Posts Tagged ‘Minasa Upa’

104452_indofood4

detik.com

Jangan suka makan mi instan, bumbunya bisa bikin kamu bodoh. Itu satu ancaman dari hampir semua orang dewasa waktu saya kecil.

Ibu, teman Ibu, tetangga, teman main, jamaah masjid, guru ngaji TPA, tukang antar air, semua mengatakan hal sama dan mereka percaya. Sebagai anak-anak, saya tidak bisa langsung percaya. Antara percaya dan tidak percaya. Sebagian diri saya percaya, tapi sebagian lagi menganggap itu cuma gertak sambal. Sebab kenyataannya, saya melihat dengan kepala mata sendiri mereka juga hampir tiap hari makan mi instan.

Saya benar-benar tidak tahu ungkapan itu asalnya dari mana. Tiba-tiba saja, ujaran itu menjadi nasihat yang diterima luas anak-anak ketika itu. Kalimat itu jadi menakutkan bagi anak-anak SD di sekolahan yang kala itu saling berburu Rangking di kelas. Percayalah, saat itu kami semua berburu enam posisi tertinggi. Rangking satu dua tiga dan level tingkat harapan. Otomatis tidak ada yang menginginkan menjadi bodoh.

Dulu, ada seorang teman SD, namanya Ridho (bukan nama sesungguhnya). Pernah satu kesempatan saya diajak kerumahnya. Kemudian mendapati di bawah kasurnya ada satu dus berisi mi instan merek Megah Mie. Sementara di atasnya ia sementara melahap mi instan. Kiri kanan bibirnya dipenuhi serbuk-serbuk bumbu yang menempel bergerak-gerak mengikuti gerakan mulutnya. Saya langsung terkaget-kaget, mungkin shock.

“mungkin mi instan telah membuat teman saya ini jadi malas ke sekolah dan jarang kerja PR.” Saya sempat membatin yang tidak-tidak. Tidak ada bukti bahwa teman baik saya itu kurang bisa menangkap pelajaran gara-gara Megah Mie. Tapi, semua orang di sekolah selalu menghubungkan pengaruh Ridho yang hampir selalu terlihat mengunyah mi instan dengan kurang fokusnya ia di kelas. Baiklah, saya mengakui, hubungan saya waktu kecil tidak begitu baik dengan mi instan.

***

Tapi ada satu kejadian yang membuat kami sejenak semua melupakan ancaman itu “Tukar Sepuluh Bungkus Gratis Satu Indomie”. Momen yang tidak lebih sebulan itu jadi kegiatan mengumpulkan bungkus mi instan merek Indomie rasa apa saja. Anak-anak-tua-muda-Ibu-ibu semua punya koleksi masing-masing. Siapa yang giat dia yang dapat.

Kami, anak-anak yang saling bertetangga tidak mau kalah. Meski saya tahu kebanyakan mereka tidak suka Indomie, tapi semangat begitu membara. Beramai-ramai setiap siang dan sore, apalagi di hari Minggu, kami berkeliling kompleks. Membuka tiap penutup bak sampah masing-masing rumah. Tidak luput tempat pembuangan sampah RW kami sambangi. Lokasinya berada di ujung pojok gang RT, dulunya masih berupa rawa berair. Penuh semak tinggi-tinggi yang menyimpan misteri, becek, dan ughhhh baunya minta ampun. Salah sedikit, bisa terperosok. Bau tidak sedap tidak kami pedulikan, yang penting senangnya bisa rame-rame.

Paling gembira itu kalau kami menemukan bungkus Indomie yang logonya masih utuh (kalau tidak utuh, si Engkoh tidak mau terima). “Yuhu, dapat,” sorak kami berganti-ganti. Terlebih setelah mengorek-ngorek sampah yang bercampur tanah becek dan sampah lainnya, kami menemukan sebentuk makhluk coklat berbuku-buku hampir transaparan: cacing. Duh, lezatnya. Lumayan bisa digunakan memancing Ikan Balbal (Bale Balang) alias ikan lumpur di sawah belakang RT sebelah.

Setelah itu, menjelang maghrib, berangkatlah kami menuju dua tempat yang selalu mengakrabi kami. Dua toko terbesar se-RW kala itu. Kami menyebutnya ‘Aci’ Dekat’ dan ‘Aci’ Jauh’, mengacu letaknya yang ujung pukul ujung. Entah kenapa waktu itu kami lebih memilih toko Aci Jauh. Mungkin waktu itu karena semua orang menukarkan bungkus Indomie di situ. Sehari-hari, satu RW memang sering belanja di situ karena barangnya lengkap.

Saya ingat persis, dengan baju kotor, badan bau sampah, dan ujung-ujung rambut yang lecek kena tanah lumpur, kami (lebih dari tiga orang) masuk ke toko Aci yang bersejarah. Sendal kami becek meninggalkan jejak-jejak coklat tidak diinginkan berbentuk model Swallow.

Kalau kawan baca Laskar Pelangi bagian deskripsi toko tempat Lintang beli kapur untuk SD Gantong, begitulah kira-kira tempat ini. Padat penuh jualan. Sekali senggol, menara barang dagangan siap menelan kami. Bila lima orang pembeli masuk, bersenggolan pasti tidak terhindarkan. Kecuali di bagian gudang belakang. Tenang, tidak ada adegan salah satu dari kami jatuh cinta pandangan pertama pada anak perempuan Engkoh sebaya kami sebagaimana Lintang bertemu A Ling. Saat itu, meski kami merasa gagah-gagahnya karena berhasil membawa pulang Indomie, dan tentu saja, cacing, kami seperti aib, kotor. Lagipula, anak-anak Engkoh, laki-laki.

Kala itu, Engkoh berbadan besar siap dengan kalkulator di bagian tengah toko. Ujung jemari tangannya besar-besar melebihi ruas tombol angka-angka di situ. Ia menekan dan menghitung berapa bawaan kami hari itu.

Ketika melongo, tampak bungkus Indomie bersusun berbaris-baris dan nyaris menyentuh langit-langit toko. Menghitung usaha kami hari itu, rasanya seperti cacing di tengah kepungan orang tua Anaconda. Di dalam, sudah banyak orang tersenyum puasa menerima lima hingga bungkus Indomie mereka.

Begitulah. Meski hasil perburuan Indomie kami cukup memuaskan, semua hasilnya diserahkan ke rumah masing-masing. Karena yang terpenting adalah: cacing. Walau demikian, tetap saja, nama buruk Indomie mulai membaik di mata kami. Terima kasih Indomie, terima kasih Engkoh***

Kunjungi tulisan lainn Project #15HariMenulis di:
a. Perihal Mi Instan (Irmawati)
b. Mie Instan (A. Citra Pratiwi)
c. Pagi Makan Indomie, Malam Minum Promag (Hasymi Arif)
d. Mi Instan yang Bersejarah (Andi Arifayani)
e. Mi Instan dan Bulan Terang (Ma’ruf M Noor)
f. Cinta di Semangkuk Mie Rebus (Atrasina Adlina)

Desa-Shirakawa

Desa Shirakawa-go, Jepang (Warisan UNESCO) – j.cul.com

Tetangga itu, teman sepermainan waktu kecil. Tetangga itu, teman-teman pengajian Ibu. Tetangga itu, semua bapak-bapak yang sering nongkrong di pos ronda sebelah rumah hingga larut. Tetangga itu, sehimpunan anak kecil yang suka berlarian di lorong atau kejar-kejaran dengan sepeda. Tetangga itu, bagi saya, semua manusia, lingkungan, dan semesta yang ada di lorong.

Saya dibesarkan di sebuah kompleks perumahan di selatan Makassar, BTN Minasa Upa Blok N. Khususnya lagi di lorong blok N 12 dan N 11 sebahagian. Meski begitu, masa kecil saya dan teman-teman sebaya lebih luas dari lorong yang kami tempati. Maklum, jaman pertengahan hingga akhir 90-an belum seramai dan sepadat sekarang ini. Jika sedang ramai-ramainya berkumpul, kami rutin bertualang sebelum sore dan pulang ketika kumandang azan maghrib yang menggema dari corong masjid.

Dari kecil, kami saling bertetangga. Orang tua kami saling mengenal baik satu sama lain. Mulanya saya pikir kami akan jadi tetangga seumur hidup. Tapi ternyata tidak. Jalan hidup yang terpampang di depan adalah selubung misteri. Ada yang rumahnya dijual, ada yang pindah ke kota lain, lalu kemudian rumahnya dikontrakkan. Ada pula yang harus pindah karena masalah keluarga. Macam-macam. Pada akhirnya, tetangga saya juga akhirnya jadi silih berganti.

Beberapa dari tetangga saya yang sudah tidak ada lagi, baik itu meninggal maupun pindah ke tempat lain, menyimpan cerita masing-masing. Sialnya, beberapa sangat berkesan buat kami. Sengaja saya menyebut kami (saya dan teman-teman kecil), karena pengalaman bertetangga itu benar-benar kami rasakan ketika masih anak-anak. Ketika kami semua masih menjadi ‘bos’ di rumah masing-masing. Hehe. Ketika Ibu kami masih melakukan segala-galanya untuk ‘bos besar’. Ma’bida –mengenakan sarung- sebelum ke masjid, mengikatkan tali sepatu, hingga menyuapi kami selagi asyik depan televisi nonton Dragon Ball.

Eyang

Dulu, waktu awal masuk SD, tepat di depan rumah saya, ada pasangan tua tapi sangat ramah. Meski kami begitu badung kala itu, tak pernah sekalipun ia menunjukkan raut marah. Selalu senyum. Kami memanggilnya eyang dan kakek. Anak-anaknya sudah berkeluarga semua.

Jalanan antara rumahnya dan rumahku adalah lapangan bersejarah tempat kami bermain bola sewaku kecil. Rumah mereka cukup luas. Rumah itu memanjang karena dua rumah digabung jadi satu. Kedua ujung rumahnya itulah yang kami jadikan pojok gawang. Tiada hari tanpa bermain bola. Tanggal boleh merah, hari boleh minggu, main bola harus tetap jalan.

Tempat itu dulunya masih berupa jalanan tanah tidak mulus. Landasannya berselang-seling dengan batu-batu kecil yang siap membuat ujung jempol kaki robek menganga jika tidak berhati-hati. Setiap sore sepulang mengaji, kami pasti sudah mulai ramai. Menyusun sendal jepit di kedua ujung pengganti tiang gawang. Lalu membagi tim.

Ribut sekali kami ketika main bola. Maklum kami selalu berjumlah hampir sepuluh. Belum lagi debu-debu yang beterbangan membuat semua orang bakal menutup hidung. Tapi anehnya, eyang dan kakek selalu setia menonton kami bila sore tiba. Mereka berdiri di pinggir lapangan dengan senyum yang selalu tersampir. Padahal kakek pensiunan militer.

Beberapa kali ketika lapangan mulai berdebu saat permainan sedang seru-serunya, kakek menimba air saluran got depan rumah agar debu segera lenyap.

Satu lagi, bola plastik yang kami pakai juga kadang robek bila sudah terlalu sering berada diantara tubrukan kaki dengan kaki. Paling saya ingat, ketika kakek mengganti bola kami dengan yang baru. Meski begitu, kadang orang tua kami sampai tidak enak hati. Makanya mereka selalu menyuruh kami memperhatikan jangan sampai jemuran eyang yang tepat berada di pagar rumah terkena bola yang selalu tidak lepas dari air got.

Kakek dan eyang melihat kami sebagai anak kecil yang butuh bermain hingga puas. Bukan sebagai anak-anak yang menggangu. Tidak sampai dua atau tiga tahun kemudian (sungguh saya tidak ingat lagi kapan), kakek meninggal dan tidak sempat melihat kami tumbuh lebih tinggi.

Seandainya dulu kami dilarang bermain bola di depan rumahnya, hubungan pertemanan kami mungkin tidak seerat sekarang. *Eyang pindah ke Soroako mengikuti anaknya. Rumah yang satu dijual. Sekarang berlantai tiga. Rumah satunya lagi bentuknya masih tetap, dan sudah berganti pengontrak sebanyak tiga kali.

Atta Ucu’

Rumahnya pas di sebelah kanan rumah saya. Dua anaknya yang laki-laki adalah teman  sejak kecil yang sudah kuanggap keluarga sendiri. Di antara semua orang tua dari teman kecil kami, kepada beliaulah kami sanggup berakrab-akrab ria. Makanya  sejak awal kami  tidak memanggilnya sebutan ‘Om’ atau ‘Pak’, tapi langsung Atta Ucu’. Yusuf nama aslinya. Atta itu panggilan ayah bagi orang Bugis.

Waktu kecil, kami memiliki tiga titik kumpul sebelum bermain sampai keringat terakhir jelang mentari terbenam. Rumahku, rumahnya Atta Ucu’, dan Pos Ronda. Pos Ronda ini pun bisa dibilang rumahnya juga. Bangunan kayu sederhana itu dibangun pas di depan rumahnya. Di bawah pohon belimbing dan tepat di samping pohon mangga Manalagi dan Arumanis yang selalu berbuah lebat.

Rumah beliau dan pos ronda merupakan dua hal yang sudah begitu akrab sejak kami kanak-kanak. Juga satu lagi rumah di depannya. Beliau membelinya dan entah kenapa dibiarkan kosong. Cuma pernah dikontrakkan sekali tapi tidak lama. Maka jadilah rumah itu arena bermain yang sungguh sempurna bagi kami semua.

Beliau tidak pernah mengeluh rumah kosong dan halamanya ramai dengan anak-anak. Apalagi halamannya Bermain bola, kelereng, santo’, main asing, main monopoli, ulang tangga, lempat kwartet di kaleng, tamiya, perbaiki layang-layang, latihan kompetisi bola antar RT, dan banyak lagi. Justru ia senang, karena kedua anaknya memiliki teman yang banyak. Habis jumat adalah hari yang kami tunggu. Biasanya kami langsung ke rumahnya, memetik mangga mengkal, dan duduk leyeh-leyeh sambil kepedisan di dahannya yang kokoh.

Kebaikan dan perhatian beliau pada anak-anaknya membuat kami  juga kecipratan senang. Ia membantu kami merangkai arena tamiya. Saat itu harga tamiya saja sudah mahal apalagi arena balapnya. Waktu musim tamiya, kami akhirnya bisa bertanding di arena meski hanya terbuat dari pipa pralon.

Ia juga mendukung anaknya memelihara kucing di rumah. Kebiasaan dua anaknya itu membuat kami juga jadi ikut-ikutan suka memelihara kucing. Meski kadang orang dewasa menakut-nakuti kami kena asma kalau sering berciuman dengan kucing. Tapi tenang, tetangga kami yang lain lagi memelihara tanaman kumis kucing, obat asma.

Jadi dulu, kalau tidak salah ingat, saya dan Ical –anaknya Atta Ucu’– punya kucing bersama, namanya Keti. Keti punya banyak anak dari sejumlah bapak yang tidak jelas asal usulnya. Tahu-tahu, sudah beranak lima hingga enam ekor. Masih segar, ketika Ibu saya marah besar karena menemukan Keti menyusui anak-anaknya yang masih merah di dalam lemari.

Kami memutuskan, cuma yang paling cantik dan bagus bulunya yang boleh dipelihara. Namanya Ketron. Sikap Ketron juga sama seperti Ibunya. Memberikan kami banyak anak tanpa pernah tahu bahwa kami sebenarnya hanya butuh satu. Warna bulunya juga sama, abu-abu cerah.

Jaman itu, saya cuma tau pegang-pegang kucing. Urusan pelihara dengan baik, Ical yang punya tanggung jawab. Ical berinisiatif agar anak Ketron selanjutnya harus diberi tanda lahir. Pas ketika anaknya Ketron –cucu Keti- yang saya lupa diberikan nama apa lahir, Ical membuatkan tanda lahir. Agar asal usulnya jelas. Lahir dari siapa dan tanggal berapa. Sejenis akta kelahiran tulisan tangannya Ical berupa gambar kucing lucu tapi menyerupai anak macan. Akhirnya, bagian bawah kaki kirinya ditempelkan di kertas putih pengganti cap jempol. Kami lega, anak kucing ini, sah dalam pemeliharaan kami.

Jalanan depan rumahnya juga jadi saksi bagaimana kami jadi suka dengan bulu tangkis. Di bawah lampu jalan, kalau malam sabtu dan minggu tiba, kami bermain bulu tangkis sampai pukul sepuluh malam. Ia menyediakan raket dan cock. Tidak ada larangan. Kami, anak-anak laki-laki yang punya banyak energi berlebih ini akhirnya punya pelampiasan motorik yang pas.

Begitulah Atta Ucu’. Sejak kami kecil hingga sekarang ada yang sudah menimang bayi, kami tetap akrab mengambilnya begitu. Seolah masa hampir dua puluh tahun itu seperti kemarin saja. Masih akrab. Selalu dekat dan ramah.

Secara tidak sengaja, saya melihat fotonya, sendiri dudu di bawah tenda acara pernikahan orang tua saya. Bisa dibayangkan, dalam album dengan jumlah foto yang sangat terbatas itu, terselip satu wajah: Atta Ucu’.

#15HariMenulis