Posts Tagged ‘Blogger Kampus’

cropped-picture1

thefloatingschool.wordpress.com

”sejak awal, kami percaya kekuatan ada pada (masyarakat) lokal. Kami selalu titipkan pesan pada fasilitator untuk datang memfasilitasi, bukan menggurui”

Pagi menunjukkan belum pukul tujuh hari Minggu (8/4) pekan kemarin. Tapi rumah di bilangan Perintis Kemerdekaan ini sudah sibuk sejak tadi. Empat fasilitator dan dua relawan sudah memenuhi ruang tamu. Kehadiran mereka mendesakkan barang-barang yang sudah lebih dulu ada di sana. Di tengah terletak dua papan tulis kecil ukuran setengah meter, enam buah laptop yang dibiarkan terbungkus rapi, kardus berisi buku penuh buku pelajaran dan buku tulis, satu kardus lagi berisi perlengkapan gambar, kertas, keperluan administrasi dan prakarya. Sesaat lagi mereka bertolak menuju Pelabuhan Laut Maccini Baji di Kabupaten Pangkep. Dari sana perjalanan dilanjutkan via laut selama sekitar 20 menit menuju Pulau Satando, Pangkep.

Namun sebelum berangkat, mereka harus memastikan segala persiapan rampung di dua tempat sekaligus, di Kota Makassar dan di Kabupaten Pangkep. Seorang perempuan bercelana training di antara mereka sibuk sedari tadi. Rahmiana Rahman namanya, disapa kak Ammy oleh beberapa fasilitator dan volunteer The Floating School. Satu-satunya pekerjaan yang harus ia selesaikan sendiri ialah memastikan semua fasilitator dan volunteer yang tersebar di sejumlah tempat siap bergerak menyukseskan kelas minggu itu.

Jemarinya sibuk menyentuh dan menggeser layar ponsel pintar milik. Matanya selalu awas memastikan segalanya beres sebelum beralih ke hal lain. Lewat ponsel biasa, sebagian besar waktunya pagi itu ia gunakan menelepon ke sana ke mari dengan nada antusias. Suara Ammy cukup kencang membangunkan volunteer untuk segera bersiap-siap. Termasuk memastikan Daeng Sikki -navigator Kapal Fitra Jaya 03- untuk siap menjemput di dermaga, memastikan segala perlengkapan terbawa, bekal sarapan pagi. Juga memastikan siswa-siswa di Pulau Saugi dan Pulau Sapuli siap dijemput dan diantar ke Pulau Satando. Sambil terbahak ia menyudahi pecakapan terakhir pagi itu dan menutup telepon.

“mari kita berangkat” katanya dengan riang.

Mobil yang kami tumpangi harus singgah tiga kali menjemput volunteer. Meski baru, The Floating School menarik animo pegiat komunitas menengok metode dan inisiatif baru ini tiap minggunya. Normalnya, volunteer dibatasi karena angkutan kapal yang terbatas. Sehingga beberapa volunteer yang mendaftar terpaksa ditolak dan mengantri untuk mengikuti The Floating School berikutnya.

Pekan ini relawan yang beruntung bisa menumpangi “Kapal Fitra Jaya 03” ada Ari dan Teguh. Mereka berdua baru saja ‘turun gunung’ setelah mengadakan Sokola Kaki Langit di Kabupaten Barru, tetangga Pangkep. Dua jam perjalanan darat harus mereka tempuh untuk bergabung bersama yang lain. Kaki celananya masih terlipat ketika mereka berdua kami lihat sampai sampai di dermaga. Kendaraan roda dua yang mereka tumpangi dari Barru langsung ke sini masih membekas di kendaraan roda dua automatic. Tanpa merasa lelah, ia menghambur lagi mengikuti The Floating School. Ada juga Tiny dari Komunitas Penyala Makassar yang sedang merampungkan Pustaka Ceria dan agenda bantu-bantu Kelas Inspirasi Konawe.

Pagi itu, kami belum berangkat karena masih menunggu Rahmat HM Mato, salah satu inisiator juga. Saat itu, pukul 09.20 ia baru sampai di tepi dermaga. “baruka pulang ini dari urus kursus mingguannya PEC (Pangkep English Club). Itu dulu kukasi’ selesai, baru ke sini” katanya minta maaf tapi sumringah bisa berkumpul lagi dengan volunteer dan fasilitator. Selama perjalanan, Daeng Sikki tampak santai di ruang kemudi. Hari ini laut cukup tenang.

Mengapa harus Floating School?

Sekolah ini adalah inisiasi Ammy bertiga bersama Nunu Al Marwah Asrul dan Rahmat HM Mato. Proposal sekolah ini lalu diajukan untuk memperebutkan grant “YSEALI Seads for The Future”. Sebanyak 400-an proposal yang masuk dari seluruh negara, hanya tiga dari Indonesia yang berhasil diterima, salah satunya The Floating School. Alasan terpilihnya The Floating School untuk didanai karena program ini memiliki rencana keberlanjutan bagi masyarakat di tiga pulau yang terkena dampak.

“Pada mulanya, mereka berkunjung ke pulau-pulau tersebut untuk mengetahui keadaan masyarakat setempat dan menggali kebutuhan mereka” kata Ammy yang merupakan alumnus Jurusan Bahasa Inggris UNM 2006 ini menjelaskan. Ammy dan kawan-kawan lalu mencari data untuk memulai program ini. Mereka lalu mencari data lewat sajian angka-angka BPS tahun 2010. Bermula dari data besar lalu mengerucut ke data kecil hingga muncullah keputusan membuat sekolah ini.

Akhirnya mereka menemukan sekolah-sekolah yang masih sulit secara akses dan ekonomi itu berada di Jeneponto dan Pangkep. Kenapa memilih Pangkep? Selain karena kedekatan Rahmat HM Mato yang mengenal dekat Pangkep, mereka juga berpikir bahwa Pangkep butuh untuk dibantu dari segi pendidikan.

Ammy mengatakan, di Pangkep ada 117 pulau kecil dan 87 pulaunya berpenghuni. Ini berarti 75 persen infrastruktur sekolah –ini jika semua pulau didirikan sebuah sekolah- butuh bantuan karena terisolir dari darat. Baik dari segi sumber daya manusia maupun sarana-sarana penunjang pembelajaran lain. Belum lagi dengan Pulau yang berbatasan dengan Bali, sekitar 10 jam menembus laut sulawesi ke selatan. Alasan-alasan itu yang menggerakkan mereka memilih Pangkep.

Lalu kenapa harus tiga pulau yang berdekatan Pulau Saugi, Sapuli, dan Satando? Mereka menginginkan memulai dampak dari cakupan wilayah yang terdekat. Ketiga warga pulau ini masih berkerabat dekat satu sama lain. ‘Tiga Pulau Satu Kampung’ julukan ini diberikan karena ketiga pulau masih merupakan wilayah kampung yang sama, Desa Mattiro Baji.

Mereka tetap yakin untuk bisa melakukan keduanya, sehingga pendidikan yang ditampilkan masih fokus dan sejalan dengan tujuan pertama. Akhirnya, mereka membuat sekolah yangmenggabungkan pendidikan dan economic value. Pendidikan memang jembatan untuk meraih dan memperbesar kemungkinan-kemungkinan masa depan yang lebih baik, termasuk ekonomi. Tidak terkecuali anak-anak ini.

Perkembangan yang dibanggakan

Inisiasi ini masih baru. Meski begitu, ada sejumlah hal yang terjadi di luar ekspektasi. Itu membuat Ammy senang sekaligus bangga. Pertama, ia menargetkan hanya bisa merekrut 50 siswa. Kemudian mereka akan belajar selama tiap pekan saban minggu selama enam bulan hingga Agustus mendatang.

Setelah running, ternyata 90 anak berusia 13 – 20 tahun yang memiliki niat besar menjadi siswa. “Jumlah ini memberikan gambaran tingginya minat mengikuti The Floating School. Setidaknya niatan anak-anak  mereka memberi gambaran tingginya minat mereka mengikuti The Floating School.” Kata Ammy senang.

Selain itu, hal yang tidak mereka duga ialah animo fasilitator yang berhasil mereka rekrut sejauh ini. “saya sangat bersyukur memiliki fasilitator yang amazing.”  Rentang waktu dua bulan, Ammy berbangga para pengajar dengan skill yang baik ikut turun tangan mengabdi di pulau kecil ini. Sebab selain keterampilan mereka memiliki semangat mengajar tinggi dan fleksibilitas dalam hal menyampaikan pembelajaran ke anak-anak.

Ammy sangat senang dengan karakter dan perubahan mereka sepanjang ini. Perekrutan fasilatator tidak hanya mencakup aspek kompetensi, tapi juga kemauan bekerja selama setengah tahun tanpa jeda dengan fleksibilitas tinggi. Ia mengutarakan kesenangannya karena dengan ide besar yang mereka miliki mudah diterima fasilitator waktu itu. “Tidak sulit mentransfer isi kepala kami ke dalam benak-benak mereka.”

Ia dan timnya sadar tengah melakukan semacam intervensi sosial di tengah-tengah masyarakat. Mereka ketemu lingkungan baru yang harus dikelola dengan serius. Apalagi ini menyangkut dua aspek penting, pendidikan dan ekonomi. Satando, Saugi, dan Sapuli adalah tempat asing bagi mereka sebelum ini, lingkungan yang baru. Kekhawatiran untuk diterima juga ada sebelum mereka masuk. Tapi semuanya tertepis.

Sambutan masyarakat lokal yang mereka terima luar biasa. Sebaliknya The Floating School justru diterima dengan tangan terbuka. Justru, beberapa ide kelas-kelas itu berdasarkan ide dari warga. Seperti kelas prakarya, misalnya. Observasi sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Meski baru memasuki pekan kelima pembelajaran, sudah sejak 28 November mereka telah mengeksekusi segala persiapannya. Mulai pencarian funding hingga observasi ke tiga pulau.

Ammy tersenyum lebar dan membelalakkan mata, ia mengaku jika ini adalah sekolah apung pertama di Indonesia. Mereka menyewa Kapal Fitra Jaya 03 untuk membawa pangajar, buku-buku, dan relawan untuk mengajar di tiga pulau berbeda. Walau begitu, demi mengefektifkan mobilisasi, pekan-pekan terakhir ini semua kelas dipusatkan di satu pulau saja, Pulau Satando.

Aktivisme Sosial Merubah Masyarakat?

Mereka belum bisa menjawab sejauh itu. Tapi ilustrasinya, Ammy melihat sedikit demi sedikit ada perilaku yang menurut mereka positif. Misalnya, tanpa kendala berarti langsung diterima oleh masyarakat. Bisa saja mereka dicegat, tidak diperbolehkan mengangkut anak-anak belajar dari Pulau Saugi dan Sapuli lalu memulangkannya kembali setelah belajar. Mereka berani dan percaya dengan The Floating School sejak awal kedatangannya.

Hal kedua adalah, kepercayaan diri masyarakat, khususnya anak-anak memang meningkat. Pekan pertama mereka masih malu-malu menyanyi. “Hanya di awal saja mereka  masih malu-malu, sekarang di suruh menyanyi pun mereka sudah pede.” kata Ammy.

Jamal misalnya, di kelas fotografi ia dari awal sudah menunjukkan bakat alami. Tiga pekan lalu ia dipinjami kamera saku oleh faslitator. Ia berkeliling kampung dan berhasil mengambil sekira 10 gambar. Kesemuanya punya cerita yang menarik dan sudut pandangnya juga tidak biasa bagi ia yang baru saja memegang kamera. “senang sekali melihat ada anak yang seperti itu di Floating School” terang Nunu Al Marwah Asrul, rekan Ammy yang juga bersama-sama mendirikan The Floating School.

Faslitator kelas menyanyi dan musik dan kelas menulis adalah orang Pangkep asli, dan berdiam di kota Pangkep. Hasilnya, anak-anak merasa punya proksimitas dan percaya diri yang besar untuk berkreasi di depan para pengajar.

Di Kelas menulis contohnya, sepanjang yang saya amati, Idrus dan Wani mampu menunjukkan aspek bahasa yang baik. Pada satu sesi oleh fasilitator mereka berdua diajak menghabiskan waktu di luar kelas mengamati kehidupan kampung. Tiga puluh menit kemudian, secara tiba-tiba mereka bisa merangkai larik-larik puisi tentang Pulau Satando dan kehidupan mereka sebagai anak-anak laut.

“Kami percaya kami bisa membuat anak-anak ini memamerkan sesuatu. Apa yang berharga dari kampung-kampung mereka.” Di akhir bulan ke-enam, kami akan melakukan pameran karya dan kreasi di Pulau Cambang-Cambang. Pulau ini merupakan pusat wisata di daerah Pangkajene Kepulauan. Ammy membayangkan misi The Floating School akan jauh melampaui apa yang telah mereka raih dua bulan ini.

Kepercayaan ini rencananya akan dibayar lunas dengan baik oleh tim The Floating School. Mereka sudah menyiapkan satu pegelaran. Kelas Musik akan memamerkan kelihaiannya dan membuat video rekaman, Kelas Foto akan mengadakan pameran foto, Kelas Menulis akan menyajikan sebuah peluncuran buku karya anak-anak, dan banyak lagi.

Kehadiran anak-anak juga berada lebih dari 90 persen. Fakta ini yang membuat Ammy dan tim begitu gembira. Meski tadi anak-anak ada yang minta izin tidak masuk karena besok murid yang kelas 3 SMA akan mengikuti UNBK.

Pada intinya, Ammy percaya pada proses. Hasil akhir hanyalah manis-manis yang masih tersisa. Buahnya sudah kita peroleh lewat usaha proses membelajarkan anak-anak itu sendiri. Bertumbuh bersama anak-anak, masyarakat dan semua relawan merupakan hal yang sangat layak mereka jalani seiring bersama.

Sejauh mana upaya ini akan berhasil?

“kekuatan sebenarnya ada pada masyarakat dan local leader yang bersinergi positif dengan The Floating School.” Olehnya itu Ammy yang juga English Teacher di Bosowa International School ini selalu menitipkan pesan pada fasilitator untuk bertindak sebagai penggali sekaligus pembimbing yang baik. Bukan sebagai guru yang datang mengajar, dan bukan pula sebagai guru yang serba tahu.

Tidak usah jauh-jauh, mereka merasa begitu terbantu dengan Bu Ramlah. Dengan pintu dapur yang selalu terbuka, ia memasak tiap pekan tanpa pernah sekalipun absen. Nyaris ia merelakan 15 orang tim fasil dan relawan menghabiskan jatah makan siang di rumahnya yang hanya berjarak sepelemparan batu dari sekolah. Saya melihat ia juga mengambil bagian sibuk-sibuk mondar-mandir ketika tim sudah merapat ke dermaga.

Ada sosok Pak Amri, Kepala Dusun Sapuli dan Pak Arman guru di pulau yang sama. Dua orang ini getol mendukung kegiatan rutin belajar mingguan The Floating School. Juga Ibu Bur, Kepala Sekolah SD Saugi, penyedia makan siang jika tim berada di Dusun Saugi, Pulau Saugi.

Sehingga, boleh dikata tiga pulau ini bersekongkol positif pada Ammy dan kawan-kawan. Tapi, permufatakan baik ketiga pulau yang masih satu desa ini tentu saja masih bisa dikembangkan lebih jauh. Ruang-ruang interaksi harus dibuka lebar untuk memancing masyarakat semakin terbuka dan mengembangkan inisiasi bentuk pendidikan alternatif di kampung mereka sendiri.

Pada akhirnya, seperti yang dikatakan Ammy, “kami ingin membuat sekolah ini tidak hanya nampak, tapi bisa berdampak.” Bila masyarakat yang sudah urun rembug langsung, besar sekali kemungkinan gerakan ini bisa berdampak bahkan untuk waktu yang lama.

Sampai kapan The Floating School?

Sepanjang hari itu saya merasa tidak tega mengganggu kesibukannya demi ngobrol sebentar. Bolak-balik ia mengatur ruangan tiga ruangan kelas SMP-SMA Satap (Sekolah Satu Atap) segera setelah tiba di Pulau Satando. Setelah itu ia juga langsung mengurusi bahan bakar genset kelas komputer dan musik. Memastikan anak-anak di delapan jenis kelas hadir, menjamin keperluan para pengajar (fasilitator) dan anak-anak tersedia, termasuk mengecek kesiapan makan siang, dan banyak lagi.

Tubuhnya lincah bergerak ke sana ke mari tidak bisa diam sekalipun. Sebentar saja, ia sudah menghilang ke mana mengamati delapan kelas hari itu berjalan dengan lancar. Saya tidak heran ia bisa seaktif itu di lapangan. Beberapa tahun sebelumnya, ia merupakan tokoh di balik berdirinya SiGi (Sahabat Indonesia Berbagi) Chapter Makassar, mengarsiteki SoulMaks Magazine, aktif sebagai pembicara tentang peran perempuan.

Di tengah rasa lelahnya dalam perjalanan darat pulang dari Pangkep, ia masih semangat menjawab sejumlah pertanyaan saya.“kami sementara cari funding agar tidak hanya anak di tiga pulau ini yang ikut, tapi beberapa pulau lagi yang berada di sekitarnya. Semoga bisa beli boat baru untuk calon Sekolah Kreatif nantinya” kata Ammy tersenyum menatap refleksi masa depan di hadapannya.

Matahari sore itu sudah harus tenggelam. Para fasilitator pulang berpisah jalan masing-masing. Ammy masih harus mengurusi siswanya yang tinggal asrama di bilangan protokol dekat Pantai Losari. Pekerjaan ini masih belum terhenti. Masih ada sekitar empat bulan lagi. Itu berati masih enam belas pekan lagi sebelum The Floating School tersisa. Bagi Ammy, terus bekerja adalah pilihan yang tidak bisa ditawar-tawar.

system-change

climatejusticeactionnetwork.org

Ukuran jaman sekarang, pertanyaan itu tergolong bodoh. Rasa-rasanya tanpa riset mendalam dan menyeluruh se-Indonesia, hampir semua orang bakal memilih Raisa. Wajah jelitanya berada di level atas. Duh, bikin pangling. Tidak kalah penting, lantunan tembang-tembang cintanya syahdu aduhai. Lirik-liriknya siap melenakan segenap jiwa raga.

Sementara (Karl) Marx? apa untungnya memilih dia? Jika foto mereka disandingkan, maka kau akan mendapati Marx memiliki wajah suram-tegas-tanpa-senyum berumur lebih setengah abad. Berjanggut lebat putih keabu-abuan memanjang melewati leher. Sungguh terlalu kalau Anda mengira karya Marx adalah lagu galau. Maaf, hanya buku-buku. Buku-bukunya sungguh tidak berperasaan, susah dimengerti. Beda sekali dengan si Raisa.

Sebelum lebih jauh, saya menyarankan sebaiknya memilih Marx atau siapa saja yang membuat Anda selalu tertantang berpikir lebih jauh sekaligus dalam. Oke, saya paham, masing-masing Anda punya selera dalam musik. Tapi tidak untuk berpikir dan bertindak independen. Semua manusia memiliki kemerdekaan sejak awal, kebebasan dalam segala hal, termasuk berpikir. Rene Descartes jauh-jauh hari sudah mengutarakan pandangan filosofisnya yang terkenal, “Aku berpikir, maka Aku ada.”

Apa perbedaan besar di antara mereka? Perbedaan yang kontras. Mari kita bandingkan secara sepintas apa yang populer dari keduanya, Kakak Raisa dan Kakek Marx. Kita mulai dengan lirik Raisa “Kali Kedua”:

Jika wangimu saja bisa memindahkan duniaku | Maka cintamu pasti bisa mengubah jalan hidupku | Cukup sekali saja aku pernah merasa, betapa menyiksa kehilanganmu | Kau tak terganti kau yang slalu kunanti | takkan kulepas lagi

Pegang tanganku bersama jatuh cinta, kali kedua pada yang sama | Jika senyummu saja bisa mencuri detak jantungku | Maka pelukkan mu yang bisa menyapu seluruh hatiku | Cukup sekali saja aku pernah merasa betapa menyiksa kehilanganmu | Pegang tanganku bersama jatuh cinta | Kali kedua pada yang sama (Satukan hati, tanpa peduli) | Kedua kali kita bersama lagi |

Perhatikan baik-baik liriknya. Cermati kejanggalan berpikirnya. Kemandirian adalah sikap naluriah manusia untuk menjadi merdeka secara pribadi. Sementara lirik di atas memuja ketidakmandirian seorang perempuan muda yang disetir gumpalan dan buncahan penuh perasaan yang tertahan. Seakan-akan itu sah-saha saja dan boleh dilakukan seluruh umat manusia Indonesia. Duh kakak Raisa, apa sih yang kamu perbuat?

Imaji saya membayangkan sesosok patah hati yang hanya berbaring saja di kamar. Menangisi nasib putus cinta yang merundung fisik dan perasaannya. Seorang perempuan yang sedang dihadapkan pada kembimbangan tanpa batas. Ruang yang melingukupinya barangkali luas, tapi ia menyempitkan dirinya untuk tidak ke mana-mana. Tidak bergerak secara fisik. Waktu jadi serasa melambat sekian kali lipat. Dia hanya mengikuti hatinya yang terus bergejolak tidak menentu. Demi merasakan betapa pedihnya rasa yang ia jalani saat itu.

Liriknya mengajak pendengar secara total tidak berpikir dan mengikuti perasaan semata. Pada ujungnya, sosok perempuan dan penikmat lagu ini (juga lagu-lagu yang senada) akan terbawa dalam kondisi baper (bawa perasaan) yang tidak kunjung reda.

Seolah-oleh hanya itu satu-satunya permasalaan yang terjadi dalam struktur otaknya yang begitu canggih. “ini merupakan reduksi (sosial) terhadap segala permasalahan yang sedang mendera kita semua” terang Nurhady Sirimorok, seorang peneliti dan fasilitator masyarakat. Selepas magrib itu, ia berbagi mengenai pengantar Analisis Sosial.

Lebih jauh, jika ditilik dari sudut pandang gender, sosok perempuan seperti berada dalam kungkungan laki-laki. Berada di level bawah dalam hirarki struktur sosial keluarga dan masyarakat. Tidak memiliki keputusan sendiri, dan tidak berdaya. Segala yang terlontar dari mulutnya adalah buah gejolak dan teriakan responsif dari hati dan perasaannya sendiri.

Seandainya saja sosok perempuan tersebut serius memikirkan setiap tindakannya dan ucapannya, maka otaknya akan menstimulus melakukan gerak aktif dengan akal sehat. Bukan tinggal di kamar dan menangisi hidup yang tidak adil.  “Inilah kampanye besar-besaran menuju kedangkalan berpikir kritis dan independen terhadap diri sendiri” katanya menyimpulkan.

Sekarang, mari kita beralih ke Kakek (Karl) Marx. Seluruh teori yang ia gulirkan sepanjang hidupnya berdasarkan apa yang ia yakini, “manusia membuat sejarahnya sendiri, manusia adalah pencipta itu sendiri.” Karyanya dibincangkan hampir di bangku akademik hingga pemuja klenik Marxisme. Baginya, manusia adalah makhluk bebas yang mampu menentukan nasib sendiri. Berani berpikir bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Pada intinya, terlepas dari aura kerisauan level dewa lirik Raisa, kakek Marx mengajak kita semua (tidak berhenti) berpikir. Oke, sederhana begini. Ini tentang dua pilihan: memilih berpikir atau memutuskan tidak berpikir.

Lantas, mari kita renung-pikir sejenak. Mengapa perasaan tersebut begitu kuat mendominasi pemikiran anak-anak muda sekarang?  Jika ditarik waktu ke belakang, pada era Orba rezim Soeharto, Menteri Harmoko pernah melarang lagu-lagu sejenis beredar di Indonesia. Tidak sesuai dengan nilai-nilai moral lima sila Pancasila, dalihnya begitu.

Mari kita ambil contoh bait “Hati yang Luka” Betharia Sonata. Terdapat lirik seperti ini: Liahtlah tanda merah di pipi | Bekas tapak tanganmu | Sering kau lakukan | Bila kau marah menutupi salahmu. Lalu dipungkaskan: “pulangkan saja Aku pada ibuku atau ayahku,” dan seterusnya. Sumpah. Lagunya bikin sedih merintih. Dilema hati pasangan hendak bercerai.

Pemerintah saat itu melarang dengan alasan kasus-kasus perceraian akibat KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) saat itu tidak sesuai dengan nilai-nilai keluarga bahagia ala Pancasila. Kecenderungan seperti itu tidak boleh muncul ke permukaan sehingga berpotensi merusak butir-butir pengalaman Pancasila. Sialnya, lagu jenis ini laris. Dian Piesesha lebih hebat lagi, lagu syahdunya “Tak Ingin Sendiri” menembus penjualan dua juta kopi. Jumlah yang gigantis mengingat waktu itu masih edisi rekaman kaset. Lagunya memang bagus. Saya tidak tahan mendengarnya berulang-ulang #duh.aduh.ikut.baper.

Kak Dandy yang meraih master dari ISS (Institute of Social Studies) Deen Haag, menilai, semasa itu pemerintah tidak fokus pada masalah yang sebenarnya. Inititusi formal selalu terjebak kegagalan berfokus, ‘gagal fokus’. Atau pura-pura tidak tahu? Mungkin saja. Maksud hati memberantas pelanggaran norma, tapi menerapkan solusi yang tidak mematikan akar masalahnya.

Lagu-lagu sendu yang banyak diciptakan saat itu hanyalah merupakan akibat sebuah skema besar yang bekerja, dalam artian ada struktur sosial yang berlaku. Tidak kentara namun bekerjanya giat, tangkas, seringkali invisible, memberikan konsekuensi besar (seringkali negatif) bagi masyarakat, serta sangat efektif melumpuhkan target tujuannya. Perilaku gagal fokus ini seringkali membuyarkan pikiran orang-orang dari masalah krusial itu sendiri. Sehingga gejala-gejala yang tampak di masyarakat (di permukaan) langsung dipandang sebagai masalah itu sendiri.

Dalam kasus pelarangan lagu cengeng, setelah upaya telisik, rupanya ruang ekspresi menyuarakan kepentingan publik disumbat demi kelanggengan rezim. Akses ke medium aspirasi masyarakat dikungkung dari pelbagai sisi. Mimpi mewujudkan negara yang lebih demokratis nyaris pupus. Pada akhirnya, wadah penyaluran teralihkan ke hal-hal pribadi dan perasaan. Lahirlah rupa-rupa ‘lagu cengeng itu’. Begitu kira-kira penjelasan kak Dandy.

Posisi-Posisi dalam Struktur Sosial

Skema yang dimaksudkan adalah bangunan struktur sosial. Struktur lebih besar yang menyebabkan gejala-gejala dan faktor-faktor itu muncul, bergulir, dan berkembang. Lazimnya, pertanda-pertanda tersebut hanya merupakan hilir dari duduk perkara sebenarnya, sebab bisa jadi variabelnya lebih dari satu. Demi mengurai persoalan sebenarnya, pada tahap inilah penting mengurai cara-cara kerja struktur sosial dan sistem yang bercokol di dalamnya. Sehingga, kita bisa mengerti bagaimana sesuatu gejala itu muncul dan berkembang di sebuah kelompok masyarakat.

Oke, cukup. Kita sudahi saja acara ghibah kakak Raisa sampai di sini. Demi menghentikan situasi pembenaran terhadap baper massal diakibatkan lagu-penyembah-perasaan tentu bukan dengan memboikot karya Raisa. Tapi menelisik gejala-gejala yang tampak, menelisik satu demi satu struktur beserta aturan dan normanya, lalu menyiapkan argumen atawa strategi. Selebihnya, kita tengok sepenggal wacana mengenai ‘Analisis Sosial.’

S__27017219

Nurhady Sirimorok menjelaskan skema Struktur Sosial

Secara ringkas, Struktur Sosial merupakan pola interaksi yang bertahan cukup lama individu, masyarakat, dan hubungan antar keduanya. Dalam grafik berikut dijelaskan bagaimana kaitan organisasi/institusi/lembaga dan aturan yang bercokol di dalamnya. Negara misalnya, institusi ini memiliki mandat untuk mengurusi seluruh warga negara tanpa kecuali. Menegakkan marwah demokrasi memerlukan aturan umum bagi semua orang. Apa itu? Hukum (aturan legal). Aturan positif ini bersifat memaksa dan mengikat.

Jalan untuk menegakkan hukum ialah dengan membuat regulasi di semua bidang, menjalankan pendidikan, dan membuat sosialisasi. Ada tapinya, dengan kekuatannya pula, hukum bisa ditegakkan dengan jalan: kekerasan dan tindak represif. Jika aparat penegak hukum kadangkala berlaku berlebihan, memang sudah begitu cara kerjanya. Kecuali pemerintah menghendaki adanya reformasi besar-besaran di institusi TNI dan Polri menjadi lebih humanis dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Begitu seterusnya.

Struktur sosial yang timpang ini menjadi penyakit yang sulit terdeteksi, tidak disadari, dan oleh karenanya harus membuat orang lain menyadarinya. Kesadaran berpikir dan bertindak merdeka, melihat persoalan secara kritis-jernih dibutuhkan untuk menyingkirkan sakit menahun tersebut. Kak Dandy membagi tiga posisi kunci menelisik struktur sosial.

Beritahu saya di mana dan bagaimana seseorang, atau kategori individual apapun, berlokasi di dalam masyarakat, dan akan saya beritahu apa yang kemungkinan besar dia/mereka lakukan” Franco Crespi.  Franco percaya jika seroang individu yang terbentur dengan struktur sosial di suatu daerah, ia tidak akan bisa melakukan apa-apa. Tinggal pasrah saja menuruti kemauan dan sistem yang terjadi di dalam struktur. Intinya, sangat mudah menebak kebiasaan dan perilaku seseorang, lihat saja siapa kawannya dan di kelompok mana ia berteman.

Tidak ada masyarakat, hanya ada individu-individu” Margaret Tatcher. Kenyataannya, kondisi sosial ekonomi masyarakat Eropa memang lebih tinggi dibanding kontinen lain. Tidak mengherankan ketika Tatcher tidak percaya adanya kekuatan masyarakat yang bisa mengubah kekukuhan sistem. Tatcher begitu yakin dengan kualitas dan kekuatan individu-individu yang brilian.

Manusia membuat sejarahnya sendiri, manusia adalah pencipta itu sendiri” Karl Marx. Satu kata, Marx percaya dengan kekuatan manusia seluruhnya bisa meruntuhkan sistem yang tidak diinginkan. Juga mendesakkan hal yang diinginkan pada sistem. Kemerdekaan manusia, berpikir dan bertindak, jadi yang utama pada posisi ini. Tidak akan ada struktur lain yang boleh lebih hebat dari kekuatan para reformis. Intinya, Marx selalu yakin dengan kekuatan revolusi dapat mengubah segalanya.

Outsourcing dan Uang Panai’

Setelah mengetahui ketiga posisi tadi, jelaslah Indonesia sejauh ini masih di level Franco Crespi. Struktur sosial paling tinggi bukan berada di pihak pemegang aturan tertinggi: hukum negara. Melainkan di tangan struktur ekonomi pasar. Penuturan kak Dandy, pada skema ekonomi pasar ini memiliki kekuatan tidak tertebak dan tidak kasat mata, tapi mempengaruhi kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Di sinilah kakak Raisa terjebak berkarya mengikuti hukum ekonomi pasar.

Semua orang tunduk pada kepentingan ekonomi pasar. Struktur inilah yang mendominasi semua aktivitas keseharian, baik politik, sosial, pendidikan, budaya, pemerintahan, dan lain-lain. Cara kerjanya tidak tampak tapi cakupannya memenuhi hampir semua aspek kehidupan manusia.

Situasinya, kekuatan ekonomi pasar menunjukkan sikap sok paling berkuasa di Indonesia dari dulu. Enggan ataupun segan, mau tidak mau, kebutuhan materil merupakan keharusan dalam mempertahankan hidup. Gurita kepentingan ekonomi kapitalistik yang membelenggu negara. Kebutuhan material selalu harus bisa terpenuhi, jika tidak ingin mati sia-sia. Negara terpenjara karena itu.

Taruhlah praktek perekrutan tenaga outsourcing sebagai contoh. Diakui atau tidak, hal ini menjadi momen pelepasan tanggung jawab perusahaan pada tenaga kerja luar. Tenaga, waktu, dan fisiknya dikuras untuk memenuhi kestabilan beban kerja di perusahaan. Di lain pihak, SDM yang terserap hanya dianggap sebelah mata karena tidak terikat langsung dengan perusahaan karena pelibatan perusahaan pihak ketiga yang merekrut mereka. Meski di tengah gegap gempita profit melangit yang diperoleh, perusahaan masih tetap saja mengambil banyak keuntungan demi mengkuhkan hukum ekonomi pasar.

Jalan satu-satunya ialah mendesakkan kekuatan masyarakat/pekerja agar bersatu merongrong pemerintah menghempaskan struktur ekonomi pasar di bawah kekuatan daulat masyarakat banyak dan hukum formal. Penyembahan terhadap keuntungan sebanyak-sebanyak pengeluaran sekecil-kecilnya harus diberi porsi yang kecil bahkan nol.

Ilustrasi menarik lainnya ialah Uang Panai’. Ketika kak Dandy bertanya spontan, “apa struktur yang mengungkung banyak anak-anak muda Bugis-Makassar? Kami semua yang hadir serentak mengatakan “budaya Uang Panai” sambil setengah berteriak diselingi senyum simpul malu-malu. Semua harus ditilik, dicermati mengapa bisa hal ini menahun dan menimbulkan kekhawatiran berlebihan?

Institusi masyarakat terbagi dalam empat, yakni keluarga, komunitas, agama, dan sekolah. Masing-masing memiliki norma dan aturan yang berlaku. Ternyata, dari penjelasan kak Dandy, ada norma yang terterabas demi menghidupkan budaya. Norma agama menginginkan kemudahan dalam pernikahan, termasuk Uang Panai’ yang tidak diperberat dan diada-adakan. Namun, norma komunitas begitu kuat mengakar. Penjelasan terbaiknya barangkali ada pada sistem kekerabatan Bugis-Makassar. Gengsi, strata, dan posisi keluarga haruslah dipertukarkan secara setara. Bilamana ada pria yang hendak meminang gadis Bugis dari status sosial tinggi, lewati dulu tembok besar bernama: budaya komunitas.

Perempuan moderat-moderen nya sekalipun, suka tidak suka harus mengakui kekalahannya dan tunduk pada keunggulan norma komunitas. Keluarga dipertaruhkan. Ijinkan lagi saya meminjam Franco Crepsi, kita tidak bisa bergerak bebas lagi ketika sudah berurusan dengan struktur sosial. Perilaku maupun keputusan individu tahap ini akan ditentukan oleh masyarakat dan komunitas di mana manusia bertumbuh.

Kebutuhan manusia Bugis-Makassar barangkali merupakan contoh dari konsep modal sosial ala Bourdieu. Uang Panai’ adalah sistem pertukaran dan perlambang yang menunjukkan status sosial yang tinggi. Sekaligus menegaskan bahwa ia bukan dari kelompok masyarakat rendahan. (Baca lebih lengkap tiga buku ini: 1) Pierre Bourdieu: Menyingkap Kuasa Simbol (Fashri Fauzi, Jalasutra, 2014); 2) Pierre Bourdieu: Key Concepts (Michael Grenfell ed., Acumen Publishing Limited, 2010), dan 3) A Critical Reader (Richard Shutsterman, Blackwell Pubslishers, 2000)

Barangkali, penjelasan menjaga tradisi Uang Panai’ bisa ditemukan juga lewat konsepi Pierre Bourdieu. Tentang bagamaina memahami sebuah realitas sosial dalam kacamata “modal sosial”. Robert Putnam meringkas bahwa “modal sosial” merupakan sumber tindakan kolektif yang dirawat oleh masyarakat. Menjaga sebuah kebiasaan dalam lingkaran komunitas budaya.

Bukunya berjudul Distinction: A Social Critique of the Judgment of Taste (Harvard University Press, 1979) menerangkan seseorang memilih bagi dirinya sendiri ruang sosial di kehidupannya, yang mana posisi itu (yang akan terus menerus dipertahankan) akan perlahan menggambarkan status dirinya dalam masyarakat lain sekaligus menjauhkan dirinya dari kelompok yang lebih rendah. Gagasan lebih luas dari Bourdieu ini dikenal dengan stratifikasi sosial atau class fractions  yang bakal menentukan preferensi masyarakat dan kaum muda: modal sosial, modal ekonomi, dan modal kultural.

Ketidakberterimaan Masyarakat

Permisalan lanskap kota juga menarik. Sebuah kota modern yang dipenuhi oleh ruko, mall, dan real estate –kelas menengah dan kelas atas- tidak serta merta bisa jadi begitu saja. Atau bisa saja dikatakan lanskap ini hadir sebagai akibat massifnya dampak globalisasi terhadap menguatnya ekonomi masyarakat. Tidak, tidak begitu. Bagi kak Dandy, ada lembaga dalam struktur sosial yang memainkan peran lebih untuk mewujudkan kota yang demikian.

Seperti yang tadi kita cermati dalam skema, ada sekelompok orang/sistem dalam struktur sosial ekonomi pasar yang menginginkan wajah kota modern. Mereka menganggap geliatnya ekonomi kota dan kekuatan kota berada di balik lancarnya ekonomi kapitalistik. Uang, uang, dan uang. Sialnya, mereka menang, karena mereka kebetulan menyandera struktur politik pemerintahan. Pemerintah ada di bawah tekanan ekonomi pasar dan kroninya. Di lain pihak, elemen warga yang menginginkan hadirnya ruang publik harus pasrah di bawah tekanan kampanye gigantisme kapitalistik.

Presentation1

Abraham dan Van Schendel (2005, ed) dalam “Illicit Flows and Criminal Things” berusaha menjelaskan gejala yang timbul ketika sebuah struktur sosial membentur dan mengalahkan kedaulatan dan kepentingan rakyat. Saat ketika warga menjadi liyan di negeri sendiri. Teori konsep ini dinamakan “(Il)Licitness dan (Il)legality”. Licitness secara singkat merupakan derajat keberterimaan sebuah tindakan sosial.

Ketika legal (pemerintahan/otoritas politik sah/hukum positif) bertemu dengan keberterimaan masyarakat (licit) akan menghasilkan negara ideal. Sebaliknya akan muncul gerakan-gerakan bawah tanah, masalah perbatasan, atau konflik Raja-Raja lokal/Keraton versus negara jika sesuatu yang tidak sah menurut otoritas resmi pemerintahan (illegal) namun diterima oleh masyarakat (licit).

Hal kontras akan kita lihat bilamana otoritas sah (legal) mendapatkan ketidakberterimaan (illicit) dari warga negara, maka barangkali yang sedang terjadi adalah kapitalisme dan kroninya sedang menggerogoti pemerintahan. Atau sebut saja negata itu failed. Situasi paling parah (anarki) akan terwujud jika illegal (pemerintahan/otoritas tidak sah) berhadapan dengan illicit (ketidakberterimaan) masyarakat. Tinggal tunggu akhir dari sebuah struktur.

Dalam pengantarnya, mereka tertarik untuk menyigi ruang-ruang politik yang timbul akibat interkasi otoritas pemerintahan yang formal dan otoritas sosial yang tidak resmi. We are interested in identifying the political spaces emergent from the interaction of formal political authority and non-formal social authority”

Sebut saja para pelintas batas di daerah perbatasan Kalimantan Barat. Riset lapangan sepanjang 1998 hingga 2001 oleh Reed L. Wadley dan Michael Eilenberg rentang 2002-2003 menunjukkan ketiadaan hukum, otonomi, kesenjangan pembangunan dan ekonomi membuat tindak kriminal terorganisasi (gangsterisme) dan perlawanan di luar jalur hukum merebak luas. Keterpisahan orang-orang di perbatasan membuat gejolak-gejolak tersebut menjadi licit, dapat diterima.

Pergerakan komoditas dan manusia sejatinya melanggar hukum karena melabrak norma hukum formal dengan segala sistemnya. Tetapi, mereka menerima ini sebagai sesuatu yang lumrah dan diterima. Mengutip Wadley dan Eilenberg they are quite acceptable, licit, in the eyes of participants in these transactions and flows.”

Menulislah: menyuarakan kebenaran

memang berat menulis dengan sisi pandang analisa struktur sosial.ungkap kak Dandy lugas. Dalam kata lain, tulisan yang kita sajikan mencakup pendedahan terhadap masalah sebenarnya. Kegiatan ini akan membedah dan mengkritik struktur. Tidak hanya menguraikan panjang lebar apa-apa yang tampak di depan mata. Tidak hanya mengkopi wacana mentah-mentah yang disebarkan para elit . Namun lebih jauh menelisik gejala hingga pada akhirnya jawaban dan ‘kebenaran’ itu muncul secara jelas.

Butuh riset mendalam, data-data yang mendukung, dan tentu saja wawancara. Hal ini membutuhkan riset mendalam dan data yang lebih banyak sekaligus beragama. Kak Dandy menyarankan proses menulis setidaknya melewati proses triangulasi data. Dalam dunia akademik, kegiatan ini merupakan keharusan dalam penelitian kualitatif (sosial kemasyarakatan).

Butuh pengetahuan yang penting dalam proses menulis. Jauh lebih penting lebih penting adalah keterampilan. Semuanya harus dilakukan secara simultan. “sembari menambah pengetahuan, lakukan praktik terus menerus hingga keterampilan itu datang dengan sendirinya” kak Dandy mengakhiri pertemuan dengan ‘memaksa’ kami terus menulis agar tercipta kebiasaan dan keterampilan.

Sehingga pada ujungnya, kita bisa merdeka memilih, antara Raisa atau analisa? Sebab ini soal berpikir atau tidak berpikir. Terserah, mau pilih mana.

***Catatan Kelas Menulis Kepo Angkatan IV***
Pertemuan ke: 9 (Sembilan)
Waktu: Jumat/ 24 Maret 2017
Pukul: 17.00 – 21.00
Materi: Analisis Sosial
Tempat: Brewbrothers Café, Pengayoman Makassar
Pembagi Ilmu: Nurhady Sirimorok

Dari Makassar, para fasilitator, dan beberapa relawan bergerak menuju Kabupaten Pangkep. Pukul tujuh lewat, kami berangkat dalam satu mobil yang berisi penuh. Sejam tiga puluh menit kira-kira kami sampai di Pangkep kota. Pagi itu, kami mampir di samping patung khas “Ikan Bandeng dan Udang”, tepat di samping sungai yang mengalir ke laut. Singgah mengisi lambung tengah dan menyeruput kopi hangat sebelum berangkat menuju dermaga.

Angin begitu kencang berhembus menerpa dari atas kendaraan roda empat yang kami tumpangi. Langit serasa bergumpal-gumpal dengan tumpukan awan abu-abu yang hendak menuju hitam.

Kapa kayu Fitra Jaya 03 sudah dari tadi menunggu kami di ujung dermaga. Buritannya bergoyang dan berderak melawan ombak yang sedang bekerja keras pagi itu. Bendera “The Floating School” sekira ukuran setengah meter berkibar dengan gagahnya di tengah geladak kapal.

Sepuluhan orang total kami, melangitkan do’a supaya selamat dalam pelayaran menuju tiga pulau di luar daratan Pangkep: Pulau Saugi, Sapuli, dan Satando. The Floating School, sesuai namanya merupakan sekolah terapung. Inisiasi pendidikan tujuh jenis keterampilan bagi para remaja di tiga pulau. Seminggu sekali selama setengah tahun lamanya. Bukan waktu yang sebentar. Butuh sifat keras kepala dan komitmen tinggi untuk mewujudkan hal ini. Mengingat para relawan sebagian besar bermukim di Makassar dan Pangkep kota.

Sejak Februari mereka sudah mengencangkan ikat pinggang dan menyingsingkan lengan baju untuk The Floating School. Nur Al Marwah Asrul, salah satu founder sekolah ini bercerita panjang lebar pada penulis tentang project berbagi ini.

Saya begitu senang masih ada orang-orang yang mau bersusah-susah demi orang lain. Semoga niat baik ini mendapat ganjaran yan setimpal dan beroleh hasil yang setimpal pula. Terakhir, kepada relawan, semoga selalu sehat dan diberi ketulusan dalam menjaga amanah.

IMG_4221

Persiapan keberangkatan di tengah kondisi laut yang tidak stabil

IMG_4222

Merah Putih yang di tengah gelombang dan angin kencang di laut lepas

IMG_4225

Wajah-wajah fasilitator

IMG_4226

Briefing di tepi dermaga sebelum berangkat

IMG_4228

Dua orang founder (Nur Al Marwah Asrul,ujung kiri dan Rahmiana Rahman ujung kanan) memberi pengarahan sebelum keberangkatan

IMG_4235

Kapal Fitra Jaya 03 menjemput anak-anak di Pulau Saugi untuk belajar di Pulau Satando

IMG_4245

Gerbang Pulau Satando

IMG_4249

Kapal Fitra Jaya: kendaraan belajar selama setengah tahun ke depan

IMG_4253

Anak-anak Pulau Santado dan Saugi menunggu kedatangan  anak-anak Pulau Sapuli

IMG_4260

The Floating School: Sail to Serve

IMG_4265

Kegiatan Kelas Kerajinan Tangan dan Prakarya

IMG_4297

Jamal , peserta Kelas Fotografi melihatkan hasil perburuan fotonya selepas berkeliling pulau

IMG_4300

Aktifivitas Kelas Menari

IMG_4301

Fasiliator memberikan demo gambar ilustrasi yang menarik

IMG_4306

Kelas Komputer yang dibagi menjadi dua, tingkatan pemula dan mahir

IMG_4285

Belimbing yang dikeringkan untuk bahan sambal peneman makanan laut

IMG_4322

Salah satu peserta Kelas Komputer

*Gambar merupakan dokumentasi pribadi penulis untuk project The Floating School