Posts Tagged ‘Temu Blogger’

DSCN8777

“Jangan pernah lelah mencintai Indonesia”  Sukardi Rinakit. Ujaran dari Ketua Tim Komunikasi Publik Presiden Joko Widodo itu tampaknya menjadi begitu relevan hari-hari belakangan ini. Di tengah sanggahan kebencian dan berita tidak benar, kembali pada semangat kesatuan Indonesia adalah pilihan bijak.

Bukan kenapa-kenapa, negeri ini sudah menghabiskan terlalu banyak energi, waktu, dan pikiran meng-counter segala pemberitaan di media sosial yang begitu kontra produktif. Sementara, bata-bata Indonesia, pada saat yang sama, harus dibangun dengan energi yang positif. Energi yang lahir dari semangat yang sama, dari Sabang sampai Merauke, dari Sangihe hingga Rote. Semangat itu, bernama Pancasila.

Barangkali, dan kita sama-sama berharap sama, itulah tujuan kegiatan hari ini diselenggarakan, Jumat 16 Juni 2017. Kominfo bekerjasa dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menggelar diskusi bertajuk “Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Bermedia Sosial” di. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan Flash Blogging yang dilaksanakan pada sesi akhir.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian Kota Makassar, Ir. H. Andi Hasdullah, M.Si mengakui bahwa media sosial di Indonesia, terutama sebagian  penggunanya memiliki pola pikir yang sudah jauh dari Pancasila. Sejak November tahun 2016 energi bangsa habis ditumpahruahkan dalam agenda-agenda intoleransi dan upaya memperkeruh semangat persatuan bangsa.

Oleh karena itu, sebuah praktik cerdas sekaligus inisiasi dilakukan oleh Dinas yang beliau pimpin demi mem-booming-kan kembali Pancasila di seluruh wilayah Indonesia. Gerakan ini diberi nama Gerakan Ayo Santun dan Produktif di Media Sosial. Strategi dilakukan dengan memberikan pemahaman pada masyarakat terhadap penggunaan media sosial. Sekitar seribu relawan mulai dari pelajar, wartawan, hingga pemerintah daerah bergabung menentang hoax dan ikut aktif dalam menggaungkan literasi media. Terakhir, beliau juga menyampaikan permintaannya agar semua blogger di Makassar ikut membantu gerakan ini, khususnya membantu mendiseminasikan informasi terkait pemerintahan dan konten positif lainnya. “kami melakukan ini dengan tujuan baik yakni agar nilai Pancasila tetap eksis sepanjang masa” tuturnya mengakhiri sambutan.

Sambutan Kedua disampaikan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika) yang pada siang hari ini diwakili Direktur Kemitraaan Komunikasi Bapak Dedet Sury Nandika.

Beliau yang mengenakan kemeja putih bersih lengan pendek ini memulai dengan cerita bagaimana Juni kemarin Presiden Jokowi mencanangkan Pekan Pancasila di minggu pertama bulan Juni baru-baru ini. Kita bisa saksikan media sosial dipenuhi tagar dan kampanye Saya Indonesia Saya Pancasila. Beliau begitu berharap agar Hari Pancasila 1 Juni tidak dijadikan momentum sekali setahun atau momentum seminggu, tapi bisa langsung merangsek ke seluruh hari dalam kehidupan individu dan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setelah segala sambutan, Ustad Abdul Rahman menutup dengan sebuah doa panjang yang berisi kerisauannya akan Indonesia hari ini yang mulai terpecah belah. Dalam doanya, sebagai seorang pemeluk teguh, ia melangitkan harapan, mengetuk pintu Rahmat dari Tuhan Maha Kuasa sehingga “semoga negara ini terhindar dari bencana moral, pertikaian, dan perselisihan yang tak ada habisnya

Diskusi hari ini menempatkan tiga orang narasumber utama dan satu orang moderator. Sesi pertama dibawakan Dr. Heri Santoso, Kepala Pusat Studi Pancasila Universitas Gajah Mada. Sehari-hari beliau juga menjadi dosen Fakultas Filsafat di tempat yang sama.

Tema yang beliau sampaikan ialah “Aktualisasi Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari”. Pengajar kelahiran Jogjakarta 1 September ini memulai dengan penjelasan bagaimana kita, seharusnya, beretika dalam mencakapkan banyak hal di media sosial.

Pengantarnya cukup unik, beliau mengetes sebagaimana dekat sila Pancasila dengan budaya lokal masing-masing. Dengan gayanya yang jenaka, ia menantang peserta menyebutkan semua sila dalam Pancasila dalam Bahasa Makassar.

Aktualisasi Pancasila itu, menurut beliau, idealnya diterapkan dalam kehidupan berbudaya, bernegara, beragama. Akibat logisnya, Pancasila diturunkan dalam produk-produk hukum dari yang paling tinggi sampai mungkin aturan dalam rukun tetangga atau rukun warga. Sebab Pancasila, merujuk istilah Soekarno, adalah landasan falsafah bangsa.

Bapak bangsa memiliki visi yang maju dengan memunculkan Pancasila dalam sebuah negara demokrasi. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dimasukkan sebagai landasan paling pertama dan paling utama. Oleh karena itu, negara kita bukan negara yang menganut sekularisme, teokratis, maupun komunis.

Bagi beliau, ada tiga tantangan besar bangsa ini. Pertama, merealisasikan cita-cita bersama yakni bangsa merdeka, bersatu, berdaulat, adil, makmur. Kedua, menangani kerapuhan internal bangsa ini yang menjadi keresahan bersama yakni korupsi, kolusi, nepotisme, kekerasan, sex bebas, narkoba, dll. Sedangkan yang ketiga mungkin bisa dikatakan problem terbesar. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga sedang mengancam negeri-negeri lain, Proxy War. Antara lain, masalah terorisme, HAM, disintegrasi bangsa, khilafah, komunisme, dan banyak lagi.

Pada intinya, semua orang, khususnya para netizen, dituntut cepat tapi juga harus tepat dan menampilkan kebenaran.

Sesi diskusi dilanjutkan oleh pemaparan Prof. Dr. H. Muhammad Ghalib, M. MA. Beliau kelahiran Bantaeng, 1 Oktober 1959. Jabatan beliau sekarang ini ialah Sekretaris Umum MUI Sulawesi Selatan.

Hari ini penggunaan media digital yang tidak bertanggung jawab. Munculnya hoax, fitnah, ghibah, namimah, gosip, pemutarbalikan fakta, ujaran kebencian, permusuhan, kesimpangsiuran, informasi palsu, dan hal terlarang lainnya yang menyebabkan disharmonisasi kehidupan sosial. Olehnya, MUI mengeluarkan Fatwa MUI Tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah di Media Sosial. Tentu dasarnya dari Al-Qur’an, Hadits, dan pendapat ulama

Beliau berpesan agar kita semua selalu melakukan tabayyun, maknanya cek ricek informasi. “Juga kita harus memberikan informasi yang membangun, bukan yang memecah belah,” kata Prof. Ghalib yang sehari-hari bertugas sebagai Guru Besar UIN Makassar. Sehingga, negara ini akan menjadi negara yang maju, santun, dan berperadaban. Dari Inggris sampai Iran. Itulah simbol luasnya Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Ringkasnya, setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut: senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, tidak mendorong kekufuran dan kemaksiatan; mempererat persaudaraan, baik persaudaraan KeIslaman, persaudaraan kebangsaan, dan persaudaraan kemanusiaan; dan memperkokoh kerukunan, baik intern umat beragama, antar umat beragama, maupun antar umat beragama dengan pemerintah.

Fatwa ini menjadi panduan dalam berinteraksi. Fatwa ini memberikan penguatan dari undang-undang. Inilah lebihnya Indonesia. Karena nafasnya sama. Kepatuhan sebagai umat beragama dan umat bernegara itu bisa bersinergi. Jadi, dua-duanya dapat, kita mampu menjadi warga yang baik dan umat yang baik. Inilah sinergi yang diharapkan. Menguatkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

“sesuatu yang baik juga harus disampaikan dengan cara-cara yang baik” Al-Qur’an

Terakhir disampaikan diskusi yang begitu memikat dari Bapak Handoko. Ia merupakan bagian dari Tim Komunikasi Publik Presiden Joko Widodo yang dipimpin langsung Sinardi Rinakit.

Sesi ini menurut saya lebih powerful, datang langsung Dari Sudut Istana. Tahun ini merupakan tahun ketiga pemerintahan Presiden Jokowi. Tahun pertama, adalah pondasi. Tahun kedua, adalah percepatan. Percepatan yang menjadi konsen utama dari segi infrastruktur, kebijakan deregulasi ekonomi, dan pembangunan manusia.

Kemudian tiga capaian ini dirangkum dalam video 60 detik yang menampilkan perkembangan memuaskan di setiap lini pembangunan yang sempat terekam. Satu kata dari saya, luar biasa rekam jejak yang sudah didokumentasikan dengan baik. Kami semua, para peserta berdecak kagum dan bertepuk tangan. Bagaimana Indonesia dirawat da diruwat dengan Kerja Nyata.

Kebijakan pemerintahan itu menangani ketimpangan antar daerah. Strategi ini dilakukan dengan memperbesar dana desa, menguatkan konektivitas antar daerah, pergerakan ekonomi di daerah

“Kita adalah bangsa pemenang dengan kerja nyata. Saya ingin Indonesia merata dan maju, dari Sabang sampai Merauke. Indonesia, Maju!” Presiden Joko Widodo (www.kerjanyata.id dan www.presidenri.go.id)

Sebelum mengakhiri, ijinkan saya mengutip Ma’ruf Cahyono, Wakil Ketua MPR yang mencoba membuat ungkapan-ungkapan yang menarik bagaimana kita menjadi santun di media sosial.

Sila 1 (Ke-Tuhanan Yang Maha Esa):
Berhenti Takabur Berhenti Takabur, Mulailah Bersyukur;
Berhenti Saling Merendahkan, Mulailah Menghormati Perbedaan;
Berhenti Menyakiti, Mulailah Menghargai.

Sila 2 (Kemanusian Yang Adil dan Beradab):
Stop Marah-Marah, Mulailah Bersikap Ramah;
Berhenti Curiga, Mulailah Menyapa;
Berhenti Berseteru, Mulailah Bersatu;
Berhenti Memaki, Mulailah Memakai Hati

Sila 3 (Persatuan Indonesia):
Berhenti Memaksakan, Mulailah Berkorban;
Berhenti Mencari Perbedaan, Mulailah Bergandeng Tangan;
Berhenti Berseteru, Mulailah Bersatu

Sila 4 (Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyarawatan Perwakilan):
Berhenti Bersilat Lidah, Mulailah Bermusyawarah;
Berhenti Silang Pendapat; Mulailah Bermufakat;
Berhenti Besar Kepala, Mulailah Berlapang Dada

Sila 5 (Persatuan Indonesia):
Berhenti Menang Sendiri, Mulailah Berbagi;
Berhenti Malas, Mulailah Bekerja Keras;
Stop Demonstrasi, Mulailah Toleransi
.

#Pancasila #TemuBlogger