150619-tanzania-burundi-refugees-image-04

Anak-anak pengungsi di Mekere, Tanzania (Photo: Kate Holt)

If you believe you’re a citizen of the world, you’re a citizen of nowhere. Jika kau percaya dirimu seorang warga global, maka kau bukan penduduk dari satu negara manapun. Kalimat ini dilontarkan Theresa May, Perdana Menteri Inggris dengan maksud menyindir “orang-orang global”.

Apakah mereka seperti karakter yang diciptakan Dostoyevsky dalam The Brothers Karamazov? Mungkin saja. Kisah ini mengabarkan si tokoh semakin mencintai kemanusia secara luas. Cintanya pada manusia sebagai pribadi menjadi semakin berkurang. Efeknya, ia menjadi tidak peka dengan hubungan interpersonal orang per orang. Kemudian perlahan ia menghilangkan kewajiban mengasihi yang seharusnya ia tunaikan pada kerabat-kerabat dekat.

Apa yang dikhawatirkan Theresa May beralasan. Global Citizen “orang-orang global” mungkin saja akan beralih kontraprodukif dengan mengabaikan kewajiban dan moral pada teman-teman sebangsanya. Pada tanah tumpah darahnya.

Mereka, “orang-orang global” yang merasa tidak terikat dengan aturan manapun. Mereka yang sibuk merentangkannya dunianya yang tanpa sekat. Merasa tidak punya kepentingan dan ikatan batin pada sebuah tempat di masa lalu. Di mana dahulu mereka pertama kali keluar melihat dunia: Tanah Kelahiran.

Sesulit itukah rasa memiliki?

Sementara di belahan bumi lain, ada orang-orang yang terusir dari kampung halamannya. Bukan hanya terpaksa pindah, tapi tanah tempat mereka lahir dan besar juga porak poranda. Laporan UNHCR menyebutkan, di tahun 2016, setiap 20 menit, 20 orang terpaksa melarikan diri dari tanah kelahirannya. Terkhusus di Suriah, setiap 6 dari 10 penduduknya mengungsi karena krisis keamanan. Hingga hari ini, terdapat hampir 66 juga pengungsi dunia. Lebih dari 51 persen berusia di bawah 18 tahun. Mereka menghindari persekusi (perburuan), menderita konflik tak berkesudahan, mengalami kekerasan dan perampasan hak hidup merdeka di tanah sendiri.

Mengutip Antonio Gueterres, Sekjend PBB yang menggantikan Ban Ki Moon, perlindungan terhadap pengungsi adalah tanggung jawab kolektif bukan hanya dari negera tetangga mereka, tapi dari seluruh komunitas international. Kita berdoa, semoga mereka tetap kuat di tanah manapun mereka datangi. Sebagaimana ungkapan seorang Prancis di abad 12, ia berkata “Orang yang mendapatkan negerinya menyenangkan adalah pemula yang masih mentah. Orang yang mendapatkan setiap negeri merupakan negerinya, ia sudah jadi orang kuat.”

***

Bagiku, tanah kelahiran adalah tempat pulang. Tempat-tempat lain hanyalah persinggahan. Tanah lahir itu tempat kembali ketika menuntaskan satu perjalanan panjang. Meski tidak semua orang bisa kembali, sebagian besar kita semua memiliki ikatan batin dengan tanah kelahiran. Lalu kemudian, memimpikan satu tujuan: pulang, ke bumi tempat adat istiadat dijunjung.

Apakah kawan mengingat lagu Ibu Sud tentang kerinduannya pada tanah kelahiran? Ya, judulnya “Tanah Air”. Tembang ini sungguh layak kita persembahkan bagi diaspora Indonesia yang terserak di sejumlah negara di dunia. Mereka yang bekerja atau belajar di negeri orang. Namun selalu menyimpan keinginan kuat kembali ke tanah air, tempat kelahiran.

Jangankan mereka yang berada di sisi lain dunia, bila sedang tidak berada di kota kelahiran, Makassar, saya kadang rindu pulang. Apalagi menjelang hari raya begini. Momen berkumpulnya sanak saudara di rumah. Teman-teman masa kecil dan tetangga-tetangga yang merantau di kota lain turut datang. Memeriahkan perayaan “pulang” ke rumah masing-masing. Meski hanya sekali setahun, tapi lebih dari cukup mengobati kerinduan.

Bertemu secara fisik memang tidak ada duanya. Sangat berbeda jika hanya lewat seperangkat aplikasi teks dan video. Percakapan intens dan sentuhan minor yang tulus akan melambari perasaan. Berjabat tangan dan meraih pundak untuk dipeluk misalnya. Semua itu membuat suasana menjadi nyaman dan penuh kehangatan berbincang satu sama lain. Tentunya, itu semua bisa terjadi di tanah kelahiran.

Makassar, dulu Ujung Pandang, adalah tanah tempat saya lahir dan bertumbuh remaja, dan memasuki usia dewasa. Di sini, saya bersepekat dengan Ibu Sud, bahwa “Tanah Air” adalah semua ingatan kolektif yang tidak akan terlupakan, meski pergi jauh, dan selalu dicintai dan dihargai.

Saya punya secarik foto di album keluarga. Foto itu menampilkan saya masih bayi digendong tante. Ceritanya tante dan sepupu yang berjumlah lima orang yang semua mengenakan mukena putih-putih. Sepertinya mereka lepas mengerjakan shalat. Sajadah masih terhampar rapi. Mereka melakukannya berjamaah di ruang tengah rumah nenek di Bone. Setelah itu, seorang tante mengambil saya dan meletakkannya di depan kedua belah tangan. Mereka berfoto dalam posisi paling rapi. Karena masih analog, foto harus benar-benar bagus. Hasil fotonya memang benar-benar bagus.

Dari foto itu, saya juga merasa punya pertalian darah kuat dengan sebuah kampung di Bone sana, tempat Ibu dan ayah dilahirkan. Tempat di mana saya, sebagai keponakan dan cucu, ditimang dan digendong dengan rasa bahagia membuncah dan setangkup syukur dari keluarga besar.

Di Makassar, saya akan selalu ingat, meski samar-samar, bagaimana pertama kali diajarkan pakai sarung, dipaksa ke masjid belajar mengaji, dan aroma burasa’ yang dimasak dua hari sebelum lebaran.

Juga saya akan selalu ingat jernihnya langit dan pemandangan perbatasan Gowa dan Makassar (sekarang tugu Badik). Dari belakang rumah, kami biasa menembus jalan sawah hingga ujung perumahan, barulah kami bisa melihat dengan lebih jelas. Saya ingat kalau sore saat hujan reda dan awan gelap tersibak lalu berubah cerah seketika. Lanskap di baliknya begitu mengundang. Puncak Gunung Lompobattang kelihatan jelas. Sekeliling puncaknya yang berupa kawah kecil disaput kabut-kabut tipis. Bau udara yang menyeruak begitu segar.

Waktu itu, antara akhir 90 dan awal dua ribuan. Belum ada jalan tembus. Belum terbayangkan akan ada jalan Hertasning Baru, Jalan Aroepala, ataupun Tun Abdul Razak. Kami masih bisa melihat satu dua hutan-hutan kecil yang membelah luasnya areal persawahan dari kejauhan. Semua masih hijau. Saat itu, kami yang masih kanak-kanak selalu merasakan kuatnya aroma petualangan yang tersembunyi dari sana. Sesekali kami mencoba menembus masuk ke lahan-lahan sawah yang paling jauh. Atau berjalan hingga bendungan yang terletak jauh di hilir kanal.

Hari ini, bersyukurlah kita yang masih bisa merasakan udara kampung halaman. Masih bisa menyaksikan cahaya malam yang berpendar di langit kota kelahiran disertai seluruh anggota keluarga. Tidak menjadi masalah pengakuan sebagai global citizen atau bukan. Bagaimanapun, kita semua adalah anak kandung dari the only one of homeland. Kampung: satu-satunya tanah kelahiran yang kita punya masing-masing. Agama mengajarkan kita untuk mencintai tanah air, karena itu bagian dari iman.

Nah, mari kita ‘pulang’ sejenak. Pulang ke tanah kelahiran. Kembali ke tempat kita belajar sujud pertama kali pada-Nya. Pulang ke tanah kelahiran yang mengingatkan lagi masa berhimpun kerabat, keluarga dan tetangga yang senantiasa mengakrabi kehidupan.

Laporan UNHCR. Global Trends “Forced Displacement in 2016”. 2016.
Laporan Pew Research. Key Facts about The World Refugees. 2016

#15HariMenulis
Kunjungi tulisan lainnya:
1. Hasymi Arif: Mamuju dan Kenangan Masa Kecil
2. Atrasina Adlina: Tips Agar Merasa Tak Sendirian, Jika Tak Mudik

 

104452_indofood4

detik.com

Jangan suka makan mi instan, bumbunya bisa bikin kamu bodoh. Itu satu ancaman dari hampir semua orang dewasa waktu saya kecil.

Ibu, teman Ibu, tetangga, teman main, jamaah masjid, guru ngaji TPA, tukang antar air, semua mengatakan hal sama dan mereka percaya. Sebagai anak-anak, saya tidak bisa langsung percaya. Antara percaya dan tidak percaya. Sebagian diri saya percaya, tapi sebagian lagi menganggap itu cuma gertak sambal. Sebab kenyataannya, saya melihat dengan kepala mata sendiri mereka juga hampir tiap hari makan mi instan.

Saya benar-benar tidak tahu ungkapan itu asalnya dari mana. Tiba-tiba saja, ujaran itu menjadi nasihat yang diterima luas anak-anak ketika itu. Kalimat itu jadi menakutkan bagi anak-anak SD di sekolahan yang kala itu saling berburu Rangking di kelas. Percayalah, saat itu kami semua berburu enam posisi tertinggi. Rangking satu dua tiga dan level tingkat harapan. Otomatis tidak ada yang menginginkan menjadi bodoh.

Dulu, ada seorang teman SD, namanya Ridho (bukan nama sesungguhnya). Pernah satu kesempatan saya diajak kerumahnya. Kemudian mendapati di bawah kasurnya ada satu dus berisi mi instan merek Megah Mie. Sementara di atasnya ia sementara melahap mi instan. Kiri kanan bibirnya dipenuhi serbuk-serbuk bumbu yang menempel bergerak-gerak mengikuti gerakan mulutnya. Saya langsung terkaget-kaget, mungkin shock.

“mungkin mi instan telah membuat teman saya ini jadi malas ke sekolah dan jarang kerja PR.” Saya sempat membatin yang tidak-tidak. Tidak ada bukti bahwa teman baik saya itu kurang bisa menangkap pelajaran gara-gara Megah Mie. Tapi, semua orang di sekolah selalu menghubungkan pengaruh Ridho yang hampir selalu terlihat mengunyah mi instan dengan kurang fokusnya ia di kelas. Baiklah, saya mengakui, hubungan saya waktu kecil tidak begitu baik dengan mi instan.

***

Tapi ada satu kejadian yang membuat kami sejenak semua melupakan ancaman itu “Tukar Sepuluh Bungkus Gratis Satu Indomie”. Momen yang tidak lebih sebulan itu jadi kegiatan mengumpulkan bungkus mi instan merek Indomie rasa apa saja. Anak-anak-tua-muda-Ibu-ibu semua punya koleksi masing-masing. Siapa yang giat dia yang dapat.

Kami, anak-anak yang saling bertetangga tidak mau kalah. Meski saya tahu kebanyakan mereka tidak suka Indomie, tapi semangat begitu membara. Beramai-ramai setiap siang dan sore, apalagi di hari Minggu, kami berkeliling kompleks. Membuka tiap penutup bak sampah masing-masing rumah. Tidak luput tempat pembuangan sampah RW kami sambangi. Lokasinya berada di ujung pojok gang RT, dulunya masih berupa rawa berair. Penuh semak tinggi-tinggi yang menyimpan misteri, becek, dan ughhhh baunya minta ampun. Salah sedikit, bisa terperosok. Bau tidak sedap tidak kami pedulikan, yang penting senangnya bisa rame-rame.

Paling gembira itu kalau kami menemukan bungkus Indomie yang logonya masih utuh (kalau tidak utuh, si Engkoh tidak mau terima). “Yuhu, dapat,” sorak kami berganti-ganti. Terlebih setelah mengorek-ngorek sampah yang bercampur tanah becek dan sampah lainnya, kami menemukan sebentuk makhluk coklat berbuku-buku hampir transaparan: cacing. Duh, lezatnya. Lumayan bisa digunakan memancing Ikan Balbal (Bale Balang) alias ikan lumpur di sawah belakang RT sebelah.

Setelah itu, menjelang maghrib, berangkatlah kami menuju dua tempat yang selalu mengakrabi kami. Dua toko terbesar se-RW kala itu. Kami menyebutnya ‘Aci’ Dekat’ dan ‘Aci’ Jauh’, mengacu letaknya yang ujung pukul ujung. Entah kenapa waktu itu kami lebih memilih toko Aci Jauh. Mungkin waktu itu karena semua orang menukarkan bungkus Indomie di situ. Sehari-hari, satu RW memang sering belanja di situ karena barangnya lengkap.

Saya ingat persis, dengan baju kotor, badan bau sampah, dan ujung-ujung rambut yang lecek kena tanah lumpur, kami (lebih dari tiga orang) masuk ke toko Aci yang bersejarah. Sendal kami becek meninggalkan jejak-jejak coklat tidak diinginkan berbentuk model Swallow.

Kalau kawan baca Laskar Pelangi bagian deskripsi toko tempat Lintang beli kapur untuk SD Gantong, begitulah kira-kira tempat ini. Padat penuh jualan. Sekali senggol, menara barang dagangan siap menelan kami. Bila lima orang pembeli masuk, bersenggolan pasti tidak terhindarkan. Kecuali di bagian gudang belakang. Tenang, tidak ada adegan salah satu dari kami jatuh cinta pandangan pertama pada anak perempuan Engkoh sebaya kami sebagaimana Lintang bertemu A Ling. Saat itu, meski kami merasa gagah-gagahnya karena berhasil membawa pulang Indomie, dan tentu saja, cacing, kami seperti aib, kotor. Lagipula, anak-anak Engkoh, laki-laki.

Kala itu, Engkoh berbadan besar siap dengan kalkulator di bagian tengah toko. Ujung jemari tangannya besar-besar melebihi ruas tombol angka-angka di situ. Ia menekan dan menghitung berapa bawaan kami hari itu.

Ketika melongo, tampak bungkus Indomie bersusun berbaris-baris dan nyaris menyentuh langit-langit toko. Menghitung usaha kami hari itu, rasanya seperti cacing di tengah kepungan orang tua Anaconda. Di dalam, sudah banyak orang tersenyum puasa menerima lima hingga bungkus Indomie mereka.

Begitulah. Meski hasil perburuan Indomie kami cukup memuaskan, semua hasilnya diserahkan ke rumah masing-masing. Karena yang terpenting adalah: cacing. Walau demikian, tetap saja, nama buruk Indomie mulai membaik di mata kami. Terima kasih Indomie, terima kasih Engkoh***

Kunjungi tulisan lainn Project #15HariMenulis di:
a. Perihal Mi Instan (Irmawati)
b. Mie Instan (A. Citra Pratiwi)
c. Pagi Makan Indomie, Malam Minum Promag (Hasymi Arif)
d. Mi Instan yang Bersejarah (Andi Arifayani)
e. Mi Instan dan Bulan Terang (Ma’ruf M Noor)
f. Cinta di Semangkuk Mie Rebus (Atrasina Adlina)

DSCN8777

“Jangan pernah lelah mencintai Indonesia”  Sukardi Rinakit. Ujaran dari Ketua Tim Komunikasi Publik Presiden Joko Widodo itu tampaknya menjadi begitu relevan hari-hari belakangan ini. Di tengah sanggahan kebencian dan berita tidak benar, kembali pada semangat kesatuan Indonesia adalah pilihan bijak.

Bukan kenapa-kenapa, negeri ini sudah menghabiskan terlalu banyak energi, waktu, dan pikiran meng-counter segala pemberitaan di media sosial yang begitu kontra produktif. Sementara, bata-bata Indonesia, pada saat yang sama, harus dibangun dengan energi yang positif. Energi yang lahir dari semangat yang sama, dari Sabang sampai Merauke, dari Sangihe hingga Rote. Semangat itu, bernama Pancasila.

Barangkali, dan kita sama-sama berharap sama, itulah tujuan kegiatan hari ini diselenggarakan, Jumat 16 Juni 2017. Kominfo bekerjasa dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menggelar diskusi bertajuk “Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Bermedia Sosial” di. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan Flash Blogging yang dilaksanakan pada sesi akhir.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian Kota Makassar, Ir. H. Andi Hasdullah, M.Si mengakui bahwa media sosial di Indonesia, terutama sebagian  penggunanya memiliki pola pikir yang sudah jauh dari Pancasila. Sejak November tahun 2016 energi bangsa habis ditumpahruahkan dalam agenda-agenda intoleransi dan upaya memperkeruh semangat persatuan bangsa.

Oleh karena itu, sebuah praktik cerdas sekaligus inisiasi dilakukan oleh Dinas yang beliau pimpin demi mem-booming-kan kembali Pancasila di seluruh wilayah Indonesia. Gerakan ini diberi nama Gerakan Ayo Santun dan Produktif di Media Sosial. Strategi dilakukan dengan memberikan pemahaman pada masyarakat terhadap penggunaan media sosial. Sekitar seribu relawan mulai dari pelajar, wartawan, hingga pemerintah daerah bergabung menentang hoax dan ikut aktif dalam menggaungkan literasi media. Terakhir, beliau juga menyampaikan permintaannya agar semua blogger di Makassar ikut membantu gerakan ini, khususnya membantu mendiseminasikan informasi terkait pemerintahan dan konten positif lainnya. “kami melakukan ini dengan tujuan baik yakni agar nilai Pancasila tetap eksis sepanjang masa” tuturnya mengakhiri sambutan.

Sambutan Kedua disampaikan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika) yang pada siang hari ini diwakili Direktur Kemitraaan Komunikasi Bapak Dedet Sury Nandika.

Beliau yang mengenakan kemeja putih bersih lengan pendek ini memulai dengan cerita bagaimana Juni kemarin Presiden Jokowi mencanangkan Pekan Pancasila di minggu pertama bulan Juni baru-baru ini. Kita bisa saksikan media sosial dipenuhi tagar dan kampanye Saya Indonesia Saya Pancasila. Beliau begitu berharap agar Hari Pancasila 1 Juni tidak dijadikan momentum sekali setahun atau momentum seminggu, tapi bisa langsung merangsek ke seluruh hari dalam kehidupan individu dan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setelah segala sambutan, Ustad Abdul Rahman menutup dengan sebuah doa panjang yang berisi kerisauannya akan Indonesia hari ini yang mulai terpecah belah. Dalam doanya, sebagai seorang pemeluk teguh, ia melangitkan harapan, mengetuk pintu Rahmat dari Tuhan Maha Kuasa sehingga “semoga negara ini terhindar dari bencana moral, pertikaian, dan perselisihan yang tak ada habisnya

Diskusi hari ini menempatkan tiga orang narasumber utama dan satu orang moderator. Sesi pertama dibawakan Dr. Heri Santoso, Kepala Pusat Studi Pancasila Universitas Gajah Mada. Sehari-hari beliau juga menjadi dosen Fakultas Filsafat di tempat yang sama.

Tema yang beliau sampaikan ialah “Aktualisasi Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari”. Pengajar kelahiran Jogjakarta 1 September ini memulai dengan penjelasan bagaimana kita, seharusnya, beretika dalam mencakapkan banyak hal di media sosial.

Pengantarnya cukup unik, beliau mengetes sebagaimana dekat sila Pancasila dengan budaya lokal masing-masing. Dengan gayanya yang jenaka, ia menantang peserta menyebutkan semua sila dalam Pancasila dalam Bahasa Makassar.

Aktualisasi Pancasila itu, menurut beliau, idealnya diterapkan dalam kehidupan berbudaya, bernegara, beragama. Akibat logisnya, Pancasila diturunkan dalam produk-produk hukum dari yang paling tinggi sampai mungkin aturan dalam rukun tetangga atau rukun warga. Sebab Pancasila, merujuk istilah Soekarno, adalah landasan falsafah bangsa.

Bapak bangsa memiliki visi yang maju dengan memunculkan Pancasila dalam sebuah negara demokrasi. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dimasukkan sebagai landasan paling pertama dan paling utama. Oleh karena itu, negara kita bukan negara yang menganut sekularisme, teokratis, maupun komunis.

Bagi beliau, ada tiga tantangan besar bangsa ini. Pertama, merealisasikan cita-cita bersama yakni bangsa merdeka, bersatu, berdaulat, adil, makmur. Kedua, menangani kerapuhan internal bangsa ini yang menjadi keresahan bersama yakni korupsi, kolusi, nepotisme, kekerasan, sex bebas, narkoba, dll. Sedangkan yang ketiga mungkin bisa dikatakan problem terbesar. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga sedang mengancam negeri-negeri lain, Proxy War. Antara lain, masalah terorisme, HAM, disintegrasi bangsa, khilafah, komunisme, dan banyak lagi.

Pada intinya, semua orang, khususnya para netizen, dituntut cepat tapi juga harus tepat dan menampilkan kebenaran.

Sesi diskusi dilanjutkan oleh pemaparan Prof. Dr. H. Muhammad Ghalib, M. MA. Beliau kelahiran Bantaeng, 1 Oktober 1959. Jabatan beliau sekarang ini ialah Sekretaris Umum MUI Sulawesi Selatan.

Hari ini penggunaan media digital yang tidak bertanggung jawab. Munculnya hoax, fitnah, ghibah, namimah, gosip, pemutarbalikan fakta, ujaran kebencian, permusuhan, kesimpangsiuran, informasi palsu, dan hal terlarang lainnya yang menyebabkan disharmonisasi kehidupan sosial. Olehnya, MUI mengeluarkan Fatwa MUI Tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah di Media Sosial. Tentu dasarnya dari Al-Qur’an, Hadits, dan pendapat ulama

Beliau berpesan agar kita semua selalu melakukan tabayyun, maknanya cek ricek informasi. “Juga kita harus memberikan informasi yang membangun, bukan yang memecah belah,” kata Prof. Ghalib yang sehari-hari bertugas sebagai Guru Besar UIN Makassar. Sehingga, negara ini akan menjadi negara yang maju, santun, dan berperadaban. Dari Inggris sampai Iran. Itulah simbol luasnya Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Ringkasnya, setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut: senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, tidak mendorong kekufuran dan kemaksiatan; mempererat persaudaraan, baik persaudaraan KeIslaman, persaudaraan kebangsaan, dan persaudaraan kemanusiaan; dan memperkokoh kerukunan, baik intern umat beragama, antar umat beragama, maupun antar umat beragama dengan pemerintah.

Fatwa ini menjadi panduan dalam berinteraksi. Fatwa ini memberikan penguatan dari undang-undang. Inilah lebihnya Indonesia. Karena nafasnya sama. Kepatuhan sebagai umat beragama dan umat bernegara itu bisa bersinergi. Jadi, dua-duanya dapat, kita mampu menjadi warga yang baik dan umat yang baik. Inilah sinergi yang diharapkan. Menguatkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

“sesuatu yang baik juga harus disampaikan dengan cara-cara yang baik” Al-Qur’an

Terakhir disampaikan diskusi yang begitu memikat dari Bapak Handoko. Ia merupakan bagian dari Tim Komunikasi Publik Presiden Joko Widodo yang dipimpin langsung Sinardi Rinakit.

Sesi ini menurut saya lebih powerful, datang langsung Dari Sudut Istana. Tahun ini merupakan tahun ketiga pemerintahan Presiden Jokowi. Tahun pertama, adalah pondasi. Tahun kedua, adalah percepatan. Percepatan yang menjadi konsen utama dari segi infrastruktur, kebijakan deregulasi ekonomi, dan pembangunan manusia.

Kemudian tiga capaian ini dirangkum dalam video 60 detik yang menampilkan perkembangan memuaskan di setiap lini pembangunan yang sempat terekam. Satu kata dari saya, luar biasa rekam jejak yang sudah didokumentasikan dengan baik. Kami semua, para peserta berdecak kagum dan bertepuk tangan. Bagaimana Indonesia dirawat da diruwat dengan Kerja Nyata.

Kebijakan pemerintahan itu menangani ketimpangan antar daerah. Strategi ini dilakukan dengan memperbesar dana desa, menguatkan konektivitas antar daerah, pergerakan ekonomi di daerah

“Kita adalah bangsa pemenang dengan kerja nyata. Saya ingin Indonesia merata dan maju, dari Sabang sampai Merauke. Indonesia, Maju!” Presiden Joko Widodo (www.kerjanyata.id dan www.presidenri.go.id)

Sebelum mengakhiri, ijinkan saya mengutip Ma’ruf Cahyono, Wakil Ketua MPR yang mencoba membuat ungkapan-ungkapan yang menarik bagaimana kita menjadi santun di media sosial.

Sila 1 (Ke-Tuhanan Yang Maha Esa):
Berhenti Takabur Berhenti Takabur, Mulailah Bersyukur;
Berhenti Saling Merendahkan, Mulailah Menghormati Perbedaan;
Berhenti Menyakiti, Mulailah Menghargai.

Sila 2 (Kemanusian Yang Adil dan Beradab):
Stop Marah-Marah, Mulailah Bersikap Ramah;
Berhenti Curiga, Mulailah Menyapa;
Berhenti Berseteru, Mulailah Bersatu;
Berhenti Memaki, Mulailah Memakai Hati

Sila 3 (Persatuan Indonesia):
Berhenti Memaksakan, Mulailah Berkorban;
Berhenti Mencari Perbedaan, Mulailah Bergandeng Tangan;
Berhenti Berseteru, Mulailah Bersatu

Sila 4 (Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyarawatan Perwakilan):
Berhenti Bersilat Lidah, Mulailah Bermusyawarah;
Berhenti Silang Pendapat; Mulailah Bermufakat;
Berhenti Besar Kepala, Mulailah Berlapang Dada

Sila 5 (Persatuan Indonesia):
Berhenti Menang Sendiri, Mulailah Berbagi;
Berhenti Malas, Mulailah Bekerja Keras;
Stop Demonstrasi, Mulailah Toleransi
.

#Pancasila #TemuBlogger