Posts Tagged ‘Kelas Menulis Kepo’

dyscalculia-1024x449 (1)

Nyaris setiap hari di sekolah, Dinda* bermain dengan sketch book miliknya dan pensil khusus gambar sketsa. Kira-kira dua puluh lima halaman sudah berserakan ke mana-mana. Beberapa lembar masih bersisa dengan karakter bikinan-nya sendiri.

Anak ini cukup ‘komik’ di antara tiga belas siswa kelas delapan yang lain. Pembawaannya riang sepanjang hari. Tak pernah berhenti mulutnya cerocos apapun. Termasuk saling membalas serapah, berdebat sengit dengan teman laki-laki, dan bergosip dengan sesamanya siswa perempuan.

Tubuhnya besar menjulang. Kacamatanya membantu mengurangi minus yang ia derita. Sekaligus tempat berlindung yang sempurna bagi matanya yang bulat hitam dan relatif besar dari teman-temannya. Hal yang menurut saya istimewa, ia bisa tetap enjoy menggambar sambil ngobrol atau lempar makian dengan teman-teman di depan dan sebelah kiri-kananya.

Meski begitu, ia akan terlihat lesu dan tidak fokus ketika mata pelajaran matematika dimulai.  Ketika ia mulai stress, ia mulai sedih sendiri. Ketika tiap jeda, saya bertanya apakah mereka paham atau tidak, hanya Dinda memasang wajah sedih.

“Nda mengerti, pak” jawabnya sambil menjatuhkan wajahnya ke bawah dan menggelengkan kepalanya. Ketika saya ulangi lagi setelah penjelasan yang lebih sederhana, saya kembali bertanya.

“belum mengerti” jawabnya dengan suara disedihkan. Ia ulangi lagi jawaban itu hingga tiga kali tanpa saya tanya. Seakan sebuah pengakuan bahwa ia memang tidak bisa. Saya tak bisa berbuat apa-apa.

Setiap kali itu pula, berulang kali Hakima yang bangkunya berada tepat di depannya mencoba menjelaskan. Anak ini memang jadi partner in crime Dinda. Tapi selalu siap memberikan yang terbaik jika Dinda (kadang hanya Dinda sendiri) tidak mengerti pelajaran yang disajikan, utamanya Matematika.

Dalam satu pertemuan di kelas, saya mendampingi mereka mengerjakan matematika dalam bentuk project. Sudah tiga puluh menit anak itu duduk menekuri jangka, busur derajat, kertas karton, dan spidol berwarna. Ia duduk di lantai kelas bersama teman kelompoknya yang lain.

Meski begitu, ia juga tidak tahu bagaimana dan akan diapakan semua alat-alat itu. Ia cuma memegang peralatan tersebut dan siap membantu jika dibutuhkan. Pada akhirnya, ia hanya bertugas membuat garis lurus, dan menebalkan garis-garis menggunakan spidol pada koordinat rotasi yang telah ditentukan. Pekerjaan utamanya telah selesai, Dinda, nama anak ini, hanya kebagian menyempurnakan apa yang sudah diselesaikan.

Menyaksikan Dinda yang nampak mulai serius mengerjakan project matematika di kelas, teman sekelompok menanggapi dengan canda, “nda seperti Dinda yang kami kenal. Dinda itu harusnya berkutat dengan pensil dan buku gambar.” Selebihnya mengiyakan sambil senyum dan menggoda Dinda. Di kepalanya, masih berputar-putar mengenai konsep derajat negatif-positif dan arahnya ke mana jika clockwise atau anti-clocwise.

Ia tidak bisa mengerti konsep derajat dan arah dengan baik dan sempurna. Jika teman-temannya mengerti dalam dua hingga tiga kali ilustrasi. Ia butuh waktu lebih banyak. Jika penjelasan saya yang berulang-ulang tidak juga bisa dipahami, maka ia akan pasrah tetap gagal memahami.

Sebulan ini, saya kebetulan dipercaya menangani persiapan international test yang akan diadakan di sekolah. Test ini dibuat sedemikian rupa menguji kemampuan matematis anak, utamanya –sekitar 85 persen- konsep bilangan. Bahkan termasuk pelajaran ketika mereka kelas enam di bangku SD, mengurutkan bilangan pecahan terkecil hingga terbesar. Masalah inipun, Dinda kebingungan. Raut wajahnya yang dibuat ‘disedih-sedihkan’ –bukan Dinda namanya kalau tidak bisa selalu nampak gembira di hadapan teman-temannya- menatap saya. Ditatap seperti itu, saya jadi merasa kasihan.

Jelas ia khawatir nilainya jeblok. Bahkan, pada sesi terakhir, soal akan didikte dan peserta menjawab soal dalam waktu sepuluh hingga dua puluh detik. Tertulis dengan terang saja, Dinda kebingungan, apalagi jika dibacakan. Ujian ini memang terstandar dari sono-nya. Ketidakmampuan anak sudah jelas akan terbaca di mana letaknya. Sebulan menangani kelas delapan, saya menduga Dinda terkena diskalkulia.

“iya, Dinda itu cukup bermasalah dengan mata pelajaran hitung-hitungan, matematika dan termasuk sains fisika.” Erwin, guru pendamping khusus di kelas menjelaskan kondisi Dinda pada saya.

“tapi, cuma itu saja. Yang lain (pelajaran non-matematik) ia bisa mengerti dengan baik.” Ia menambahkan, barangkali saja anak ini memang malas untuk berurusan dengan matematika. Mengambil jalur aman dengan tidak pernah berusaha sebaik mungkin untuk mencapai skor KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum).

Tetap pada dugaan awal, saya mengira Dinda diskalkulia. Dengan bukti bahwa ia mengalami directional confusion (kebingungan arah) dan kebingungan konsep bilangan serta operasi-operasi dasar matematis. Ringkasnya, diskalkulia adalah kesulitan belajar matematika atau mengerjakan soal hitungan.

Gejala-gejala Diskalkulia

Defenisi cukup komprehensif mengenai diskalkulia dijelaskan Department for Education and Skills (2001) di Inggris bahwa diskalkulia merupakan kondisi yang mempengaruhi kemampuan siswa memeroleh keterampilan matematis. Murid dengan diskalkulia kemungkinan memiliki kesulitan memahami konsep-konsep bilangan, kekurangan intuisi terhadap bilangan, dan mengalami masalah mempelajari angka-angka dan prosedur-prosedur. Meski anak dengan diskalkulia menjawab dengan benar atau menggunakan metode yang tepat dalam mengerjakan soal, mereka melakukannya secara mekanis tanpa disertai kepercayaan diri.

Padahal tanpa pengetahuan matematis yang memadai, anak dikhawatirkan tidak cukup tangkas dan tanggap dalam sejumlah aktivitas keseharian. Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya anak-anak jelas akan membutuhkan kemampuan mengelola uang, mengukur satuan berat dan waktu, dan persen. Ini mensyaratkan siswa memiliki keterampilan estimasi dan kecakapan berhitung yang terdapat dalam pecahan, pengukuran, dan aljabar sederhana.

Meski konteks terhadap pelajaran tersebut diturunkan ke dalam masalah yang sangat nyata di sekelilingnya, siswa harus mengerti konsep abstrak agar bisa memahami langkah-langkah dan prosedur logis dari matematika. Sesegera mungkin, pendidik pasti akan mengubah itu ke dalam bentuk simbol. Plus dengan banyak peraturan dan prosedur yang harus dipenuhi. Kemampuan transfer nyata-abstrak inilah yang cukup lambat terjadi pada anak dengan diskalkulia.

Ketika bidang ini pertama kali diteliti, kala itu tahun 80-an. Joffe menyebutkan 61 persen anak-anak pengidap diseleksia (lemah bahasa) juga lemah dalam matematika. Minimnya kesadaran anak terhadap bahasa menjadikan mereka juga lebih kebingungan terhadap bahasa simbol matematika. Waktu itu, banyak masih diperdebatkan mengenai keilmiahan studi yang dilakukannya. Tapi, semua orang berasumsi bahwa siswa yang lain, 39 persen sisanya, anak diseleksia bebas diskalkulia.

Penelitian Kosc (1986) menyebutkan diskalkulia sebagai gangguan fungsi otak (brain abnormalities). Kekacauan struktur terhadap kemampuan matematis yang berasal dari genetis atau bawaan bawaaan malfungsi pada salah satu bagian otak, tanpa disertai gangguan fungsi mental secara umum.

Setelah 20 tahun berlalu, beberapa penelitian poluler yang menyebutkan bahwa tidak hanya anak dengan diseleksia yang bisa terkena dampak diskalkulia. Tapi murid normal sekalipun bisa mengamali diskalkulia. Ini yang membuat saya menduga Dinda mengalami indikasi diskalkulia.

Kenyataannya masih sangat sedikit yang kita ketahui mengenai diskalkulia, penyebabnya, maupun metode penanganannya. Anak diskalkulia murni (tanpa diseleksia) yang memiliki ‘kelemahan’ terhadap bilangan, akan memiiki kognitif dan kemampuan bahasa setara dengan anak normal, dan bahkan terhitung istimewa dalam pelajaran non-matematis.

Jangan Salah Langkah

Matematika punya sifat naturalnya sendiri. Pelajaran ini dibangun dalam struktur otak anak berdasarkan berdasarkan apa yang sudah ia ketahui sebelumnya. Matematika secara logis membutuhkan rentetan pengetahuan yang tidak boleh melangkahi satu sama lain. Misalnya, siswa harus menguasai sistem persamaan linear sebelum melangkah pada materi fungsi linear. Tidak bisa tidak. Oleh karenanya, membimbing anak-anak sampai memenuhi persyaratan dalam satu materi itu sungguh penting. Pendampingan sebaiknya dilakukan hingga tuntas dengan mempertimbangkan level pencapaian siswa.

Bilangan dan aritematika merupakan pokok materi awal bagi hampir semua siswa ketika mempelajari matematika. Keduanya juga merupakan konsep paling sering yang bisa jadi akan ditemui manusia sepanjang hidupnya. Jika dalam tahap ini seorang murid gagal, maka kondisi ini akan menentukan apa yang selanjutnya terjadi. Tahap berikutnya menjadi timpang, secara akademik dan emosional.

Di sekolah terdapat Ruang Khatulistiwa (bukan nama sesungguhnya) di mana siswa special need (berkebutuhan khusus) diberikan perlakuan khusus. Di ruangan ini terdapat dua guru pendamping khusus yang ditugaskan melakukan treatment sesuai kondisi murid. Utamanya terkait pembelajaran dengan berbagai metode yang memudahkan anak apabila mereka kesulitan di kelas.

Guru Pendamping Khusus (GPK) melakukan observasi di kela setiap hari sejak pagi hingga lepas jam pelajaran terakhir. Sembari mencatat progress siswa, ia merancang treatment bagi siswa yang membutuhkan. Bedanya, bila setiap guru mata pelajaran merancang kegiatan belajar per kelas, guru pendamping merancang program belajar individu.

Tapi, sekali lagi, Dinda adalah anak normal dengan kemungkinan diskalkulia. Ia bukannya tidak bisa berubah. saya, guru-guru yang lain, dan orang tuanya yang harus memberikan perhatian lebih. Kami-lah yang harus berubah pada Dinda. Utamanya dalam mengajarkan dirinya untuk bisa ‘jadi lebih hidup dan bergairah’ dalam matematika.

Memang ada satu cara membuat lompatan besar seorang siswa dalam mempelajari matematika. Cara ini akan memberikan siswa sejumlah banyak soal-soal yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Sehingga lama-kelamaan siswa akan semahir mahir memainkan bentuk-bentuk penyelesaian dalam matematika.

Namun, metode ini begitu sulit diterapkan bagi anak dengan diskalkulia, terutama bawaan diseleksia. Mengerjakan begitu banyak soal tanpa disertai review, revisi, dan catatan kemajuan siswa sama saja melakukan upaya yang sia-sia. Kemampuan bahasa yang lemah (utamanya bahasa simbol matematika) membuat mereka jauh lebih bingung dari yang seharusnya. Mencari untung, malah buntung.

Jalan paling tepat, ialah menyeimbangkan antara ‘penguasaan materi’ dan ‘perkembangan.’ Struktur program pengajaran haruslah beradaptasi dengan catatan-catatan perkembangan tersebut.

Intervensi Anak dengan Diskalkulia

Sebagaimana lazimnya proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) yang sukses, seorang pendidik harus mengetahui dua hal. Pertama, pengetahuan tentang kondisi siswa, dan pengetahuan tentang mata pelajaran yang diampu. Boleh-boleh saja seorang guru memiliki kecakapan yang istimewa dalam bidang matematika. Namun belum tentu ia akan mengajar efektif jika ia luput mengetahui perkembangan belajar masing-masing anak.

Sebelumnya, saya sudah sebutkan beberapa gejala dan tanda diskalkulia, atau umumnya kesulitan belajar matematika. Kebingungan arah, kebingungan bahasa matematis, dan kebingunan konsep bilangan. Beberapa tanda lain seseorang mengalami diskalkulia, ialah memori jangka pendek, kecepatan mengerjakan soal, kecemasan serta stress yang berlebihan, dan kebingungan spasial.

Khusus yang terkahir disebutkan, ini berhubungan dengan kesulitan-kesulitan visual. Kecerdasan ini dibutuhkan untuk mengerjakan soal-soal geometri, menentukan nilai tempat, dan khususnya aljabar yang banyak menggunakan diskriminasi visual. Misalnya, anak tidak bisa membedakan dengan tepat visual “x berpangkat 2” dan “x kali 2”.

Meski begitu, bukan berarti tidak ada hal bisa kita lakukan untuk mengatasinya. Prinsip pertama ialah menggunakan pengetahuan dan kompetensi anak saat itu sebagai bahan dalam membuat program pembelajaran inidividu. Bukan dengan menyamakan situasinya dengan teman-teman kelasnya yang lain. Menyajikan mentah bahan pembelajaran (prosedur matematis) yang ia tidak ketahui membuat ia akan kehilangan kepercayaan diri dan kesempatan mendapatkan pelajaran sesuai tingkatan pemahamannya.

Selanjutnya ialah menyderhanakan bahasa. Pendidik atau guru pendamping sebaiknya menggunakan bahasa-bahasa yang terkait erat dengan kehidupan keseharian murid. Tidak hanya itu, komunikasi dengan bahasa sederhana itu harus dilengkapi gambar dan ilustrasi yang memadai sesering mungkin, bagaimanapun caranya.

Paling terakhir, sikap rendah diri dari orang-orang sekeliling, terutama guru. Secanggih apapun metode yang dimiliki seorang guru untuk mengajarkan satu topik matematika, insya Allah tidak akan sukses membuat setiap anak paham. Sangat mungkin sekali seorang anak bingung dengan cara alternatif yang disampaikan guru, namun yang lain mudah saja mengerti.

Jika setiap pendidik memahami hal ini, ia tidak akan memaksakan menerapkan gaya mengajarnya pada setiap anak atau setiap kelas. Sebaliknya ia akan mengakui bahwa setiap anak memiliki pola pikir dan gaya belajar yang berbeda-beda. Sehingga sebelum mengajar, ia sudah menyiapkan beberapa alternatif metode yang memperhatikan kondisi gaya belajar dan tingkatan pengetahuan yang berbeda.

Sebulan mengamati Dinda, saya merasa anak ini istimewa dengan caranya sendiri. Ia cukup baik dalam pelajaran lain yang memproses kata (Bahasa, PKn, dan IPS) dan psikomotorik (Art, Choir, dan Teater). Saya tidak memiliki kapastitas memberikan tes resmi pada anak ini terkait dugaan pribadi saya diskalkulia.

Jauh pikiran saya dari memasukkan Dinda ke Ruang Khatulistiwa agar ia mendapatkan treatment. Saya cukup percaya hipotesa Butterworth (2005) dan Landerl (2004) bahwa diskalkulia (dalam perkembangannya) muncul sebagai problem spesifik tentang memahami dan menyerap cepat konsep dasar dan fakta-fakta bilangan. Dalam kata lain, anak dengan diskalkulia bukan berarti ‘bodoh matematika,’ tetapi, merujuk kembali Butterworth terdapat “several major gaps in their knowledge.” Gaps ini yang mesti dikejar dan dipantau sedemikian rupa agar menjadi program pembelajaran yang ramah siswa.

Jadi, mudah saja bukan? Bukan dengan mengucilkan anak-anak tanpa kemampuan matematis, tapi dengan pendekatan yang benar, perlakuan yang tepat, mereka akan bisa mengejar keteringgalan. Setelah itu, mereka juga akan mengejar teman-temannya yang lain. Satu ketika, setelah barangkali berbulan-bulan kemudian, saya bisa melihat Dinda melemparkan senyum selebar-lebarnya pada jam pelajaran matematika. Semoga.

Referensi:
Mathematics for Dyslexics (Including Dyscalculia)3rd edition
. Steve Chinn and Richard Ashcroft. John Wiley and Sons, Ltd. England. 2007.
*bukan nama sesungguhnya

large_svoCpGHaFH1kERyxrK4pg08wkB82i4HAVNy6Wbr3lfE

REUTERS/Lucky Nicholson

Tanpa orang-orang yang telah mengbadikanan kisahnya, kita tidak akan pernah tahu bagaimana kehidupan di bumi bekerja: dulu, sekarang, dan akan datang.

Secara sadar sepenuhnya, kita berhutang besar pada penulis yang menghabiskan separuh hidupnya menulis, menelaah, menyigi, dan menuangkan pikiran dan maupun pengalamannya lewat sebentuk karya. Buku yang akhirnya kita semua bisa baca. Manis ilmunya kita serap. Tanpa tulisan pula, kita tidak akan pernah tahu ada sebentuk kehidupan unik, secuil informasi, dan seonggok inspirasi yang datang dari kehidupan orang lain.

Buku ibarat puzzle tak bertepi tentang kehidupan anak manusia dan alamnya. Akan selesai ketika manusia juga musnah pada waktunya. Tiap orang akan mengisi kekosongan puzzle dengan keping karya masing-masing. Sebuah karya tulisan atau buku menjadi dorongan bagi orang lain untuk menuliskan (menyempurnakan) bagian lain. Tulisan adalah manfaat-seratus-tahun yang bisa kita bagi ke orang lain.

***

Kelas menulis baru saja usai. Sore hingga malam pukul sembilan, beberapa hasil tugas menulis sosok dibahas intens. Cukup banyak pelajaran hari itu yang kami peroleh. Setiap kesalahan, entah itu tata cara penulisan maupun detail-detail yang kurang, selalu jadi pelajaran baru.

Meski lelah, kami tidak rela dan bakal merasa rugi melewatkan ”kelas” selanjutnya. Tanpa berpindah tempat sama sekali, kami memalingkan wajah di sisi kanan. Tempat sosok lelaki berkaos abu-abu tanpa kerah itu duduk. Bola matanya tampak cukup besar di balik kacamata. Lelaki ini cukup istimewa karena beberapa teman Kelas Menulis Kepo menyukai karya-karyanya. Beliau asli dari Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Meski begitu, ia sudah lama menetap di kota sejuk, Bogor.

Pertama kali saya bertemu langsung sosoknya yaitu dua tahun silam. Saat itu Senandung Kopi Kahayya, agenda pegelaran panen kopi masyarakat Dusun Kahayya, di lereng gunung  Bawakaraeng. Acara dihelat malam hari, di puncak sebuah bukit yang dinginnya menusuk tulang. Waktu itu ia diminta ‘mendinginkan’ terpaan kuat angin gunung lewat sejumlah sajak rindunya yang hangat. Dia adalah Khrisna Pabichara.

Meski tampak bugar seperti biasa, ia mengaku kurang sehat. Masih beradaptasi dengan panasnya mentari di langit kelembapan malam hari di Makassar. Nafasnya seperti tertahan. Kemungkinan ia refleks menahan gerak hidung dan tenggorokan yang gatal agar tidak mendengus. Sehingga suara dahak dan batuk tidak keluar mencolok.

Sebagai informasi, kedatangannya selama sepuluh hari di Makassar untuk membuat sebuah karya (lagi). “sebenarnya bukan sepuluh hari, lebih sedikit dari itu, cuma tiga hari.”

Pengakuan kak Khrisna, karyanya benar-benar ia rampungkan -128 halaman- hanya dalam tiga hari. Tujuh hari selebihnya kegiatan jalan-jalan, observasi, penggalian bahan cerita, macam-macam. Mendengar pernyataannya, rasanya seperti déjà vu. Saat sekolah menengah, di sampul belakang LKS, ada pesan penting. Dari seorang George Washington: “jika saya punya waktu 9 jam untuk menebang pohon, maka 7 jam pertama saya gunakan pertama untuk mengasah parang.”

Bagi seorang Khrisna, tulisan merupakan eksekusi pasti dari pergulatan pemikiran atas kehidupan yang dititipkan Tuhan pada dirinya. “makanya, menulis itu harus jadi pekerjaan yang utama, bukan sampingan.”

“Dulu, aktivitas saya menulis dari malam hingga pukul 7 atau 8 pagi. Tapi, setelah memasuki umur sekian (paruh baya), saya merasa kebiasaan ini harus diubah. Setelah itu, pola menulis saya hanya hingga (pukul) 2 atau 3 malam. Setelah itu harus istirahat”

Ia menjelaskan, tulisan butuh kesegaran, dalam arti bacaan kita harus segar untuk pembaca. Nah, bagaimana mau segar kalau ditulis pada tengah malam buta hingga dini hari? Tipsnya, ia mulai belajar mengelola waktu dan menjaga tulisan-tulisanya dihasilkan dari waktu yang segar: pagi hari.

Dalam kondisi ekstase, menurut pengakuannya, dia bisa mengetik 50 kata dalam 1 menit. Duh, kami tidak sempat bertanya, dorongan apa yang bisa menyebabkan dirinya ter-ekstase begitu hebat?

Kemampuan menggarap fiksi dengan baik merupakan hasil berlatih yang tidak sebentar. Beberapa orang yang terdekat dengannya, sambil melirik Om Lelaki Bugis, pernah ia tuliskan satu persatu sebagai latihan mengarang tokoh-tokoh fiksi. Relasi pertemanan yang erat itu membantu Khrisna dalam membangun penokohan dalam karya novelnya.

“dalam proses pencarian bentuk tulisan, boleh-boleh saja kita meniru. Gunakan ATM (amati, tiru, dan modifikasi).” Kelancaran menulis bukan hanya diperoleh dengan berlatih. Tapi karena si penulis menguasai bahan tulisan yang akan digarap. “tulislah dari sudut yang kamu kuasai.” Dirinya mengakui jika gaya tulisannya mula-mula sangat dipengaruhi sejumlah sastarawan ternama, termasuk Seno Gumira Ajidarma. Lama kemudian barulah ia menemukan sendiri gaya menulisnya.

Tambahnya, “gaya itu ditemukan tidaknya hanya lewat membaca tapi juga harus menulis.” Membaca banyak karya-karya pengarang yang dikagumi tidak lantas membuat kualitas karya kita sama persis dengan yang kita tuliskan. Harus dengan menulis, menulis, dan menulis.

Bagaimana Memulai Menulis?

Tulislah Sebanyak-banyaknya
“jika baru mulai belajar menulis, kejar kuantitas saja dahulu. Menulis adalah pekerjaan yang sangat bisa diikhtiarkan. Karena Anda tidak akan pernah belajar jika tidak pernah melakukan kesalahan apapun” Sangat mungkin seorang menjadi terampil dengan menulis. Khrisna sudah membuktikan itu di tahun-tahun sebelum kami semua bertemu di kelas ini. Salah satu kuncinya, keras dan disiplin terhadap diri sendiri.

Khrisna menyarankan agar kami menulis sebanyak-banyaknya tanpa beban. Terkhusus bagi kami yang menggunakan media blog dalam menulis, ia menyarankan sebaiknya tidak mengunggah semua karya ke media sosial. Sebagian yang kita anggap pantas untuk dibaca orang, itulah yang kita pamerkan pada publik.

Tulislah Karena Rasa
Banyak yang menulis, kata Khrisna, bukan karena cinta dan rasa yang ia miliki. Tulisan mereka tinggal kata-kata kering yang tidak hidup. Jiwa tulisan yang ia tinggalkan tidak mencerminkan apa-apa, bahkan kepribadian si penulis. Padahal,“apa yang ditulis dari hati, akan lesap juga ke dalam hati (para pembaca)” begitu katanya. Karya yang ditulis karena rasa ini, akan bertahan, jauh bahkan hingga setelah akhir hidup penulis.

Tulislah dengan Kreatif
Salah satu tipsnya adalah dengan rajin membuka kamus. Kamus menyediakan bahan mentah dari tulisan: kata. Termasuk sinonim (persamaan kata) agar penulis tidak mengulangi kata yang sama dengan arti yang berbeda. Maka, rajin-rajinlah buka kamus. Tidak semua hal yang kita maksudkan dapat terwakili oleh kata-kata yang itu-itu saja. Eksperimen dengan bahasa itu sesuatu yang mengasyikkan dan berpotensi memajukan penggunakan bahasa Indonesia, begitu yang pernah saya baca.

“(untuk) tiruan bunyi saja, tersedia 800 kata. Kata yang digunakan sebagai bunyi daun kering beda dengan bunyi daun basah yang jatuh ke lantai” Khrisna menyarankan agar kami mencoba-coba menggunakan dan membiasakan kembali kata-kata lama.

Daripada menggunakan manyun untuk membahasakan gerak bibir yang maju, mengapa tidak memakai “bibir Anita menggelepay” misalnya. Kesannya lebih enak diucapkan. Tidak susah. Dan lebih penting lagi, sangat terasa kebaruannya.

Mengapa Harus Menulis?

Kata pepatah, “gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan namanya.” Hidup seorang manusia itu hitung mundur, bukan hitung maju. Setiap manusia punya batas usia berbeda-beda. Jika seorang anak manusia berkalang tanah tanpa menulis, atau kisahnya dituliskan, maka apa yang bisa dititipkan pada sejarah?

“Menulislah. Kalau benar-benar Anda tidak bisa menulis, lakukanlah hal yang bisa orang lain tuliskan.” pesan Khrisna mengutip perkataan salah seorang Presiden Amerika Serikat yang kesekian.

Kita bisa memilih satu, atau bahkan kedua pilihan itu. Tapi, ingat, tidak semua orang sangup (punya kesempatan) melakukan hal besar lalu namanya terekam dalam sejarah. Beruntungnya, pilihan menulis adalah pilihan yang sangat mudah.

Seorang cerdik cendekia Muslim, Imam Al Ghazali, pernah berujar, “kalau kalian bukan anak seorang raja atau ulama besar, maka menulislah.” Menulis, di jaman itu, bahkan di saat sekarang adalah arena pertukaran dan penyebaran ilmu pengetahuan. Olehnya, semua buku dan karya yang dihasilkan merupakan amal jariyah yang pahalanya mengalir terus pada penulis hingga hari kimat tiba.

Sekarang, jika Anda benar-benar sudah mulai menuliskan satu dua kata: rampungkan. Selesaikan, apa yang sudah kita mulai. Kata Daeng Ipul, semua bahan sudah kami sampaikan. Namun ada tiga hal yang tidak bisa diajarkan: ketekunan, keingintahuan, dan kedisiplinan.

system-change

climatejusticeactionnetwork.org

Ukuran jaman sekarang, pertanyaan itu tergolong bodoh. Rasa-rasanya tanpa riset mendalam dan menyeluruh se-Indonesia, hampir semua orang bakal memilih Raisa. Wajah jelitanya berada di level atas. Duh, bikin pangling. Tidak kalah penting, lantunan tembang-tembang cintanya syahdu aduhai. Lirik-liriknya siap melenakan segenap jiwa raga.

Sementara (Karl) Marx? apa untungnya memilih dia? Jika foto mereka disandingkan, maka kau akan mendapati Marx memiliki wajah suram-tegas-tanpa-senyum berumur lebih setengah abad. Berjanggut lebat putih keabu-abuan memanjang melewati leher. Sungguh terlalu kalau Anda mengira karya Marx adalah lagu galau. Maaf, hanya buku-buku. Buku-bukunya sungguh tidak berperasaan, susah dimengerti. Beda sekali dengan si Raisa.

Sebelum lebih jauh, saya menyarankan sebaiknya memilih Marx atau siapa saja yang membuat Anda selalu tertantang berpikir lebih jauh sekaligus dalam. Oke, saya paham, masing-masing Anda punya selera dalam musik. Tapi tidak untuk berpikir dan bertindak independen. Semua manusia memiliki kemerdekaan sejak awal, kebebasan dalam segala hal, termasuk berpikir. Rene Descartes jauh-jauh hari sudah mengutarakan pandangan filosofisnya yang terkenal, “Aku berpikir, maka Aku ada.”

Apa perbedaan besar di antara mereka? Perbedaan yang kontras. Mari kita bandingkan secara sepintas apa yang populer dari keduanya, Kakak Raisa dan Kakek Marx. Kita mulai dengan lirik Raisa “Kali Kedua”:

Jika wangimu saja bisa memindahkan duniaku | Maka cintamu pasti bisa mengubah jalan hidupku | Cukup sekali saja aku pernah merasa, betapa menyiksa kehilanganmu | Kau tak terganti kau yang slalu kunanti | takkan kulepas lagi

Pegang tanganku bersama jatuh cinta, kali kedua pada yang sama | Jika senyummu saja bisa mencuri detak jantungku | Maka pelukkan mu yang bisa menyapu seluruh hatiku | Cukup sekali saja aku pernah merasa betapa menyiksa kehilanganmu | Pegang tanganku bersama jatuh cinta | Kali kedua pada yang sama (Satukan hati, tanpa peduli) | Kedua kali kita bersama lagi |

Perhatikan baik-baik liriknya. Cermati kejanggalan berpikirnya. Kemandirian adalah sikap naluriah manusia untuk menjadi merdeka secara pribadi. Sementara lirik di atas memuja ketidakmandirian seorang perempuan muda yang disetir gumpalan dan buncahan penuh perasaan yang tertahan. Seakan-akan itu sah-saha saja dan boleh dilakukan seluruh umat manusia Indonesia. Duh kakak Raisa, apa sih yang kamu perbuat?

Imaji saya membayangkan sesosok patah hati yang hanya berbaring saja di kamar. Menangisi nasib putus cinta yang merundung fisik dan perasaannya. Seorang perempuan yang sedang dihadapkan pada kembimbangan tanpa batas. Ruang yang melingukupinya barangkali luas, tapi ia menyempitkan dirinya untuk tidak ke mana-mana. Tidak bergerak secara fisik. Waktu jadi serasa melambat sekian kali lipat. Dia hanya mengikuti hatinya yang terus bergejolak tidak menentu. Demi merasakan betapa pedihnya rasa yang ia jalani saat itu.

Liriknya mengajak pendengar secara total tidak berpikir dan mengikuti perasaan semata. Pada ujungnya, sosok perempuan dan penikmat lagu ini (juga lagu-lagu yang senada) akan terbawa dalam kondisi baper (bawa perasaan) yang tidak kunjung reda.

Seolah-oleh hanya itu satu-satunya permasalaan yang terjadi dalam struktur otaknya yang begitu canggih. “ini merupakan reduksi (sosial) terhadap segala permasalahan yang sedang mendera kita semua” terang Nurhady Sirimorok, seorang peneliti dan fasilitator masyarakat. Selepas magrib itu, ia berbagi mengenai pengantar Analisis Sosial.

Lebih jauh, jika ditilik dari sudut pandang gender, sosok perempuan seperti berada dalam kungkungan laki-laki. Berada di level bawah dalam hirarki struktur sosial keluarga dan masyarakat. Tidak memiliki keputusan sendiri, dan tidak berdaya. Segala yang terlontar dari mulutnya adalah buah gejolak dan teriakan responsif dari hati dan perasaannya sendiri.

Seandainya saja sosok perempuan tersebut serius memikirkan setiap tindakannya dan ucapannya, maka otaknya akan menstimulus melakukan gerak aktif dengan akal sehat. Bukan tinggal di kamar dan menangisi hidup yang tidak adil.  “Inilah kampanye besar-besaran menuju kedangkalan berpikir kritis dan independen terhadap diri sendiri” katanya menyimpulkan.

Sekarang, mari kita beralih ke Kakek (Karl) Marx. Seluruh teori yang ia gulirkan sepanjang hidupnya berdasarkan apa yang ia yakini, “manusia membuat sejarahnya sendiri, manusia adalah pencipta itu sendiri.” Karyanya dibincangkan hampir di bangku akademik hingga pemuja klenik Marxisme. Baginya, manusia adalah makhluk bebas yang mampu menentukan nasib sendiri. Berani berpikir bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Pada intinya, terlepas dari aura kerisauan level dewa lirik Raisa, kakek Marx mengajak kita semua (tidak berhenti) berpikir. Oke, sederhana begini. Ini tentang dua pilihan: memilih berpikir atau memutuskan tidak berpikir.

Lantas, mari kita renung-pikir sejenak. Mengapa perasaan tersebut begitu kuat mendominasi pemikiran anak-anak muda sekarang?  Jika ditarik waktu ke belakang, pada era Orba rezim Soeharto, Menteri Harmoko pernah melarang lagu-lagu sejenis beredar di Indonesia. Tidak sesuai dengan nilai-nilai moral lima sila Pancasila, dalihnya begitu.

Mari kita ambil contoh bait “Hati yang Luka” Betharia Sonata. Terdapat lirik seperti ini: Liahtlah tanda merah di pipi | Bekas tapak tanganmu | Sering kau lakukan | Bila kau marah menutupi salahmu. Lalu dipungkaskan: “pulangkan saja Aku pada ibuku atau ayahku,” dan seterusnya. Sumpah. Lagunya bikin sedih merintih. Dilema hati pasangan hendak bercerai.

Pemerintah saat itu melarang dengan alasan kasus-kasus perceraian akibat KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) saat itu tidak sesuai dengan nilai-nilai keluarga bahagia ala Pancasila. Kecenderungan seperti itu tidak boleh muncul ke permukaan sehingga berpotensi merusak butir-butir pengalaman Pancasila. Sialnya, lagu jenis ini laris. Dian Piesesha lebih hebat lagi, lagu syahdunya “Tak Ingin Sendiri” menembus penjualan dua juta kopi. Jumlah yang gigantis mengingat waktu itu masih edisi rekaman kaset. Lagunya memang bagus. Saya tidak tahan mendengarnya berulang-ulang #duh.aduh.ikut.baper.

Kak Dandy yang meraih master dari ISS (Institute of Social Studies) Deen Haag, menilai, semasa itu pemerintah tidak fokus pada masalah yang sebenarnya. Inititusi formal selalu terjebak kegagalan berfokus, ‘gagal fokus’. Atau pura-pura tidak tahu? Mungkin saja. Maksud hati memberantas pelanggaran norma, tapi menerapkan solusi yang tidak mematikan akar masalahnya.

Lagu-lagu sendu yang banyak diciptakan saat itu hanyalah merupakan akibat sebuah skema besar yang bekerja, dalam artian ada struktur sosial yang berlaku. Tidak kentara namun bekerjanya giat, tangkas, seringkali invisible, memberikan konsekuensi besar (seringkali negatif) bagi masyarakat, serta sangat efektif melumpuhkan target tujuannya. Perilaku gagal fokus ini seringkali membuyarkan pikiran orang-orang dari masalah krusial itu sendiri. Sehingga gejala-gejala yang tampak di masyarakat (di permukaan) langsung dipandang sebagai masalah itu sendiri.

Dalam kasus pelarangan lagu cengeng, setelah upaya telisik, rupanya ruang ekspresi menyuarakan kepentingan publik disumbat demi kelanggengan rezim. Akses ke medium aspirasi masyarakat dikungkung dari pelbagai sisi. Mimpi mewujudkan negara yang lebih demokratis nyaris pupus. Pada akhirnya, wadah penyaluran teralihkan ke hal-hal pribadi dan perasaan. Lahirlah rupa-rupa ‘lagu cengeng itu’. Begitu kira-kira penjelasan kak Dandy.

Posisi-Posisi dalam Struktur Sosial

Skema yang dimaksudkan adalah bangunan struktur sosial. Struktur lebih besar yang menyebabkan gejala-gejala dan faktor-faktor itu muncul, bergulir, dan berkembang. Lazimnya, pertanda-pertanda tersebut hanya merupakan hilir dari duduk perkara sebenarnya, sebab bisa jadi variabelnya lebih dari satu. Demi mengurai persoalan sebenarnya, pada tahap inilah penting mengurai cara-cara kerja struktur sosial dan sistem yang bercokol di dalamnya. Sehingga, kita bisa mengerti bagaimana sesuatu gejala itu muncul dan berkembang di sebuah kelompok masyarakat.

Oke, cukup. Kita sudahi saja acara ghibah kakak Raisa sampai di sini. Demi menghentikan situasi pembenaran terhadap baper massal diakibatkan lagu-penyembah-perasaan tentu bukan dengan memboikot karya Raisa. Tapi menelisik gejala-gejala yang tampak, menelisik satu demi satu struktur beserta aturan dan normanya, lalu menyiapkan argumen atawa strategi. Selebihnya, kita tengok sepenggal wacana mengenai ‘Analisis Sosial.’

S__27017219

Nurhady Sirimorok menjelaskan skema Struktur Sosial

Secara ringkas, Struktur Sosial merupakan pola interaksi yang bertahan cukup lama individu, masyarakat, dan hubungan antar keduanya. Dalam grafik berikut dijelaskan bagaimana kaitan organisasi/institusi/lembaga dan aturan yang bercokol di dalamnya. Negara misalnya, institusi ini memiliki mandat untuk mengurusi seluruh warga negara tanpa kecuali. Menegakkan marwah demokrasi memerlukan aturan umum bagi semua orang. Apa itu? Hukum (aturan legal). Aturan positif ini bersifat memaksa dan mengikat.

Jalan untuk menegakkan hukum ialah dengan membuat regulasi di semua bidang, menjalankan pendidikan, dan membuat sosialisasi. Ada tapinya, dengan kekuatannya pula, hukum bisa ditegakkan dengan jalan: kekerasan dan tindak represif. Jika aparat penegak hukum kadangkala berlaku berlebihan, memang sudah begitu cara kerjanya. Kecuali pemerintah menghendaki adanya reformasi besar-besaran di institusi TNI dan Polri menjadi lebih humanis dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Begitu seterusnya.

Struktur sosial yang timpang ini menjadi penyakit yang sulit terdeteksi, tidak disadari, dan oleh karenanya harus membuat orang lain menyadarinya. Kesadaran berpikir dan bertindak merdeka, melihat persoalan secara kritis-jernih dibutuhkan untuk menyingkirkan sakit menahun tersebut. Kak Dandy membagi tiga posisi kunci menelisik struktur sosial.

Beritahu saya di mana dan bagaimana seseorang, atau kategori individual apapun, berlokasi di dalam masyarakat, dan akan saya beritahu apa yang kemungkinan besar dia/mereka lakukan” Franco Crespi.  Franco percaya jika seroang individu yang terbentur dengan struktur sosial di suatu daerah, ia tidak akan bisa melakukan apa-apa. Tinggal pasrah saja menuruti kemauan dan sistem yang terjadi di dalam struktur. Intinya, sangat mudah menebak kebiasaan dan perilaku seseorang, lihat saja siapa kawannya dan di kelompok mana ia berteman.

Tidak ada masyarakat, hanya ada individu-individu” Margaret Tatcher. Kenyataannya, kondisi sosial ekonomi masyarakat Eropa memang lebih tinggi dibanding kontinen lain. Tidak mengherankan ketika Tatcher tidak percaya adanya kekuatan masyarakat yang bisa mengubah kekukuhan sistem. Tatcher begitu yakin dengan kualitas dan kekuatan individu-individu yang brilian.

Manusia membuat sejarahnya sendiri, manusia adalah pencipta itu sendiri” Karl Marx. Satu kata, Marx percaya dengan kekuatan manusia seluruhnya bisa meruntuhkan sistem yang tidak diinginkan. Juga mendesakkan hal yang diinginkan pada sistem. Kemerdekaan manusia, berpikir dan bertindak, jadi yang utama pada posisi ini. Tidak akan ada struktur lain yang boleh lebih hebat dari kekuatan para reformis. Intinya, Marx selalu yakin dengan kekuatan revolusi dapat mengubah segalanya.

Outsourcing dan Uang Panai’

Setelah mengetahui ketiga posisi tadi, jelaslah Indonesia sejauh ini masih di level Franco Crespi. Struktur sosial paling tinggi bukan berada di pihak pemegang aturan tertinggi: hukum negara. Melainkan di tangan struktur ekonomi pasar. Penuturan kak Dandy, pada skema ekonomi pasar ini memiliki kekuatan tidak tertebak dan tidak kasat mata, tapi mempengaruhi kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Di sinilah kakak Raisa terjebak berkarya mengikuti hukum ekonomi pasar.

Semua orang tunduk pada kepentingan ekonomi pasar. Struktur inilah yang mendominasi semua aktivitas keseharian, baik politik, sosial, pendidikan, budaya, pemerintahan, dan lain-lain. Cara kerjanya tidak tampak tapi cakupannya memenuhi hampir semua aspek kehidupan manusia.

Situasinya, kekuatan ekonomi pasar menunjukkan sikap sok paling berkuasa di Indonesia dari dulu. Enggan ataupun segan, mau tidak mau, kebutuhan materil merupakan keharusan dalam mempertahankan hidup. Gurita kepentingan ekonomi kapitalistik yang membelenggu negara. Kebutuhan material selalu harus bisa terpenuhi, jika tidak ingin mati sia-sia. Negara terpenjara karena itu.

Taruhlah praktek perekrutan tenaga outsourcing sebagai contoh. Diakui atau tidak, hal ini menjadi momen pelepasan tanggung jawab perusahaan pada tenaga kerja luar. Tenaga, waktu, dan fisiknya dikuras untuk memenuhi kestabilan beban kerja di perusahaan. Di lain pihak, SDM yang terserap hanya dianggap sebelah mata karena tidak terikat langsung dengan perusahaan karena pelibatan perusahaan pihak ketiga yang merekrut mereka. Meski di tengah gegap gempita profit melangit yang diperoleh, perusahaan masih tetap saja mengambil banyak keuntungan demi mengkuhkan hukum ekonomi pasar.

Jalan satu-satunya ialah mendesakkan kekuatan masyarakat/pekerja agar bersatu merongrong pemerintah menghempaskan struktur ekonomi pasar di bawah kekuatan daulat masyarakat banyak dan hukum formal. Penyembahan terhadap keuntungan sebanyak-sebanyak pengeluaran sekecil-kecilnya harus diberi porsi yang kecil bahkan nol.

Ilustrasi menarik lainnya ialah Uang Panai’. Ketika kak Dandy bertanya spontan, “apa struktur yang mengungkung banyak anak-anak muda Bugis-Makassar? Kami semua yang hadir serentak mengatakan “budaya Uang Panai” sambil setengah berteriak diselingi senyum simpul malu-malu. Semua harus ditilik, dicermati mengapa bisa hal ini menahun dan menimbulkan kekhawatiran berlebihan?

Institusi masyarakat terbagi dalam empat, yakni keluarga, komunitas, agama, dan sekolah. Masing-masing memiliki norma dan aturan yang berlaku. Ternyata, dari penjelasan kak Dandy, ada norma yang terterabas demi menghidupkan budaya. Norma agama menginginkan kemudahan dalam pernikahan, termasuk Uang Panai’ yang tidak diperberat dan diada-adakan. Namun, norma komunitas begitu kuat mengakar. Penjelasan terbaiknya barangkali ada pada sistem kekerabatan Bugis-Makassar. Gengsi, strata, dan posisi keluarga haruslah dipertukarkan secara setara. Bilamana ada pria yang hendak meminang gadis Bugis dari status sosial tinggi, lewati dulu tembok besar bernama: budaya komunitas.

Perempuan moderat-moderen nya sekalipun, suka tidak suka harus mengakui kekalahannya dan tunduk pada keunggulan norma komunitas. Keluarga dipertaruhkan. Ijinkan lagi saya meminjam Franco Crepsi, kita tidak bisa bergerak bebas lagi ketika sudah berurusan dengan struktur sosial. Perilaku maupun keputusan individu tahap ini akan ditentukan oleh masyarakat dan komunitas di mana manusia bertumbuh.

Kebutuhan manusia Bugis-Makassar barangkali merupakan contoh dari konsep modal sosial ala Bourdieu. Uang Panai’ adalah sistem pertukaran dan perlambang yang menunjukkan status sosial yang tinggi. Sekaligus menegaskan bahwa ia bukan dari kelompok masyarakat rendahan. (Baca lebih lengkap tiga buku ini: 1) Pierre Bourdieu: Menyingkap Kuasa Simbol (Fashri Fauzi, Jalasutra, 2014); 2) Pierre Bourdieu: Key Concepts (Michael Grenfell ed., Acumen Publishing Limited, 2010), dan 3) A Critical Reader (Richard Shutsterman, Blackwell Pubslishers, 2000)

Barangkali, penjelasan menjaga tradisi Uang Panai’ bisa ditemukan juga lewat konsepi Pierre Bourdieu. Tentang bagamaina memahami sebuah realitas sosial dalam kacamata “modal sosial”. Robert Putnam meringkas bahwa “modal sosial” merupakan sumber tindakan kolektif yang dirawat oleh masyarakat. Menjaga sebuah kebiasaan dalam lingkaran komunitas budaya.

Bukunya berjudul Distinction: A Social Critique of the Judgment of Taste (Harvard University Press, 1979) menerangkan seseorang memilih bagi dirinya sendiri ruang sosial di kehidupannya, yang mana posisi itu (yang akan terus menerus dipertahankan) akan perlahan menggambarkan status dirinya dalam masyarakat lain sekaligus menjauhkan dirinya dari kelompok yang lebih rendah. Gagasan lebih luas dari Bourdieu ini dikenal dengan stratifikasi sosial atau class fractions  yang bakal menentukan preferensi masyarakat dan kaum muda: modal sosial, modal ekonomi, dan modal kultural.

Ketidakberterimaan Masyarakat

Permisalan lanskap kota juga menarik. Sebuah kota modern yang dipenuhi oleh ruko, mall, dan real estate –kelas menengah dan kelas atas- tidak serta merta bisa jadi begitu saja. Atau bisa saja dikatakan lanskap ini hadir sebagai akibat massifnya dampak globalisasi terhadap menguatnya ekonomi masyarakat. Tidak, tidak begitu. Bagi kak Dandy, ada lembaga dalam struktur sosial yang memainkan peran lebih untuk mewujudkan kota yang demikian.

Seperti yang tadi kita cermati dalam skema, ada sekelompok orang/sistem dalam struktur sosial ekonomi pasar yang menginginkan wajah kota modern. Mereka menganggap geliatnya ekonomi kota dan kekuatan kota berada di balik lancarnya ekonomi kapitalistik. Uang, uang, dan uang. Sialnya, mereka menang, karena mereka kebetulan menyandera struktur politik pemerintahan. Pemerintah ada di bawah tekanan ekonomi pasar dan kroninya. Di lain pihak, elemen warga yang menginginkan hadirnya ruang publik harus pasrah di bawah tekanan kampanye gigantisme kapitalistik.

Presentation1

Abraham dan Van Schendel (2005, ed) dalam “Illicit Flows and Criminal Things” berusaha menjelaskan gejala yang timbul ketika sebuah struktur sosial membentur dan mengalahkan kedaulatan dan kepentingan rakyat. Saat ketika warga menjadi liyan di negeri sendiri. Teori konsep ini dinamakan “(Il)Licitness dan (Il)legality”. Licitness secara singkat merupakan derajat keberterimaan sebuah tindakan sosial.

Ketika legal (pemerintahan/otoritas politik sah/hukum positif) bertemu dengan keberterimaan masyarakat (licit) akan menghasilkan negara ideal. Sebaliknya akan muncul gerakan-gerakan bawah tanah, masalah perbatasan, atau konflik Raja-Raja lokal/Keraton versus negara jika sesuatu yang tidak sah menurut otoritas resmi pemerintahan (illegal) namun diterima oleh masyarakat (licit).

Hal kontras akan kita lihat bilamana otoritas sah (legal) mendapatkan ketidakberterimaan (illicit) dari warga negara, maka barangkali yang sedang terjadi adalah kapitalisme dan kroninya sedang menggerogoti pemerintahan. Atau sebut saja negata itu failed. Situasi paling parah (anarki) akan terwujud jika illegal (pemerintahan/otoritas tidak sah) berhadapan dengan illicit (ketidakberterimaan) masyarakat. Tinggal tunggu akhir dari sebuah struktur.

Dalam pengantarnya, mereka tertarik untuk menyigi ruang-ruang politik yang timbul akibat interkasi otoritas pemerintahan yang formal dan otoritas sosial yang tidak resmi. We are interested in identifying the political spaces emergent from the interaction of formal political authority and non-formal social authority”

Sebut saja para pelintas batas di daerah perbatasan Kalimantan Barat. Riset lapangan sepanjang 1998 hingga 2001 oleh Reed L. Wadley dan Michael Eilenberg rentang 2002-2003 menunjukkan ketiadaan hukum, otonomi, kesenjangan pembangunan dan ekonomi membuat tindak kriminal terorganisasi (gangsterisme) dan perlawanan di luar jalur hukum merebak luas. Keterpisahan orang-orang di perbatasan membuat gejolak-gejolak tersebut menjadi licit, dapat diterima.

Pergerakan komoditas dan manusia sejatinya melanggar hukum karena melabrak norma hukum formal dengan segala sistemnya. Tetapi, mereka menerima ini sebagai sesuatu yang lumrah dan diterima. Mengutip Wadley dan Eilenberg they are quite acceptable, licit, in the eyes of participants in these transactions and flows.”

Menulislah: menyuarakan kebenaran

memang berat menulis dengan sisi pandang analisa struktur sosial.ungkap kak Dandy lugas. Dalam kata lain, tulisan yang kita sajikan mencakup pendedahan terhadap masalah sebenarnya. Kegiatan ini akan membedah dan mengkritik struktur. Tidak hanya menguraikan panjang lebar apa-apa yang tampak di depan mata. Tidak hanya mengkopi wacana mentah-mentah yang disebarkan para elit . Namun lebih jauh menelisik gejala hingga pada akhirnya jawaban dan ‘kebenaran’ itu muncul secara jelas.

Butuh riset mendalam, data-data yang mendukung, dan tentu saja wawancara. Hal ini membutuhkan riset mendalam dan data yang lebih banyak sekaligus beragama. Kak Dandy menyarankan proses menulis setidaknya melewati proses triangulasi data. Dalam dunia akademik, kegiatan ini merupakan keharusan dalam penelitian kualitatif (sosial kemasyarakatan).

Butuh pengetahuan yang penting dalam proses menulis. Jauh lebih penting lebih penting adalah keterampilan. Semuanya harus dilakukan secara simultan. “sembari menambah pengetahuan, lakukan praktik terus menerus hingga keterampilan itu datang dengan sendirinya” kak Dandy mengakhiri pertemuan dengan ‘memaksa’ kami terus menulis agar tercipta kebiasaan dan keterampilan.

Sehingga pada ujungnya, kita bisa merdeka memilih, antara Raisa atau analisa? Sebab ini soal berpikir atau tidak berpikir. Terserah, mau pilih mana.

***Catatan Kelas Menulis Kepo Angkatan IV***
Pertemuan ke: 9 (Sembilan)
Waktu: Jumat/ 24 Maret 2017
Pukul: 17.00 – 21.00
Materi: Analisis Sosial
Tempat: Brewbrothers Café, Pengayoman Makassar
Pembagi Ilmu: Nurhady Sirimorok