104452_indofood4

detik.com

Jangan suka makan mi instan, bumbunya bisa bikin kamu bodoh. Itu satu ancaman dari hampir semua orang dewasa waktu saya kecil.

Ibu, teman Ibu, tetangga, teman main, jamaah masjid, guru ngaji TPA, tukang antar air, semua mengatakan hal sama dan mereka percaya. Sebagai anak-anak, saya tidak bisa langsung percaya. Antara percaya dan tidak percaya. Sebagian diri saya percaya, tapi sebagian lagi menganggap itu cuma gertak sambal. Sebab kenyataannya, saya melihat dengan kepala mata sendiri mereka juga hampir tiap hari makan mi instan.

Saya benar-benar tidak tahu ungkapan itu asalnya dari mana. Tiba-tiba saja, ujaran itu menjadi nasihat yang diterima luas anak-anak ketika itu. Kalimat itu jadi menakutkan bagi anak-anak SD di sekolahan yang kala itu saling berburu Rangking di kelas. Percayalah, saat itu kami semua berburu enam posisi tertinggi. Rangking satu dua tiga dan level tingkat harapan. Otomatis tidak ada yang menginginkan menjadi bodoh.

Dulu, ada seorang teman SD, namanya Ridho (bukan nama sesungguhnya). Pernah satu kesempatan saya diajak kerumahnya. Kemudian mendapati di bawah kasurnya ada satu dus berisi mi instan merek Megah Mie. Sementara di atasnya ia sementara melahap mi instan. Kiri kanan bibirnya dipenuhi serbuk-serbuk bumbu yang menempel bergerak-gerak mengikuti gerakan mulutnya. Saya langsung terkaget-kaget, mungkin shock.

“mungkin mi instan telah membuat teman saya ini jadi malas ke sekolah dan jarang kerja PR.” Saya sempat membatin yang tidak-tidak. Tidak ada bukti bahwa teman baik saya itu kurang bisa menangkap pelajaran gara-gara Megah Mie. Tapi, semua orang di sekolah selalu menghubungkan pengaruh Ridho yang hampir selalu terlihat mengunyah mi instan dengan kurang fokusnya ia di kelas. Baiklah, saya mengakui, hubungan saya waktu kecil tidak begitu baik dengan mi instan.

***

Tapi ada satu kejadian yang membuat kami sejenak semua melupakan ancaman itu “Tukar Sepuluh Bungkus Gratis Satu Indomie”. Momen yang tidak lebih sebulan itu jadi kegiatan mengumpulkan bungkus mi instan merek Indomie rasa apa saja. Anak-anak-tua-muda-Ibu-ibu semua punya koleksi masing-masing. Siapa yang giat dia yang dapat.

Kami, anak-anak yang saling bertetangga tidak mau kalah. Meski saya tahu kebanyakan mereka tidak suka Indomie, tapi semangat begitu membara. Beramai-ramai setiap siang dan sore, apalagi di hari Minggu, kami berkeliling kompleks. Membuka tiap penutup bak sampah masing-masing rumah. Tidak luput tempat pembuangan sampah RW kami sambangi. Lokasinya berada di ujung pojok gang RT, dulunya masih berupa rawa berair. Penuh semak tinggi-tinggi yang menyimpan misteri, becek, dan ughhhh baunya minta ampun. Salah sedikit, bisa terperosok. Bau tidak sedap tidak kami pedulikan, yang penting senangnya bisa rame-rame.

Paling gembira itu kalau kami menemukan bungkus Indomie yang logonya masih utuh (kalau tidak utuh, si Engkoh tidak mau terima). “Yuhu, dapat,” sorak kami berganti-ganti. Terlebih setelah mengorek-ngorek sampah yang bercampur tanah becek dan sampah lainnya, kami menemukan sebentuk makhluk coklat berbuku-buku hampir transaparan: cacing. Duh, lezatnya. Lumayan bisa digunakan memancing Ikan Balbal (Bale Balang) alias ikan lumpur di sawah belakang RT sebelah.

Setelah itu, menjelang maghrib, berangkatlah kami menuju dua tempat yang selalu mengakrabi kami. Dua toko terbesar se-RW kala itu. Kami menyebutnya ‘Aci’ Dekat’ dan ‘Aci’ Jauh’, mengacu letaknya yang ujung pukul ujung. Entah kenapa waktu itu kami lebih memilih toko Aci Jauh. Mungkin waktu itu karena semua orang menukarkan bungkus Indomie di situ. Sehari-hari, satu RW memang sering belanja di situ karena barangnya lengkap.

Saya ingat persis, dengan baju kotor, badan bau sampah, dan ujung-ujung rambut yang lecek kena tanah lumpur, kami (lebih dari tiga orang) masuk ke toko Aci yang bersejarah. Sendal kami becek meninggalkan jejak-jejak coklat tidak diinginkan berbentuk model Swallow.

Kalau kawan baca Laskar Pelangi bagian deskripsi toko tempat Lintang beli kapur untuk SD Gantong, begitulah kira-kira tempat ini. Padat penuh jualan. Sekali senggol, menara barang dagangan siap menelan kami. Bila lima orang pembeli masuk, bersenggolan pasti tidak terhindarkan. Kecuali di bagian gudang belakang. Tenang, tidak ada adegan salah satu dari kami jatuh cinta pandangan pertama pada anak perempuan Engkoh sebaya kami sebagaimana Lintang bertemu A Ling. Saat itu, meski kami merasa gagah-gagahnya karena berhasil membawa pulang Indomie, dan tentu saja, cacing, kami seperti aib, kotor. Lagipula, anak-anak Engkoh, laki-laki.

Kala itu, Engkoh berbadan besar siap dengan kalkulator di bagian tengah toko. Ujung jemari tangannya besar-besar melebihi ruas tombol angka-angka di situ. Ia menekan dan menghitung berapa bawaan kami hari itu.

Ketika melongo, tampak bungkus Indomie bersusun berbaris-baris dan nyaris menyentuh langit-langit toko. Menghitung usaha kami hari itu, rasanya seperti cacing di tengah kepungan orang tua Anaconda. Di dalam, sudah banyak orang tersenyum puasa menerima lima hingga bungkus Indomie mereka.

Begitulah. Meski hasil perburuan Indomie kami cukup memuaskan, semua hasilnya diserahkan ke rumah masing-masing. Karena yang terpenting adalah: cacing. Walau demikian, tetap saja, nama buruk Indomie mulai membaik di mata kami. Terima kasih Indomie, terima kasih Engkoh***

Kunjungi tulisan lainn Project #15HariMenulis di:
a. Perihal Mi Instan (Irmawati)
b. Mie Instan (A. Citra Pratiwi)
c. Pagi Makan Indomie, Malam Minum Promag (Hasymi Arif)
d. Mi Instan yang Bersejarah (Andi Arifayani)
e. Mi Instan dan Bulan Terang (Ma’ruf M Noor)
f. Cinta di Semangkuk Mie Rebus (Atrasina Adlina)

DSCN8777

“Jangan pernah lelah mencintai Indonesia”  Sukardi Rinakit. Ujaran dari Ketua Tim Komunikasi Publik Presiden Joko Widodo itu tampaknya menjadi begitu relevan hari-hari belakangan ini. Di tengah sanggahan kebencian dan berita tidak benar, kembali pada semangat kesatuan Indonesia adalah pilihan bijak.

Bukan kenapa-kenapa, negeri ini sudah menghabiskan terlalu banyak energi, waktu, dan pikiran meng-counter segala pemberitaan di media sosial yang begitu kontra produktif. Sementara, bata-bata Indonesia, pada saat yang sama, harus dibangun dengan energi yang positif. Energi yang lahir dari semangat yang sama, dari Sabang sampai Merauke, dari Sangihe hingga Rote. Semangat itu, bernama Pancasila.

Barangkali, dan kita sama-sama berharap sama, itulah tujuan kegiatan hari ini diselenggarakan, Jumat 16 Juni 2017. Kominfo bekerjasa dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menggelar diskusi bertajuk “Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Bermedia Sosial” di. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan Flash Blogging yang dilaksanakan pada sesi akhir.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian Kota Makassar, Ir. H. Andi Hasdullah, M.Si mengakui bahwa media sosial di Indonesia, terutama sebagian  penggunanya memiliki pola pikir yang sudah jauh dari Pancasila. Sejak November tahun 2016 energi bangsa habis ditumpahruahkan dalam agenda-agenda intoleransi dan upaya memperkeruh semangat persatuan bangsa.

Oleh karena itu, sebuah praktik cerdas sekaligus inisiasi dilakukan oleh Dinas yang beliau pimpin demi mem-booming-kan kembali Pancasila di seluruh wilayah Indonesia. Gerakan ini diberi nama Gerakan Ayo Santun dan Produktif di Media Sosial. Strategi dilakukan dengan memberikan pemahaman pada masyarakat terhadap penggunaan media sosial. Sekitar seribu relawan mulai dari pelajar, wartawan, hingga pemerintah daerah bergabung menentang hoax dan ikut aktif dalam menggaungkan literasi media. Terakhir, beliau juga menyampaikan permintaannya agar semua blogger di Makassar ikut membantu gerakan ini, khususnya membantu mendiseminasikan informasi terkait pemerintahan dan konten positif lainnya. “kami melakukan ini dengan tujuan baik yakni agar nilai Pancasila tetap eksis sepanjang masa” tuturnya mengakhiri sambutan.

Sambutan Kedua disampaikan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika) yang pada siang hari ini diwakili Direktur Kemitraaan Komunikasi Bapak Dedet Sury Nandika.

Beliau yang mengenakan kemeja putih bersih lengan pendek ini memulai dengan cerita bagaimana Juni kemarin Presiden Jokowi mencanangkan Pekan Pancasila di minggu pertama bulan Juni baru-baru ini. Kita bisa saksikan media sosial dipenuhi tagar dan kampanye Saya Indonesia Saya Pancasila. Beliau begitu berharap agar Hari Pancasila 1 Juni tidak dijadikan momentum sekali setahun atau momentum seminggu, tapi bisa langsung merangsek ke seluruh hari dalam kehidupan individu dan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setelah segala sambutan, Ustad Abdul Rahman menutup dengan sebuah doa panjang yang berisi kerisauannya akan Indonesia hari ini yang mulai terpecah belah. Dalam doanya, sebagai seorang pemeluk teguh, ia melangitkan harapan, mengetuk pintu Rahmat dari Tuhan Maha Kuasa sehingga “semoga negara ini terhindar dari bencana moral, pertikaian, dan perselisihan yang tak ada habisnya

Diskusi hari ini menempatkan tiga orang narasumber utama dan satu orang moderator. Sesi pertama dibawakan Dr. Heri Santoso, Kepala Pusat Studi Pancasila Universitas Gajah Mada. Sehari-hari beliau juga menjadi dosen Fakultas Filsafat di tempat yang sama.

Tema yang beliau sampaikan ialah “Aktualisasi Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari”. Pengajar kelahiran Jogjakarta 1 September ini memulai dengan penjelasan bagaimana kita, seharusnya, beretika dalam mencakapkan banyak hal di media sosial.

Pengantarnya cukup unik, beliau mengetes sebagaimana dekat sila Pancasila dengan budaya lokal masing-masing. Dengan gayanya yang jenaka, ia menantang peserta menyebutkan semua sila dalam Pancasila dalam Bahasa Makassar.

Aktualisasi Pancasila itu, menurut beliau, idealnya diterapkan dalam kehidupan berbudaya, bernegara, beragama. Akibat logisnya, Pancasila diturunkan dalam produk-produk hukum dari yang paling tinggi sampai mungkin aturan dalam rukun tetangga atau rukun warga. Sebab Pancasila, merujuk istilah Soekarno, adalah landasan falsafah bangsa.

Bapak bangsa memiliki visi yang maju dengan memunculkan Pancasila dalam sebuah negara demokrasi. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dimasukkan sebagai landasan paling pertama dan paling utama. Oleh karena itu, negara kita bukan negara yang menganut sekularisme, teokratis, maupun komunis.

Bagi beliau, ada tiga tantangan besar bangsa ini. Pertama, merealisasikan cita-cita bersama yakni bangsa merdeka, bersatu, berdaulat, adil, makmur. Kedua, menangani kerapuhan internal bangsa ini yang menjadi keresahan bersama yakni korupsi, kolusi, nepotisme, kekerasan, sex bebas, narkoba, dll. Sedangkan yang ketiga mungkin bisa dikatakan problem terbesar. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga sedang mengancam negeri-negeri lain, Proxy War. Antara lain, masalah terorisme, HAM, disintegrasi bangsa, khilafah, komunisme, dan banyak lagi.

Pada intinya, semua orang, khususnya para netizen, dituntut cepat tapi juga harus tepat dan menampilkan kebenaran.

Sesi diskusi dilanjutkan oleh pemaparan Prof. Dr. H. Muhammad Ghalib, M. MA. Beliau kelahiran Bantaeng, 1 Oktober 1959. Jabatan beliau sekarang ini ialah Sekretaris Umum MUI Sulawesi Selatan.

Hari ini penggunaan media digital yang tidak bertanggung jawab. Munculnya hoax, fitnah, ghibah, namimah, gosip, pemutarbalikan fakta, ujaran kebencian, permusuhan, kesimpangsiuran, informasi palsu, dan hal terlarang lainnya yang menyebabkan disharmonisasi kehidupan sosial. Olehnya, MUI mengeluarkan Fatwa MUI Tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah di Media Sosial. Tentu dasarnya dari Al-Qur’an, Hadits, dan pendapat ulama

Beliau berpesan agar kita semua selalu melakukan tabayyun, maknanya cek ricek informasi. “Juga kita harus memberikan informasi yang membangun, bukan yang memecah belah,” kata Prof. Ghalib yang sehari-hari bertugas sebagai Guru Besar UIN Makassar. Sehingga, negara ini akan menjadi negara yang maju, santun, dan berperadaban. Dari Inggris sampai Iran. Itulah simbol luasnya Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Ringkasnya, setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut: senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, tidak mendorong kekufuran dan kemaksiatan; mempererat persaudaraan, baik persaudaraan KeIslaman, persaudaraan kebangsaan, dan persaudaraan kemanusiaan; dan memperkokoh kerukunan, baik intern umat beragama, antar umat beragama, maupun antar umat beragama dengan pemerintah.

Fatwa ini menjadi panduan dalam berinteraksi. Fatwa ini memberikan penguatan dari undang-undang. Inilah lebihnya Indonesia. Karena nafasnya sama. Kepatuhan sebagai umat beragama dan umat bernegara itu bisa bersinergi. Jadi, dua-duanya dapat, kita mampu menjadi warga yang baik dan umat yang baik. Inilah sinergi yang diharapkan. Menguatkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

“sesuatu yang baik juga harus disampaikan dengan cara-cara yang baik” Al-Qur’an

Terakhir disampaikan diskusi yang begitu memikat dari Bapak Handoko. Ia merupakan bagian dari Tim Komunikasi Publik Presiden Joko Widodo yang dipimpin langsung Sinardi Rinakit.

Sesi ini menurut saya lebih powerful, datang langsung Dari Sudut Istana. Tahun ini merupakan tahun ketiga pemerintahan Presiden Jokowi. Tahun pertama, adalah pondasi. Tahun kedua, adalah percepatan. Percepatan yang menjadi konsen utama dari segi infrastruktur, kebijakan deregulasi ekonomi, dan pembangunan manusia.

Kemudian tiga capaian ini dirangkum dalam video 60 detik yang menampilkan perkembangan memuaskan di setiap lini pembangunan yang sempat terekam. Satu kata dari saya, luar biasa rekam jejak yang sudah didokumentasikan dengan baik. Kami semua, para peserta berdecak kagum dan bertepuk tangan. Bagaimana Indonesia dirawat da diruwat dengan Kerja Nyata.

Kebijakan pemerintahan itu menangani ketimpangan antar daerah. Strategi ini dilakukan dengan memperbesar dana desa, menguatkan konektivitas antar daerah, pergerakan ekonomi di daerah

“Kita adalah bangsa pemenang dengan kerja nyata. Saya ingin Indonesia merata dan maju, dari Sabang sampai Merauke. Indonesia, Maju!” Presiden Joko Widodo (www.kerjanyata.id dan www.presidenri.go.id)

Sebelum mengakhiri, ijinkan saya mengutip Ma’ruf Cahyono, Wakil Ketua MPR yang mencoba membuat ungkapan-ungkapan yang menarik bagaimana kita menjadi santun di media sosial.

Sila 1 (Ke-Tuhanan Yang Maha Esa):
Berhenti Takabur Berhenti Takabur, Mulailah Bersyukur;
Berhenti Saling Merendahkan, Mulailah Menghormati Perbedaan;
Berhenti Menyakiti, Mulailah Menghargai.

Sila 2 (Kemanusian Yang Adil dan Beradab):
Stop Marah-Marah, Mulailah Bersikap Ramah;
Berhenti Curiga, Mulailah Menyapa;
Berhenti Berseteru, Mulailah Bersatu;
Berhenti Memaki, Mulailah Memakai Hati

Sila 3 (Persatuan Indonesia):
Berhenti Memaksakan, Mulailah Berkorban;
Berhenti Mencari Perbedaan, Mulailah Bergandeng Tangan;
Berhenti Berseteru, Mulailah Bersatu

Sila 4 (Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyarawatan Perwakilan):
Berhenti Bersilat Lidah, Mulailah Bermusyawarah;
Berhenti Silang Pendapat; Mulailah Bermufakat;
Berhenti Besar Kepala, Mulailah Berlapang Dada

Sila 5 (Persatuan Indonesia):
Berhenti Menang Sendiri, Mulailah Berbagi;
Berhenti Malas, Mulailah Bekerja Keras;
Stop Demonstrasi, Mulailah Toleransi
.

#Pancasila #TemuBlogger

Quotefancy-120123-3840x2160

quotefancy.com

Bahaya itu, begitu nyata. Tapi menjadi takut, itu pilihan.

Siapa sih yang tidak tidak pernah cemas, khawatir, dan takut? Hampir semua kita menyimpan beragam kekhawatiran di benak masing-masing. Keresahan tersebut juga dipastikan senantiasa ada seiring bergulirnya roda kehidupan. Tapi waktu selalu berjalan tanpa pernah tahu kita resah atau senang.

Jenis kecemasan manusia juga berbeda-beda tergantung peran yang sedang dijalankan. Ketakutan orang tua jauh berbeda dengan ketakutan yang dirasakan anak-anak. Ketakutan remaja beda dengan dengan ketakutan kakek-nenek. Kalaupun jenis kecemasan itu ada yang sama, bisa jadi kadarnya juga berbeda. Ketakutan saya terhadap kecoa masih mending daripada seorang teman yang phobia kecoa. Kecemasannya jauh lebih tinggi dibandingkan saya yang sekedar suka saja. Berikut ini kekhawatiran terbesar yang saya rasakan.

Sakit fisik permanen

Ada orang-orang tertentu yang meski fisiknya dikalahkan penyakit, tapi batinnya dan suara jiwanya kukuh sebagaimana masih sehat. Sebagai contoh, professor Morrie Schwartz dan Stpehen Hawking. Karya dan pemikiran mereka lahir pada masa-masa kritis menghadapi ancaman maut yang tiba-tiba.

Saya kemudian tidak bisa membayangkan bila akan datang suatu penyakit atau sebab yang melumpuhkan fisik dan jiwa. Menimpa diri saya sendiri, keluarga, atau kerabat dekat. Ketika membaca sejumlah biografi, menderita penyakit permanen seperti menahan beban tidak terperikan. Hidup yang gemuruh tiba-tiba meredup, menahan penyakit hingga ajal menjemput. Belum lagi orang-orang terdekat akan menanggung akibatnya. Mereka bakal jadi repot seumur hidupnya.

Kecemasan ini muncul ketika Jane menceritakan semua pengalamannya dalam memoar ‘Travelling to Infinity’. Ia mengisahkan bagaimana hampir 24 jam hidupnya setiap hari digunakan mengurus dan merawat Stephen Hawking, suaminya. Semua itu dilakukannya karena kasih sayangnya begitu besar, utamanya setelah mereka memiliki tiga orang anak yang juga butuh diperlakukan sebagaimana mestinya. Oleh karena massifnya pengalaman itu, Jane tidak rela membiarkan penyakit lain dan emosi negatif, masuk ke dalam keluarganya. “jika di dalam rumah sudah bersarang penyakit jiwa, janganlah membiarkan penyakit hati juga ikut masuk.”

Nah, teman-teman, berdoalah, semoga kita semua –dengan perkenaan Nya- diberi kesehatan, keberkahan, dan umur panjang. Amiin.

Malaria kambuh

Sempat merasakan hidup setahun bersama masyarakat di Papua Barat, saya pulang dengan rekor dihajar malaria sampai tiga kali. Dua kali terserang malaria tropica. Dua bulan sebelum masa tugas berakhir, parasitnya lebih ganas lagi dan akhirnya dokter mendiagnosa malaria tertiana.

Oke, saya berhutang banyak sama dokter (lupa namanya) yang bertugas di rumah sakit Katolik di daerah Pasar Seberang Fakfak . Orangnya masih muda, lulusan universitas di Semarang. Juga sama Suster Vitaline yang pernah bekerja di rumah sakit di Jogja. Pernah saya datang periksa waktu maghrib. Rumah sakit sudah tutup. Tidak ada pelayanan lagi sejak siang. Lalu barangkali karena merasa kami sama-sama orang rantau dan tidak punya keluarga, akhirnya Suster memanggil dokter di rumahnya yang letaknya di belakang gereja. Kemudian Alhamdulillah akhirnya tertangani.

Setelah malaria pertama muncul, kedua dan ketiga di situ lagi. Keperluan ambil obat atau periksa darah. Untuk memastikan bibit malaria masih ada atau tidak, tiap seminggu atau dua minggu, harus periksa darah lagi. Juga demi memastikan obat terus jalan atau sudah waktunya berhenti.

Suatu kali, sang dokter pernah menasehati agar rajin minum obat. “malaria tertiana (yang ganas) itu parasitnya menyerang di hati/hepar. Jadi, obatnya harus dua minggu dikonsumsi tanpa henti. Obat itu yang akan mem-push parasit-parasit hingga benar-benar hilang dari situ. Kalau satu kali saja kamu berhenti minum obat, maka parasitnya bakal tidak hilang-hilang (dan tetap hidup dalam kondisi dorman/tidur). Nah, bila suatu saat daya tahan tubuh kamu turun, parasit itu akan aktif lagi. Lalu, malaria akan kambuh.” Begitulah kira-kira titahnya.

Oke, belum lama ini, ketakutan itu muncul lagi. Saya coba konsultasikan ke seorang teman di rumah sakit. S (saya), T (teman).

S: Gejala saya bla..bla…bla… sudah berlangsung tiga hari.

T: Apakah ada mimisan? apakah demamnya naik turun? sebelum demam apakah muncul rasa dingin? Susah bab?

S: bla…bla…bla..(saya jawab sesuai kondisinya)

T: oh, mungkin malaria muncul lagi. Coba datang ke dokter ini di jalan ini atau di jalan itu. Mereka ahli penyakit infeksi tropis. Jangan tunda-tunda segera periksa darah pada saat demam/menggigilnya muncul (aturannya persis sama waktu masih di Papua)

S: oh, okey. Makasih (sambil dag dig dug tak keruan). Awalnya saya merasa gejala ini muncul karena kebanyakan minum sirop. Tapi jawaban tadi benar-benar wow.

Hari keempat dan kelima Alhamdulillah sudah baikan tanpa obat sama sekali. Sejujurnya saya takut periksa darah. Kalau memang benar-benar malaria lagi, rasanya tidak sanggup harus menenggak obat malaria super pahit itu. Warnanya hijau gelap ada bintik-bintik hitamnya. Terus diminumnya tiga butir sekali waktu. Kombinasi tiga serangkai tadi membuat mulut rasanya begitu pahit meski setelahnya diimbangi sebutir permen. Pahitnya belum juga hilang-hilang. Oke, itu bukan bagian terburuknya. Penyakitnya yang meyerang sel darah itu akan membuat kepala pusing selama satu minggu.

Pernah akhir tahun lalu juga merasakan gejala yang sama. Waktu itu, periksa di puskesmas. Saya berharapnya sekedar bawa pulang antibiotik dan lain-lain. Tapi, waktu itu perawat merasa saya sudah gawat. Sebaiknya diopname saja. Jawabannya yang tidak terprediksi. Namun akhirnya saya pulih dengan sendirinya setelah total istirahat lima hari.

Apa itu berarti saya jadi cukup kebal karena bisa pulih sendiri? Hehe. entahlah. Tapi, terus terang, muncul gejala itu saja sudah buat merinding mengingat malaria, periksa darah, dan minum obat.

Berhenti belajar

Saya takut bila suatu ketika, saya berada dalam situasi terlalu nyaman yang membuat saya berhenti belajar. Berhenti membaca, berhenti saling berdiskusi, berhenti saling berbagi informasi dan praktik-praktik baik, berhenti menulis, berhenti sekolah lebih tinggi, misalnya.

Biasanya, orang-orang yang berada dalam kondisi seperti itu, justru memiliki kecenderungan mendeterminasi yang besar. Bila diskusi, sedikit sekali ia mau mendengarkan orang lain. Mereka hanya memiliki intensi menyampaikan hal yang menurutnya orang lain pasti belum tahu. Menyanggah orang-orang dengan ‘ah, teori’ dan semacamnya. Mereka kontra dengan perubahan-perubahan dan budaya belajar. Zen R.S mengistilahkan sikap ‘tong kosong nyaring bunyi’ dengan anti-intelektualisme, sikap kontra terhadap intelektualisme.

Belajar di sini tidak saya artikan sebagai proses formal belaka, tapi belajar tanpa jangka waktu. Menjadi pembelajar seumur hidup. Belajar dari siapa saja, sumber dari mana saja, dan di manapun berada. Cuma kesombongan yang membuat orang-orang berhenti belajar, lalu merendahkan orang lain.

Apapun yang bakal ditekuni, inginnya posisi itu memberikan saya kesempatan belajar lagi, lagi, dan lagi. Saya membayangkan hal itu sungguh banyak manfaatnya.  Minat kita jadi lebih luas. Kita jadi bisa mengembangkan pengetahuan di bidang lain, sama atau bahkan lebih menarik dari yang kita tekuni selama ini. Sudut pandang jadi lebih lebar dan fleksibel. Sebab kita bertemu dan bekerja sama dengan banyak orang. Mempertimbangkan semua pemikiran, melibatkan mereka semua, dan mengikutkan mereka dalam setiap pengambilan keputusan. Belajar dan bertumbuh bersama banyak orang, bukan one man show. Di samping itu, manfaat lainnya kita bakal menjadi lebih kritis. Persoalan dipikir matang-matang, dari bermacam hasil pemikiran, lalu diputuskan secara bijaksana.

Nah, inilah ketakutan terbesar yang saya miliki. Kalau kamu?

Eits, daripada memusingkan segala ketakutan itu, mari hadapi saja hidup ke depannya dengan lebih berani. Seperti kata Will Smith di atas.

#15HariMenulis