DSCN8154 - Copy

dok.pribadi

Mendidik itu mendorong peserta didik mengaktualkan kepribadiannya. Mendidik itu mengantar anak kepada pintu yang sesuai karakternya | M. Quraish Shihab

Pesan itulah yang jadi kalimat pembuka diskusi yang beliau hantarkan. Ketika itu beliau duduk di sofa bersama kedua anaknya. Di sisi kirinya Najwa Shihab, dan sebelah kananya Najelaa Shihab. Di hadapan mereka, ratusan pasang mata siap menunggu luncuran nasehat. Ia mengambil mic lalu mencondongkan badannya ke depan. Ada pesan yang ia mau sampaikan. Seperti ada keresehan yang ia sembunyikan sejak dulu-dulu.

Ia meresahkan begitu banyaknya anak-anak dididik tidak sesuai dengan kepribadiannya yang unik. Kesuksesan pendidikan telah sejak lama diukur sejumlah profesi tenar seperti dokter, pilot, arsitek, polisi, dan banyak lagi. Tapi, Quraish Shihab memilih membukakan pintu selabar-lebarnya bagi Najwa dan Najelaa. “jadilah apa saja yang kau mau, asalkan jalurnya harus lewat pendidikan.” Terbukti, kedua anaknya menjadi sosok yang tidak hanya berpendidikan, tapi juga bermanfaat bagi orang lain.

Tidak sampai sejam diskusi berlangsung. Namun pesan yang terkandung melampaui berjam-jam membaca buku pentingnya literasi dan pendidikan keluarga. Sore itu cerah berawan di Fort Rotterdam, Makassar. Sajian Ngobrol Publik ini digelar di taman, sisi belakang kapel utama. Kegiatan yang berlangsung dua hari penuh ini menutup tur keliling rangkaian Pesta Pendidikan 2017.

Di sebelah mereka, berdiri membelakangi pengunjung, ada maestro lukis asal Makassar, Zaenal Dg. Beta. Siap menggoreskan tanah liat beraneka warna di atas kanvas untuk sebuah mahakarya baru. Lukisan itu siap diberikan sebagai hadiah kepada Quraish Shihab yang dianggap perantau sukses dari Sulawesi Selatan.

Najelaa Shihab, Najwa Shihab, dan M. Quraish Shihab mendapatkan kesempatan perdana ‘pulang kampung’ di Pesta Pendidikan. Panggung utama ini langsung saja diserbu para pengunjung yang jumlahnya lebih 500-an orang. Mereka memenuhi hampir semua area di sekeliling panggung. Para undangan sebagian kecil berada di tenda yang sudah disiapkan. Sisanya sebagian besar duduk menekan rumput. Ada juga yang berdiri di sisi kapel.

Ayah dan kedua anak ini merasa bangga dan senang bisa berkumpul di Makassar. “ini benar-benar pertama kali kami berkumpul di satu event publik” kata Najwa. Di tengah hantaman mentari sore yang silau menguning berganti jingga, senyumnya selalu riang menyapa pengunjung sembari mengobrolkan Abi (Quraish Shihab, Umi (Istri) dan Najeelaa (saudara).

Orang Tua Harus Terlibat!

Najelaa yang juga pendiri Sekolah Cikal, mengatakan aktor pendidikan paling penting adalah keluarga. Ia menegaskan bahwa ini bukan sekedar retorika, namun konklusi dari berbagai hasil riset yang pernah dilakukan banyak pihak di seluruh dunia.

“kalau ada pihak yang harus dilibatkan (dalam pendidikan), itu adalah orang tua” terang Najelaa. Menurutnya, kedua orang tua memiliki tiga modal utama yang memengaruhi perkembangan anak secara mental dan kognitif. Modal itu adalah modal cinta, modal peduli, dan modal pemahaman keunikan anak.

Dulu, ketika masih berumur 15 tahun, Najwa mendapat kesempatan pertukaran pelajar ke Amerika. Waktu itu, sejumlah keluarga dan kerabat terlalu ragu dan cukup berat jika seandainya Najwa jadi berangkat memenuhi undangan tersebut. Ia masih begitu muda, dan sulit rasanya membayangkan seorang perempuan tanpa muhrim di tanah asing. Tapi dengan jiwa besar, ayahnya, Quraish Shihab meyakinkan mereka dengan tujuan mulia pendidikan.

“ini untuk pendidikan, ini untuk belajar mandiri, ini untuk bisa menjadi orang yang lebih baik, berangkatlah ke Amerika!” kata profesor mengenang masa itu. Akhirnya, dilepaslah Najwa muda yang beranjak dewasa ke negeri jauh. Tujuannya tetap: pendidikan dan kebaikan.

Tentang kekhawatiran lain, Guru Besar yang lahir di tanah Bugis, Kabupaten Sidrap ini menyatakan keyakinannya pada Najwa. Di rumah, dulu, beliau sudah membekali anak-anak dengan pagar keimanan dan nilai-nilai.

“ingat, beri pagar, agar (dengan kuasa-Nya) anak-anak tetap berada pada jalur yang benar. Memang belajar itu menderita. Kalau tidak menderita, itu berarti tidak belajar” Quraish Shihab mengingatkan seluruh pengunjung yang khusyuk mendengarkan.

Buku Harus Terlibat!

Di rumah mereka dulu di Ujung Pandang –sekarang Makassar- dan di Jakarta, bertebaran buku-buku apa saja. Cara seperti itu dilakukan agar Najwa dan Najelaa terbiasa membaca, lalu kemudian jatuh cinta pada buku. Sekarang, Najwa didapuk jadi Duta Baca Indonesia.

Bagi Prof. Quraish, membaca itu sama sekali bukan perkara membosankan. Cinta itu adalah dialog, kata beliau. Begitu juga cinta pada buku. Makanya jangan memaksakan cinta jika tidak ada kerelaan berdialog.

Membaca tidak boleh dijadikan percakapan yang sendirian. Setelah membaca, hasil itulah yang dipercakapkan. Konten dalam buku selalu dibincangkan sehingga menambah wawasan dan ragamnya sudut pandang  yang dimiliki oleh pembaca. “tapi tidak berhenti di situ, jatuh cinta pada buku haruslah berujung cinta pada ilmu pengetahuan” terang beliau yang pernah mengajar di IAIN Alauddin Makassar.

Buku tidak hanya menawarkan pengetahuan, tapi juga obat bagi jiwa.  Najwa menceritakan bagaimana sebuah perpustakaan di Kota Thebes Yunani kuno menyiratkan hal itu secara jelas. terpampang tulisan di atas pintu masuk, “A Healing Place of The Soul”. Tempat penyembuhan bagi jiwa.

Jika ditelusuri ke belakang, Yunani kuno menawarkan metode pengobatan dengan buku: bibliotherapy. Sebuah praktik terapi lewat membaca buku jenis tertentu. Meski cara ini sudah lama, istilah bibliotherapy baru dipopulerkan pada sekitar 1910-an awal. Para veteran Perang Dunia I yang mengalami gangguan stres pasca-trauma juga melakukan bibliotherapy. Di Inggris, novel Jane Austen digunakan tentara Inggris sebagai terapi kecemasan dan depresi.

Semua Orang Harus Terlibat!

“Pendidikan bukan hanya urusan murid dan guru di sekolah, tapi jadi milik semua” terang Najelaa yang memilih tidak memasang TV di rumahnya.

Dalam pendidikan, ia percaya kekuatan publik bisa mendobrak dan mengubah banyak hal. Ia percaya pendidikan harus mendapat umpan balik secara terus menerus melalui kepedulian semua orang. Sebagaimana Najelaa berujar, “ini bukan tentang nilai sekolah, tapi bagaimana kita bermanfaat bagi orang lain.”

Pesta Pendidikan adalah tempat berbincang pendidikan di ranah publik. Sekaligus tanpa melupakan tujuan utamanya sebagai merayakan pendidikan, tempat belajar, dan tempat berkarya melintas batas.

Kegiatan ini menghadirkan 27 agenda Ngobrol Publik dengan tema besar “Berkarya Melintas Batas.” Dua hari penuh, 13 – 14 Mei, hampir setiap celah yang menghubungkan bangunan benteng dan koridor dijadikan tempat asyik berdiskusi. Sesekali keriuhan terjadi pada arena-arena ngobrol yang menyajikan pembicara-pembicara populer

Semua diskusi bermuara pada beberapa tema. Ada cerita-cerita inspiratif mengenai praktek pendidikan, cerita-cerita mendobrak keterbatasan dalam meraih kusuksesan, cerita-cerita upaya lokal yang mengharumkan Indonesia, dan cerita-cerita komunitas yang telah banyak menebar manfaat dan melewati berbagai rintangan dan keterbatasan.

Sebagai kota keempat yang disambangi, Pesta Pendidikan mengumpulkan komunitas dan organisasi yang bergerak di bidang pendidikan untuk kerja bareng. Kerja keras ini membuahkan hasil. Tahun ini, ‘Pesta Pendidikan’ mengumpulkan seluruhnya 250 komunitas yang bergerak sama-sama mewujudkan kegiatan di empat kota. Padahal tahun sebelumnya hanya didukung 8 komunitas.

Ini menunjukkan animo yang menguat dan positif sudah mulai terbentuk. Dua puluhan relawan secara sukarela membantu kegiatan ini hingga rampung. Anak-anak muda dengan kaos oblong merah menyala ini gampang sekali kita temukan di area Benteng Rotterdam. Tulisan seragam itu seperti sebuah pesan dari Najelaa dan para penggagas. Tentang bagaimana masyarakat semestinya bersikap dalam dunia pendidikan, “Sekali Barengan Pantang Untuk Turun Tangan”.

Kegiatan ini memasuki tahun kedua. Refleksi tahun kemarin menyebutkan “Pesta Pendidikan adalah bagian kecil dari perjuangan panjang pendidikan Indonesia. Ini bukan sekadar agenda kampanye, kegiatan, atau pengumpulan massa. Kegiatan yang mendorong upaya pelibatan publik secara demokratis untuk Bergerak, Belajar, dan Bermakna Bersama.” Cerita-cerita kemarin disatukan dalam buku Refleksi Pesta Pendidikan 2016.

Ketika diskusi berakhir, ‘Bagimu Negeri’ mengalun. Diikuti semua penonton di sore menjelang petang. Selepas itu ratusan orang siap mengerubungi mereka swafoto, terutama Najwa. Tapi saya diam saja di tempat. Mencoba mencerna kembali beberapa pesan-pesan yang sempat hadir. Barangkali itu yang lebih penting.

Juga pesan Zaenal Dg. Beta. Ia menyerahkan satu lagi mahakarya lukisan tanah liat pada Quraish Shihab. Sembari berpesan, “(mari) barengan bergerak untuk mencapai tujuan”. Matanya tidak tertuju pada profesor, tapi untuk kita. Ya, kita semua.

 

8290a04828c94c0e93e220e3c3f9e33bd37a333e_large-

Photo by Shannon Jensen

Sehari sebelum Iqbal Lubis -kerap disapa ‘Ombal’ (Om Iqbal)– memberikan materi teknik fotografi di Kelas Menulis Kepo, ia memberi tantangan yang dikirimnya di grup Line angkatan. Nama tantangannya adalah Melihat Sudut Pandang.

Jadi begini, kami ditugaskan menyiapkan enam buah kertas ukuran A4 atau kertas karton biasa. Semua kertas dilubangi bagian atasnya yang berdimensi 36 mm kali 24 mm. Dalam ukuran cm presisinya dua kali tiga sentimeter. Oiya, tiga kertas dilubangi vertikal, sisanya horizontal.

Setelah itu, langkah selanjutnya: MENGINTIP pada lubang yang telah kami buat. Objek yang dijadikan sasaran haruslah berbeda. Entah itu sebuah ide, benda, manusia, interakasi, pemandangan, atau apa saja yang kami senangi.

Tidak berhenti di situ. Setiap selesai melihat dari balik lubang, objek tersebut harus digambar apa adanya pada bagian kertas yang masing kosong dan bersih. Kemudian sisa bagian kertas di pojokan bawah kanan memuat keterangan gambar. Hasil yang terlihat oleh mata itu saja yang wajib dilukiskan, tanpa menambah-nambahkan atau mengurangi sesuai dengan kehendak imajinasi. Om Iqbal menjanjikan hadiah menarik yang bisa menyelesaikan tantangan ini sebelum kelas dimulai.

***
Ketika ia menghantarkan materinya, ia sedikit bercerita mengenai challenge kemarin. Katanya, tujuan sebenarnya ialah melatih sudut pandang dalam pengambilan foto. Seperti menjauhkan dan mendekatkan objek.

Ukuran lubang di kertas itu sebenarnya adalah dimensi sesungguhnya dari sensor film full-frame. Sensor inilah yang menghasilkan ribuan gambar di setiap kamera yang kita gunakan. Sedangkan, gambar yang kami ciptakan di bawahnya ialah hasil yang terekam. Lalu keterangan yang tertera pada kertas merupakan caption yang selalu kita saksikan. hadir di setiap photo-journalism ataupun foto dokumenter.

Bagi Ombal, caption memegang peranan krusial dalam foto. Tidak boleh sembarang caption dituliskan dalam foto. Caption foto yang baik hanya merangkum visul foto saja. Tanpa ditambah atau dikurangi. Tidak perlu memasukkan unsur yang dihasilkan indra lain seperti pendengaran atau perasaan. Atau bila memang visual foto kurang jelas, bisa dijelaskan lewat caption. Dulu, saya juga pernah mendengar –dalam satu kelas jurnalistik- bahwa intinya kita telah melakukan hal mubazir jika menuliskan keterangan yang sudah tergambar jelas dalam foto.

Ombal menjelaskan, permainan ini juga tidak lepas dari proses cropping (memotong) sebagaimana kamera asli. Berdasarkan penjelasan Ombal, sebenarnya pemotongan foto itu terjadi sebanyak tiga kali.

“foto di-crop duluan di dalam kepala kita (proses berpikir dan imajinasi, red) dan kedua di mata kita sudah masuk masuk dalam spot view kamera (ketika mengintip di lubang sensor). Selanjutnya, proses terakhir terjadi pada aplikasi pengolah foto/gambar,” terang Om Iqbal.

Permainan lubang kertas ini mereprestasikan kamera yang sebenarnya. Bagaimana kami melihat sudut tangkap, menjauhkan dan memundurkan bila tidak pas, dan langsung menjepret. “semua orang memiliki selera visual, pada dasarnya. Namun selera dan penerjemahan visual tiap orang berbeda-beda.

“makanya, ketika saya menilai hasil tantangan kalian –apakah bagus atau tidak-, setiap orang bisa berlainan.” Terang Om Iqbal. Jadi, ia memang tidak sedang menaksir siapa paling bagus sudut pandangnya. Tapi siapa yang paling tepat ketika menerjemahkan isi kotak lubang di kertas pada gambar.

Ombal yang setiap minggu pagi meluangkan waktunya sebagai fasilitator Kelas Fotografi di The Floating School menerangkan sebuah metode menyampaikan pesan kepada banyak orang. Dikenal dengan “Photo Story”. Kata Ombal, “foto yang baik jangan sampai hanya jadi pelengkap tulisan. tapi hendaknya jadi pelengkap cerita.”

Di akhir, kami diharapkan bisa membuat, tidak hanya sebuah foto tunggal tapi beberapa foto yang merangkaikan diri sebagai cerita utuh. Boleh dibilang, Ombal hari itu sedang mengampanyekan ‘foto yang bercerita’ atau foto cerita.

Di tengah berlangsungnya kelas, Ombal menyajikan satu permainan kecil. Game ini menampilkan beragam potongan merek dagang. Maka ditampilkanlah merek tersebut dalam bentuk ‘gambar’ dan ‘kata’. Ada Nike, Adidas, Mozilla, Google, WordPress, Toyota, macam-macam. Setelah diuji, terbukti kami lebih mengingat logo (gambar) daripada jika ditampilkan dalam kata.

Permainan itu sekaligus ilustrasi mengapa rentetan foto menjadi penting dalam menjelaskan suatu peristiwa. Dengan pertanyaan lain, mengapa photo story menjadi signifikan. Dalam salah satu penjelasan tentang neuro-sains, otak manusia memproses segala bentuk visual, bukan verbal.

Foto yang bercerita

Jika ditilik dari sejarahnya, foto cerita cerita berakar dari foto dokumenter (1889) ketika Jacob Riis banyak mendokumentasikan kehidupan masyarakat miskin yang tinggal di New York dan daerah industri lainnya di Amerika. Selain itu, foto jurnalistik (photo-journalism) juga berpengaruh besar pada lahirnya foto cerita. Foto jenis ini jelas mengharuskan fotografer mengikuti kaidah jurnalistik demi keakuratan foto. J. Bruce Baumann (2011), pengajar foto jurnalistik di Southern Illinois University, menegaskan agar  pewarta foto hendaknya sadar dan berpikir selayaknya seorang jurnalis dahulu, baru kemudian berpikir dan bertindak sebagai fotografer.

Bagi Taufan Wijaya, penulis Photo Story Handbook (2016), mengatakan tidak mudah menelusuri sejarah foto cerita. Namun, gaya foto berseri dan bercerita ini muncul pertama kali pada 1929 di majalah Jerman, Muncher Illustrierte Presse. Empat tahun kemudian, Mendur, fotografer tanah air, mempublikasikan foto cerita pertama di Indonesia berjudul “Poewasa” di majalah Actueel Wereldnieuws.

Mengutip Taufan Wijaya, “fotografer adalah pencerita”. Nah seorang pencerita harus mampu bertutur (merangkaikan foto) secara baik dan fokus sehingga deretan foto tetap terjaga arah dan artinya. Itulah mengapa dalam mengisahkan satu kejadian, keadaan, dan konflik, para fotografer tidak cukup hanya menggunakan foto tunggal (single photo).

Dalam foto tunggal, satu gambar dapat berdiri sendiri, menceritakan dirinya sendiri, tanpa memerulukan bantuan dari foto lain untuk membangun cerita. Merujuk peristilahan bahasa, foto cerita menyajikan metode DM-MD (Diterangkan Menerangkan – Menerangkan Diterangkan). Foto cerita menggunakan pendekatan berbeda. Caranya dengan merangkai beberapa foto yang menjelaskan dan melengkapi satu sama lain serta disertai tambahan teks.

memotretlah jika ingin berkomunikasi lewat foto” kata Om Iqbal. Secara tidak langsung ia menyarankan kami mengambil gambar dan merekam peristiwa melalui medium foto. Jika Om Iqbal tidak ada malam itu, mungkin sampai sekarang saya tidak bakalan tahu apa itu foto cerita.

I’m used to capture some of unusual moments and then let them do they work. Biasanya saya hanya meninggalkan satu foto sebagai ilustrasi dan pelengkap cerita. Tanpa gambar, rasanya seperti sayur tanpa garam. Namun setelah mendapatkan penjelasan mengenai photo story, saya cukup percaya sebuah postingan bisa jadi lebih hidup dengan rangkaian gambar yang mengiringinya.

Sepatu Pengungsi dan Hukum Cambuk

Salah satu kerja foto cerita yang populer dikerjakan oleh Shannon sepanjang Juni hingga Juli 2012. Dengan judul “A Long Walk” yang memikat, ia membuka dengan sebuah pertanyaan “How do you represent a journey in a image?” Sekitar 3000-an pengungsi memulai perjalanan mencari perlindungan setelah 9 bulan berada dalam teror di negara sendiri.

Lalu saya pun tidak menyangka bahwa Shannon menggunakan sepatu untuk memberi gambaran penderitaan para pengungsi yang bertahan sejauh itu. Ia merekam bagaimana sulitnya perjalanan menembus perbatasan selatan Sudan di tengah kepungan tentara pembebasan, kekurangan air dan makanan.

Kisah ini menyadarkan penduduk dunia tentang kerasnya kehidupan yang harus dilalui oleh perempuan dan anak-anak di tengah konflik mendera. Juga menginspirasi PBB lebih berkonsentrasi pada perlindungan anak di daerah pengungsian.

Contoh lagi, seorang fotografer lepas Armin Hari membuat foto cerita “Canning Punishment in Aceh” tentang pelaksanaan hukum cambuk di Aceh. Selepas ashar pada suatu hari di Masjid Besar Bireuen, Polisi Syariah melaksanakan hukuman cambuk sembilan kali pada para pelanggar hukum syariat Islam yang berlaku di sana. Rotan kecil yang digunakan panjangnya sekitar satu koma lima meter.

Sebelum eksekusi dilangsungkan, area ini dibersihkan dahulu dari jangkauan penglihatan anak di bawah umur. Lalu, di hadapan para petinggi pemerintah lokal, hukuman ini dilaksanakan. Armin Hari merekam sequences ini dengan sejumlah foto yang kesemuanya hitam putih.

Teknik Ringkas Foto

“fotografi itu seni melukis dengan cahaya. Memotret itu tentang bagaimana empunya kamera memanfaatkan cahaya dan (bahkan) mengontrolnya” sambung Om Iqbal. Dalam exposure (pencahayaan), terdapat tiga elemen utama yang mengontrolnya.

Pertama-tama ada aperture/bukaan (fokus). Semakin mengecil fokus, maka gambar akan semakin tajam. Hal ini dikarenakan bukaan kecil menyempitkan cahaya yang masuk.  “untuk gambar landscape (pemandangan), saya sarankan gunakan bukaan 5/6 sampai 1/16 agar semua objek bisa tajam dan fokus” katanya.

Selanjutnya adalah Shutter Speed. Elemen ini mengatur seberapa lama cahaya masuk mengenai sensor. Makin tinggi kecepatannya, makin sedikit cahaya masuk. Tips dari Om Iqbal, jika cahaya sedang banyak-banyaknya, maka baiknya imbangi dengan shutter speed yang cepat pula.

Terakhir ialah ISO yang merupakan sensor kepekaan kamera terhadap cahaya. ISO terdiri dari nomo 100 hingga 12800. Semakin tinggi ISO yang digunakan, maka semakin peka pula sensor terhadap cahaya. Begitu sebaliknya. Pengontrolan ISO juga berfungsi untuk penambahan cahaya bila sedang redup, atau menormalkan cahaya bila sedang terang.

Selain pencahayaan, dua hal yang harus diperhatikan ialah ‘komposisi’ dan ‘elemen visual’. Keduanya berpengaruh besar dalam estetika foto. Foto yang memenuhi salah satu unstur komposisi dan memiliki elemen visual akan lebih sedap dipandang. Komposisi ini meliputi setengah bidang, tengah, diagonal, atau sepertiga bidang. Komposisi terakhir paling populer dan sering diistilahkan “one-third rule” atau kaidah sepertiga. Objek berada di bagian sepertiga dari frame, selebihnya adalah objek pendukung atau latar. Foto-foto yang dihasilkan hampir selalu nyaman dipandang dan keren. Coba saja kalau tidak percaya. Hehe.

Sedangkan elemen visual ialah sajian geometrik yang muncul dari sebuah foto. Salah satunya elemen garis. Foto yang membentuk elemen garis (entah itu putus-putus, lurus, atau gelombang) membantu para penikmat foto menikmati sajian estetika yang pas dan berkesan di indra penglihatan. Elemen warna mempengaruhi emosi seseorang, lalu elemen tekstur menggambarkan karakter yang berbeda-beda. Sementara elemen ruang dan perspektif membantu menciptakan efek tiga dimensi terhadap komposisi.

“elemen perspektif dan ruang digunakan juga demi menciptakan kesan ruang dan suasana” lanjut Om Iqbal. Ia menjelaskan, sehingga mengubah sudut pandang ruang juga akan mengubah suasana dalam foto.

Selesai kelas, ada tantangan dari Om Iqbal. Tantangannya yaitu membuat satu postingan foto dokomenter atau rangkaian foto yang bercerita (photo story). Konten memuat narasi (naskah) minimal 500 kata dengan minimal terdiri dari lima buah foto. Setiap foto dilengkapi dengan caption. Dikumpulkan paling lambat: Rabu/29 Maret 2017

Nah, hayuk atuh. Mari mengambil foto.

*Catatan Kelas Menulis Kepo Angkatan IV
Waktu: Jumat/ 24 Maret 2017
Pukul: 17.00 – 21.00
Materi: Teknik Fotografi dan Photo Story
Tempat: Brewbrtohers Café, Pengayoman Makassar
Pembagi Ilmu: Om Iqbal Lubis

DSC_0041c

jakfoto.net

Cerita-cerita berikut hanya penggalan kecil perjalanan panjang hidup anak manusia. Mereka bukan orang luar biasa. Hanya orang-orang biasa. Tapi dengan kisah yang -bagi sebagian orang- tidak biasa. Setidaknya, bagi para penulisnya.

Mereka memberi inspirasi dan pelajaran tentang hidup yang harus dihargai. Jika disarikan, pelajaran yang bisa kami petik adalah “Tuhan telah memberi hidup, maka hiduplah! Karena hidup tidak pernah selalu mudah, maka jangan berhenti bekerja bagi kehidupan!

Untuk semua hidup yang dihargai, inilah kisah-kisah berikut! Oh ya, saya merekomendasikan satu cerita, “Karena Indo’ Saya Jadi Begini” yang ditulis Andi Arniati.

“Sesekali saya menyeka air mata saat menulis kisah ini. Dari kisah anak kecil yang tidak pernah berputus asa dengan kondisi terhimpit. H. Ridwan, S. Kep, Ns, telah mengajarkan banyak hal tentang kesederhanaan, kegigihan dan semangat berbagi yang tak pernah surut. Baginya, bermanfaat bagi yang lain adalah tujuan hidup” begitu pengakuan Andi Arniati dalam tulisannya.

Karena Indo’ Saya Jadi Begini (Andi Arniati)
Menyatukan Tanah Menyatukan Indonesia (Hasymi Arif)
Andi Zulkarnain: Pendidikan yang Merata (Helmiyaningsi H)
Sosok dibalik Balik Berdirinya The Floating School (Andi Citra Pratiwi)
Rahmiana Rahman: Bertumbuh dengan Berbagi (Mujahid Zulfadli AR)
Bunga untuk Relawan: Tentang LemInA (Sultan A Munandar S)
Kekhasan Imam Masjid Cheng Hoo (Fitriani Ulma)
Menilik Satu Dekade Rumah Baca (Herviana)
Pak Azis dan Kota Dunia (Tismi Dipalaya)
Tari dan Kebahagiannya (Irmawati)

Selamat membaca!

Kalau boleh berpendapat, tugas menulis sosok merupakan bagian paling berat Kelas Menulis Kepo. Bukan hal mudah menggali informasi dari orang lain. Memberi ‘bujuk rayu’ seorang persona yang kami ingin gali kisah hidupnya itu butuh “kepercayaan”. Beda dengan wawancara ringkas untuk satu tema yang waktunya cuma sebentar. Menulis sosok butuh kesabaran ekstra. Jika perlu, penulis mengagendakan serangkaian riset, observasi dan wawancara demi gambaran sebenarnya yang diinginkan.

Tanpa bermaksud lebay, memilih siapa sosok tulisan merupakan bagian yang bikin resah. Sekali memilih sosok, misalnya, kami harus siap dengan segala persiapannya. Saya harus bersenang-senang hati mengamati sosoknya dari jauh lewat mata orang lain atau sumber yang tersedia di media cetak dan online.

Awalnya kami diberikan waktu pengerjaan cukup panjang. Sekitar dua pekan. Seharusnya semua tulisan wajib rampung dalam waktu yang sudah ditentukan. Tapi sekali lagi, bukan perkara mudah. Alasannya jelas, tulisan ini jauh dari “ke-Aku-an”. Gampang saja menulis tentang ‘saya’ dan ‘aku’. Tulisan yang akan kami kerjakan, bukan tentang ‘saya’ tapi tentang ‘orang lain’ dan semua orang yang berdampak pada karya tersebut. It’s not about me it’s about others.

Lalu, beberapa alasan muncul, kesibukan, kebuntuan menulis, ada pula yang belum merampungkan tulisan. Dari kami ber-lima belas, hanya lima orang yang mengumpulkan tugas tepat sebelum deadline. Om Lelaki Bugis masih memberi kelonggaran: pekan depan. Parahnya, minggu berikutnya juga masih belum tuntas. Hanya sekitar empat atau lima tulisan. Sisanya, dituntaskan hingga pekan ketiga. Pekan ketiga, barulah (hampir) semua tulisan sudah rampung.