Posts Tagged ‘Indonesia’

DSCN8777

“Jangan pernah lelah mencintai Indonesia”  Sukardi Rinakit. Ujaran dari Ketua Tim Komunikasi Publik Presiden Joko Widodo itu tampaknya menjadi begitu relevan hari-hari belakangan ini. Di tengah sanggahan kebencian dan berita tidak benar, kembali pada semangat kesatuan Indonesia adalah pilihan bijak.

Bukan kenapa-kenapa, negeri ini sudah menghabiskan terlalu banyak energi, waktu, dan pikiran meng-counter segala pemberitaan di media sosial yang begitu kontra produktif. Sementara, bata-bata Indonesia, pada saat yang sama, harus dibangun dengan energi yang positif. Energi yang lahir dari semangat yang sama, dari Sabang sampai Merauke, dari Sangihe hingga Rote. Semangat itu, bernama Pancasila.

Barangkali, dan kita sama-sama berharap sama, itulah tujuan kegiatan hari ini diselenggarakan, Jumat 16 Juni 2017. Kominfo bekerjasa dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menggelar diskusi bertajuk “Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Bermedia Sosial” di. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan Flash Blogging yang dilaksanakan pada sesi akhir.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian Kota Makassar, Ir. H. Andi Hasdullah, M.Si mengakui bahwa media sosial di Indonesia, terutama sebagian  penggunanya memiliki pola pikir yang sudah jauh dari Pancasila. Sejak November tahun 2016 energi bangsa habis ditumpahruahkan dalam agenda-agenda intoleransi dan upaya memperkeruh semangat persatuan bangsa.

Oleh karena itu, sebuah praktik cerdas sekaligus inisiasi dilakukan oleh Dinas yang beliau pimpin demi mem-booming-kan kembali Pancasila di seluruh wilayah Indonesia. Gerakan ini diberi nama Gerakan Ayo Santun dan Produktif di Media Sosial. Strategi dilakukan dengan memberikan pemahaman pada masyarakat terhadap penggunaan media sosial. Sekitar seribu relawan mulai dari pelajar, wartawan, hingga pemerintah daerah bergabung menentang hoax dan ikut aktif dalam menggaungkan literasi media. Terakhir, beliau juga menyampaikan permintaannya agar semua blogger di Makassar ikut membantu gerakan ini, khususnya membantu mendiseminasikan informasi terkait pemerintahan dan konten positif lainnya. “kami melakukan ini dengan tujuan baik yakni agar nilai Pancasila tetap eksis sepanjang masa” tuturnya mengakhiri sambutan.

Sambutan Kedua disampaikan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika) yang pada siang hari ini diwakili Direktur Kemitraaan Komunikasi Bapak Dedet Sury Nandika.

Beliau yang mengenakan kemeja putih bersih lengan pendek ini memulai dengan cerita bagaimana Juni kemarin Presiden Jokowi mencanangkan Pekan Pancasila di minggu pertama bulan Juni baru-baru ini. Kita bisa saksikan media sosial dipenuhi tagar dan kampanye Saya Indonesia Saya Pancasila. Beliau begitu berharap agar Hari Pancasila 1 Juni tidak dijadikan momentum sekali setahun atau momentum seminggu, tapi bisa langsung merangsek ke seluruh hari dalam kehidupan individu dan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setelah segala sambutan, Ustad Abdul Rahman menutup dengan sebuah doa panjang yang berisi kerisauannya akan Indonesia hari ini yang mulai terpecah belah. Dalam doanya, sebagai seorang pemeluk teguh, ia melangitkan harapan, mengetuk pintu Rahmat dari Tuhan Maha Kuasa sehingga “semoga negara ini terhindar dari bencana moral, pertikaian, dan perselisihan yang tak ada habisnya

Diskusi hari ini menempatkan tiga orang narasumber utama dan satu orang moderator. Sesi pertama dibawakan Dr. Heri Santoso, Kepala Pusat Studi Pancasila Universitas Gajah Mada. Sehari-hari beliau juga menjadi dosen Fakultas Filsafat di tempat yang sama.

Tema yang beliau sampaikan ialah “Aktualisasi Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari”. Pengajar kelahiran Jogjakarta 1 September ini memulai dengan penjelasan bagaimana kita, seharusnya, beretika dalam mencakapkan banyak hal di media sosial.

Pengantarnya cukup unik, beliau mengetes sebagaimana dekat sila Pancasila dengan budaya lokal masing-masing. Dengan gayanya yang jenaka, ia menantang peserta menyebutkan semua sila dalam Pancasila dalam Bahasa Makassar.

Aktualisasi Pancasila itu, menurut beliau, idealnya diterapkan dalam kehidupan berbudaya, bernegara, beragama. Akibat logisnya, Pancasila diturunkan dalam produk-produk hukum dari yang paling tinggi sampai mungkin aturan dalam rukun tetangga atau rukun warga. Sebab Pancasila, merujuk istilah Soekarno, adalah landasan falsafah bangsa.

Bapak bangsa memiliki visi yang maju dengan memunculkan Pancasila dalam sebuah negara demokrasi. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dimasukkan sebagai landasan paling pertama dan paling utama. Oleh karena itu, negara kita bukan negara yang menganut sekularisme, teokratis, maupun komunis.

Bagi beliau, ada tiga tantangan besar bangsa ini. Pertama, merealisasikan cita-cita bersama yakni bangsa merdeka, bersatu, berdaulat, adil, makmur. Kedua, menangani kerapuhan internal bangsa ini yang menjadi keresahan bersama yakni korupsi, kolusi, nepotisme, kekerasan, sex bebas, narkoba, dll. Sedangkan yang ketiga mungkin bisa dikatakan problem terbesar. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga sedang mengancam negeri-negeri lain, Proxy War. Antara lain, masalah terorisme, HAM, disintegrasi bangsa, khilafah, komunisme, dan banyak lagi.

Pada intinya, semua orang, khususnya para netizen, dituntut cepat tapi juga harus tepat dan menampilkan kebenaran.

Sesi diskusi dilanjutkan oleh pemaparan Prof. Dr. H. Muhammad Ghalib, M. MA. Beliau kelahiran Bantaeng, 1 Oktober 1959. Jabatan beliau sekarang ini ialah Sekretaris Umum MUI Sulawesi Selatan.

Hari ini penggunaan media digital yang tidak bertanggung jawab. Munculnya hoax, fitnah, ghibah, namimah, gosip, pemutarbalikan fakta, ujaran kebencian, permusuhan, kesimpangsiuran, informasi palsu, dan hal terlarang lainnya yang menyebabkan disharmonisasi kehidupan sosial. Olehnya, MUI mengeluarkan Fatwa MUI Tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah di Media Sosial. Tentu dasarnya dari Al-Qur’an, Hadits, dan pendapat ulama

Beliau berpesan agar kita semua selalu melakukan tabayyun, maknanya cek ricek informasi. “Juga kita harus memberikan informasi yang membangun, bukan yang memecah belah,” kata Prof. Ghalib yang sehari-hari bertugas sebagai Guru Besar UIN Makassar. Sehingga, negara ini akan menjadi negara yang maju, santun, dan berperadaban. Dari Inggris sampai Iran. Itulah simbol luasnya Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Ringkasnya, setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut: senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, tidak mendorong kekufuran dan kemaksiatan; mempererat persaudaraan, baik persaudaraan KeIslaman, persaudaraan kebangsaan, dan persaudaraan kemanusiaan; dan memperkokoh kerukunan, baik intern umat beragama, antar umat beragama, maupun antar umat beragama dengan pemerintah.

Fatwa ini menjadi panduan dalam berinteraksi. Fatwa ini memberikan penguatan dari undang-undang. Inilah lebihnya Indonesia. Karena nafasnya sama. Kepatuhan sebagai umat beragama dan umat bernegara itu bisa bersinergi. Jadi, dua-duanya dapat, kita mampu menjadi warga yang baik dan umat yang baik. Inilah sinergi yang diharapkan. Menguatkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

“sesuatu yang baik juga harus disampaikan dengan cara-cara yang baik” Al-Qur’an

Terakhir disampaikan diskusi yang begitu memikat dari Bapak Handoko. Ia merupakan bagian dari Tim Komunikasi Publik Presiden Joko Widodo yang dipimpin langsung Sinardi Rinakit.

Sesi ini menurut saya lebih powerful, datang langsung Dari Sudut Istana. Tahun ini merupakan tahun ketiga pemerintahan Presiden Jokowi. Tahun pertama, adalah pondasi. Tahun kedua, adalah percepatan. Percepatan yang menjadi konsen utama dari segi infrastruktur, kebijakan deregulasi ekonomi, dan pembangunan manusia.

Kemudian tiga capaian ini dirangkum dalam video 60 detik yang menampilkan perkembangan memuaskan di setiap lini pembangunan yang sempat terekam. Satu kata dari saya, luar biasa rekam jejak yang sudah didokumentasikan dengan baik. Kami semua, para peserta berdecak kagum dan bertepuk tangan. Bagaimana Indonesia dirawat da diruwat dengan Kerja Nyata.

Kebijakan pemerintahan itu menangani ketimpangan antar daerah. Strategi ini dilakukan dengan memperbesar dana desa, menguatkan konektivitas antar daerah, pergerakan ekonomi di daerah

“Kita adalah bangsa pemenang dengan kerja nyata. Saya ingin Indonesia merata dan maju, dari Sabang sampai Merauke. Indonesia, Maju!” Presiden Joko Widodo (www.kerjanyata.id dan www.presidenri.go.id)

Sebelum mengakhiri, ijinkan saya mengutip Ma’ruf Cahyono, Wakil Ketua MPR yang mencoba membuat ungkapan-ungkapan yang menarik bagaimana kita menjadi santun di media sosial.

Sila 1 (Ke-Tuhanan Yang Maha Esa):
Berhenti Takabur Berhenti Takabur, Mulailah Bersyukur;
Berhenti Saling Merendahkan, Mulailah Menghormati Perbedaan;
Berhenti Menyakiti, Mulailah Menghargai.

Sila 2 (Kemanusian Yang Adil dan Beradab):
Stop Marah-Marah, Mulailah Bersikap Ramah;
Berhenti Curiga, Mulailah Menyapa;
Berhenti Berseteru, Mulailah Bersatu;
Berhenti Memaki, Mulailah Memakai Hati

Sila 3 (Persatuan Indonesia):
Berhenti Memaksakan, Mulailah Berkorban;
Berhenti Mencari Perbedaan, Mulailah Bergandeng Tangan;
Berhenti Berseteru, Mulailah Bersatu

Sila 4 (Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyarawatan Perwakilan):
Berhenti Bersilat Lidah, Mulailah Bermusyawarah;
Berhenti Silang Pendapat; Mulailah Bermufakat;
Berhenti Besar Kepala, Mulailah Berlapang Dada

Sila 5 (Persatuan Indonesia):
Berhenti Menang Sendiri, Mulailah Berbagi;
Berhenti Malas, Mulailah Bekerja Keras;
Stop Demonstrasi, Mulailah Toleransi
.

#Pancasila #TemuBlogger

javas_beuaty_travel_pangandaran_floating_market-5

javasbeauty.com

If you want to seed a place with activity, put out food | William H. Whyte

Di antara pasar tradisional yang pernah saya datangi, ada satu pasar yang menyimpan kesan mendalam. Pasar Mambuni-Buni. Letaknya di Distrik Kokas Kabupaten Fakfak Papua Barat. Distrik yang sebagian besar wilayahnya daerah pesisir, pulau-pulau kecil, lereng gunung, dan hulu sungai.

Kala itu, saya menetap di Distrik Kramongmongga. Sebuah distrik di pegunungan Fakfak. Namun, distrik yang lumayan besar itu tidak lagi memiliki tempat bertransaksi representatif. Dulu ada namanya Pasar Pendek, karena cuma sepenggal bidang yang tidak terlalu luas di daerah lembahan. Tapi karena letaknya terlalu jauh, berjalan kaki menuruni gunung menuju lembah dua kilo lebih, maka Pasar Pendek tidak difungsikan lagi.

Konon katanya, Pasar Pendek menerapkan sistem barter seratus persen dalam setiap transaksi. Hal ini diaminkan oleh masyarakat di sana.

Maka, beralihlah warga distrik menuju Kampung Mambuni-Buni di mana terletak pasar dengan nama sama. Sebab pasar inilah merupakan satu-satunya tempat kegiatan tukar-menukar terdekat. Sistemnya sama, barter. Meski ada satu dua warga yang bertransaksi menggunakan uang.

Keuntungannya, untuk menuju pasar ini warga tidak perlu berjalan kaki berjam-jam. Hanya perlu naik motor atau sewa taksi (angkot) sekitar setengah jam menuruni gunung. Kalau dari Kota Fakfak (Terminal Tambaruni Distrik Fakfak Tengah), pasar ini dapat ditempuh dua jam naik angkot.

Letak pasar pas berada di bahu jalan, di bagian hulu sungai. Di mana para pedagang dan masyarakat menambatkan perahunya. Memanjang hingga 10 hingga 15 meter. Meski jalanan ini sebenarnya lintas distrik bahkan lintas kabupaten (Kabupaten Bintuni via darat), tapi begitulah keadannya. Kebutuhan warga untuk saling memenuhi satu sama lain sangatlah besar. Tak ada tempat, jalanan pun jadi.

Pedagang pasar dari Distrik Kokas jualan pakaian, kebutuhan pokok sehari-hari, sampai kue-kue. Namun yang utama hasil laut. Orang-orang kampung Distrik Kramongmongga menyediakan keladi, bayam, kangkung, bawang, pinang, sirih, tembakau negeri (baca: lokal), dan banyak lagi.

Praktis, ketika pasar ini mulai riuh, orang-orang tidak bisa melewati jalan yang sebenarnya jalan umum. Pasar ini beroperasi hanya sekali seminggu. Ya, hari Sabtu. Hari yang begitu istimewa bagi masyarakat di dua distrik.

Pasar Mambuni-Buni ini layaknya pasar dadakan atau pasar tumpah istilah yang kita kenal.

Di pasar inilah sebagian orang gunung dan laut berjumpa. Ikan ditukar dengan bayam dan sayur-sayuran,  sirih-pinang-tembakau dibarter dengan kerang-kerangan, cabe rawit dan bawang ditaksir dengan kepiting, macam-macam. Sederhana saja. Tapi itulah sejatinya kebutuhan. Bukan ketamakan.

Nah, ada satu paket barang yang wajib dibeli, baik masyarakat dari gunung maupun dari laut. 3K:  Kahom, Keenan, Kabok (bahasa suku Iha) yang artinya pinang, sirih, dan kapur untuk digunakan menyirih sehar-hari. Biasa ditempatkan dalam lopa-lopa (dompet kecil yang terbuat dari anyaman bambu hutan).  Masyarakat Fakfak pada umumnya tidak bisa lepas dari paket lengkap ini.

Bagi laki-laki dewasa, yang tidak boleh ketinggalan dalam lopa-lopa adalah tembakau negeri dan daun pandoki untuk melinting rokok. Di pasar inilah, para warga, membeli kebutuhan dapur dan pribadi mereka dalam tomang dan lopa-lopa untuk seminggu berikutnya.

Akhirnya, pasar, menjadi tempat bagi saya -dan kita juga- menyaksikan kebudayaan. Menyaksikan masyarakat berkarnaval. Saling merayakan hidup. Tidak ada tempat bagi strata dan identitas sosial.

Keunikan lain pasar ini adalah kedisiplinan. Jadi ada semacam kentongan besi yang dipukul pada pukul enam pagi menandakan pasar ini dimulai, lalu ditutup pukul sembilan pagi. Sebelum kentongan ini dimulai, warga tidak boleh memulai transaksi sama sekali. Hal ini menihilkan kesempatan mengeruk barang.

Kecenderungannya hanya ada penjual dan pembeli. Warga yang butuh dan membutuhkan. Bukan menimbun barang. Karakteristik sosial masih dipertahankan. Barangkali, alasannya, karena mereka perlu.

Sudahkah Pasar Tradisional dijadikan Prioritas?

Cerita di atas adalah nostalgia pribadi tentang nilai-nilai masyarakat. Value tertanam dalam interaksi kebudayaan dalam pasar patut dipertahankan. Sudah dua tahun berlalu, dan saya berharap semoga nilai-nilai di dalamnya masih tetap bertahan di tengah gempuran modernitas.

Ribuan pasar rakyat tersebar di seluruh Indonesia. Pasar Mambuni-Buni hanya satu dari sekian banyak itu. Barangkali dengan adanya momentum Hari Pasar Rakyat Nasional akan menjadi titik balik perubahan pola pikir masyarakat dan pemerintah terhadap pasar tradisional.

Mengapa demikian. Sekarang, mari coba kita bercermin dari situasi terkini. Indonesia mengalami kecenderungan kehilangan pasar tradisional di Indonesia secara perlahan. Survey yang dilakukan AC Nielsen pada 2013 mengonfirmasi hal tersebut. Jumlah pasar rakyat di Indonesia terus mengalami penurunan.

Data yang dirilis Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) memperlihatkan kurva penurunan yang tajam dari 13.540 menjadi 9.950 pasar tradisional dalam kurun waktu empat tahun (2007 – 2011).

Ketua IKAPPI, Abdullah Mansyuri dalam wawancara dengan Bisnis menegaskan dampak jika hal ini terus berlanjut, akan menghilangkan periuk nasi para pedagang eceran tradisional kecil. Asumsinya, setiap pedagang pasar tradisional menghidupi keluarga inti mereka berjumlah 5 orang (suami, istri, dan 3 orang anak). Maka kira-kira ada sekitar 62.5 juta jiwa akan kehilangan mata pencaharian.

Kondisi ini tentu saja memprihatinkan sebab selain banyak masyarakat yang bergantung pada pasar rakyat murah dan terjangkau, para pedagang kehilangan lahan mencari sesuap nasi.

Sejatinya tokoh-tokoh pemerintahan punya kapasitas lebih dalam mengimbau masyarakat. Irman Gusman dan DPD RI pada awal 2014 mencanangkan Gerakan Nasional Belanja Pasar Tradisional yang dimulai di Solo. Inisiatif ini ada karena kegelisahan yang besar dengan keberadaan pasar ritel modern, yang tidak hanya tumbuh di perkotaan tapi juga di pedesaan kecil. Sedikit demi sedikit menggeser lahan ekonomi para pedagang pasar rakyat.

Sebagai Penyokong Ekonomi Kerakyatan

Industri mikro dalam pasar tradisional merupakan elemen vital perencanaan ekonomi dan pembangunan bagi banyak kota di seluruh dunia. Cohen (1986) menunjukkan bahwa nilai penjualan tahunan pasar tradisonal seluruh wilayah Bogor mencapai 67 juta dollar.

Mempertahankan pasar tradisional menjadi krusial sebab sektor informal pasar rakyat tumbuh sangat cepat daripada pertumbuhan formal sektor di daerah urban pada banyak negara.

Anggapan paling logis menurut Farbman (1980), alasannya adalah pertambahan penduduk kota yang signifikan (termasuk perpindahan penduduk desa-kota) dan bertumbuhnya lapangan pekerjaan informal akibat pembangunan industri skala besar. Ini mengakibatkan kebutuhan masyarakat akan kebutuhan mendasar (makan-minum) pada pasar rakyat mewujud semakin besar.

Pada umumnya, pasar tradisional berlokasi di tempat yang kecil dengan kios-kios yang juga berukuran kecil. Pedagang pun hanya membutuhkan kemampuan dasar, fasilitas umum standar, dan sumber daya yang kecil. Meski demikian, di balik semua itu, pasar rakyat menyimpan potensi pendapatan yang besar dan lapangan pekerjaan yang terbuka lebar bagi masyarakat kecil.

Penelitian Chapman (1984) di Bogor menunjukkan, dengan penduduk berjumlah 250 ribu, ada tersedia 18 ribu kios-kios tradisional, yang artinya perbandingan setiap 14 jiwa berkumpul, ada 1 pasar yang terbentuk di komunitas tersebut.

Kecenderungan yang sama diperlihatkan di Amerika Tengah, di mana organisasi internasional tenaga kerja (ILO) menemukan serapan tenaga kerja aktif di kota-kota besar memiliki angka 29 persen pada pasar-pasar tradisional.

Para pedagang pada umumnya tertarik dengan pekerjaan ini karena kemungkinan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi itu jauh lebih besar. Pada lingkup Asia Tenggara, menurut satu perhitungan, rata-rata sebuah kios memiliki kesempatan memperoleh tiga hingga sepuluh kali lipat penghasilan minimum pada para pekerja terlatih di formal sektor.

Sebagai Ruang Konektivitas Sosial

Sophie Watson (2006), profesor Sosiologi di Inggris meneliti tentang dampak sosial dari eksistensi pasar-pasar tradisional. Riset yang ia lakukan di sana cukup sukses dalam menghasilkan perubahan cara pandang orang-orang tentang bagaimana peran pasar rakyat yang sebenarnya.

Ternyata, pasar tradisional menjadi ruang-ruang kunci bagi intekrasi sosial dan terbangun dan terjaganya harmoni dalam hubungan antarkomunitas di masyarakat.

Dengan peran nyata tersebut, sekarang, oleh pemerintah lokal dan nasional Inggris, pasar tradisional tidak lagi dianggap sebelah mata dan selalu menjadi bagian penting dalam perencanaan ekonomi dan pembanguna industri pasar skala makro.

Selain itu,  Sophie juga menemukan pasar rakyat juga bersalin rupa menjadi ruang vital bagi pertemuan berbagai gerakan sosial (spirit komunitas), sosial inklusi, termasuk membangun kebiasaan makan sehat, hingga mendukung kesempatan warga membangun bisnis rintisan (start-up).

Segendang sepenarian, di negara bagian Amerika Serikat, Atlanta, Georgia, pasar tradisional secara historis telah sejak lama menjadi pusat perkumpulan warga. Kemudian seiring berjalannya waktu, wadah komunal tersebut juga berkontribusi secara dalam menguatkan identitas lokal, penghubung beragam komunitas, dan sebagai katalisator pengembangan lingkungan.

Di Atlanta, orang-orang tidak perlu jauh-jauh datang ke toko-toko dan pasar modern besar, pasar rakyat tersedia banyak di sekita pemukiman-pemukiman warga. Tersedia berbagai macam pasar-pasar rakyat yang mempertemukan banyak orang. Ratusan orang dari seluruh kota dan barangkali seluruh dunia, berkumpul di sini mencoba sajian makanan lokal.

Tidak hanya itu, pasar-pasar di Atlanta memberikan kesempatan para seniman lokal menyajikan karya dan menjualnya, pedagang-pedagang kecil menjual makanan dari jendela-jendela mereka yang di-branding sendiri.

Semua aktivitas tersebut, baik sosial maupun ekonomis menghasilkan stimulus ekonomi dan perumahan meningkat secara secara tajam di daerah sekitar pasar rakyat Atlanta. Hal ini yang membuat penduduk Atlanta menjadi bangga dengan kotanya.

Alangkah baiknya, di Indonesia, pemerintah lebih serius mengelola pasar-pasar tradisional, bukan dengan menggusur, tapi mempertahankan nilai-nilai lokal dalam setiap pasar. Mengapa? karena ratusan juta masyarakat Indonesia bergantung hidup pada ketersediaan nutrisi di pasar-pasar rakyat.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah membantu pemerintah lokal bersama komunitas mengenali potensi pasar tradisional dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, dan potensi sosial ekonomi lainnya. Melakukan penjagaan dan penelitian untuk meningkatkan standar makanan tradisional di pasar-pasar.

Semoga pasar rakyat bisa semakin lebih baik ke depan. Tidak kalah dengan atmosfir modern pasar-pasar modern lainnya.

Bacaan:

  1. Street Food in Developing Countries: Lessons From Asia
  2. Changing Perceptions of Street Markets
  3. The Role Modern and Traditional Markets Play in Cities and Food Culture

Hidup adalah momen dari syukur ke syukur | Goenawan Mohamad

Kartu pendudukku, Indonesia.Alasannya ayah dan ibuku, juga Indonesia. Kalau dirunut hingga beberapa lapis generasi, semuanya masih Indonesia.Negara ini, bagaimanapun, tanah kelahiranku. Itu tak bisa berubah. Meski, pilihan menjadi warga negara Indonesia sampai akhir adalah kehendak bebas dari orang perorang. Hak individu masing-masing.

Tapi akankah kita menjadi warga negara Indonesia sampai mati?Akankah pula kitainginmempertahankan kewarganegaraan itu? Hal ini tentu menyisakan waktu untuk terungkap. Waktu menyimpan misteri bagi tiap insan bernyawa. Setiap manusia punya jalan hidup berlainan.

Kira-kira kalau kita boleh mengajukan tanya, “Apa arti sebuah kewarganegaraan bagi Anda?”Selembar kertas agak tebal dan eksklusif yang diberi cap, lalu kemudian benda itu kita namakan Paspor. Atau setumpuk identitas lainnya yang sama sekali tidak memberikan kebanggaan. Entahlah.

Bisa jadi, laiknya para pencari suaka itu. Seorang Prancis di abad 12 mengatakan dengan masam, “orang yang mendapatkan negerinya menyenangkan adalah ia yang hanya pemula yang masih mentah. Orang yang mendapatkan setiap negeri merupakan negerinya, ia sudah jadi orang yang kuat.” Negeri, bagi mereka, hanya labuhan tempat lima kali lima meter yang aman dari gangguan dan teror. Ia butuh cap untuk bisa tinggal di negara X, Y, atau Z.

Oleh karenanya, barangkali, bila sudah tidak betah, jugakita, dan bahkan siapa saja, bisa angkat kaki dari status kewarganegaraan. Pindah negara.Mengikuti ikatan pernikahan, atau demi memudahkan urusan-urusan. Negara itu, mungkin jelas lebih makmur dan hampir tidak ada yang perlu diperjuangkan lagi di sana.

***

Meski begitu, inilah negara tempatku dilahirkan. ‘Negara Kesatuan Republik Indonesia’. Semua institusi yang ada,menyebutnya NKRI. Plus dengan kewajiban menyebarkan nilai-nilai di dalamnya.

Terlebih POLRI sebagai institusi sipil, dan TNI sebagai institusi militerdengan kewenangan menjaga stabilitas keamanan dari dalam dan luar.“Demi menjaga keutuhan NKRI.”Begitu yang sering kudengarkan.Kadang didengungkan dengan mempertontonkan urat syaraf.

Unsur ‘Kesatuan’-nya begitu sakral.Tidak boleh terpecah-pecah. Jangan sampai ada yang mau merdeka sendiri. Kalau perlu, semua tindakan teror yang berpotensi mengancam keseimbangannya, diberangus.

‘Kesatuan’ ini dicirikan denganberbagai perlambang dan simbol.NKRI dipatok dengan sebuah keniscayaan,“NKRI harga mati.” Slogan nasionalisme yang agak mengikuti kehendak inferiorisme dan paranoisme.

Redaksionalnya dibuat mirip-mirip “Merdeka atau Mati.” Sebuah pekikperjuangan melawan kolonialisme di tahun-tahun lampau.Tapi kali ini, coba tebak, siapa yang berjuang? dan apa bentuk ‘Kesatuan’ yang diperjuangkan?Padahalnegeri ini bukan melulu soal keamanan. Pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, teknologi, energi, sumber daya manusia, dan semua turunannya.

***

Sayangnya pula, negaraku NKRI, yang dibalut dengan harga mati itu, tidak selalu mati-matian membela rakyat banyak. NegarakuNKRI yang minta dipenuhi itu, sering alpa melakukan pemenuhan hak-hak dasar warga negara. NegarakuNKRI yang beroleh pertumbuhan ekonomi setara negara maju itu, tidak tahu kemana penghujung angkanya.

Adakah langkah yang jelas bagaimana ‘Kesatuan’ Indonesia dengan jelas ditata ke depannya?Aku membayangkan, ‘Kesatuan’, karena kita bisa dengan mudah mengakses tempat-tempat di tanah Indonesia. Aku membayangkan,‘Kesatuan’, karena kita bisa mengenyam sistem dan kualitas pendidikan yang sama di mana-mana di Indonesia. Kemana ‘kesatuan’ itu?

***

Namun, menjadi warga negara, berarti menjadi warga yang belajar berkonstitusi. Semua ikut aturan yang sama bila berada dalam negara atau wilayah yang sama.Negaraku, memiliki empat hal: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

Majelis perwakilan negaraku senang sekali memakai istilah ‘Empat Pilar’. Sosialisasi NKRI-Bhinneka Tunggal Ika-Pancasila-UUD 1945 gencar dilakukan. Kepada siswa-siswa dan mahasiswa-mahasiswa itu.

Tapi, sekali lagi, ini juga cerita tentang negeriku yang memiliki persoalan paradoksal dengan ke-Empat Pilar itu.Barangkali, disinilah tampil kekuasaan. Kekuasaan yang diselewengkan. Kekuasaan yang disalahgunakan. Negara ini ditinggali dan diurus oleh pemimpin-pemimpin itu dengan rasa tanggung jawab yang tidak sepenuhnya.

Negaraku, punya anggota legislatif yang sering tidak masuk ruang sidang. Baru-baru ini negaraku bikin sejarah baru,pimpinan Mahkamah Konstitusi-nya ketangkap icip-icipmariyuana.Milan Kundera mungkin benar, bahwa, perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.

Negaraku mungkin punya banyak masalah. Tapi ketika identitas dipertanyakan, aku masih akan menjawab dengan rasa yakin, “aku Indonesia.” Diantara orang-orang yang bukan Indonesia, itu menjadi penting. Mereka harus tahu, bahwa orang Indonesia masih memiliki rasa bangga akan negerinya. Diam-diam, malu-malu, atau terang-terangan.

Ikatan batin yang bertaut dengan memori masa kecil yang terserak, ingatan tentang orang-orang di dalamnya, dan apapun itu yang memaksa identitas tidak bisa diabaikan sama sekali. Katakanlah itu seperti nyanyi Ibu Sud, “tanah airku,,,,tanah airku,,,tidak kulupakan.

***

Hari ini, 17 Agustus 2014, NKRI ku berulang tahun. Aku mengucap selamat untuk itu. Aku mendengar peringatan detik-detik menegangkan di Pegangsaan 56 itu lewat radio tenaga baterei. Padasebuah kampung kecil di sibakan pegunungan Fakfak, yang gelombangnya sering berlarian.

Selamat menikmati napak tilas 69 tahun perjalanan kemerdekaan bangsa kita ini. Aku belum lagi bisa melakukan apa-apa. Namun kita wajib belajar dari sejarah bangsa yang belum lama. Belum ada 100 tahun. Semoga akumulasi kesyukuran semua warga negara, menjadi bongkahan energi yang terus menggandakan semangat untuk senantiasa berbuat.

Barangkali seperti beberapapetugas sosialisasi yang menyampaikan butir-butir “Empat Pilar” Indonesia dengan hati. Atau seperti Munif Chatib yang terus berjuang mengenalkan “Sekolahnya Manusia” untuk Indonesia yang lebih humanis. Mungkin kita tak sepenuhnya butuh alasan untuk berbuat. Sebutlah itu tulus…