Posts Tagged ‘Jane Hawking’

Quotefancy-120123-3840x2160

quotefancy.com

Bahaya itu, begitu nyata. Tapi menjadi takut, itu pilihan.

Siapa sih yang tidak tidak pernah cemas, khawatir, dan takut? Hampir semua kita menyimpan beragam kekhawatiran di benak masing-masing. Keresahan tersebut juga dipastikan senantiasa ada seiring bergulirnya roda kehidupan. Tapi waktu selalu berjalan tanpa pernah tahu kita resah atau senang.

Jenis kecemasan manusia juga berbeda-beda tergantung peran yang sedang dijalankan. Ketakutan orang tua jauh berbeda dengan ketakutan yang dirasakan anak-anak. Ketakutan remaja beda dengan dengan ketakutan kakek-nenek. Kalaupun jenis kecemasan itu ada yang sama, bisa jadi kadarnya juga berbeda. Ketakutan saya terhadap kecoa masih mending daripada seorang teman yang phobia kecoa. Kecemasannya jauh lebih tinggi dibandingkan saya yang sekedar suka saja. Berikut ini kekhawatiran terbesar yang saya rasakan.

Sakit fisik permanen

Ada orang-orang tertentu yang meski fisiknya dikalahkan penyakit, tapi batinnya dan suara jiwanya kukuh sebagaimana masih sehat. Sebagai contoh, professor Morrie Schwartz dan Stpehen Hawking. Karya dan pemikiran mereka lahir pada masa-masa kritis menghadapi ancaman maut yang tiba-tiba.

Saya kemudian tidak bisa membayangkan bila akan datang suatu penyakit atau sebab yang melumpuhkan fisik dan jiwa. Menimpa diri saya sendiri, keluarga, atau kerabat dekat. Ketika membaca sejumlah biografi, menderita penyakit permanen seperti menahan beban tidak terperikan. Hidup yang gemuruh tiba-tiba meredup, menahan penyakit hingga ajal menjemput. Belum lagi orang-orang terdekat akan menanggung akibatnya. Mereka bakal jadi repot seumur hidupnya.

Kecemasan ini muncul ketika Jane menceritakan semua pengalamannya dalam memoar ‘Travelling to Infinity’. Ia mengisahkan bagaimana hampir 24 jam hidupnya setiap hari digunakan mengurus dan merawat Stephen Hawking, suaminya. Semua itu dilakukannya karena kasih sayangnya begitu besar, utamanya setelah mereka memiliki tiga orang anak yang juga butuh diperlakukan sebagaimana mestinya. Oleh karena massifnya pengalaman itu, Jane tidak rela membiarkan penyakit lain dan emosi negatif, masuk ke dalam keluarganya. “jika di dalam rumah sudah bersarang penyakit jiwa, janganlah membiarkan penyakit hati juga ikut masuk.”

Nah, teman-teman, berdoalah, semoga kita semua –dengan perkenaan Nya- diberi kesehatan, keberkahan, dan umur panjang. Amiin.

Malaria kambuh

Sempat merasakan hidup setahun bersama masyarakat di Papua Barat, saya pulang dengan rekor dihajar malaria sampai tiga kali. Dua kali terserang malaria tropica. Dua bulan sebelum masa tugas berakhir, parasitnya lebih ganas lagi dan akhirnya dokter mendiagnosa malaria tertiana.

Oke, saya berhutang banyak sama dokter (lupa namanya) yang bertugas di rumah sakit Katolik di daerah Pasar Seberang Fakfak . Orangnya masih muda, lulusan universitas di Semarang. Juga sama Suster Vitaline yang pernah bekerja di rumah sakit di Jogja. Pernah saya datang periksa waktu maghrib. Rumah sakit sudah tutup. Tidak ada pelayanan lagi sejak siang. Lalu barangkali karena merasa kami sama-sama orang rantau dan tidak punya keluarga, akhirnya Suster memanggil dokter di rumahnya yang letaknya di belakang gereja. Kemudian Alhamdulillah akhirnya tertangani.

Setelah malaria pertama muncul, kedua dan ketiga di situ lagi. Keperluan ambil obat atau periksa darah. Untuk memastikan bibit malaria masih ada atau tidak, tiap seminggu atau dua minggu, harus periksa darah lagi. Juga demi memastikan obat terus jalan atau sudah waktunya berhenti.

Suatu kali, sang dokter pernah menasehati agar rajin minum obat. “malaria tertiana (yang ganas) itu parasitnya menyerang di hati/hepar. Jadi, obatnya harus dua minggu dikonsumsi tanpa henti. Obat itu yang akan mem-push parasit-parasit hingga benar-benar hilang dari situ. Kalau satu kali saja kamu berhenti minum obat, maka parasitnya bakal tidak hilang-hilang (dan tetap hidup dalam kondisi dorman/tidur). Nah, bila suatu saat daya tahan tubuh kamu turun, parasit itu akan aktif lagi. Lalu, malaria akan kambuh.” Begitulah kira-kira titahnya.

Oke, belum lama ini, ketakutan itu muncul lagi. Saya coba konsultasikan ke seorang teman di rumah sakit. S (saya), T (teman).

S: Gejala saya bla..bla…bla… sudah berlangsung tiga hari.

T: Apakah ada mimisan? apakah demamnya naik turun? sebelum demam apakah muncul rasa dingin? Susah bab?

S: bla…bla…bla..(saya jawab sesuai kondisinya)

T: oh, mungkin malaria muncul lagi. Coba datang ke dokter ini di jalan ini atau di jalan itu. Mereka ahli penyakit infeksi tropis. Jangan tunda-tunda segera periksa darah pada saat demam/menggigilnya muncul (aturannya persis sama waktu masih di Papua)

S: oh, okey. Makasih (sambil dag dig dug tak keruan). Awalnya saya merasa gejala ini muncul karena kebanyakan minum sirop. Tapi jawaban tadi benar-benar wow.

Hari keempat dan kelima Alhamdulillah sudah baikan tanpa obat sama sekali. Sejujurnya saya takut periksa darah. Kalau memang benar-benar malaria lagi, rasanya tidak sanggup harus menenggak obat malaria super pahit itu. Warnanya hijau gelap ada bintik-bintik hitamnya. Terus diminumnya tiga butir sekali waktu. Kombinasi tiga serangkai tadi membuat mulut rasanya begitu pahit meski setelahnya diimbangi sebutir permen. Pahitnya belum juga hilang-hilang. Oke, itu bukan bagian terburuknya. Penyakitnya yang meyerang sel darah itu akan membuat kepala pusing selama satu minggu.

Pernah akhir tahun lalu juga merasakan gejala yang sama. Waktu itu, periksa di puskesmas. Saya berharapnya sekedar bawa pulang antibiotik dan lain-lain. Tapi, waktu itu perawat merasa saya sudah gawat. Sebaiknya diopname saja. Jawabannya yang tidak terprediksi. Namun akhirnya saya pulih dengan sendirinya setelah total istirahat lima hari.

Apa itu berarti saya jadi cukup kebal karena bisa pulih sendiri? Hehe. entahlah. Tapi, terus terang, muncul gejala itu saja sudah buat merinding mengingat malaria, periksa darah, dan minum obat.

Berhenti belajar

Saya takut bila suatu ketika, saya berada dalam situasi terlalu nyaman yang membuat saya berhenti belajar. Berhenti membaca, berhenti saling berdiskusi, berhenti saling berbagi informasi dan praktik-praktik baik, berhenti menulis, berhenti sekolah lebih tinggi, misalnya.

Biasanya, orang-orang yang berada dalam kondisi seperti itu, justru memiliki kecenderungan mendeterminasi yang besar. Bila diskusi, sedikit sekali ia mau mendengarkan orang lain. Mereka hanya memiliki intensi menyampaikan hal yang menurutnya orang lain pasti belum tahu. Menyanggah orang-orang dengan ‘ah, teori’ dan semacamnya. Mereka kontra dengan perubahan-perubahan dan budaya belajar. Zen R.S mengistilahkan sikap ‘tong kosong nyaring bunyi’ dengan anti-intelektualisme, sikap kontra terhadap intelektualisme.

Belajar di sini tidak saya artikan sebagai proses formal belaka, tapi belajar tanpa jangka waktu. Menjadi pembelajar seumur hidup. Belajar dari siapa saja, sumber dari mana saja, dan di manapun berada. Cuma kesombongan yang membuat orang-orang berhenti belajar, lalu merendahkan orang lain.

Apapun yang bakal ditekuni, inginnya posisi itu memberikan saya kesempatan belajar lagi, lagi, dan lagi. Saya membayangkan hal itu sungguh banyak manfaatnya.  Minat kita jadi lebih luas. Kita jadi bisa mengembangkan pengetahuan di bidang lain, sama atau bahkan lebih menarik dari yang kita tekuni selama ini. Sudut pandang jadi lebih lebar dan fleksibel. Sebab kita bertemu dan bekerja sama dengan banyak orang. Mempertimbangkan semua pemikiran, melibatkan mereka semua, dan mengikutkan mereka dalam setiap pengambilan keputusan. Belajar dan bertumbuh bersama banyak orang, bukan one man show. Di samping itu, manfaat lainnya kita bakal menjadi lebih kritis. Persoalan dipikir matang-matang, dari bermacam hasil pemikiran, lalu diputuskan secara bijaksana.

Nah, inilah ketakutan terbesar yang saya miliki. Kalau kamu?

Eits, daripada memusingkan segala ketakutan itu, mari hadapi saja hidup ke depannya dengan lebih berani. Seperti kata Will Smith di atas.

#15HariMenulis