pada sebuah segmen acara di Fajar TV, stasiun TV lokal Makassar. Tahunnya ia sudah lupa, tapi ia jelaskan waktu itu, ia sempat manggung selama setahun di sana. Waktu itu, ustad Maulana (sekarang kondang di Jakarta program dakwah TV Swasta) satu jadwal dengannya. “beliau (ustad Maulana) tampil siang, saya tampil di pagi hari. Nama programnya Dongeng Anak Nusantara.”

Layaknya interior taman kanak-kanak, di sini juga ada sebuah mural yang mencerminkan dunia anak-anak. Ukurannya hampir tiga kali tiga meter. Letaknya di atas panggung gabus. Anak-anak bisa mengintip dan menyentuh mural ini di dinding, lalu membayangkan dirinya juga ada di sana.

Sebuah pelangi, langit biru terang, pohon, dan burung pipit kuning yang menggenggam sejumlah lembar jerami di ujung paruhnya tergambar jelas. Di antara itu,dalam lingkungan pagar sekolah seorang anak sedang berdiri memainkan tangannya sambil mulutnya menganga seperti mengucap sesuatu. Dua anak murid, laki-laki dan perempuan dengan asyik dan tersenyum duduk memerhatikan dengan seksama teman.

Mural ini asli karya beliau. Dibuat sendiri dengan kemampuan lukisnya tanpa bantuan siapa-siapa. Itu juga salah satu kenyataan yang membuat saya kagum sekaligus terheran-heran dengan beliau. Awalnya saya juga tidak percaya. Tapi setelah tiga kali bertanya memastikan ke beliau, barulah saya percaya dengan pendengaran saya sendiri.

Saya bisa membayangkan bagaimana Ibu Nis begitu cinta dengan anak-anak dan dunia mendongeng. Pada mural itulah terletak dunia yang diinginkannya. Dunia di mana anak-anak juga bisa saling mendongengkan antara satu dengan yang lain. Mural ini menggambarkan keinginan ibu Nis yang terdalam, agar anak-anak bisa lebih giat belajar dan membaca.

Memaklumi wajah saya yang keheranan, ia mengajak saya ke suatu tempat. Ia membalas keheranan sekaligus kekaguman saya hanya dengan senyum sederhana. Dengan seruas wajah yang sedikit lelah dan jilbab yang sesekali harus dirapikan, ia masih dengan bersemangat mengajak ke lemarinya.

Barang yang diambilnya  terletak di sebelah kanan bawah. Namun rupanya pintu lemari kanan cukup keras ganjalannya. Dengan upaya yang cukup keras ia tidak berhasil membuka pintu kanan. Terpaksa harus melalui pintu kiri.

Pelan-pelan ia mengambil barang barang yang dianggapnya berharga itu. “Inilah karya saya,” katanya

Setumpukan berkas ukuran A3 itu dengan tebal kira-kira sehasta keluar dari lemari kaca. Percaya tidak percaya, isinya semua adalah ilustrasi mendongeng. Lukisan dan gambar warna warni yang begitu hidup. Saya yakin tidak ada anak-anak pasti menyukainya. Isinya hanya gambar saja, sebab semua kalimat dan dilaog dari tokoh bakal ditirukan oleh story teller. Beberapa kisah merupakan karya sudah jadi yang beliau fotokopi.

Setiap satu cerita memiliki delapan hingga sepuluh ilustrasi. Ada penanda di setiap bagian kisah. Kurang lebih dua puluh bundelan kisah di situ. Ya, inilah harta berharga dan bangunan imajinasi yang dibentuk ibu Nis. Setiap halaman pertama bagian atas bertuliskan, “Judul dongeng (Pak Tani dan Kancil misalnya)” dan bagian bawah bertandakan, “Diceritakan kembali oleh Nisfu”.

Inilah (semua) yang saya bawa ke mana-mana (jika mendongeng).

Saya menyaksikan gambar abstrak pada bagian belakang belum selesai diberi warna. “oh ini masih setengah jadi,” Sepertinya ibu Nis masih butuh waktu untuk menyelesaikannya sesegera mungkin.

Di beberapa kisah, ada stempel perpustakaan tempat ibu Nis berkarya.“iya, ini sudah dibeli oleh perpustakaan. (Mereka) melihat saya punya bakat, akhirnya ilustrasi ini sudah dibeli oleh lembaga

Beberapa ilustrasi sangat disayangkan sudah memiliki lapuk di bagian pinggirnya. Saya menyarankan agar semuanya kalau bisa di-laminating saja. Bukan masalah takut hancur atau tidaknya, tapi ini adalah karya beliau yang punya nilai sejarah bagi beliau sendiri. Rekam jejak ibu Nis dalam mendongengkan anak-anak. Saya merasa ngeri membayangkan jika semuanya lapuk dan berjamur.

Di belakang ibu Nis, ada sepasang boneka tangan seukuran panjang dari ujung kaki hingga lutut orang dewasa. Sigap saja ia langsung mengambilnya.

ini Bonita, yang lelaki itu, namanya Boni,”kata Ibu Nis setelah memasukkan tangan kanannya ke belakang lewat kaki baju Bonita. Di situ ada lubang tempat Ibu Nis bisa merogoh ke dalam dan ke atas hingga menyentuh leher. Setelah seluruh tangannya masuk, Ibu Nis segera membiarkan dirinya sejenak menjadi Bonita. Mengatupkan dan membuka jari-jarinya agar Bonita hidup dalam imajinasi anak-anak. Itulah Ibu Nis, pendongeng yang berbahagia.

Sore itu, saya memang tidak beruntung melihat empat anak mungil tersebut didongengkan oleh Ibu Nis. Tapi lain kali, saya akan menyempatkan waktu melihat ia mendongeng.

Sore ini, beliau telah mengajarkan saya tentang mengerjakan hal dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Beliau adalah aktor dan otak di balik ruang baca anak ini. Ia melakukan semuanya:. mendongeng, melukis, menyanyi, dan berinteraksi dengan anak-anak. Ia melakukan hal yang dilakukan oleh manusia-manusia yang selalu peduli dengan keberlanjutan peradaban: mendidik dan mengajarkan nilai-nilai baik.

Bagi saya, seperti para pendidik lain yang berdedikasi tinggi, ibu Nis adalah orang yang sudah berbahagia dengan pendidikan. Tidak ada yang bisa menghalangi dirinya untuk terus mendongeng bagi anak-anak