Biarkan Foto Menceritakan Dirinya Sendiri

Sehari sebelum Iqbal Lubis -kerap disapa ‘Ombal’ (Om Iqbal)– memberikan materi teknik fotografi di Kelas Menulis Kepo, ia memberi tantangan yang dikirimnya di grup Line angkatan. Nama tantangannya adalah Melihat Sudut Pandang. Jadi begini, kami ditugaskan menyiapkan enam buah kertas ukuran A4 atau kertas karton biasa. Semua kertas dilubangi bagian atasnya yang berdimensi 36 mm … More Biarkan Foto Menceritakan Dirinya Sendiri

Cerita Persona Biasa

Cerita-cerita berikut hanya penggalan kecil perjalanan panjang hidup anak manusia. Mereka bukan orang luar biasa. Hanya orang-orang biasa. Tapi dengan kisah yang -bagi sebagian orang- tidak biasa. Setidaknya, bagi para penulisnya. Mereka memberi inspirasi dan pelajaran tentang hidup yang harus dihargai. Jika disarikan, pelajaran yang bisa kami petik adalah “Tuhan telah memberi hidup, maka hiduplah! … More Cerita Persona Biasa

“Jangan Sampai Ada ‘Ue’ di Tulisan Ilmiahmu” dan 8 tulisan lainnya (Ujian Akhir Kelas Menulis Kepo)

Empat belas pekan, empat belas pertemuan telah lewat. Kelas Menulis Kepo angkatan empat berakhir pekan ini. Ditandai dengan ujian akhir bagi masing-masing peserta. Seperti kelas-kelas sebelumnya, tulisan kami akan ditelaah dan dipelajari bersama-sama. Hanya saja, tanpa masukan pihak lain. Sumpah, ‘Ujian Akhir’ bukan istilah yang saya gunakan. Kelas Kepo benar-benar menggunakan “Ujian Akhir” untuk menutup rangkaian … More “Jangan Sampai Ada ‘Ue’ di Tulisan Ilmiahmu” dan 8 tulisan lainnya (Ujian Akhir Kelas Menulis Kepo)

Jangan Anggap Remeh Diskalkulia

Nyaris setiap hari di sekolah, Dinda* bermain dengan sketch book miliknya dan pensil khusus gambar sketsa. Kira-kira dua puluh lima halaman sudah berserakan ke mana-mana. Beberapa lembar masih bersisa dengan karakter bikinan-nya sendiri. Anak ini cukup ‘komik’ di antara tiga belas siswa kelas delapan yang lain. Pembawaannya riang sepanjang hari. Tak pernah berhenti mulutnya cerocos … More Jangan Anggap Remeh Diskalkulia

Menulis, Membuat Hidupmu Lebih Hidup

Tanpa orang-orang yang telah mengbadikanan kisahnya, kita tidak akan pernah tahu bagaimana kehidupan di bumi bekerja: dulu, sekarang, dan akan datang. Secara sadar sepenuhnya, kita berhutang besar pada penulis yang menghabiskan separuh hidupnya menulis, menelaah, menyigi, dan menuangkan pikiran dan maupun pengalamannya lewat sebentuk karya. Buku yang akhirnya kita semua bisa baca. Manis ilmunya kita … More Menulis, Membuat Hidupmu Lebih Hidup

Rahmiana Rahman: Bertumbuh dengan Berbagi

”sejak awal, kami percaya kekuatan ada pada (masyarakat) lokal. Kami selalu titipkan pesan pada fasilitator untuk datang memfasilitasi, bukan menggurui” Pagi menunjukkan belum pukul tujuh hari Minggu (8/4) pekan kemarin. Tapi rumah di bilangan Perintis Kemerdekaan ini sudah sibuk sejak tadi. Empat fasilitator dan dua relawan sudah memenuhi ruang tamu. Kehadiran mereka mendesakkan barang-barang yang … More Rahmiana Rahman: Bertumbuh dengan Berbagi

Pilih Raisa atau Marx?

Ukuran jaman sekarang, pertanyaan itu tergolong bodoh. Rasa-rasanya tanpa riset mendalam dan menyeluruh se-Indonesia, hampir semua orang bakal memilih Raisa. Wajah jelitanya berada di level atas. Duh, bikin pangling. Tidak kalah penting, lantunan tembang-tembang cintanya syahdu aduhai. Lirik-liriknya siap melenakan segenap jiwa raga. Sementara (Karl) Marx? apa untungnya memilih dia? Jika foto mereka disandingkan, maka … More Pilih Raisa atau Marx?